ASMARA
Jaka Tingkir belajar dengan sungguh di ajakan Gurunya Sunan Kalijaga, ya bersama Dadung. Pendidikan pun selesai juga. Jaka Tingkir pun meninggalkan rumah Sunan Kalijaga. Saat di perjalanan di tengah hutan ya menuju desa Tingkir. Jaka Tingkir di hadang oleh Ki Janggur dan muridnya Gondrong. Mau gak mau Jaka Tingkir pun harus menghadapi Ki Janggur yang bales dendam karena kekalahannya. Mulai Ki Janggur menyerang Jaka Tingkir. Ya dengan sigapnya Jaka Tingkir menghadapi serangan demi serangan Ki Janggur. Gondrong pun menyerang juga sih. Jadi Jaka Tingkir menghadapi dua musuh yang hebat gitu.
Ki Janggur pun berubah menjadi Siluman Serigala dan terus menyerang Jaka Tingkir. Siluman Serigala pun mengeluarkan tenaga dalemnya ke arah Jaka Tingkir, ya Jaka Tingkir pun mengeluarkan tenaga dalem juga. Terjadilah benturan tenaga dalem keduanya. Jaka Tingkir meningkatkan kemampuannya dan tenaga dalam yang di keluarkan besar banget dan mengenai Siluman Serigala sampai terpental jauh dan menabrak pohon. Gondrong pun menyerang Jaka Tingkir, tapi di tendang di mukanya Gondrong sampai terpental jauh gitu.
Siluman Serigala, ya menyerang lagi dengan jurus-jurus yang mematikan. Jaka Tingkir, ya menghadapi serangan Siluman Serigala tersebut dan akhirnya seimbang. Saat ada celah Jaka Tingkir meninju perutnya Siluman Serigala, ya kena telak sih...jadinya Siluman Serigala pun jatuh ke tanah dan mati kemudian berubah kembali menjadi Ki Janggur. Gondrong melihat gurunya mati di tangan Jaka Tingkir, ya marah besar....jadi menyerang membabi buta Jaka Tingkir. Tetap saja Jaka Tingkir mengajar Gondrong dengan pukulan bertubi-tubinya sampai Gondrong pun babak belur dan pingsan.
"Urusan di sini sudah selesai," kata Jaka Tingkir.
"Ayo....Jaka Tingkir...kita pergi dari sini!" saut Dadung.
Jaka Tingkir dan Dadung pun melanjutkan perjalanan ke desa Tingkir. Sampai di desa Tingkir, ya tepatnya di rumahnya Jaka Tingkir. Ibunya Jaka Tingkir, ya menyambut anaknya yang baru pulang dari belajar ilmu di daerah lain. Waktu memang malam sih, jadi Jaka Tingkir dan Dadung....ya istirahat di rumah.
Seorang pemuda ketakutan gitu. Tiba-tiba di seorang seorang perempuan dan akhirnya jatuh ke tanah dan mati. Esok harinya. Warga menemukan mayat pemuda tersebut di bunuh orang yang tidak di kenal. Desas desus tentang pembunuhan di desa Tingkir, ya sampai di telinga Jaka Tingkir dan Dadung. Maka itu Jaka Tingkir dan Dadung memeriksanya dengan bertanya kepada kepala desa, Ki Topan. Ya Ki Topan pun menjelaskan semuanya ke Jaka Tingkir dan Dadung tentang perguruan di tengah hutan yang menyembah berhala dan mencari hati pemuda untuk di persembahkan ke gurunya. Urusan pun selesai dengan Ki Topan, jadi Jaka Tingkir dan Dadung pun pulang ke rumah. Tapi tragedi pun terjadi di rumah Jaka Tingkir. Para pembantu, yang menolong Ibunya Jaka Tingkir untuk mengurus rumah....tergeletak di tanah, ya di bunuh orang gitu. Sampai-sampai Ibunya Jaka Tingkir ketakutan bersembunyi di dalam kamar. Sebuah surat tertempel di dinding untuk memberitahuku Jaka Tingkir siapa yang melakukannya? Jaka Tingkir pun kesal sekali ternyata perguruan yang menyembah berhala. Segera Jaka Tingkir dan Dadung ke perguruan tersebut.
Saat di hutan. Jaka Tingkir dan Dadung di seorang Sekelompok pendekar wanita. Mau gak mau, ya Jaka Tingkir dan Dadung bertarung menghadapi Sekelompok pendekar wanita. Pertarungan ya sengit sih. Tapi karena Dadung terluka kecil di bagian pundaknya, karena terkena pedang gitu, eee pingsan. Jaka Tingkir pun menyerah, karena demi keselamatan Dadung. Jaka Tingkir dan Dadung pun di bawa kepadepokan.
Sampai di padepokan. Dadung di masukkan ke penjaga. Jaka Tingkir masih di intrograsi dengan seorang gadis cantik, Pujawati namanya. Ya Pujawati ingin membunuh Jaka Tingkir dengan merobek dadanya dan mengeluarkan jantungnya untuk di persembahkan ke gurunya sekaligus bales dendam untuk Bapaknya, Ki Janggur. Jaka Tingkir merasa Bersalah telah membunuh Ki Janggur, ya Bapaknya Pujawati. Karena kesal, ya Pujawati menotok Jaka Tingkir....jadinya tidak bisa bergerak lagi dan segera menyuruh teman-temannya untuk membawa Jaka Tingkir di penjara.
