MARIE

Posted By Cerpen universal on Tuesday, October 20, 2020 | October 20, 2020

MARIE

Pria itu memandangku tanpa berkedip. Wajahnya yang tirus terlihat pucat dan sedikit tidak berdaya. Tangannya yang keras dengan jari-jarinya yang panjang dan kurus memegang serangkaian bunga yang masih segar. Aku berusaha untuk mengalihkan pandanganku darinya tapi tetap saja dia memandangku tapi kali ini dengan sangat sedihnya. Aku sedikit merasa takut karena ia berdiri tidak jauh dariku. Tiba-tiba dia berjalan ke arahku. Jaket cokelatnya yang panjang menari-nari tertiup angin. Aku merasa ngeri dan mundur dengan cepat. Dengan setengah berlari aku sesekali melihat ke arah pria itu. Ternyata dia tidak mengejarku. Langkahnya terhenti. Dia tidak mengejarku! Huf..

Pria itu kini berada di hadapan nisan tempatku berdiri tadi. Dia lalu meletakkan bunga yang dipegangnya di atas nisan itu. Ku lihat dengan cepat dia meneteskan air mata dan mengeluarkan sepucuk surat di dalam saku jaketnya. Dia menghembuskan napas dengan sesak. Waktu seakan terhenti dan aku tetap saja memperhatikannya dengan tidak berkedip. Dalam hatiku merasa kasihan dengan pria itu. Pasti dia sangat sedih dan merana sekali. Aku membaca tulisan di nisannya. Marie Van Loon. Mati di usia yang masih sangat muda, dua puluh tujuh tahun. Aku sempat bertanya-tanya, siapakah pria ini yang kini telah berdiri di atas tanah tempat wanita itu, yang kini sudah terbujur kaku yang kini tengah dia tangisi.

Pria itu berbalik ke arahku. Aku terkesiap. Gosh! Dia tahu kalau aku sedari tadi mengikutinya. Aku terjerembab ke tanah ketika tiba-tiba dia memutuskan untuk beranjak dari hadapan nisan itu. Tapi dia pergi begitu saja melewatiku. Kini gantian napasku yang tersengal-sengal. Aku baru bisa berdiri sampai pria itu benar-benar menghilang dari pandanganku. Untunglah! Bunga yang tadi dipegangnya sudah teronggok diam di atas nisan itu. Suratnya pun tergeletak tak jauh dari bunga itu. Tapi, angin tiba-tiba menghempaskan suratnya hingga terjatuh dan terbuka. Aku bisa melihat isi dari tulisan itu.

“Dear Marie. Aku datang dimana saat mataku terlelap, hanya sebagian wajahmu yang ku ingat. Semoga kau tenang.” Aku masih menatap tulisan itu. Lama dan tertegun. Ketika aku ingin mengambil surat itu, seseorang memanggilku. “Sienna, apa yang kau lakukan?” Hah! Aku salah tingkah. Surat itu berusaha ku tutupi, tapi rupanya wanita itu melihatnya.

“Apa itu?” tanyanya.

“Hmm.. oh-eh. Tadi ada pria yang meletakkannya di atas nisan tapi surat itu terjatuh dan terbuka.”

Wanita itu mendekatiku dan membaca isi suratnya. Lalu dia menangis. “Ku rasa itu untukmu Marie..,” ujarku akhirnya.

Tangisnya makin kencang. “Tenanglah,” ujarku.

“Ke mana dia?” tanya Marie dengan sesenggukkan.

“Sudah pergi. Menghilang di antara nisan-nisan itu.”

Aku terdiam dan memandangi wajah temanku itu. Dia sangat sedih sekali.

“Maafkan aku Marie karena aku tidak tahu kalau dia ada kaitannya denganmu. Kalau pun tadi aku tahu. Aku pasti akan..”

“Akan apa Sienna? Tidak ada yang dapat kita perbuat!”

Ya, dia benar. Tidak ada yang dapat ku perbuat kalaupun ku tahu siapa pria itu. Dan Marie ini yang tengah berdiri di sampingku adalah Marie Van Loon. Perempuan yang namanya diukir di nisan itu. Teman terbaikku saat ini ketika aku merasa kesepian tiga tahun yang lalu di pekuburan ini. Lalu dia datang dengan wajahnya yang sedingin mayat sewaktu pertama kali datang. Dan dia merasa bingung kala itu tatkala peti yang ditempati tubuhnya pelan-pelan dimasukkan ke dalam tanah. Bahwa dia sudah benar-benar menjadi mayat. Kami yang masih terjebak di pekuburan ini. Aku tahu mengapa Marie sangat sedih seperti itu. Dia sudah lama tidak mendapat kunjungan dari keluarganya dan dia merindukannya. Sebuah kecelakaan mobil yang membuatnya dapat hadir di pekuburan ini. Kecelakaan yang membuat kedua orangtuanya bercerai serta membuat suaminya menikah kembali.

“Oh Sienna, kau tahu kan kalau aku merindukan mereka. Lihatlah diriku. Meskipun ada dirimu tapi aku merasa hampa. Hanya deretan nisan-nisan ini yang menjadi teman ceritaku. Selebihnya tidak ada. Sienna, kau tahu.. seandainya malam itu aku tidak meminumnya, sekarang pasti aku sudah berada di rumah dan berkumpul dengan keluargaku.”

Perlahan buliran air mataku pun terjatuh. Ah Marie aku pun merasakan hal yang sama denganmu. Seandainya dulu tidak ada seseorang yang menembakku dari belakang, aku pasti sudah bermain dengan Mia anakku. Aku melewati masa ketika dia tumbuh menjadi seorang gadis di mana kini ia akan memulai sekolahnya di semester pertama, dan dia pasti merindukanku saat ini. 

Aku tahu benar hal itu karena aku melihatnya menangis, sore ini, di depan nisanku. Dan kau tahu Marie? aku hanya dapat berdiri di belakangnya hingga isak tangisnya terdengar olehku. Dia membisikkannya jelas sekali, “Mam aku sungguh merindukanmu.”
Blog, Updated at: October 20, 2020

0 komentar:

Post a Comment