MISTERI RUMAH KAKEK WAN

Posted By Cerpen universal on Monday, September 14, 2020 | September 14, 2020

MISTERI RUMAH KAKEK WAN

“Ma, kapan kita pulang? aku nggak betah tinggal di sini.” Tanyaku saat kita menginap di rumah seorang wanita yang baru dikenal Mama 5 hari yang lalu.

“Ya kita akan pulang kalau rumah kita udah selesai dibenerin. Lagian Mama betah kok tinggal di sini, Tante Maya juga baik sama kita.” Kata Mama yang langsung beranjak pergi. Walaupun Mama mencoba menenangkanku, tapi aku masih gelisah. Dari pertama aku masuk rumah Tante Maya, rumahnya serem banget, kalau lagi jalan ke dapur aku sering ngerasa ada orang yang ngikutin dari belakang. Hari ini malam sabtu dan Mama mau pergi ngejenguk temennya di rumah sakit.

“Heni, malam ini Mama sama Tante Maya mau ke rumah sakit nengokin temen Mama yang lagi sakit. Nggak apa-apa kan kalau kamu di rumah sendiri.” Kata Mama.

“Mbak, apa nggak sebaiknya Heni diajak aja ke rumah sakit. Lagian udah malem dan Heni sendiri, apa dia nggak takut.” saran Tante Maya yang kesannya membujuk Mama agar mengajakku. “Iya Ma, aku ikut Mama aja deh.” Kataku.

“Ya ampun Heni, kamu kan udah besar, masa takut di rumah sendiri. Lagian kita nggak lama kok.” Kata Mama.

Aku pun hanya diam karena Mama bener, walaupun aku udah SMP tapi rumah Tante Maya ini aneh dan bikin aku takut.

Setelah Mama dan Tante Maya pergi, aku pun masuk ke dalam rumah. Akhirnya aku sendiri di rumah ini. Aku pergi ke dapur untuk mengambil air agar aku lebih tenang. Saat melewati suatu kamar aku melihat sesosok gadis yang menyisir rambutnya di depan cermin. Aku pun mengintip dari luar. Seingatku Tante Maya tidak pernah menceritakan tentang kamar itu. Di kamar itu suasananya sangat gelap dan kotor. Aku melihat lukisan besar yang tergantung di dinding kamar itu, terlihat foto seorang ayah, ibu, dan kedua anak perempuannya. Saat aku melihat cermin, tidak ada bayangan gadis itu.

“Aaaaa!” Teriakku. Gadis itu berbalik dan mukanya penuh dengan darah di muka dan baju putihnya.

“Pergi dari rumah kami.” Kata gadis itu. Aku langsung menutup pintu kamar itu dan berlari menuju dapur. Aku mencoba menenangkan diriku dan melupakan kejadian itu.

Setelah minum air, aku berbalik dan akan berjalan tapi kakiku tidak bisa digerakkan. Aku melihat ke bawah dan ada seorang wanita yang memegang kakiku sambil mengesot, aku berteriak ketakutan dan menarik kakiku dan berlari ke kamarku. Disana aku mencoba menelpon Mama dan Tante Maya, tapi tidak bisa. Aku mengambil tas dan akan pergi dari rumah berhantu ini. Saat di ruang tamu yang dekat pintu ke luar aku melihat seorang anak kecil yang sedang memegang sebuah boneka berdiri di depan pintu lalu menghampiriku.

“Ahh! pergiii!! Jangan ganggu aku.” Teriakku. Aku mulai berjalan mundur tapi boneka berdarahnya menghampiriku.

“Tolong!” aku berteriak meminta tolong pada para tetangga tapi sepertinya mereka nggak denger. Aku mulai ketakutan dan menangis, aku hanya bisa menutup mataku dan berdoa. Hantu anak kecil dan bonekanya pun menghilang. “Aku harus pergi dari rumah hantu ini, lagian mana sih Mama sama Tante Maya? Katanya mau pulang cepet Huh!” Keluhku dalam ketakutan sambil membuka pintu, tapi pintunya nggak bisa dibuka. Aku mulai kebingungan, di saat kebingungan aku merasa merinding dan berbalik. Hah! aku melihat ketiga hantu yang ku lihat tadi ada di depanku, aku pun berteriak karena ketakutan lalu aku pingsan.

Beberapa saat kemudian aku mendengar suara Mama dan Tante Maya yang mencemaskanku sambil menepuk pipiku. Aku pun sadar, “Ma ayo kita pergi aja dari tempat ini, rumah ini tuh berhantu. Tante Maya bener kan kalau rumah tante ini berhantu?” Tanyaku. Tante Maya hanya diam.

“Heni jangan ngomong uang nggak nggak ah.” Kata Mama.

“Heni bener kok mbak, rumah ini emang ada penunggunya. Dulu, seminggu sebelum kalian datang ke sini saya belum tinggal di rumah ini. Waktu itu saya lagi cari kontrakan, tapi nggak dapet dapet akhirnya ada seorang Kakek Wan yang ngasih rumah ini sama saya. Awalnya saya ngerasa aneh tapi saya terima karena udah malam. Sebelum pergi dia sempet bilang kalau rumah ini ada penunggu keluarganya dan nyuruh saya supaya hati-hati, tapi saya nggak percaya sama kayak gitu. Pada hari pertama dan kedua nggak ada apa-apa, tapi pada ketiga saya mulai ngelihat penampakan keluarga kakek itu yang meninggal.” jelas Tante Maya.

“Terus kenapa Tante Maya nggak pindah dari rumah ini?” tanyaku.

“Tante baru nyari uang buat pindah sekalian nyari orang yang mau ngontrak rumah ini.” Jawab Tante Maya.

“Loh kenapa harus nyari orang yang mau ngontrak dek?” Tanya Mama. “Soalnya Kakek Wan itu pesen sama aku kalau mau pergi dari rumah harus nyari pengganti orang yang tinggal di rumah ini, kalau nggak nanti katanya saya akan diikuti arwah-arwah hantu di rumah ini.” Kata Tante Maya.

“Dek Maya mendingan tinggal di rumah kami aja, entar saya bantuin cari orang yang mau ngontrak di rumah ini.” Kata Mamaku. Tante Maya pun setuju.

Pada pagi harinya rumahku selesai diperbaiki, aku dan Mama pulang ke rumah kami bersama Tante Maya. Dan rumah yang ditinggali arwah-arwah itu sekarang dikontrak sama 3 orang gadis kuliahan. Tante Maya pun senang karena sudah pergi dari rumah berhantu itu. Dia bercerita kalau dia sering dihantui sama arwah-arwah ibu dan kedua anaknya setiap malam apalagi pada malam sabtu karena dia menduga kalau malam sabtu adalah malam meninggalnya arwah hantu rumah itu.

“Ma, Mama udah kasih tahu gadis kuliahan yang ngontrak di rumah itu kan?” Tanyaku karena sejak tadi malam aku merasa gelisah. “Kayaknya Tante Maya deh yang ngasih tahu sama mereka.” Jawab Mama yang sedang menata barang-barang bersama Tante Maya.

“Apa? jadi mbak belum ngasih tahu mereka ya? Aku kira mbak udah ngasih tahu mereka.” Kata Tante Maya kaget. Kami pun jadi kaget, aku rasa gadis kuliahan itu udah pergi dari rumah itu tanpa nyari pengganti orang yang tinggal di rumah Kakek Wan.
Blog, Updated at: September 14, 2020

0 komentar:

Post a Comment