RUMAH TUSUK SATE (PART 2)

Posted By Cerpen universal on Sunday, May 24, 2020 | May 24, 2020

RUMAH TUSUK SATE (PART 2)

“Kak, tumben pulangnya malem?” tanya seorang pria muda. 

“Memangnya apa urusanmu!!” hardik pria yang dipanggil kakak ini. 

“Gak papa aku cuman tanya kok” ucap si adik sedikit merajuk. 

Sang kakak berlalu meninggalkan adiknya, namun teriakan kencang sang kakak, membuat suasana gaduh.

“LINTANG! SINI KAMU!” terik sang kakak dari arah kamarnya.

Tak lama, sang adik yang bernama lintang muncul dengan tanda tanya besar di kepalanya.

“Ada apa kak?” tanya lintang bingung.

‘Bukkk’ pukulan keras mendarat di pipi lintang, sontak ia jatuh terjerembab ke belakang.

“Kamu dari pagi ngapain aja sih! Udah enak dikasih numpang tinggal di rumah orang disuruh beresin kamar orang aja gak mau!” ucap si kakak panjang lebar.

“Maaf kak, tadi lintang harus les, terus karena capek lintang ketiduran…” ucap lintang dengan posisi masih terduduk.

“Capek!” ucap sang kakak jongkok sembari mencengkram kerah baju lintang.

“Kamu harusnya ngerti, kamu gak pantes tinggal di rumah ini, kamu itu cuman anak punggut, yang sejak kehadiran kamu semua perhatian orangtuaku jatuh ke kamu, Dasar Penjilat rendahan” maki si kakak kian menjadi.

Air mata lintang kian deras menetes dari matanya, beberapa tahun yang lalu, ia hanyalah seorang anak panti yang tak tau siapa ayah dan ibunya, hingga keluarga Jonathan ini mengangkatnya menjadi anak sebagai teman orang yang ia panggil kakak itu.

Namun, hanya setahun si kakak berlaku baik padanya, tepat saat kedua orangtua angkatnya itu, harus berkerja sementara waktu di luar negeri, perubahan sifat yang 180 derajat itu nampak jelas terlihat, sang kakak sering memerintahkan banyak tugas untuknya, memukul, memaki, bahkan sering mengurungnya di kamar mandi. Lintang hanya bisa diam karena ia sadar, bahwa dia hanyalah anak angkat di sana.

“Kakak, aku akan bereskan kamarnya, sekarang” ucap lintang sembari mencoba melepas cengkraman di kerah bajunya.

“Enggak itu sudah terlambat!” raut muka sang kakak berubah jadi datar, ia menggangkat tubuh lintang dengan mencenkram kerah bajunya.

“KAKAK!! KAKAK MAU APAIN AKU! MAAF KAKAK AKU JANJI AKU BAKAL RAPIIN KAMAR KAKAK!” teriak lintang histeris.

“Aku sudah muak denganmu!” ucap sang kakak tanpa perasaan. 

Dengan sekencang kencangnya dihantamkannya tubuh lintang ke arah dinding kamar…

“BUKKK!” lintang terkapar tak berdaya, badanya sakit, namun ia masih bisa bernafas. di sisi lain sang kakak masih belum puas, ia seret tubuh sang adik ke lantai bawah, badan si adik beradu dengan tangga tangga yang cukup banyak, ratapan memilukan mulai kembali terdengar, permohonan maaf terus menerus keluar dari mulut lintang yang kian tak berdaya, darah segar mulai mengalir deras dari pelipis lintang yang terus terhantam anakan tangga.

Setibanya di lantai dasar dengan seenaknya si kakak membanting tubuh lintang, memukulinya dengan sekuat tenaga, membuat lintang berteriak kesakitan, dengan selingan isakan pilu, dan erangan penghabisan jiwa lintang perlahan mulai meninggalkan raganya.

Melihat si korban telah meregang nyawa, seringai kepuasan terlukis di wajah sang kakak, ditinggalnya tubuh berlumur darah itu sesaat. Tak berapa lama, benda bergerigi tajam yang sering digunakan memotong kayu secara manual, kini beralih menjadi pemotong tubuh secara dadakan.

Diangkatnya tubuh yang terbelah empat itu ke luar, si kakak masuk ke halaman sebuah rumah yang berada di tengah sebuah persimpangan tiga.

“Ini rumah barumu, adikku sayang…” seringai seram itu kembali diulangnya lagi.

