UNIFORM

Posted By Cerpen universal on Tuesday, October 20, 2020 | October 20, 2020

UNIFORM

Seperti biasanya setiap sampai di sekolah semua mata tertuju padaku. Apa lagi hal yang lebih menarik dibanding seragam sekolahku yang penuh dengan jahitan. Mereka penasaran di bagian mana lagi seragam yang aku pakai dijahit. Pagi itu aku melihat Sofia datang, anak orang kaya yang selalu mengganguku.

“Wah, Sof lihat itu dia menjahit yang kemarin,” kata Tisa teman dekat Sofia.

“Hai Melati… Sepertinya kamu sangat sayang pada seragammu itu. Kamu bahkan tidak menggantinya setelah apa yang aku lakukan. Aku suka keteguhanmu,” Kata Sofia dan dia menarik kancing bagian atas bajuku. Semua anak di kelas tertawa melihatnya dan hanya aku yang merasa sedih.

“Hebat… Apa besok dia akan menjahitnya lagi?” tanya Tisa.

“Barang kali,” mereka berlalu pergi.

Bel pulang berbunyi, Sofia berjalan mendekatiku.

“Oh ya Mel aku dan yang lain minta bantuan kamu boleh nggak?” pinta Sofia.

“Untuk apa?”

“Nanti sepulang sekolah kamu tolong kembalikan buku perpustakaan kami ya, soalnya kami ada acara sepulang sekolah,” kata Sofia.

“Baiklah,” Sofia pergi dan aku merapikan buku yang akan dikembalikan itu. Sebuah buku terjatuh dan dari mejaku. Aku mengambil dan melihat ada sebuah kertas di dalam buku itu.

“Apa ini, ehmm… Kertasnya sepertinya sudah lama warnanya kuning,” Aku membaca surat itu.

“Kau membutuhkan aku, cari aku di laci 09 di perpustakaan,” Isi surat itu. Aku tidak terlalu mempedulikan hal itu.

Sesampainya di perpustakaan aku tidak melihat ada siapa-siapa di sana.

“Mungkin sebaiknya aku meletakkan buku ini di sini,” aku meletakan buku itu di atas meja baca.

Aku langsung pergi dan melihat sebuah rak buku dengan laci yang bertuliskan 09. Aku kaget dan mendekati laci itu. Saat membukanya… “Wah ini seragam sekolah baru, siapa yang meletakkan di sini?” Di dalam hati aku sangat senang melihatnya dan aku juga bingung apa aku harus mengambilnya. Aku mengeluarkannya dan melihat sebuah kertas di bawahnya.

“Silahkan!”

Aku melirik ke sekitarku dan melihat apa ada orang lain. Ternyata masih sepi. Karena malu dengan seragam sekolah yang aku pakai, aku memutuskan untuk mengambilnya. Keesokan harinya setelah mandi aku menggunakan seragam itu dan wah… Ini bagus sekali masih terlihat baru. Aku merasa percaya diri berangkat sekolah. Sesampainya di sekolah, masih seperti biasa mereka terus memandangku sampai aku masuk ke kelas. Tapi kali ini rasanya berbeda, aku merasa percaya diri. Di kelas aku melihat Sofia dan Tisa kaget, mereka segera menghampiriku.

“Wah… Melati kamu memang hebat bikin orang kaget ya?” ujar Tisa.

“Dapat dari mana nih? Aku nggak yakin kamu punya uang untuk membelinya,” kata Sofia dan berjalan mendekatiku dan menyentuh seragamku.

“Ah… Kenapa panas sekali,” Sofia meniup-niup tangannya karena merasa terbakar. Aku melihat Sofia sangat kesakitan. 

“Kamu kenapa Sof?” Tanya Tisa.

“Coba kamu pegang seragam itu rasanya panas sekali,” kata Sofia.

Tisa berjalan mendekatiku dan menyentuh seragamku. “Hah… A..aaaapa itu, di belakang Melati?” Tisa terlihat ketakutan. Mereka berdua pergi meninggalkanku.

Satu minggu sudah aku menggunakan seragam ini dan semua orang yang sering mengganguku merasa ketakutan dan tidak berani menatapku. “Melati tolong bagikan lembaran ini,” kata guru matematikaku. 

Aku berjalan ke bangku mereka dan mereka ketakutan. Aku benar-benar tidak tahu apa yang yang mereka takuti.

Aku berjalan kemeja Sofia dan dia… “Apa kamu memelihara hantu untuk membeli seragam itu?” kata Sofia tanpa menatapku. 

Mendengar hal itu aku cepat-cepat pergi ke toilet. Aku berusaha mencermati kalimat Sofia. Hantu, di mana? kapan mereka melihatnya?

“Aku di sini,” seorang perempuan muncul di dalam cermin. Dia berdiri di belakangku.

“Aku tidak mau seperti ini, aku masih ingin hidup jadi biarkan aku hidup di dalam tubuhmu,” kata perempuan yang berseragam sama sepertiku.

“Siapa kamu?” tiba-tiba pandanganku kabur dan tubuhku terasa lelah. Aku tersadar dan berada di perpustakaan.

“Ini mikikku, kenapa bapak tidak percaya,” kata gadis yang aku lihat di cermin.

“Rita kamu tahu apa hukuman bagi orang yang mencuri?” kata seorang guru yang aku kenal.

“Tidak aku tidak mencuri, kalaupun aku mati aku akan tetap hidup,”

“Diam kamu!” teriak guru itu.

“Ini semua salahmu, kenapa kau membeda-bedakan aku dengan yang lain. Kau selalu mengomentari seragamku yang jelek. Kamu bukanlah guru yang baik!”

Tidak tahu apa yang terjadi Melati bangun dan mendapati dirinya berada di UKS dan di sampingnya ada guru yang mengajar matematika di kelasnya. “Permisi Pak, apa bapak kenal dengan murid yang bernama Rita?” tanyaku penasaran. 

"Kamu tahu dari mana nama itu, dia… dia muridku sembilan tahun yang lalu dan aku selalu menekannya, dia selalu menggunakan seragam yang jelek dan aku merasa setiap orang menganggap kalau ini sekolah miskin. Jadi aku selalu menekannya, bahkan ketika ia mendapat seragam baru aku terus saja menekannya. Dan ia bunuh diri,” Guru itu menangis dan pergi.

Sebulan setelah kejadian itu aku tidak lagi menggunakan seragam itu, karena mengetahui ada hal lain yang hidup di dalamnya. Aku kembali menggunakan seragam lama dan mengembalikkan seragam milik Rita. Sofia dan yang lainnya tidak lagi menggangguku dan kami mulai berteman baik.
Blog, Updated at: October 20, 2020

0 komentar:

Post a Comment