BATAS
Kebahagiaan adalah tempat yang tidak bisa untuk ku datangi.
Jika saja soal asmara itu mampu ku urai semudah aku jatuh cinta kepadanya bisa jadi
apa yang ku sebut dengan hati, masih bisa untuk ku bentuk kembali.
Ada saat tertentu beberapa tetes air mata memang diperlukan
dan sedikit rasa sakit harus engkau terima untuk menyeimbangkan sebuah
kehidupan, agar engkau mampu memperlakukan kebahagiaan dalam keadilan dan rasa
sedih dengan bijaksana.
Ku harap engkau cepat tumbuh dewasa supaya mengerti dengan
apa yang sedang ku bicarakan ini. Karena mungkin kau pun akan merasakannya jika
bukan sekarang barangkali nanti, namun semoga saja hanya aku.
Kepada kamu yang tidak dicintai. Bersiaplah untuk menerima
seperti apa rasanya berteman dengan rasa sedih dan kebencian yang menyayat
setiap ulu hati....mu dan ia juga meringkus setiap aliran darah dalam tubuh mu
dengan perih. Lalu kamu akan bersusah payah hanya agar bisa berdiri seperti
biasanya, belajar untuk sedikit tersenyum namun banyak menerima tatkala orang
yang engkau cintai mendapatkan cintanya, bukan cinta mu tapi cinta dari
seseorang yang dia cintai, dan di saat itulah aku harus belajar beranjak
mendewasakan untuk mampu bertahan, belajar terus bernafas tatkala pedih merauk
menyingkup degup jantungku, belajar untuk tetap melanjutkan hidup tanpa
ditemani dengan apa yang kusebut dengan kebahagiaan. Lalu dengan tubuh gemetar
dan langkah tertatih mencoba untuk terus bermimpi meskipun pada dasarnya mimpi
yang sebenarnya tak lagi untuk mampu kuingat, hancur tak berdebu.
Kemudian mencoba mengubah setiap mimpi indah yang tak lagi
berbentuk itu menjadi pijakan dalam menciptakan mimpi yang baru. Mimpi dalam
kehidupan tak berjantung. Maka duduklah sebentar biar kuperjelas ceritanya,
karena masih banyak sesak yang belum kau dengar, masih terlalu banyak rindu
yang belum kau lihat.
Angin meliuk, bergandengan dengan sinar senja merambah pada
setiap dahan lalu meliuk kembali kemudian baru mengakar menuju tanah, tak ada
satu pun awan yang menggaggu langit biru, angkasa sempurna membiru menjulang
tinggi, latar suasana yang indah dalam kehidupan namun tidak dengan latar
hati ku, warnanya tidak biru melainkan pekat. Ku rapikan kembali kemeja ku, lalu
meraih buku bersampul coklat itu yang telah kusam termakan oleh waktu. Aromanya
masih sama seperti dulu, aromanya masih untuk seorang gadis yang tetap
bersemayam diam dalam hati ku. ku baca kembali setiap abjad puisi-puisi yang
sudah sejak 10 tahun lalu itu ku tulis untuknya namun sayang, tak pernah ada satupun
yang terbaca olehnya. Tak pernah ada sedikit rindu....pun yang besua dengan
pemiliknya.
Pagi yang elok adalah perjumpaan denganmu
Tiada yang paling manis selain seutas senyummu
Wahai gadis yang berjilbab berantakan
Bolehkah ku miliki sepotong ruang di hatimu
Tiada yang paling manis selain seutas senyummu
Wahai gadis yang berjilbab berantakan
Bolehkah ku miliki sepotong ruang di hatimu
Jakarta, 19 Oktober 2006
Kertas itu menguning, tintanya tak lagi setegas dulu, namun
setiap detail dari kenangannya masih segar dalam ingatan ku. Di hari itu aku
menulis puisi pertamaku untuknya, ragu ragu memandang wajahnya lalu diam kikuk
saat mata kami saling bertemu, kemudian dengan cepat aku akan melangkah keluar
dari ruang kelas. Menyeiramakan degup jantung ku yang sudah berlari mendahului
aba-aba ku lalu tersenyum kembali saat mengingat wajahnya. Ah, di umur semuda
itu aku sudah merasakan cinta.
