NAGA PETIR
Para petani di desa Wulus, ya seperti biasa menggarap pertaniannya. Cuaca pun berubah, jadi mendung dan petir pun nyambar-nyambar gitu. Para petani yang menggarap sawahnya masing-masing, ya segera meninggalkan sawahnya karena hari mau hujan. Petir pun menyambar ke sebuah pohon, ya terbakar gitu. Jaka Tingkir dan Dadung, ya melihat seorang ke kakek tersebut. Tapi ternyata kakek tersebut, ya menangkap petir tersebut dengan tangan kanannya dan di masukkanlah petir ke dalam sebuah bubu yang di bawa kakek tersebut yang terikat pada pinggangnya. Kakek pun menyelesaikan pekerjaannya di sawah, ya pulang ke rumahnya.
Dadung pun terkagum-kagum melihat kemampuan kakek yang dapat menangkap petir tersebut. Maka itu Dadung dan Jaka Tingkir bertamu ke rumah kakek tersebut. Sampai di rumah kakek tersebut. Ya Jaka Tingkir dan Dadung di persilakan masuk ke rumah kakek yang gubuk tapi layak. Kakek pun menyuguhkan makan untuk Jaka Tingkir dan Dadung, jadi tahu siapa nama Kakek, Ki Selo. Hari sudah malam. Jaka Tingkir dan Dadung pun menginap di rumah Ki Selo. Ya Ki Selo pun istirahat juga. Tetapi Ki Selo terus bermimpi tentang Jaka Tingkir. Saat terbangun dari mimpi Ki Selo menemui Jaka Tingkir yang sedang tidur bersama Dadung.
Ki Selo pun masih bingung dengan mimpinya, maka itu di abaikan saja dan kembali tidur lagi. Esok paginya. Jaka Tingkir ke sungai untuk menangkap ikan dengan membawa bubu. Ki Selo pun melihat Jaka Tingkir menangkap ikan dengan ilmu tenaga dalamnya di lemparkan ke aliran sungai. Ikan pun terkapar semuanya. Jaka Tingkir pun memasukan ikan ke dalam bubu dan segera di bawa pulang. Ki Selo sudah pulang duluan. Saat di rumah, ya bertemu dengan Jaka Tingkir.
"Jaka Tingkir, kamu menangkap ikan banyak sekali?" tanya Ki Selo.
"Iya, Ki....dapetnya lumayan banyak," kata Jaka Tingkir.
Jaka Tingkir pun langsung masuk rumah untuk menaruh hasil ia menangkap ikan. Ki Selo pun membawa pacul untuk ke sawah. Eee Dadung pun bawa pacul juga untuk membantu Ki Selo menggarap sawah. Jaka Tingkir, ya mengumpulkan kayu bakar hasil dari mengambil di hutan. Ki Selo dan Dadung, ya istirahat setelah menggarap sawah. Dadung bercerita tentang dirinya dan Ki Selo pun mendengarkan saja.
Sekelompok orang dateng ke rumah Ki Selo. Jaka Tingkir yang sedang mengatur kayu bakar.
"Hay pemuda siapa kamu?" tanya orang yang membawa pedang.
"Aku, anaknya Ki Selo," kata Jaka Tingkir.
"Emangnya Ki Selo punya anak?" kata orang yang membawa pedang dan bertanya pada temannya.
"Aku tidak tahu," jawab orang yang membawa pedang juga.
"Ya sudahlah. Hay anak muda kamu tidak tahu kami kan?" kata orang yang membawa pedang.
"Iya," jawab Jaka Tingkir.
"Tuan yang di atas kuda ini adalah julukannya tangan besi nama Bogah," kata orang yang membawa pedang.
"Oh begitu," kata Jaka Tingkir.
"Sekarang...kamu siapkan kami makan. Sama seperti Ki Selo menjamu kami semuanya!" kata orang yang membawa pedang.
"Baiklah," kata Jaka Tingkir.
