THE BASED STORY OF PSYCHOPATH

Posted By Cerpen universal on Monday, September 14, 2020 | September 14, 2020

THE BASED STORY OF PSYCHOPATH

Namaku Aino Nico. Aku baru saja pindah ke Osaka karena pekerjaan orangtuaku yang tidak menetap. Disini aku akan mulai beradaptasi dengan lingkunganku yang baru untuk yang keempat kalinya.

"Ma.. aku berangkat dulu ya?” Izinku pada mama untuk pergi sekolah. “Iya.. hati-hati ya.. masih ingat kan sama rute sekolahnya? 34 meter dari sini” Ingat mama.

“Iya, ma.. aku masih ingat kok. Ya udah ma, bye-bye ma.” Ucapku sambil berjalan ke luar rumah.

Sembari berjalan, aku sempat memperhatikan rumah yang berada di sebelah rumahku. Sangat terlihat tak terawat dan usang, layaknya rumah yang sudah tak terpakai dan bisa langsung dirobohkan untuk dijadikan rumah yang baru. Tetapi, saat kulihat lebih jeli lagi di bagian jendela atas.. aku sangat terkejut melihat tirai itu bergerak-gerak sendiri. Padahal sudah jelas jendela itu tak terbuka. Tapi sudahlah, aku harus buru-buru ke sekolah agar tak terlambat.

Kringgg… Kringgg…

Bel pulang sudah berbunyi. Waktu sekolah telah usai. Tak kusangka disini aku susah sekali beradaptasi, Sebaalll!!

Aku pun, berjalan selangkah demi selangkah untuk pulang ke rumah. Dan saat sudah di dekat rumah, kutatap lagi rumah yang berada tepat di sebelah rumahku itu, betapa anehnya jendela itu tergeser sedikit sendiri saat aku sedang melihatnya. Tak lama setelah kuperhatikan jendela itu, ternyata seorang gadis cantik berbaju putih selutut dengan rambutnya yang gantung sepunggung menatapku tepat di depan pintu rumah itu. Ia menatapku dengan tajam sehingga membuat bulu kudukku berdiri. Aku pun cepat-cepat pergi dari situ untuk pergi ke dalam rumah.

“Fheww.. lelahnyaa..” Eluhku sambil mengambil air dingin di dalam kulkas. Dan kemudian terbayanglah gadis cantik tadi di pikiranku, “kira-kira siapa dia ya? sepertinya dia seumuran denganku. Siapa tau, kalau aku berkenalan dengannya, dia mau menjadi temanku?” Kataku sambil berfikir untuk mencoba bertemu lagi dengannya untuk kujadikan teman.

20 menit berfikir, barulah akhirnya kakiku mau berjalan ke luar untuk menemui gadis misterius itu. Sesampai di depan rumah itu, hatiku berdegup kencang, keringatku bahkan mulai menetes, entah kenapa aku bisa segugup ini. “Permisi.. apa ada orang?” Ucapku sambil mengetuk-ngetuk pintu rumah itu.

Kriett..

Deghh.. deghh.. hatiku makin menjadi-jadi. Aku semakin gugup penuh penasaran. “Emm.. konnichiwa.” Sapaku. “Mencari siapa?” Ucapnya dengan suara merdunya, dan sepertinya ia amat ramah, tetapi otakku masih bertanya-tanya, mengapa ia tinggal di rumah yang tak terawat seperti ini? “Ehm.. tidak, aku hanya ingin berkunjung. Aku orang baru disini, dan kebetulan aku belum punya satu teman pun disini.” Jelasku. “Oh, kalau begitu masuklah.” Katanya, sembari memasuki rumahnya. Kutatapi setiap ruangan terlihat amat berantakan. Bahkan ada tikus berjalan dimana-mana. “Silahkan duduk. Aku ambilkan minum dulu, tunggu sebentar ya.” Katanya, dan aku hanya mengangguk. Kutatapi setiap sudutnya di ruang tamu ini, dan tak lama bau bangkai sempat melintas di penciumanku. “Rumah macam apa sih ini? benar-benar tidak layak! bagaimana bisa rumah sekotor ini masih ditinggali? aku jadi penasaran sekali sekarang.” Ucap benakku.

