RUMAH TUSUK SATE (PART 1)

Posted By Cerpen universal on Sunday, May 24, 2020 | May 24, 2020

RUMAH TUSUK SATE (PART 1)

“Ma? Yakin kita mau pindah ke sini?” ucap hana memegang erat lengan baju Ibunya.

“Iya sayang, rumahnya bagus kok? Kamu gak suka ya?” tanya Ibu hana sambil membelai lembut rambut anaknya itu.

“Tapi… Kata temenku…” ucap hana mengantung, karena melihat Ibunya mengangkat telephone masuk.

“Bentar ya sayang, kamu langsung ke kamar aja ya” ucap Ibunya sambil berlalu.

Hana yang mendapat respon negatif dari ibunya langsung beranjak pergi ke kamar yang telah beberapa hari yang lewat dilihatnya.

Rumah itu sangat bagus, berkesan minimalis namun luas, dan punya taman di sekitarnya, namun… Sejak cerita aneh itu berngiang-ngiang di ingatan hana semua hal indah itu berganti jadi hal yang menyeramkan.

“Huh! Zoya gara gara kamu aku jadi parno begini” ucap hana mengerutu sambil menyibakkan horden kamarnya.

Di tengah gerutuan panjang lebarnya itu, matanya menatap sesosok pria yang tengah berdiri mematung menghadap ke rumahnya.
“Siapa lagi itu?” ucap hana sambil menatap lekat lekat ke arah pria itu… Dan sontak si pria mengarahkan pandangannya ke arah jendela kamar hana, melihat reaksi yang seperti itu hana menundukkan badannya ke bawah.

“Hampir saja…” hana pun memberanikan diri melihat pria tadi dan ternyata… Si pria tetap menatap tajam ke jendelanya.

“Ya ampun…” perlahan tapi pasti hana membuka pintu kamarnya dan segera berlari ke luar kamar.

“Mama! Mama! Mama!” teriak hana histeris bukan kepalang.

Namun… Tak ada reaksi atau pun sautan suara dari lantai bawah…

“Ma?” ucap hana pelan sambil memperhatikan sekeliling.

Akhirnya pandangan matanya berhenti ke secarik kertas yang tergeletak rapi di atas meja… Kembali lagi kejutan pertama di hari pindahnya ini… Ibunya harus ke luar kota saat ini juga karena urusan pekerjaannya…

“Oh… Ya tuhan…” teriak hana histeris.

Dengan keputusan bulat dengan bekal baju beberapa potong, hana pun memutuskan pergi menginap ke rumah zoya, tujuan utamanya dia ingin mengajak zoya menginap bersama namun jika gagal dia yang akan menginap di sana.

Tepat saat motornya keluar dari gerbang rumahnya, pria yang menatap rumahnya sudah tidak ada lagi, setidaknya hal menakutkan sudah cukup berkurang.

Namun di persimpangan jalan hana melihat sosok itu lagi, kali ini pria itu menatapnya lagi, namun dengan tatapan yang berbeda, tatapan sendu yang tak bisa diartikan.

Tanpa pikir panjang, hana menambah laju sepeda motornya, sudah cukup kejadian aneh di hari pertama dia tinggal di rumah ini, Sungguh! Dia tak sanggup untuk tinggal selamanya di sini.

20 menit berlalu, hana akhirnya sampai di rumah zoya, rumah bergaya klasik dengan ukiran timbul di beberapa sisinya.

Setelah bel rumah di tekan, muncullah seorang gadis sebaya hana dengan penampilan sedikit urakan.

“Lah… Ngapain kamu kesini? Bukannya kamu hari ini baru pindah?” Tanya zoya seadanya.

“Zoy… Please! Bantuin aku, kamu mau kan nginep ke rumah aku, aku takut!”

“Gimana ya?”

“Pokoknya aku gak mau tau, kamu yang nakut nakitin aku, kamu juga yang harus nemenin aku!” teriak Hana. 

