MEMELIHARA IKAN HIAS
Seorang anak kecil bernama Angga. Sehabis pulang sekolah Angga bersama teman Wawan pergi ke suatu tempat untuk membeli cupang. Mereka berjalan melewati gang dengan bersendau gurau. Selang berapa saat sampailah di penjualan cupang di gang marwan.
“Angga di sana,” kata Wawan.
“Ayo kesana,” sahut Angga.
Angga melihat toko cupang yang tersembunyi di gang. Kemudian masuklah Angga dan Wawan ke dalam toko cupang milih pak Nasir.
“Permisi pak,” kata Angga.
“Permisi pak saya mau beli,” kata Wawan.
Angga dan Wawan berulang kali memanggil. Pak Nasir pemilik toko tak kunjung keluar. Angga dan Wawan menunggu sejenak di sebuah kursi di di luar toko. Baru mau duduk Pak Nasir keluar dari dalam tokonya.
“Siapa yang mau beli ikan cupang kata pak Nasiir?,” tanya pak Nasir.
“Oh...iya ..pak saya pak,” sahut Angga dan Wawan.
Angga dan Wawan masuk ke dalam toko ikan cupang.
“Maaf tadi ya bapak ada kerjaan di dalam. Sekarang kalian pilih ikan cupang yang kalian sukai,” kata pak Nasir.
“Baik Pak,” jawab Angga.
“Ya..pak,” sahut Wawan.
Angga dan Wawan melihat setiap botol yang berisi ikan cupang. Mereka berdua memperhatikan dengan baik Ikan cupang. Terlihat Ikan cupang toko pak Nasir bagus-bagus. Angga dan Wawan bingun melihat keindahan dari ikan cupang. Kemudian Angga menetapkan ikan cupang yang di pilihnya begitu dengan Wawan.
“Pak.... yang ini pak Nasir. Ikan cupang yang berwarna biru kemerahan,” kata Angga.
“Ya .....saya ambilkan,” kata pak Nasir.
“Harganya berapa?,” tanya Angga.
“Ya murah nak cuma Rp 2000,- per ekor.” Kata pak Nasir.
“Sedang pakan cacing sutranya pak berapa pak?,” tanya Angga lagi.
“Murah juga sih nak Cuma Rp 1000,” kata pak Nasir.
Angga langsung memberi kan Uangnya ke pak Nasir. Angga mendapat ikan cupang dan pakannya yang di bungkus di pelastik oleh pak Nasir.
“Terima kasih pak,” kata Angga.
“Ya...sama-sama,” kata pak Nasir.
Sedangkan Wawan sibuk memilih dengan cermat ikan cupang.
“Wawan mana ikan yang kamu pilih?,” tanya Angga.
“Iya....ini lagi memilih ikan cupangnya,” kata Wawan.
Lama Wawan memilih ikan cupangnya. Pada akhirnya memilih ikan cupang yang bagus banget.
“Ini pak saya pilih ikan cupangnya,” kata Wawan
“Wah ini ikan cupang bagus banget, tetapi harga sedikit mahal Rp 3000,-. Gimana nak,” kata pak Nasir.
“Ya pak saya beli karena saya suka. Oh iya pak sekalian dengan pakannya ya,” kata Wawan.
“Ok beres nak,” kata pak Nasir.
Pak Nasir segera membungkuskan ika cupang ke dalam wadah pelastik dan beserta pakannya. Kemudian Wawan mengeluarkan uangnya Rp 5000,- ke pak Nasir.
“Terima kasih banyak pak,” kata Wawan.
“Ya sama-sama,” jawab pak Nasir.
Angga dan Wawan meninggalkan toko pak Nasir pulang ke rumah. Mereka berdua sangat senang sekali dengan ikan cupang yang di belinya. Terlihat dari wajah merah berdua penuh keriangan. Sampai di persimpangan gang kecil lalu terlihat rumah Wawan dan Angga. Keduanya segera masuk ke rumah masing-masing mengambil sebuah toples beling di isi air. Baru di masukkan Ikan cupang yang baru mereka berdua beli.