“Ini minumnya.” Ucapnya sambil menaruh segelas teh itu dimeja. “Iya, terimakasih. Omong-omong.. siapa nama mu?” Tanyaku. “… Aiba Yuki” Jawabnya sambil menunduk. “Wahh.. kirei namae, oh ya namaku Aino Nico, umur kamu 16 tahun yah?” Tanyaku lagi. “Iya.” Jawabnya singkat. “Sudah kuduga kita seumuran. Kalau begitu, mau gak jadi temanku?” “…. Te-.. man?” Jawabnya yang terlihat sedikit gelisah. “Ehmm.. iya, karena aku kesepian di rumah gak ada siapa-siapa, mama dan ayah pulang malam, teman sekolah belum dapat, aku seperti anak terlantar.” Ucapku. “.. Tapi… aku tidak tahu cara berteman.” “Ha!? Omae-wa hontoni desuka!?” Kagetku. “…” Ia terdiam sambil menunduk. Bodohnya aku berkata begitu! mungkin saja ia serius. “Ehh.. m-maaf, aku tidak bermaksud begitu, hanya saja.. aku bisa kok mengajarimu cara berteman.” Kataku. “.. benarkah..?” “Iya, tapi ada syaratnya.” “Apa itu..?” “Kamu harus tersenyum.” “…” Ia tak mengatakan apapun, hanya mengeluarkan wajahnya yang sedikit memerah. “Lho..? kok malah terdiam sih? ayoo senyumm.” Paksaku mendekati wajahnya dengan senyumanku. “A-ahh… I-iya.” Wajahnya mulai sedikit berseri, wajahnya benar-benar terlihat sangat cantik sekarang. “Nah.. gitu, kan jadi lebih cantik.” Godaku dengan tawa kecilku. Ia mulai membuka lebar senyumnya, dan ikut tertawa kecil denganku. Sepanjang sore aku habiskan waktu dengannya. Aku ajak dia kerumah untuk bermain, membaca buku, bahkan ia sedikit bercerita tentang dirinya. Ia berkata “Masa laluku amat menyedihkan. Dosa-dosaku tak kan termaafkan, sampai ada yang bisa membuatku kembali membuka tawa bahagiaku, aku akan hidup bahagia selamanya disana.” Itu katanya, entah apa yang ia maksud, tapi aku yakin pasti artinya ia amat bahagia.

Sekitar jam sepuluh ia kembali ke rumahnya, aku sempat bertanya kepadanya juga kenapa ia mau tinggal di rumah yang seperti itu, dan ia pun menjawab, itu hanya sementara saja. Dan akhirnya pertanyaan yang ada di kepalaku pun terjawab.

“Mama, Papa pulang..” Ucap mama memasuki rumah. “Mama, Papa, okaeri-nasai..” Ucapku mendatangi Mama dan Papaku yang sehabis pulang kerja. “Wahh.. anak papa ini sepertinya kelihatan bahagia ni? tadi di sekolah seru sekali ya..?” Kata papa sambil tersenyum. “Bukan! di sekolah menyebalkan! Nico susah sekali beradaptasi dengan yang lain!” Ucapku sebal. “Nah, terus..? kenapa anak Papa bisa kelihatan ceria begini?” Tanya Papa. “Itu karena tetangga sebelah kita. Ia baik.. sekali! ia juga cantik, dan ia juga seumuran denganku loh pa..!” Ucapku bahagia. “.. Tunggu, maksudmu.. tetangga sebelah kiri kita ini?” Ucap Papa bingung. “Iyaa! Papa harus kenalan deh. Kalau bukan karena dia.. Nico sudah sangat kesepian sepanjang hari ini.” Ucapku. “.. Aiba Yuki?” Tanya Mama. “Lho? kok Mama tau? Mama ini bagaimana sih? kenal tapi gak dikenalin sama Nico.” Kataku sebal. “jadi benar Aiba Yuki?” Tanya Papa lagi. “Eh..? kok Mama Papa jadi tanya pakai nada begitu terus sih? sebenarnya kenapa kalau memang dia?” Tanyaku kepada mereka. “Mama lupa tadi pagi memberi tahumu, kalau rumah sebelah ini berhantu. Sudah tidak berpenghuni lagi.” Kata Mama. “M-maksud Mama?” Tanyaku kebingungan. “Jadi begini.. tahun lalu, ada seorang gadis muda membantai seluruh keluarganya serta teman-temannya. Diakibatkan kekesalan Aiba kepada kedua orangtuanya. Ia pun membunuh kedua orangtuanya dan menguburnya di bawah lantai ruang tamu. Kemudian ia membunuh dua orang adiknya karena takut adiknya membuka mulut ke semua orang kalau Aiba telah membunuh kedua orangtuanya. Dan pembunuhan yang terakhirnya adalah.. ketika ia mencoba membunuh temannya yang kedelapan di sebuah tempat yang tertutup sambil mengenakan baju putih dengan pisau kesayangannya. Akan tetapi ia pun ketahuan dan langsung dibawa ke pihak yang berwajib. Ketika masih ditanya-tanya masalah belaka tak jauh dari tempat itu, ia mulai memberontak sangat hebat dan berlari sekencang mungkin menuju rumahnya. Ia menusuk dirinya sendiri di kamar atas sambil berkata ‘AKU KAN SELALU BERADA DI SEKITAR DENGAN KETERPURUKANKU, SAMPAI ADA YANG BENAR-BENAR BISA MEMBUATKU BAHAGIA WALAU HANYA SEKEJAP, SAYANGG!!!’ dan setelah itu, semua jasad yang berada di dalam rumah itu telah dievakuasi kecuali bau-bau bangkai yang masih saja berada melintas di sekitar.” Jelas Papa. “K-kalau begitu… lalu yang tadi siang itu..” Aku pun langsung merinding ketakutan seusai mendengar penjelasan dari Papa. Aku pun langsung lari kekamar untuk memeluk boneka ku yang juga sempat aku pakai bermain bersama Aiba. Aku benar-benar bingung dengan semua yang telah terjadi. Mataku mulai tertutup dan tertutup. Tak lama setelah itu, aku mendengar sepintas panggilan Aiba. “.. Nico… Arigatou.” Aku langsung terbangun dengan keringat yang bertetesan. Dan semua yang kualami, akan menjadi misteri baru yang telah terungkap.
“Gadis cantik sang Psikopat.”
Blog, Updated at: September 14, 2020

0 komentar:

Post a Comment