Gadis itu berjilbab lebar, memiliki mata menawan seperti
menyimpan banyak kilauan, tubuhnya tidak kurus juga tidak gemuk, tidak kecil
dan tidak besar, bagi ku dia selalu menempati angka yang tepat, seperti apapun
bentuknya aku selalu berdecak kagum saat melihatnya, gugup ketika di sampingnya
dan selalu terlihat bodoh saat di depannya, sampai selanjutnya aku tidak
mengerti apa yang harus kulakukan, lalu situasinya semakin bertambah rumit
karena rindu. Aku hanya mampu menatapnya dari kejauhan, tertawa kecil ketika ia
mendengus sebal dan berteriak dengan nada marah kepada beberapa lelaki yang
menggaggunya. Dia selalu terlihat hebat, selalu begitu.
Senja terus berlari begitu...pun fajar enggan untuk kalah
dengannya dan tahun demi tahun pun telah berganti namun hati ini masih sama
bimbangnya, dan masih pula untuk gadis yang sama. Dia tumbuh semakin menawan,
elok dan terjaga dengan jilbab panjangnya. Ah jika saja kau turut melihat
setiap detail dari cerita ini, maka kalimat apa yang akan kau gunakan untuk
menjelaskan indahnya. Lalu, siapa pria yang tak akan melewatkannya, mungkin
hanya aku satu satunya pria yang tidak pernah berani dan hanya bisa
menduga-duga, apakah dia juga jatuh cinta pada....ku.
Semakin banyak pria yang mencoba untuk mendapatkan cintanya
namun dia tetap diam, bersikukuh dengan pendiriannya untuk tetap hanya berteman
sampai laki-laki yang menyatakan cinta itu juga berkata hal yang serupa di
depan Ayahnya. Mendengar pendiriannya aku hanya bisa menelan getir, tersenyum
kecut dan menatap bodoh pada bayanganku sendiri, lalu nanar sudah tak terlihat
impian hari hariku bermesraan dengannya. karena aku hanyalah seorang
pengaggumnya dalam diam, seorang pria yang tak pernah sanggup berani menatap
matanya apalagi mengajaknya untuk makan bersama. Sedihnya, tak ada satu....pun yang
mengetahui perasaan ini, tidak ada seorang teman yang dengan senang hati
menjadi mak comblang, ah… siapa juga yang berani mengetuk gaduh pintu hatinya,
jika aku saja terlalu malu dengan kesadaran pada diri ini. Maka kuputuskan
untuk menutup rapat perasaan itu bersama dengan rindu yang bungkam, menyimpan
semua rahasianya. Lalu berdoa semoga cerita ini tidak segera berakhir dengan
getir.
Hari itu angkasa terlihat sama seperti saat pertama kali aku
menempatkan dia di tempat yang tinggi dalam hati ku, biru sepanjang mata
memandang, dan cerah tak berawan. Anak anak angin bersorak, dengan ramai
mencoba memainkan kesegaran. Semua murid terlihat sibuk di hari kelulusan.
Beberapa sibuk mencoba mencari pekerjaan dan beberapa lagi sama sekali tidak
memutuskan, sedang aku tidak menjadi bagian dari keduanya. Aku duduk di bangku
yang terletak di depan kelas XII 1, mengamati setiap sudut sekolah di detik
detik terakhirnya, bermuka masam dengan pikiran berjalan keras, bimbang
terhadap apa yang kukhawatirkan.
“Apakah takdir masih mempertemukan aku dengan dia kembali..”
kata hati ku menyuara. Aku mengutuk diriku sendiri yang terlalu bodoh, “apa yang
bisa kulakukan dengan perasaan ini bukankah tetap tak akan ada yang berubah
meski dia juga mencintaiku, karena aku pun tidak cukup berani untuk mengawali
sebuah pernikahan, lantas bagaimana…!,” gerutu ku kesal.
Dan disaat pikiranku berkecamuk kemudian hatiku mengaduh
putus asa, “hei, apa kamu mendatapkan beasiswanya?” ucapnya dengan mata
berbinar. Nafasku tersenggal, berlari tak menyamai degup jantung ku. Hahh..,
bagaimana ini gadis yang bayangannya sedang memenuhi beberapa syaraf di otak ku
itu berdiri tepat di depan ku dan menanyakan bagaimana study ku, darah ku
berdesir, barangkali semangat mulai membakar jemari jemari kaki ku, “entahlah,
belum ada kabar” ucap ku bergetar gugup, “ohhh…” jawabnya dengan nada menerima.
