BANGKIT DARI KEMATIAN

Posted By Cerpen universal on Friday, March 3, 2017 | March 03, 2017

BANGKIT DARI KEMATIAN

Seorang kakek terinfeksi sebuah virus. Malam bergitu larut kakek yang sakit berjalan keluar dari rumahnya. Melewati gang kecil, lalu virus mulai memberikan efek yang luar biasa. Sang kakek kejang-kejang di pinggir jalan. Seorang pemuda dengan perawakan genduk melihat kakek sakit tersebut. Segera pemuda gendut tersebut menghampiri kakek yang sakit. Di sentuhlah kakek dengan kedua tangan pemuda gendut.

“Kakek Yan kenapa kamu?,” tanya sang pemuda.

Kakek kehilangan kesadarannya, lalu dari mulutnya keluar busa. Sang pemuda mulai panik  sekali.

“Tunggu sebentar ya kakek Yan, saya akan beli obat,” kata pemuda gendut.

Pemuda genduk meninggalkan kakek yang sekujur lemas. Berlari dengan cepat sang pemuda gendut ke sebuah toko obat.

“Permisi bu saya mau beli obat,” kata pemuda gendut.

“Gak bisa sudah mau tutup besok aja,” kata ibu penjual obat.

“Tolonglah bu, sebentar saja,” kata pemuda gendut.

“Ayo....lah....beli obat apa?,” tanya ibu penjual obat.

“Saya juga bingung....tapi sang pasien gejala sakitnya kejang-kejang dan mengeluarkan busa di mulutnya,” kata  pemuda gendut.

“Ya kalau itu sih penyakit ayan.....lebih baik di larikan kerumah sakit....ya udah kayanya sih obat ini cocok,” ujar Ibu penjual toko.

“Ya baik bu,”sahut pemuda gendut.

Sang ibu penjual obat mengambil obatnya. Pemuda gendut lalu mengeluarkan uang dari sakunya celananya dan membayarnya sesuai dengan harga yang di tentukan ibu penjual obat.

“Terima kasih,” kata pemuda gendut.

“Ya... sama-sama,” kata  ibu penjual obat.

Segera pemuda gendut berlari secepat mungkin ketempat kakek Yan. Di tengah jalan malah di panggil polisi setempat yang mengenal pemuda gendut.

“Bim kenapa kamu berkeliaran malam-malam....apa juga terlihat mencurigakan,” tanya petugas polisi.

“Maaf......petugas Kum... saya lagi terburu-buru, mau menyelamatkan kakek Yan sakit,” jawab Bim.

“Pasti bohong kamu...karena kamu terlalu sering bikin ulah,” kata petugas Kum.

“Sungguh... beneran....ini obatnya,” kata Bim.

“Ya.....udah kalau begitu ayo kita ke tempat siapa itu?,” tanya petugas Kum.

“Oh....maksudnya kakek Yan,” kata Bim.

“Ya itu,” ujar petugas Kum.

Keduanya segera menuju di mana tempat kakek Yan tergeletak tidak sadarkan diri. Dengan berlari-lari Bim dan petugas Kum sampai di tempat kakek Yan di pingir jalan dekat gang yang sempit.

“Disana kakek Yan  tergeletak,” kata Bim.

“Ayo...,” sahut petugas Kum.

Mereka berdua masuk ke dalam gang ternyata kakek Yan menghilang.

“Dimana kakek Yannya?,” tanya petugas Kum.

“Beneran di sini kok...saya tidak berbohong....,” kata Bim.

“Ya udah...kita cari...jika gak ketemu kamu saya masukan dalam sel,” kata petugas Kum.

“Ya...,” kata Bim.

Petugas Kum dan Bim mencari sang kakek yang sakit. Ternyata ketemu di gang sebelah  tidak jauh dari tempatnya tergeletak tadi. Dengan segera mereka berdua menghampiri. Bim memberikan obatnya kakek Yan dengan menyuapinya. Untung saja obat yang di berikan Bim obat sirup. Petugas Kum juga membantunya. Sang kakek meminumnya dengan pelan-pelan. Terjadi reaksi yang aneh lagi pada kakek Yan tubuhnya mulai kejang-kejang, matanya jelatan dan pada akhirnya kakek Yan mati.

“Kakek Yan.....,” teriak Bim.

“Ya...udah...relakan kepergiannya....,” ujar petugas Kum.

Keduanya mulai bangun dari tempat situ. Petugas Kum mulai menelpon pihak terkait dan ambulan. Sedangkan Bim berdiri di samping petugas Kum. Sambil mendengarkan pembicaraan petugas  Kum. 

“Aaah,” suara teriak dari kakek Yan.

Bim terkejut sekali mendengarnya begitu juga petugas Kum. Sang kakek Yan bangkit dan berjalan menuju mereka berdua.

“Kakek Yan kamu gak apa-apa?,” tanya Bim.

Sang petugas menghampiri kakek Yan berjalan tergopoh-gopoh. Kakek Yan membuka mulutnya lebar-lebar dan mengigit petugas Kum bagian lehernya sampai bersimbah darah.

“Haaaaaaaa,” teriak keras Bim sok.

Petugas Kum di cabik-cabik dengan kakek Yan yang kelaparan. Darah terus bercucuran petugas Kum meninggal. Tetapi sang kakek terus memakan bagian tubuh petugas Kum. Bim melihat kejadian tersebut segera pergi meninggalkan mereka berdua dengan berlari. Kakek Yan mulai  bangkit lagi dan segera mengejar Bim.

“Haaaaaaa,” teriak Bim dengan ketakutan.

Bim terus berlari tergopoh-gopoh  ke suatu tempat di pinggiran toko di mana teman-temannya lagi santai.

“Tolong saya,” kata Bim.

“Ada apa?,” tanya Toy.

“Kakek Yan meninggal setelah itu membunuh petugas Kum,” penjelasan Bim.

“Ah....bohong kamu,” kata Toy.

“Mungkin itu bener,” sahut Kaa.

Kakek Yan dateng dengan petugas Kum yang bersimbah darah menyerang teman-temannya yang sedang asih bersendau gurau. Lagi-lagi korban berjatuhan.

“Haaaaaaaa,” teriak ketiganya.

Berlarilah mereka bertiga kocar-kacir entah kemana. Setiap langkah mereka menuju tempat untuk menyelamatkan diri para mayat hidup mengejar mereka. Terus bertambah. Bim tambah takut sekali begitu teman yang lain. Tapi beberapa kali menghindar Toy pun kena kepungan mayat hidup pada akhirnya meninggal dan jadi bagian dari mereka. Kaa yang melihatnya menjadi tambah ketakutan. Berlari keatas gedung ternyata di tangga di sergap mayat hidup. Kaa tewas dan kembali bangkit menjadi mayat berjalan.

Bim melihat teman-temannya satu persatu jadi mayat tambah takut dan histeris.  Bim berusaha  berjuang untuk menyelamatkan diri dari serangan mayat hidup. Tetap saja Bim terjebak keadaan di suatu area toko. Bim bersembunyi dengan mengatur nafasnya. Mayat hidup pun terus menyerang sampai Bim terdesak. Tiba-tiba seekor tikus datang menyerang Bim. Berusaha keras melawannya dan membunuhnya. Tetapi segerombolan datang dan menghabisi Bim. 

“Ahhhh,” teriakan terakhir Bim

Bim mati dan berubah menjadi mayat hidup. Seluruh kota berubah jadi lautan mayat hidup dalam semalam.
Blog, Updated at: March 03, 2017

0 komentar:

Post a Comment