I'M DEATH AND HE'S MY SOULMATE (PART 2)

Posted By Cerpen universal on Monday, September 14, 2020 | September 14, 2020

I’M DEATH AND HE'S MY SOULMATE (Part 2)

Langkahku ringan, nyaris melayang di atas tanah. Bohlam di sisi jalan berkedip seolah menyapa saat kulewati. Malam semakin sepi dan dingin, tampak dari butir salju yang makin menggunung menutupi jalanan. Aku menghembuskan napas tanpa tanda udara di musim dingin dapat mempengaruhi suhu tubuhku seperti ketika aku masih hidup. Aku tak merasakan dingin, terik matahari, bahkan orang-orang dengan bebas tembus melewati tubuhku. Tak ada yang menyahut ketika aku bertanya. Mencekam. Duniaku sunyi. Tiba-tiba semua terasa menakutkan. Aku sendirian. Tak ada siapa-siapa. Aku berjalan seorang diri di dunia yang luas ini.

Aku telah meninggal. Tiga hari lalu, bahkan mayatku masih teronggok di semak belukar di dalam hutan. Gigiku gemeretak. Tangan mengepal. Buku-buku jemari mencuat isyaratkan amarah memuncak. Aku tak rela. Seribu tahun sekalipun aku tak akan memaafkannya. Pembunuh terkutuk itu. Akan kubalas!

Gendang telingaku mau pecah.

Well, memang diragukan apa masih dapat pecah?
Kupikir-pikir, kenapa dulu aku banjir air mata karena dia? Padahal lihat saja. Kakiku bahkan tak bisa melangkah. Bekas kaleng minuman dan sampah tak jelas berserakan di tanah. Bergerak mengikuti alunan musik DJ yang disetel seolah konser, tubuh mereka saling menempel, kelewat dekat. Ah.. dia tak pernah berubah. Setiap minggu berpesta pora. Barangkali karena dia juga kesepian. Orangtuanya selalu ke luar negeri. Mungkin itu sebabnya ia lebih mementingkan popularitas dan senang-senang. Tapi setidaknya ia punya banyak teman. Aku mengenal satu dua wajah dari… kurasa hampir seluruh warga kampus di sini.

Aku ingin sekali mengabaikannya tapi ketika mau lewat, seorang wanita dan pria berdiri di depan pintu masuk. Mereka tampak asyik mengobrol, aku menghentikan langkah. Karena di detik berikutnya wajah mereka saling mendekat, makin dekat, lalu…

Aku memalingkan wajah. Bila saja darah masih mengalir di kulit, pasti sekarang mukaku merah seperti tomat matang. Tingkah remaja jaman sekarang…

***

Mengapa aku di sini?
Kepalaku serasa mau pecah. Perutku mual bukan main. Sedari tadi kucoba memuntahkan isi dalam perut tapi tak ada yang keluar dari mulutku. Kesal. Jengkel! Semua gara-gara dia!

Kenapa rumah si brengsek itu berdekatan dengan rumahku? Kenapa pula bisa-bisanya aku mampir kemari, cuma karena tak tahan melihat Ibu menangisi potretku. Ah… Ibu, maafkan anakmu ini. Meski sudah jadi makhluk tak kasat mata pun, aku masih saja membenci diriku. Harus apa lagi? Aku tak dapat bicara dengan siapapun, bahkan mereka tak dapat meliha-

“Woi! lo ngapain nungging di situ?”

“Lo… lo bicara sama gue?”

“Cih! terus siapa lagi? Setan?”

Deg.

“Ugh… ah.. maksud gue lo bisa ngliat gue?”

Ya, Tuhan, rasanya jantungku mau copot!

“Lo pikir gue buta?! Pantat segede gitu nggak keliatan?”

Dia melangkah maju, “minggir gue mau kencing,” menoleh padaku, “atau lo mau pegangin…?”
Senyum miringnya mengembang.

“Ewww…” sambil memasang muka jijik aku membalik badan dan menutup pintu selagi sudut bibirku meruncing.

Aku senang sekali. Sampai-sampai jantungku tak berhenti berdebar. Ya, mesti tak sesenang itu, sih, karena…

***

“Apasi lo, ngikutin gue mulu?!!”

Dia. Si brengsek itu satu-satunya orang yang dapat melihat dan bicara denganku.
“Ga, lo nggak tahu situasi penting seperti apa sekarang?”

“Nggak mau tahu.”

“Tapi Ga, gue kan udah ceritain semua ke lo, dan satu-satunya orang yang bisa bantu gue ya cuma elu.”

“Bodo.”

Argh!!!

Sebenarnya aku tak sudi minta bantuan sama cecunguk ini. Tapi apa mau dikata. Entah mengapa cuma dia yang dapat melihatku.
“Aga please…”
Dia berlalu. Aku mengejar.

Di dapur “Aga pleasee…”

Di kamar “Aga pleassee…”

Kamar mandi “…pleaseee…”

Ruang tamu, halaman, bahkan ketika dia mulai berjoget dengan cewek-cewek ber-rok mini itu, aku tetap dan tanpa jeda bergumam di kupingnya, “Aga please… Aga please… Aga pleas-”

“Ok. Stop. Fine!!”

Kaget semuanya berhenti bersamaan. Meraka saling pandang. Bingung dengan sikap tuan rumahnya itu. Aga menarik lenganku menuju dapur. Tak ada orang.
“Mau lo apa?!”

Aku nyengir lebar, “gue mau lo bantu gue nyari pembunuh itu.”
Aga mematung sesaat. Tampak berpikir.

“Ok. Tapi setelah itu lo harus jauh-jauh dari hidup gue. Atau sebaiknya lo cari pohon gede kek, terus ketawa-ketiwi deh di situ, yang penting jangan ganggu gue lagi, ngerti?!!”

Mataku menyipit, “lo pikir gue kuntilanak?”

“Whatever.”

Well, setidaknya Aga mau membantuku menemukan pembunuh kamvret itu.

Bersambung…
Blog, Updated at: September 14, 2020

0 komentar:

Post a Comment