GEDUNG SD

Posted By Cerpen universal on Tuesday, October 20, 2020 | October 20, 2020

GEDUNG SD

Hasan sedang bersepedah bersama Hafid menikmati keadaan lingkungan dan juga membugarkan tubuh walau masih di masa pandemi Covid - 19. Ketika melewati jalan SDN 5, Hasan mengerem mendadak jadi berhenti.
"Kenangan masa lalu ku, masa kecil di sekolah ini," kata Hasan.

Hafid pun mengerem sepedahnya juga, ya berhenti juga di sebelah Hasan. 

"Hasan kenapa berhenti?" tanya Hafid.

"Lihat....kenangan masa lalu di masa kecil," kata Hasan.

"Ooooo SDN 5, dimana Hasan pernah sekolah di sini," kata Hafid.

"Dulu....awalnya aku masuk SDN 5....ini. Gedungnya banyak rusak. Maklum zaman dulu anggaran dana sekolah untuk memperbaiki sekolah tidak ada. Tapi seiring waktu....banyak yang bersekolah di SDN 5 ini, ya gedung sekolah di bangun dengan baik. Itu berkat program kerja pemerintahan, ya dana nyampe ke sekolah SDN 5. Sampai sekarang lihat dengan baik...Hafid, bagus gedung sekolah SDN 5 ini," cerita Hasan.

"Ya aku akui sih...Hasan. SDN 5...gedungnya bagus. Ya di rawat dengan baik," kata Hafid.

"Pendidikan sekarang ini beda pendidikan di masa aku," kata Hasan.

"Memang....iya. Karena kemajuan zaman. Daring lagi!" kata Hafid.

"Bagi...anak miskin, ya susah menyesuaikan keadaan dengan pendidikan masa sekarang," kata Hasan.

"Gimana lagi. Semua....gara-gara pandemi Covid -19," kata Hafid.

"Sebenarnya....hanya tujuannya untuk meningkatkan pasar di jaringan internet, yang keuntungan luar biasa menjanjikan," kata Hasan.

"Bisa jadi...sih," kata Hasan.

"Jadi tipu muslihat di sistem kerja," kata Hafid.

"Kadang....cara seperti itu bisa di gunakan untuk meningkatkan sektor ekonomi di jaringan internet," kata Hafid.

"Pengorbanan itu, ya kadang tidak sebanding dengan keadaan," kata Hasan.

"Ya...apa boleh buat. Miskin tetap miskin, ya susah untuk beradaptasi. Pada akhirnya pendidikan, ya di jalanin sih tatap muka dan juga Daring gitu," kata Hafid.

"Masa sekarang. Anak-anak di kasih Hp android dan juga buku. Yang di pilih adalah Hp android, karena bisa mengakses internet dan membuka vidio yang bisa mengajarkan anak-anak ilmu bermanfaat. Padahal buku itu lebih baik, ya biaya lebih murah. Bagi anak miskin yang terjangkau adalah buku saja," kata Hasan.

"Masalahnya....jika anak-anak itu, kalau kurang pemberian pendidikan di sekolah....mereka nanya siapa? Ke orang tua. Kalau orang tuanya pinter bisa membantu....anaknya menyelesaikan masalah pelajaran yang sulit di pahami anak. Kalau orang tua bodoh...bisanya buat anak saja dan hanya percaya pendidikan di sekolah saja....maka itu tidak bisa menyelesaikan masalah, ya jadi warisan...seperti itu terus menerus sampai sekarang," kata Hafid.

"Bener-bener ironis banget," kata Hasan.

"Ironis...kenyataan. Padahal di Universitas saja. Banyak mahasiswa yang bayar anak pinter demi lulus mata kuliah sampai lulus jadi sarjana," kata Hafid.

"Ironis banget pendidikan," kata Hasan.

"Yang lulus jadi sarjana seperti itu, ya sekarang kerja di pemerintahan dan perusahaan," kata Hafid.

"Pantes....banyak kacau," kata Hasan.

"Kacau sudah dari dulu. Yang pinter itu males ngurusin orang bodoh terlalu banyak di pemerintahan dan perusahaan ini dan itu," kata Hafid.

"Sudah yuk. Jangan membahas itu, terlalu komplek pokok masalahnya. Kita lanjutin main sepedahnya!" kata Hasan.

"Ayo!" kata Hasan.

Hasan dan Hafid mengayuh sepedah dengan baik, ya meninggalkan gedung SDN 5 yang jadi objek pembicaraan yang panjang lebar. Sampai di rumah Hasan, ya Hafid pun pamit pulang ke rumahnya. Hasan santai di rumahnya untuk menghilangkan rasa letihnya bermain sepedah demi Kesehatan.

"Seandainya aku sudah menikah, ya enak ya jika pulang rumah ada yang buatin makan dan minuman yang enak," kata Hasan.

Hasan menikmati keadaan dirinya yang masih bujang, ya melakukan semuanya sendiri. Hafid, ya sampai di rumahnya, ya tidak jauh beda gerutu ya dengan Hasan 'Seandainya sudah menikah, enak ya ada yang menyiapkan makan dan minum yang enak'. Hafid menikmati keadaan dirinya yang masih sendiri dan melakukan semuanya sendiri. 
Blog, Updated at: October 20, 2020

0 komentar:

Post a Comment