TERUNGKAPNYA DI BAWAH KOLONG RANJANG

Posted By Cerpen universal on Tuesday, October 20, 2020 | October 20, 2020

TERUNGKAPNYA DI BAWAH KOLONG RANJANG

Kriing… Kriingg!! Suara jam weker membubarkan mimpi indahku dari lelap tidurku. “Sayang udah bangun? Cepat kemas barang-barang kamu, Pak Paijo udah menunggu di depan..,” ucap mama sambil mengangkat barang-barang dibantu dengan Pak Paijo yang hendak kita pindahkan di rumah baru. 

“Iya Ma ini udah siap tapi aku belum mandi,” kataku sambil menggendong tas ranselku yang berisi pakaianku. 

“Masalah mandi gampang, nanti mandi di sana. Waktu kita udah kemakan banyak belum juga beres-beres rumah di sana,” kata mama sambil tergesa-gesa.

Akhirnya sampai juga di rumah baruku di waktu mama masih bersama Ayah yang lumayan luas dan yang pastinya lebih bagus dari rumah yang lama. Aku pun memilih kamarku sendiri untuk aku tempati, kebetulan kamar yang aku tempati ini sudah berisi lengkap dari lemari hingga ranjang yang cukup empuk dan emang sangat empuk. Malam yang mencekam pun mulai tiba, hanya lampu teras yang bernyala. Aku pandangi dari sudut kamar ke sudut suasananya mulai berbeda dari sebelumnya. Ku rasakan dingin yang mencekam tiba-tiba. 

“Braaakkk!!!!” Aku tersontak kaget dan mencari sumber suara tersebut dan yang ku dapati.

“Naylaa….” Suara sosok misterius tersebut membuat aku takut.

“Kaa..kaa.. kamu siapa?! Mama! Tolongg!! Ada hantu!!” aku teriak sekuat semampuku.

“Nayla? Ada apa sayang? Kamu kenapa? Kok malam-malam teriak?” kata mama sambil memelukku dengan erat.

“Ta.. tadi ada hantu MA,” kataku sambil membalas pelukan mama.

“Hantu? Hantu yang mana? Kamu jangan bercanda deh, udah tidur besok kan harus pergi ke sekolah,” kata mama sambil menenangkanku.

Mentari mulai menyinari jendela, cahaya yang cukup terang membuat mata aku tak bisa menahan silaunya. Aku pun langsung beranjak ke kamar mandi. Beberapa langkah saat aku hendak ke kamar mandi suara itu mulai datang kembali.
“Naylaa.. Tolong akuu.. Tolong…,” Suara sosok misterius itu mulai menghantuiku kembali.

“Kamu siapa?! Jangan ganggu aku! Aku tidak pernah menganggu kamu! Pergi pergi kamu!!” kali ini aku mulai berani untuk melawan suara misterius itu.

“Aku adalah Faith yang dibunuh oleh Mama kamu sendiri. Jasadku dikubur di dalam peti lalu dimasukkan di dalam kolong ranjang ini. Tolong aku, keluarkan aku dari tempat yang sangat pengap ini. Kuburkan jasadku dengan layak. Laporkan kasus ini kepada pihak yang berwajib..,” kata Faith kali ini ia menunjukkan jati dirinya, wajahnya amat seram berlumuran darah.

“Tapi, Mama aku tidak mungkin melakukan itu! Mama aku orang baik!” aku pun tak mudah percaya dengan omongan hantu yang gak tahu diri ini.

Aku semakin takut, dan takut. Jika setiap malam aku selalu dihantui oleh arwahnya Faith. Apa aku harus menolongnya? Tapi rasanya tidak mungkin dan tidak tega melihat mama aku sendiri masuk penjara. Aku masih belum percaya apakah omongan Faith itu benar atau tidak. Kali ini aku coba untuk bertanya pada mama.

“Ma.. Boleh nanya sesuatu gak?” kataku sambil dug-dug-an. 

“Boleh, tanya apa emang?” jawab mama sambil membaca majalah barunya. 

“Mama tahu, Faith itu siapa?” kataku, mata mama pun langsung menyorot ke arah wajahku.

“Kenapa kamu tanyakan tentang dia?!” kata mama sambil melototiku, sepetinya ia tidak suka dengan Faith.

“Tapi Ma, aku hanya pengen tahu.”

“Faith orang yang merebut Papa dari Mama sewaktu kamu berada di dalam kandungan Mama,” jelas mama singkat dan pendek.

“Lalu, di mana dia sekarang?” tanyaku dengan serius tetapi mama menghiraukan pertanyaanku yang satu ini.

“Entah..,” jawabnya lebih singkat dan emang singkat.

“Mama gak nyembunyikan sesuatu kan?” tanyaku lagi, dan terus mendesak agar mama menceritakan semuanya. Namun, mamaku masih tak mau memberitahu.

Aku mencoba mencari bukti sendiri, tanpa orang lain. Diam-diam aku membongkar ranjangku sendiri.

“Akhirnya.. Huu.. Ini apa ya? Peti besar banget? jangan-jangan ini jasadnya Faith!” gumamku.

Aku mencoba membuka peti itu perlahan-lahan, alangkah kagetnya aku. Bau busuk yang menyengat seperti bangkai dan ini memang bangkai manusia yang sudah 17 tahun terpendam lamanya di dalam peti ini. Kulitnya pun sudah mengelupas, banyak belitung yang mengerubungi, dua bola matanya pun sudah hilang, kaki sudah menjadi tulang sedikit daging pun yang menyelimuti kakinya pun tak ada. Kini aku sadar mamaku seorang pembunuh, yang dikatakan Faith ternyata benar.

Aku langsung bergegas meraih handphone-ku untuk menelepon polisi untuk melaporkan kasus pembunuhan 17 tahun yang lalu yang dilakukan oleh Mama kandung aku sendiri. Rasanya tidak tega dan aku merasa aku adalah anak yang durhaka terhadap Ibu kandung aku sendiri karena telah memenjarakan Ibuku sendiri yang selama 9 bulan mengandungku. Namun, bagaimana lagi aku harus mengungkapkan kasus ini ke pihak berwajib agar arwah Faith tenang dan Mama harus bertanggung jawab untuk semua ini.

“Terima kasih Nayla sayang.. Kamu telah membantuku dan menyelamatkanku..” kata Faith sambil tersenyum kepadaku dan melambaikan tangannya kepadaku. Semoga kamu tenang di alam sana Faith.
Blog, Updated at: October 20, 2020

0 komentar:

Post a Comment