PERADABAN

Posted By Cerpen universal on Saturday, October 31, 2020 | October 31, 2020

PERADABAN

Doni duduk di pinggir jalan di sebuah ruko yang di bangun.

"Daerah ini sepi sekarang....jadi rame. Peradapan yang mengubah segalanya," kata Doni.

Budi yang mengayuh sepedah, ya melihat Doni yang duduk di pinggir jalan dekat ruko yang di bangun. Berhenti di depan Doni. 

"Doni....sedang apa di sini?" kata Budi. 

"Melihat keadaan sekitar sini yang berubah," kata Doni. 

"Oooo begitu," kata Budi. 

Budi pun menaruh sepedahnya di pinggir jalan, ya langsung duduk di sebelah Doni. 

"Memang benar daerah sini tadinya sepi....sekarang rame. Manusia membangun daerah sini demi menciptakan kemajuan daerah sini. Ya ekonomi di sini berkembang," kata Budi. 

"Ya....aku mengerti. Bangunan di depan kita ini adalah mall. Manusia akan membangunnya, ya demi meningkatkan perdagangan ini dan itu. Banyak orang yang bekerja di situ. Di sekitarnya di bangun kontrakan ini dan itu," kata Doni. 

"Ya....keadaan harus mengikuti zaman yang tidak tahu arahnya lagi," kata Budi. 

"Banyak manusia akan jadi polemik di daerah sini. Kalau sepi menyenangkan ya," kata Doni. 

"Investasinya orang kaya lah ke daerah sini untuk membangun usaha demi kemajuan peradapan di sini," kata Budi. 

"Timbul kesenjangan kaya dan miskin....jadi jauh banget keadaannya. Padahal, ya sebenarnya tidak ada perbedaan kaya dan miskin dari awalnya," kata Doni. 

"Ya....memang awalnya, tidak ada kata-kata itu. Semua karena peradapan. Lupa dasar awal dan yang di lihat keadaan yang sekarang, yang di bodohin oleh peradapan di buat manusia," kata Budi. 

"Bukannya pinter malah bodoh. Ironies peradapan yang akan terjadi di daerah sini," kata Doni. 

"Ayo pulang yuk!" kata Budi. 

"Ayo!" kata Doni. 

Doni pun naik sepedahnya Budi, ya di gonceng di belakang. Budi mengayuh sepedah dengan baik sampai ke rumah. Budi dan Doni, ya duduk di teras depan rumah. 

"Dulu hidup di sini sepi lebih enak dari pada sekarang ya, rame," kata Doni. 

"Iya," kata Budi. 

"Orang-orang yang tinggal di sini bekerja di pemerintahan dan juga di perusahaan ini dan itu. Hasil kerja orang-orang sini, ya membangun rumah. Beranak pinak sesuai rencana orang sini. Jadi rame," kata Doni. 

"Peradapan mengubah segalanya. Kata orang tua berdasarkan kitab al Quran, manusia itu awalnya telanjang bulat. Ketika memahami sesuatu, ya pake baju. Mulailah peradapan manusia mengubah hal awal kosong menjadi penuh kemajuan ini dan itu," kata Budi. 

"Yang di kejar manusia yang hidup di zaman ini, ya lebih banyak kebodohannya dari pada kepintarannya. Dasarnya nol sekarang sudah seratus, duaratus....sampai seterusnya demi hidup ini dan itu. Ya karena hidup menuntut sih," kata Doni. 

"Zaman dulu suka sama cewek lebih mudah, kata orang tua," kata Budi. 

"Sekarang....ya susahnya bukan main. Harus mengikuti aturan ini dan itu...demi menghargai diri dan juga orang lain," kata Doni. 

"Nama juga norma di masyarakat," kata Budi. 

"Sejauh apa daerah ini berkembang," kata Doni. 

"Sejauh...manusia membangunnya dengan perkembangan teknologi, ya contoh ya sepedah. Awalnya manusia itu pejalan kaki, sekarang menggunakan sepedah," kata Budi. 

"Sebatas itu ya. Teknologi. Kepintaran manusia membangun ini dan itu demi kemajuan ini dan itu. Pada akhirnya...polemik terjadi masalah ini dan itu karena tuntutan hidup," kata Doni. 

"Ya terima aja jalan sekarang ini....peradaban telah berkembang pesat. Yang akan mengakhiri semua peradaban di muka bumi ini adalah....kiamat berdasarkan kata orang tua di kitab yang orang tua pelajari," kata Budi. 

"Kalau dunia ini hancur, ya sia-sia apa yang di bangunan?!" kata Doni. 

"Iya. Sama halnya cinta ini dan itu, akan putus juga dan hancur keadaannya ini dan itu," kata Budi. 

"Kalau begitu hidup tidak perlu di ngoyo ini dan itu. Sekedar saja!" kata Doni. 

"Sekedar saja," kata Budi. 

Budi membawa sepedahnya masuk rumah, ya Doni masuk rumah. Duduk di ruang tamu keduanya, ya main catur untuk menghibur hati keduanya. 

"Doni gimana hubungan mu dengan Lestari?" kata Budi sambil memajukan pion caturnya. 

"Baik," kata Doni sambil memajukan pion caturnya. 

"Hubungan baik toh. Aku senang mendengarnya," kata Budi sambil memajukan langkah kuda. 

"Budi gimana hubunganmu dengan Purnama?" kata Doni sambil memajukan peluncur. 

"Baik," kata Budi sambil memajukan pion. 

"Aku senang mendengarnya," kata Doni sambil memajukan pionnya. 

Doni dan Budi terus main catur sambil ngobrol banyak hal berkaitan urusan cinta dan keadaan di lingkungan sekitar. 
Blog, Updated at: October 31, 2020

0 komentar:

Post a Comment