Terlihat cantik ikan cupang yang di beli Angga begitu juga dengn Wawan. Mereka berdua merawatnya dengan memberikan pakan cacing sutra.
“Gimana dengan ikan cupang mu Wan?,” tanya Angga.
“Bagus ...ni,” kata Wawan sambil menunjukkannya.
“Kapan kita adu cupangnya?,” tanya Angga.
“Nanti...aja Angga. Ikannya mau di piara dulu agar bisa angresif,” kata Wawan.
“Dengan cara apa supaya agresif?,” tanya Angga.
“Ya....sering di latih dengan kaca.......agar nopeng terus. Jadi kalau di adu gak kalahan,” kata Wawan.
“Jadi begitu kalau begitu saya rawat dengan baik dulu nanti kalau udah jadi kita adu gimana wan,” kata Angga.
“Ok siapa takut,” kata Wawan.
Angga dan Wawan memelihara ikan cupang mereka dengan baik. Ikan cupang pun telihat gemuk di piara mereka setiap hari. Warna ikan cupang pun mengkilat sekali. Angga merasa senang sekali ikannya angaresif sekali. begitu dengan cupang Wawan. Pada akhirnya mereka berdua memutuskan untuk menguji nyali. Ikan cupang mana yang paling hebat.
Ketika ikan cupang di adu di depan rumah. Pak ustad Mansur tidak sengaja lewat rumah Angga dan Wawan. Melihat Angga dan Wawan antusias dengan adu cupang. Pak Ustad Mansur menegor Angga dan Wawan agar tidak melanjutkan mengadu cupangnya. Angga dan Wawan pun berhenti melanjutkan adu cupangnya. Karena nasehat Pak Ustad Mansur gak baik mengadu ikan cupang dan juga kasian ikan cupangnya.
Semenjak itu Angga dan Wawan hanya merawat Ikan cupang yang di piarannya dengan baik. Terkadang mereka menambah koleksinya dengan ikan yang lainya. Karena suka dengan ikan-ikan hias seperti ikan emas koki dan ikan gepi. Angga dan Wawan merawat ikan hias dengan suka cita.
“Angga di sana,” kata Wawan.
“Ayo kesana,” sahut Angga.
Angga melihat toko cupang yang tersembunyi di gang. Kemudian masuklah Angga dan Wawan ke dalam toko cupang milih pak Nasir.
“Permisi pak,” kata Angga.
“Permisi pak saya mau beli,” kata Wawan.
Angga dan Wawan berulang kali memanggil. Pak Nasir pemilik toko tak kunjung keluar. Angga dan Wawan menunggu sejenak di sebuah kursi di di luar toko. Baru mau duduk Pak Nasir keluar dari dalam tokonya.
“Siapa yang mau beli ikan cupang kata pak Nasiir?,” tanya pak Nasir.
“Oh...iya ..pak saya pak,” sahut Angga dan Wawan.
Angga dan Wawan masuk ke dalam toko ikan cupang.
“Maaf tadi ya bapak ada kerjaan di dalam. Sekarang kalian pilih ikan cupang yang kalian sukai,” kata pak Nasir.
“Baik Pak,” jawab Angga.
“Ya..pak,” sahut Wawan.
Angga dan Wawan melihat setiap botol yang berisi ikan cupang. Mereka berdua memperhatikan dengan baik Ikan cupang. Terlihat Ikan cupang toko pak Nasir bagus-bagus. Angga dan Wawan bingun melihat keindahan dari ikan cupang. Kemudian Angga menetapkan ikan cupang yang di pilihnya begitu dengan Wawan.
“Pak.... yang ini pak Nasir. Ikan cupang yang berwarna biru kemerahan,” kata Angga.
“Ya .....saya ambilkan,” kata pak Nasir.
“Harganya berapa?,” tanya Angga.
“Ya murah nak cuma Rp 2000,- per ekor.” Kata pak Nasir.
“Sedang pakan cacing sutranya pak berapa pak?,” tanya Angga lagi.