Tak ingin membuat ia terluka segera ku tanyakan kembali tentang studynya,
kemudian dia kembali membuat ku terpana. Menatap nanar bagaimana cara dia
bercerita dengan semangat, suaranya selalu menyengangkan, selalu begitu.
Terdengar nyaman sampai gemanya memantul memasuki ruang ruang di dalam hatiku,
ah gadis ini mengapa begitu mengagumkan. “oh ya, aku pulang dulu ya” dan ia
melangkah berlalu sembari melambaikan tangan menyisakan bayang wajahnya yang
tersenyum. Sedang aku hanya bisa menatapnya, sedikit mengangguk dengan bibir
terbuka.
Semenjak sore itu aku menjadi bersemangat untuk
mempersiapkan segalanya, lalu ku putuskan untuk menghabiskan 10 tahun terakhir
dengan mengambil S1 tehnik kimia lalu melanjutkan belajar sembari bekerja di
Negeri Paman Sam, mengumpulkan uang receh dari sekeping hingga dua keping untuk
pembuktian cinta yang sebenar benarnya tanpa merasa curiga jika sebenarnya
takdir melangkah tak bersama ku. Sampai tadi malam langit menjelaskannnya
kepada ku bahwa sebenarnya cinta tak serumit itu, cinta tidak bisa membutuhkan
waktu untuk menunggu karena jika kau memang rindu engkau tidak bisa menunggu
untuk tidak berlari ke arahnya.
Malam itu tak ada kabut yang memenjarakan bintang, sehingga
ia bisa menemani rembulan untuk menghiasi semesta, dan di malam itulah langit
sempurna membuat ku tertunduk payah. Aku sedang duduk sambil membayangkan
seperti apa dia sekarang, apakah dia tumbuh dengan sehat dan makan dengan
teratur. Lalu seseorang datang, berdiri di depan pintu dengan senyum sumringah.
“kemana saja kau selama ini?” ucapnya bersemangat, aku mengenalnya seperti aku
mengenal diriku sendiri, seperti aku mengenal kota ini karena kami tumbuh
bersama, ia sedikit berbeda. Wajahnya bergaris tegas, terlihat gagah dengan
jambang. “aku hanya bermain, kemarilah…” gurauku, lalu kami saling bertukar
cerita, sesekali saling meledek lalu tertawa lagi sampai akhirnya hati yang
baru saja hangat itu berubah menjadi kelam dan dingin, “oh iya rey, datanglah
besok bersamaku, pagi buta kau sudah harus di rumahku, sebagai sahabat kau
turut memeriahkan bukan” ucapnya dengan nada menggembirakan, “baiklah baiklah”
balas ku, “siapa gadis yang mau menikah denganmu” ucap ku sambil tertawa
menggoda, “kau pasti mengenalnya Rey” sahutnya.
Ku buka undangan yang berwarna coklat dengan tali simpul
merah muda itu. Hatiku berdegup, benarkah. Kucoba mengeja kembali nama wanita
yang bersanding dengan namanya, sedikit gemetar untuk mengeja namanya lagi.
Mencoba meyakinkan hati ku lagi, benarkah dia. Wening Angi Satiti, ucapku
gemetar. Kurasakan darahku berdesir hangat dan rasanya sakit sekali., “apakah
dia Wening teman sekelas kita dulu?” tanyaku mencoba membenarkan apa yang
sedang terjadi. Senyum menggarisi wajahnya lalu “iya, aku melamarnya 3 hari
yang lalu” ucapnya sedikit malu. Dada ku langsung sesak, ruangan itu tiba tiba
terasa pengap dan ramai, gaduh membuat kepala sakit, bukankah di hari itu
adalah hari pertama kali aku kembali, dan hari yang ku sangka menjadi awal dari
cerita indah ku adalah hari berakhirnya cerita asmara ku. “iya, saat itu dia
sedikit ragu awalnya tetapi ayahnya mengatakan bahwa sekarang sudah waktunya ia
untuk menikah” penjelasan Zaki kali ini menamparku, seolah aku terseret memasuki
putaran sebuah lubang hitam yang kelam, tapak kaki ku terasa samar, lalu tak
kudengar lagi ucapan Zaki yang selanjutnya, aku hanya diam lalu sesekali
tersenyum dan pada akhirnya mengangguk sebelum Zaki pergi.