“Iya bawel banget sih…, kamu percaya banget sih sama cerita bohongan kaya gitu.. Emang asik nipu orang kaya kamu gini… Hahahaaha…”
Hana hanya tersenyum kecut mendengar olokan Zoya, namun di dalam hatinya… Terganjal sebuah perasaan yang tidak enak…

Setelah berhasil mendapatka Zoya, hana kembali memacu sepeda motornya di jalanan. sesampainya dia areal perumahan, suasana terasa sedikit sendu dan mistis, padahal waktu masih menunjukan pukul 12.00 siang.

“Kok perasaan aku gak enak ya…” gumam Zoya. 

“Kamu ngomong apa?” tanya Hana. 

“Ah… Gak papa kok, udah nyampe belum sih?” ucap Zoya mengalihkan pembicaraan.

“Oh bentar lagi, itu dari sini keliatan rumahnya…” ucap Hana menunjuk sebuah rumah yang tepat berada di simpang tiga jalan yang mereka lewati.

“Rumah tusuk sate ya…” ucap Zoy lambat. 

“Udah deh gak usah dibahas lagi!”

“Iya.. Iya…”

Sesampainya di rumah hana, Zoya berkeliling sambil melihat suasana sekitar rumah hana, yang nampak asri dengan taman kecil di sekitarnya.

“Gak serem ya, bagus!” ucap Zoya. 

“Iya sih emang, tapi akunya yang parno!” ucap Hana kesal.

“Hehehe… Na itu anak tetanga kamu ya?” ucap zoya mempertajam tatapannya ke seorang pria lelaki.

“Gak tau! Jangan dideketin deh, dia itu aneh!” ucap hana ngeri.

“Ahhhh… Anaknya ganteng gitu, udah ah.. Biar aku yang samperin!” ucap Zoya berjalan ke arah si pria tadi.

Hana hanya menggikuti Zoya dari belakang dengan perasaan was-was.

“Hai! ” sapa Zoya dengan senyum manisnya. 

Sang pria hanya menolah dengan senyum tips, yang bahkan sangat sulit untuk dilihat.

“Kamu tetangganya hana ya? Aku Zoya, kamu?” ucap zoya dengan semangatnya.

“Lintang” ucapnya dengan raut muka cukup bersahabat.

“Rumah kamu yang mana?” ucap Hana dengan takut takut.

“Itu..” tunjuknya ke rumah yang tepat berada di sebelah rumah Hana.

“Ohhhh… Ya udah kita ke dalem dulu ya” ucap hana menarik Zoya kuat.

Lintang hanya diam tanpa ekspresi, hana menarik Zoya dengan terburu-buru ke rumahnya. dengan nafas memburu hana, berucap pelan..

“Zoy… Kamu liat kan mukanya, serem gitu!” ucap hana ketakutan.

“Serem apanya, dia ganteng tau!”

“Terserah deh, menurutku dia memakutkan, kaya hantu hidup yang gentayangan!” ucap hana berlalu.

“Huss… Kamu ini! Jangan ngomong aneh-aneh gitu!” ucap zoya mengikuti langkah Hana.

“Terserah deh, kita main aja yuk!”

“Oke..” ucap Zoya dengan jempol terangkat.

Tak terasa, jam telah menunjukan pukul 7 malam, Hana dan Zoya memutuskan untuk bermain di ruang keluarga rumah Hana, dengan pintu kaca yang tepat mengarah ke rumah lintang, hanya tirai tebal yang menutupinya. samar samar terdengar suara teriakan pilu seorang pria muda yang seakan-akan disiksa dengan menyakitkanya, Zoya yang mempunyai telingga sedikit lebih tajam dari hana sedikit mengecilkan volume tv.

“Ada apa sih Zoy?” ucap hana sedikit tergangu.

“Suttttt, diem!” ucap Zoya sedikit berbisik.