“Murah juga sih nak Cuma Rp 1000,” kata pak Nasir.
Angga langsung memberi kan Uangnya ke pak Nasir. Angga mendapat ikan cupang dan pakannya yang di bungkus di pelastik oleh pak Nasir.
“Terima kasih pak,” kata Angga.
“Ya...sama-sama,” kata pak Nasir.
Sedangkan Wawan sibuk memilih dengan cermat ikan cupang.
“Wawan mana ikan yang kamu pilih?,” tanya Angga.
“Iya....ini lagi memilih ikan cupangnya,” kata Wawan.
Lama Wawan memilih ikan cupangnya. Pada akhirnya memilih ikan cupang yang bagus banget.
“Ini pak saya pilih ikan cupangnya,” kata Wawan
“Wah ini ikan cupang bagus banget, tetapi harga sedikit mahal Rp 3000,-. Gimana nak,” kata pak Nasir.
“Ya pak saya beli karena saya suka. Oh iya pak sekalian dengan pakannya ya,” kata Wawan.
“Ok beres nak,” kata pak Nasir.
Pak Nasir segera membungkuskan ika cupang ke dalam wadah pelastik dan beserta pakannya. Kemudian Wawan mengeluarkan uangnya Rp 5000,- ke pak Nasir.
“Terima kasih banyak pak,” kata Wawan.
“Ya sama-sama,” jawab pak Nasir.
Angga dan Wawan meninggalkan toko pak Nasir pulang ke rumah. Mereka berdua sangat senang sekali dengan ikan cupang yang di belinya. Terlihat dari wajah merah berdua penuh keriangan. Sampai di persimpangan gang kecil lalu terlihat rumah Wawan dan Angga. Keduanya segera masuk ke rumah masing-masing mengambil sebuah toples beling di isi air. Baru di masukkan Ikan cupang yang baru mereka berdua beli.
Terlihat cantik ikan cupang yang di beli Angga begitu juga dengn Wawan. Mereka berdua merawatnya dengan memberikan pakan cacing sutra.
“Gimana dengan ikan cupang mu Wan?,” tanya Angga.
“Bagus ...ni,” kata Wawan sambil menunjukkannya.
“Kapan kita adu cupangnya?,” tanya Angga.
“Nanti...aja Angga. Ikannya mau di piara dulu agar bisa angresif,” kata Wawan.
“Dengan cara apa supaya agresif?,” tanya Angga.
“Ya....sering di latih dengan kaca.......agar nopeng terus. Jadi kalau di adu gak kalahan,” kata Wawan.
“Jadi begitu kalau begitu saya rawat dengan baik dulu nanti kalau udah jadi kita adu gimana wan,” kata Angga.
“Ok siapa takut,” kata Wawan.
Angga dan Wawan memelihara ikan cupang mereka dengan baik. Ikan cupang pun telihat gemuk di piara mereka setiap hari. Warna ikan cupang pun mengkilat sekali. Angga merasa senang sekali ikannya angaresif sekali. begitu dengan cupang Wawan. Pada akhirnya mereka berdua memutuskan untuk menguji nyali. Ikan cupang mana yang paling hebat.
Ketika ikan cupang di adu di depan rumah. Pak ustad Mansur tidak sengaja lewat rumah Angga dan Wawan. Melihat Angga dan Wawan antusias dengan adu cupang. Pak Ustad Mansur menegor Angga dan Wawan agar tidak melanjutkan mengadu cupangnya. Angga dan Wawan pun berhenti melanjutkan adu cupangnya. Karena nasehat Pak Ustad Mansur gak baik mengadu ikan cupang dan juga kasian ikan cupangnya.
Semenjak itu Angga dan Wawan hanya merawat Ikan cupang yang di piarannya dengan baik. Terkadang mereka menambah koleksinya dengan ikan yang lainya. Karena suka dengan ikan-ikan hias seperti ikan emas koki dan ikan gepi. Angga dan Wawan merawat ikan hias dengan suka cita.


0 komentar:
Post a Comment