Pujawati pun menghadapi gurunya di ruangannya.
"Guru aku akan memberikan hati perjaka yang lain," kata Pujawati.
"Pujawati ada apa dengan hati Jaka Tingkir?" tanya Nyi Ireng.
"Hati...Jaka Tingkir lemah. Jadi aku akan memberikan hati perjaka yang lain!" kata Pujawati.
"Ya sudahlah.....segera kamu bawakan hati perjaka kepada ku. Agar ilmu ku sempurna!" tegas Nyi Ireng.
"Baik Guru," kata Pujawati.
Pujawati pun meninggalkan ruangan Gurunya. Jaka Tingkir sadar dari keadaannya karena di totok Pujawati, ya berada di dalam penjaga. Jaka Tingkir, ya membangunkanku Dadung yang tidur. Mulailah rencana pelarian. Dudung pun berhasil keluar dari penjaga dengan kemampuan Jaka Tingkir. Dadung berlari sekuat tenaga menjauh dari tempat tersebut, ya di kejar oleh penjaga sih....semuanya perempuan. Karena kelincahan Dadung dalam hal melarikan diri, jadinya tidak tertangkap gitu. Jaka Tingkir pun masih berurusan dengan Pujawati, karena Dudung kabur. Tapi ternyata Pujawati pun berencana untuk membebaskan Jaka Tingkir dengan bertarung dengan Jaka Tingkir sampai di tengah hutan. Saat di hutan tidak ada teman-temannya, ya Pujawati melepaskan Jaka Tingkir. Kemudian Pujawati pun melukai dirinya sampai muntah darah dan kembali kepadepokan. Semua temannya melihat Pujawati yang terluka dan akhirnya pingsan. Temannya membawa Pujawati ke dalam rumah gurunya, tepatnya di ruangannya. Nyi Ireng pun mulai mengobati Pujawati yang terluka parah, sampai diri Pujawati sembuh total. Nyi Ireng, ya tetap memerintahkan Pujawati untuk mencari hati pemuda untuk menyempurnakan ilmunya. Pujawati memang melaksanakan dengan cara mengulur waktu saja padahal sedang ada hubungan baik dengan Jaka Tingkir.....ya kasmaran gitu. Hubungan spesialnya Pujawati dan Jaka Tingkir pun ketahuan Nyi Ireng alias kepergok di tengah hutan lagi pacaran gitu. Nyi Ireng marah besar, ya membawa Pujawati. Sedangkan murid-muridnya Nyi Ireng di suruh untuk mengajar Jaka Tingkir. Tapi Jaka Tingkir ingin menghadapi Nyi Ireng gitu. Tapi apa boleh buat musuh di depan mata Jaka Tingkir adalah semuanya perempuan yang memegang pedang semuanya. Jaka Tingkir pun mengerjakan kemampuannya untuk menjatuhkan satu persatu lawannya.
Pujawati pun mau di bunuh oleh Gurunya, ya Nyi Ireng. Untung Jaka Tingkir telah selesai mengalahkan semua lawannya dan menyelamatkan Pujawati dari kematiannya dari tangan Nyi Ireng. Nyi Ireng pun marah besar sampai berkata "Siapa Gurumu....Jaka Tingkir?"
"Nyi Ireng tidak perlu tahu Guru aku. Tetap saja Nyi Ireng tidak bisa mengalahkan Guru aku," kata Jaka Tingkir.
"Dasar pemuda sombong," kata Nyi Ireng.
Nyi Ireng pun menyerang Jaka Tingkir dengan jurus-jurus yang hebat. Jaka Tingkir mampu mengimbangi serangan Nyi Ireng. Sampai pertarungan terhenti sejenak dan Jaka Tingkir berkata "Aku tahu ilmu akan sempurna jika telah memakan hati pemuda yang terakhir".
"Dasar brengrek," kata Nyi Ireng marah.
Nyi Ireng pun menyerang Jaka Tingkir dengan kemampuannya. Pertarungan sangat sengit banget. Sampai akhirnya adu tenaga dalam di antara keduanya. Nyi Ireng yang belum menyempurnakan ilmunya, ya kalah dari Jaka Tingkir. Maka itu Nyi Ireng pun meninggalkan pertarungan dengan membawa Pujawati. Jaka Tingkir, ya tidak sempat menolong Pujawati yang di bawa Nyi Ireng. Maka itu Jaka Tingkir marah besar, ya dengan menghancurkan berhala yang di puja oleh murid-muridnya Nyi Ireng di padepokan. Jaka Tingkir pun berteriak "Pujawati".
Tetap saja Pujawati yang di sukai oleh Jaka Tingkir tidak bisa di temukan, maka itu Jaka Tingkir pun lebih baik kembali ke rumahnya.


0 komentar:
Post a Comment