Tubuh sang adik ditanam di setiap sudut rumah tersebut, rintik hujan menghantarkan kepergian seorang adik di tangan kakaknya, rintikan hujan semkin deras membuat sisa sisa bercak merah itu, ikut hilang bersama derasnya sang hujan mendera…


Sinar mentari menyusup sendu di balik cela cela tirai yang setengah terbuka, dengan perlahan dua orang remaja putri itu terbangun dari mimpi panjangnya.

Detik berikutnya, setelah mereka bangun suasana masih hening, mereka hanya saling tatap dengan raut muka yang seakan-akan berucap ‘mimpi kita sama gak’.

Teriakan panjang mengalun dengan histerianya, memecah kesunyian tentram di pagi hari, mereka berteriak sembari berlari ke luar dengan piama tidur yang masih melekat.

“Kita harus gimana?” tanya hana setelah merka berada di luar pagar rumah.

“Lapor polisi!”

“Apa mereka percaya, kita gak punya bukti!” ucap hana tak kalah panik.

“Hey! Sebaiknya kit..”

“Kalian tinggal disini?” tanya seorang pria dengan suara yang terasa tak asing di telingga mereka.

Saat mereka berbalik raut muka cemas itu, berubah menjadi pucat pasi. Zoya yang masih cukup berani sedikit berucap.

“Iya…”

“Ohhhh, bagus” ucapnya dengan seringai itu, dan lantas berjalan berlalu.

Hana dan zoya, menatap si pria yang masuk ke sebuah rumah yang lintang tunjuk sebagai rumahnya. hana dan zoya kembali saling tatap, dengan sigap langkah seribu mereka ambil…

“Ayo cepet hana!” teriak zoya yang telah siap dengan pakaian lengkap.

“Iya” ucap hana memakai sepatunya terburu-buru.

Setibanya di luar zoya membuka pagar dan hana menggambil motornya. saat zoya naik, sang pria pagi tadi kembali menegur mereka.

“Kalian mau kemana?” ucapnya dengan tatapan kosong.

“Mau ke rumah dia” ucap hana menunjuk zoya dengan gemetar.

“Ohhhhh, hati hati lah, sayangi umur kalian sebelum ada yang merengutnya secara paksa” ucapnya dengan seringai menyeramkan itu lagi.

Hana dan zoya hanya dapat tersenyum kecut, dengan membuat isyarat bertanda mereka akan segera pergi. Setelah mereka cukup jauh, si pria tersenyum dan berlalu…

“Zoya… Kita harus ke kantor polisi! Masalah bukti urusan nanti! Yang penting kita selamat dulu!” ucap hana kian cemas. 

“Iya han, melihat seringainya saja bulu kudukku sudah berdiri” Zoya mengganguk setuju.

Hana memacu sepeda motornya dengan kecepatan sedang hingga di persimpangan jalan sebuah mobil melaju tak terkendali menyenggol sepeda motor mereka, zoya terpental cukup jauh, hana terduduk dengan kondisi sedikit lebih beruntung dari zoya. sedangkan mobil yang menabrak mereka melaju tanpa sedikit pun peduli pada keadaan mereka…

Tak lama sudah banyak orang yang berkerumun menanyakan keadaan mereka, zoya akhirnya sadar, namun ia perlu dibawa ke rumah sakit, hana masih terduduk di antara kerumunan itu ia melihat jelas seorang pria dengan seringai kemenangan di wajahnya. hana merunduk ia benar benar ketakutaan saat ini, menit berikutnya sirine mobil polisi terdengar meraung raung memeriksa kejadian tabrak lari ini, melihat itu hana mengangkat kepalanya dan tepat saat ia mendongak pria tadi tepat berada di barisan terdepan dengan seringai menyeramkan.

“Kyaaaaaaaaaa!” teriak hana membuat semua orang terkejut.. 

Seorang polisi wanita menghampiri dan merangkul hana, hana nampak menoleh kesana kemari mencari pria itu dan hasilnya nihil. dengan keberanian yang cukup ia berusaha mengatakan sesuatu. namun sebuah bisikan yang datang entah dari mana membuat hana bimbang.

“Kau katakan… Maka temanmu akan mati!” bisakan sendu pembawa petaka itu membuat hana benar benar bimbang ia tau bisikan iblis itu datang dari siapa.

Sekali pun ia tak tau cara apa yang akan dilakukan pria itu untuk mencelakakan zoya, namun, jika ia tak bicara maka resiko teror ini akan terus menerus menggila dan membuat mereka ikut mati menggila. Dengan pilihan yang sebenarnya dia ragukan hana memilih buka mulut ‘zoya maafkan aku’.