Karena binggung, hana memilih untuk diam dan ikut mendengarkan, dan benar suara erangan itu, terdengar jelas di telinga Hana, sontak Hana mencengkram erat tangan Zoya.

“I…it..itu su..ara apa?” ucap Hana dengan nafas naik turun.

“Gak tau!” Zoya beranjak dan memberanikan diri membuka sedikit tirai yang menghalangi itu.

“Ada apa?” Hana ikut mengintip

“Aneh? Rumahnya kok gelap ya?”

“Udah yuk Zoy… Tidur aku takut…” ucap Hana menarik lengan baju Zoya.

“Iy..iya ”

Setelah mematikan tv, merek memutuskn ke kamar hana masih dengan perasaan yang tak menentu.

“Zoy… Yang tadi itu suara apa?”

“Gak tau han… Aku juga binggung” ucap Zoya

Detik berikutnya percakapan mereka terputus, sekarang setelah indra pendengaran yang diuji, indra penciuman merasa tidak ingin dikalahkan, dengan bau amis yang sangat sangat menyengat yang bahkan bisa membuat makanan ke luar dengan mudahnya dari si mulut pencium, membuat ketakutan kedua orang ini kian menjadi.

“Zoy… Ini amis darah kan?” ucap hana takut. 

“Iy… Iya Hana, bukan hewan ini darah manusia” ucap Zoya tak kalah takutnya.

“Zoy, aku takut suara erangan tadi ada hubungannya dengan bau ini” ucap Hana. 

“Udah! Sekarang kita tidur dulu jangan lupa baca doa!”

“Iy..a aku coba!” hana mengikiti saran dari Zoya, namun matanya masih terasa enggan untuk terpejam, Zoya nampak telah berhasil masuk ke zona mimpinya.

Pukul 8, 9, 10, 11 hingga denting pukul 12 telah berlalu hana belum bisa menutup pelupuk matanya, ia hanya memaksakan matanya untuk terpejam tanpa sedikit pun berhasil untuk tertidur, hingga… Samar-samar bisikan lembut membuat sekujur bulu kuduknya berdiri…

“Hana…” ucap suara parau yang terkesan berat layaknya suara pria, yang tak terlalu asing..

Hana berusaha merapalkan berbagai doa yang ia hapal, dan terus berusaha untuk tidur, namun kembali suara pangilan sendu itu terulang lagi ditambah dengan hembusan pelan angin yang terasa dingin hingga menusuk tulang…

“Hana…” ulang suara itu, dan sekarang Hana tau itu suara siapa, entah kebranian yang datang dari mana, hana membuka matanya, tanpa dikomandoi kakinya bergerak sendiri ke luar kamar dan turun ke lantai bawah, kakinya terus membawanya ke luar hingga, cengkraman kuat menarik tangannya…

“Kamu mau kemana?” ucap Zoya. 

“Hah!” teriak Hana dengan ekspresi yang tak dapat dijelaskan. 

Tanpa banyak babibu Zoya menarik Hana ke dalam, membawanya masuk ke kamar, dan menanyakan kembali, apa tujuan hana ke luar rumah barusan…

“Kamu kenapa sih?”

“Aku juga binggung, aku ngerasa kaya ada yang manggil namaku, dan entah kenapa kakiku gerak sendiri” ucap hana dengan keringat dingin membanjiri tubuhnya.

Mereka berdua terdiam, atsmosfer udara kamar yang sedikit hangat tiba-tiba berubah menjadi dingin…

“BRAKKK!!!” jendela kamar hana yang terkunci rapat tiba tiba terbuka dengan sendirinya.

Hana dan Zoya kian merapat, bau amis darah kembali tercium, memenuhi ruangan membuat siapa saja, kembali ingin memuntahkan isi perutnya. suara suara teriakan memenuhi kamar, dan tiba tiba…
Blog, Updated at: May 24, 2020

0 komentar:

Post a Comment