PENAKUT
Aku dan teman-teman seperjuanganku bermain kejar-kejaran di halaman sekolah. Walaupun aku ini sudah memakai seragam putih abu-abu, tapi bukan berarti permainan seperti ini dilarang ‘kan ? Yahh.. Kuakui juga bahwa kami sudah menjadi sorotan para kakak kelas. Ada yang memandang dengan tertarik serta ikut terkikik geli, dan ada juga yang melemparkan tatapan meremehkan pada kami. Karena memang kami ini masih kelas satu. Dan mungkin karena itu jugalah tindakan kami selalu salah di mata kakak kelas.
Namun aku dan teman-temanku tidak menghiraukan mereka. Terserah. Mau bola matanya sampai keluar karena terus memelototi kami juga terserah. Yang jelas, kami hidup bukan untuk menyenangkan mereka.
Rambutku yang panjang sepinggang berkibar-kibar ditiup angin. Peluh juga merembes membasahi dahiku. Aku tidak merasa gerah atau apa. Karena aku sudah terbiasa seperti ini. Ketika kulihat teman-temanku, mereka juga tak jauh berbeda denganku. Penampilan mereka sudah acak-acakan. Padahal ini baru istirahat pertama.
***
Ah, aku tersenyum sendiri mengingat memori jauh itu. Masih terekam dengan jelas. Saat aku bermain kejar-kejaran.. Matahari tengah bersinar dengan terik.
Aku yang kini duduk mencekung di bawah pohon beringin hanya bisa pasrah menunggu. Entah apa yang kutunggu, aku juga tidak tahu. Yang jelas aku duduk sendiri di sini. Rambut hitam legamku juga semakin panjang jika dibandingkan dengan dulu. Saking panjangnya rambutku, hingga menutupi sebelah indera penglihatan. Sekali lagi kutekankan. Aku tidak risih. Dan kuakui.. Aku suka jika rambutku panjang seperti sekarang.
Baju putih besar yang kukenakan membuatku terlihat seperti orang-orangan sawah. Huft. Andai saja aku diizinkan untuk memakai baju yang lain, pasti aku akan memilih baju bermotif polkadot! Karena motif itu adalah kesukaanku. Semua properti di kamar tidurku juga identik dengan polkadot. Hm, kira-kira kamarku apa kabar ya? Sudah 2 bulan aku tidak mengunjunginya.
Semilir angin sore seperti ini memang sangat aku nantikan. Karena itu aku memilih duduk di bawah pohon beringin seperti ini. Aku tidak peduli dengan rumor yang mengatakan bahwa di pohon beringin ada “penunggunya”. Persetan dengan itu. Yang jelas, aku tidak mau beranjak dari sini sebelum malam.
Semakin lama.. Aku semakin duduk meringkuk.
Aku memikirkan tentang teman-teman seperjuanganku yang dulu bermain kejar-kejaran denganku. Kira-kira mereka seperti apa ya sekarang? Sudah lama aku tidak melihat batang hidung mereka. Bukannya aku sombong atau apa. Tapi aku tidak mau datang ke sekolah. Aku takut. Ada sesuatu yang kutakutkan saat aku berada di sekolah.
Tak hanya di sekolah. Di rumah, di toko, atau di jalan, aku merasa takut. Aku benar-benar takut. Itulah mengapa aku memilih duduk sendiri di bawah pohon ini.
Namun saat aku tengah asyik memainkan rambutku, kudapati rombongan anak berseragam berjalan mendekat. Seragam putih biru yang mereka kenakan sudah tak berbentuk. Maksudku disini, seragam mereka penuh dengan coretan warna-warni. Apa.. Mereka telah menerima surat kelulusan?
Semakin dekat rombongan itu, semakin jelas pula wajah mereka.
Err.. Aku mengenal mereka. Mereka adalah teman-teman kelasku sesaat sebelum aku menjadi penakut. Wah, enaknya yang sudah lulus. Kira-kira mereka akan melanjutkan kemana ya? Aku ingin menyapa mereka. Namun aku hanya bisa tersenyum dengan benang-benang indah di sekitar mulutku. Aku ingin bersuara. Namun suaraku tercekat di tenggorokan.
Lalu mereka berdiri berjejer di depanku. Lebih tepatnya berdiri di depan papan kayu. Well, aku paham mengapa mereka di sini.
Tak ayal, aku sedikit takut mereka datang ke sini. Aku takut mereka membawa benda itu. Jujur, aku sangat enggan dengan benda itu. Sejak 2 bulan yang lalu, aku jadi menghindarinya.
Benda yang kuhindari itu adalah cermin. Kenapa? Karena ketika aku melihat cermin, aku tidak menemukan bayanganku.
Selesai


0 komentar:
Post a Comment