Bogah dan anak buahnya, ya masuk rumah. Jaka Tingkir, memasak untuk menjamu tamunya Ki Selo. Dengan penuh kerendahan Jaka Tingkir jalanin semuanya untuk menutupi siapa dirinya. Ki Selo dan Dadung pun pulang dari menggarap sawah. Ya Jaka Tingkir memang menyiapkan makan untuk dirinya, Ki Selo dan Dadung. Asik-asik makan Jaka Tingkir bersama Ki Selo dan Dadung.
Bogah pun menuduh Jaka Tingkir meracuni dirinya dan anak buahnya dan menantang Jaka Tingkir. Tapi Ki Selo terus membela Jaka Tingkir, karena memang tidak meracuni Bogah dan anak buahnya. Bogah pun terus menuduh Jaka Tingkir, sampai memanggil anak buahnya untuk mengkroyok Jaka Tingkir. Dadung pun dengan berani untuk melawan anak buahnya Bogah. Terjadilah pertarungan di luar rumah antara Dadung dan anak buah Bogah. Dadung memang di keroyok dan juga di jerat dengan tali tambang untuk mengikat pergerakan Dadung. Ya Dadung kalah gitu, tapi ternyata anak buah Bogah pun kesakitan, kata keracunan gitu. Bogah pun marah menyerang Ki Selo, tetapi Jaka Tingkir membantu Ki Selo dalam pertarungan melawan Bogah.
Bogah pun mengeluarkan ilmu tenaga dalamnya berupa tinju api, ya keluar api gitu. Jaka Tingkir pun menghempaskan ilmu Bogah yang di lancarkan ke arah dirinya. Tinju api pun menghempaskan ilmunya Bogah yang di lancarkan ke arah dirinya. Tinju api pun mengenai Bogah, ya alias senjata makan tuan. Bogah ya kebakaran gitu. Anak buah Bogah pun berusaha untuk memadamkan api yang membakar tubuh Bogah. Ki Selo membawa seember air dan di siramkan ke tubuh Bogah, ya paden sih. Dadang dari tadi tertawa karena melihat Bogah yang terkena ilmunya sendiri alias kebakaran gitu.
Bogah pun meninggalkan tempat tersebut bersama anak buahnya. Dadung pun di omelein Jaka Tingkir karena kalah dalam pertarungan melawan anak buah Bogah. Ki Selo pun menyuruh Jaka Tingkir dan Dadung masuk ke dalam rumah. Hari pun mulai malam Ki Selo, Jaka Tingkir dan Dadung...ya istirahat gitu. Lagi-lagi Ki Selo bermimpi tentang Jaka Tingkir, jadi menemui Jaka Tingkir....tapi ternyata Jaka Tingkir biasa-biasa saja. Ki Selo kembali tidur lagi. Esok harinya.
Ki Selo seperti biasa pergi ke sawah. Jaka Tingkir, ya masih tidur gitu. Dadung yang bangun sih berusaha jaga-jaga kalau di datengin oleh Bogah dan anak buahnya. Dadung pun membangunkan Jaka Tingkir yang sedang tidur. Jaka Tingkir bangun karena di kagetin Dadung, ya ngomelin Dadung yang gangu ia lagi Tidur. Jaka Tingkir pun kembali tidur. Dadung pun berjaga-jaga gitu dengan sebuah godok. Tiba-tiba ada seorang gadis cantik mendatengin rumah Ki Selo. Dadung, ya menghadapinya sendirian dengan golok yang di mainkan. Tapi ternyata golok lepas dari tangan Dadung dan Jatuh ke tanah. Sedangkan gadis cantik tersebut, ya pingsan gitu. Dadung segera menolongnya dan memanggil Jaka Tingkir. Ya Jaka Tingkir mendatangi Dadung yang khawatir dengan gadis yang di tolongnya. Di bawalah gadis cantik tersebut oleh Dadung dan Jaka Tingkir ke dalam rumah.
Gadis cantik pun membangun dari pingsannya. Dadung pun berkata "Aku ingin menolong kamu dengan nafas buatan gitu".