“Bu… Tolong saya bu!” ucap hana menatap polisi wanita yang sedari tadi menenangkannya.

“Ada apa nak?”

“Aku dan temanku, kami… Kami diteror oleh pembunuh, yang membunuh adiknya sendiri…” ucap Hana.

“Pembunuh?” tanya sang polisi wanita bingung.

“Iya…” hana menceritakan semua kejadian yang mereka dapatkan dari mimpi itu.

“Saya mohon bu, setidaknya periksa dulu, jangan diabaikan, sekalipun tidak ada buktinya, saya dan teman saya benar benar takut bu, tolong kami” ucap Hana dengan air mata berlinang.

Bingung sangat jelas tergambar di raut muka sang polisi wanita. namun, naluri keibuan yang kental, akhirnya dengan beberapa anggota polisi lain tak lupa dengan sebuah ambulan yang mengiringi, mereka mendatangi kediaman Hana.

Mereka mengikuti intruksi Hana menggali tempat tempat yang Hana katakan sebagai kuburan sang adik itu, benar saja nampak sebuah tulang yang tengkorak yang terpendam di salah satu lubang.

Namun, semua kegiatan itu terpakasa terhenti ketika teriakan seorang pria dari balkon kamar Hana, membuat para polisi tak luput Hana menatap ke arah balkon rumah.

“Hahahaahahah… Mungkin kau membongakar rahasiaku, tapi ini sudah konsekuensinya, temanmu akan kuajak ikut ke neraka juga!” teriak sang pria itu.

“ZOYA!!” teriak Hana.

“Sebaiknya kau lepaskan anak itu!” teriak salah seorang polis pria.

“Lepas? hahaahaha, TIDAK! dia harus mati bersamaku! Jangan ada yang bergerak kalian lihat saja, bagaimana drama kematian kami” ucap pria ini dengan gilanya.

Zoya nampak meronta ronta melepaskan diri dari cengkraman si pria, si pria tertawa terbahak dengan girangnya melihat Zoya kepayahan.

Namun mendadak tawa itu berubah menjadi erangan kesakitan saat Zoya menggigit keras tangan sang pria, ia berhasil lepas, dengan amarah yang memuncak sang pria menendang Zoya keras hingga Zoya jatuh terduduk memegang perutnya.

Keadaan menegang para polisi bingung mengambil tindakan, berapa detik lamanya berlangsung sunyi, hingga…

“Lintang!! Kamu sudah mati PERGI! PERGI!” Teriak si pria dengan heboh sembari berjalan mundur ke arah sudut balkon.

Semua mata memandang heran ke arah sang pria, para polisi tak menyia-nyiakan kesempatan, namun…

‘BRUKKK’ dentuman keras terdengar saat tubuh sang pria terbanting dengan kasarnya ke tanah.

Darah segar mengalir dengan derasnya menggenang di sekitar tubuh sang pria, yang sudah pasti tak bernyawa, nampak kondisi bagian kepala si pria terbelah, dengan leher yang patah.

Semua orang yang berada di sana hanya dapat menatap lemas kejadian itu. Hingga salah satu polisi berteriak membagi tugas mereka.

Beberapa polisi, segera berangkat mengevakuasi zoya yang berada di lantai dua rumah hana, dan hana ia hanya berdiri lemas dengan wajah tertunduk ke bawah. paramedis melakukan evakuasi mayat si pria dengan hati hati, sedangkan beberapa anggota polisi yang tersisa melanjutkan mengali di empat titik yang hana tunjukan.

“Hana” ucap Zoya dengan berjalan teresok-esok. 

“Zoy, kamu gak papa?”

“Iya, han… Tugas kita berhasil” ucap Zoya terduduk, menahan nyeri di perutnya.

“Iya Zoy, Lintang pasti bahagia disana…”

“Hahahah… Iya, oh ya kita ke rumahku aja ya! Aku gak mau tinggal di sini lagi” ucap Zoya dengan senyum garingnya.

Saat hana ingin menjawab perkataan Zoya, rangkulan bersahabat tiba-tiba ia rasakan di pundaknya, ia pun menolah begitu pun Zoya.

“Terimakasih ya!” ucap sosok itu dengan ssnyum bersahabat yang nampak manis mempesona.

Hana dan Zoya hanya termenung, dengan senyum menggembang di wajah mereka…

“Sama-sama Lintang ” ucap mereka serempak.

Selesai
Blog, Updated at: May 24, 2020

0 komentar:

Post a Comment