Gadis cantik tersebut, ya marah dan menampar pipi Dadung. Jaka Tingkir, ya lagi sibuk mencari kayu bakar di hutan. Dadung, ya berkenalan dengan gadis tersebut ternyata Wulandari. Eee Wulandari ternyata anak buahnya Bogah. Jadi Dadung di tangkap oleh Wulandari dan di bawa ke pinggir aliran sungai di ikat kayu yang tertancap ke tanah di aliran sungai. Wulandari menunggu Jaka Tingkir dateng. Dadung kesal dengan Wulandari dan berkata "Wanita penghuni neraka".
Wulandari marah mengeluarkan pisau dan lemparkan ke arah Dadung. Jaka Tingkir datang dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh dan juga mematahkan serangan pisau yang mengarahkan ke Dadung dengan sebuah batu. Jaka Tingkir pun berada di atas kayu yang mengikat Dadung. Wulandari sudah siap untuk melepaskan anak panah. Jaka Tingkir mengeluarkan tenaga dalamnya dan meletakkan air sungai, jadi membentuk perisai pelindung. Jaka Tingkir segera membebaskan Dadung yang terikat di kayu dan di bawa pergi dengan ilmu meringankan tubuh. Wulandari kesal karena gagal membunuh Dadung dan Jaka Tingkir.
Di rumahnya Ki Selo. Ya Dadung khawatir Wulandari dateng bersama bala bantuannya. Ki Selo pun memberikan bubu ke Dadung.
"Kalau mereka dateng. Lemparkan bubu ini ke mereka!" kata Ki Selo.
Dadung memang memegang bubu tersebut, tapi di buang oleh Dadung yang kesal karena tidak percaya dengan omongan Ki Selo. Jaka Tingkir pun dateng, ya menyuruh Dadung mengambil bubu tersebut. Tetap Dadung tidak percaya tidak percaya dengan bubu yang kosong tersebut. Dadung pun masuk rumah.
Bogah dan Wulandari beserta anak buahnya dateng ke rumah Ki Selo. Bubu pun bereaksi dengan kedatangan Bogah dan Wulandari beserta anak buahnya. Keluarlah dari bubu....seekor Naga yang menyemburkan petir dari mulutnya. Semua anak buah Bogah dan Wulandari, ya mati di sambar petir dari Naga. Bogah, ya menghadapi Naga yang mengeluarkan semburan petir dari mulutnya. Ternyata Bogah, ya tersambar petir dan akhirnya mati. Wulandari melarikan diri dari tempat tersebut. Dadung, ya mengejar Wulandari gitu.
Jaka Tingkir menghadapi Naga dengan sekuat tenaga. Ternyata Jaka Tingkir terkena petir dari Naga tersebut. Tetap Jaka Tingkir menghadapi Naga tersebut dengan ilmu yang melindunginya. Ki Selo pun bergerak cepat dengan penutup bubu dan menangkap Naga, ya masuk ke dalam bubu. Jaka Tingkir terluka karena serangan Naga. Sedangkan Dudung, ya berhasil sih menangkap Wulandari, tapi ada bekas tamparan Wulandari di pipi Dadung.
Ki Selo pun mengobati Jaka Tingkir. Sedangkan Wulandari, ya di bebaskan oleh Ki Selo. Baru deh Ki Selo menjelaskan siapa dirinya. Jaka Tingkir pun baru mengerti bahwa Ki Selo adalah saudara seperguruannya dari gurunya Sunan Kalijaga. Waktu memang sudah malam. Jadi semua beristirahat. Tiba-tiba Jaka Tingkir di datengin orang yang berbaju putih, ya membimbing Jaka Tingkir untuk menjadi pemimpin dan mengarahkan tujuan Jaka Tingkir ke Demak.
Orang yang membimbing Jaka Tingkir pun menghilang, ya begitu juga dengan Ki Selo. Esok pagi-pagi. Jaka Tingkir dan Dadung pun meninggalkan rumah Ki Selo, ya melanjutkan perjalanan.


0 komentar:
Post a Comment