Semesta lalu menjelaskan cerita ini dengan lengkap tanpa
sedikitpun terlewat, membuat aku semakin jatuh dan terluka. Di hari itu tepat
beberapa detik setelah aku menginjakkan kaki di tanah Jakarta, di sisi langit
yang lain sedang terjadi sebuah ikrar suci, sebuah pembuktian cinta yang
sebenarnya, suatu kepastian tanpa ragu adalah cinta yang sederhana. Ketulusan
yang tak pernah ternilai dengan dunia dan seisinya, “Apakah bapak merestui saya
untuk mengambil alih pertanggung jawaban bapak baik di dunia ini maupun di
akhirat kelak terhadap putri bapak, wening?” ucapan pemuda itu pelan tapi
tegas, mengendalikan situasinya dan Bapak itu membalasnya dengan tatapan tajam
bersahaja, lalu pada malam itu penentuan tanggal pernikahan pun terjadi. Aku
jatuh berdebam di lantai kamar, masih memegang surat undangan itu dengan
gemetar. Dan rembulan menatap ku dengan kasihan, perih itu berdenyut denyut
dalam setiap degup jantung ku membuat ku enggan untuk bernafas lalu aku terus
terjaga sampai bukan rembulan lagi yang mengasihani ku melainkan mentari.
Kurapikan kemeja ku sekali lagi, menutup lembaran puisi itu
lalu meletakannya ke dalam laci meja, setiap abjadnya membuatku semakin sesak
apalagi ditambah dengan melihat cincin yang terdiam indah berada di kotaknya
sedangkan pemiliknya akan segera menikah membuat hatiku berdenyut denyut perih,
badan ku terasa berat. Di pagi hari yang indah itu aku tergugu di bawah jendela
seperti anak kecil yang kehilangan mainannya atau pulang dari bermain tapi
Ibunya tidak di rumah, ya Rabb berikanlah aku kekuatan. Aku masih tertunduk
dengan mata terpejam merasakan perih di setiap jarum jam berdetak maka
kuberanikan untuk pergi ke pernikahan itu, setidaknya untuk melihat wajahnya
untuk yang terakhir kalinya, kuharap begitu lalu aku akan bisa melupakannya.
Ruangan itu penuh dengan warna putih, dan beberapa bunga
mawar putih di setiap sudutnya, terlihat sederhana tapi elegan. Acara itu hanya
dihadiri oleh beberapa tamu yang juga sekaligus menjadi saksi. Kulihat Zaki
sudah menjabat tangan seorang Lelaki dan… “Saya terima nikahnya dan kawinnya Wening
Angi Satiti binti Zufroni syahinudin dengan…”. Badanku gemetar lalu lamat lamat
tak kudengar lagi suara Zaki sampai suara “Sahhh..” lantang menampar jiwaku.
Hancur sudah tak berbentuk, dan semua benih benih rindu dan perasaan ku mati
langsung mengering tergantikan dengan rasa sakit yang tak tertahankan.
Pandangan ku nanar dan aku....pun tak sanggup lagi untuk bersikap
seolah semuanya sedang baik baik saja. Perlahan air yang menggenang di pelupuk
mataku pun meluncur jatuh berdebam ke ranah bumi lalu sirna, jiwa ku pun tak
lebih baik dari itu. Suara Qiraah mengalun merdu mengiringi datangnya mempelai
wanita. Wanita itu tersenyum simpul sebentar kepada pria yang menunggu di
depannya, lalu melangkah pelan namun pasti setibanya ia mencium tangan Pria itu
dan Pria itu mencium keningnya. Ya Rabb gadis itu, apa yang harus kulakukan.
Sempurna karena aku tak mampu lagi untuk merasakan jiwa ku berada di rungan itu,
jika saja boleh kupilih mungkin aku akan memilih buta dari pada melihatnya atau
barangkali lebih baik aku mati sebelum jatuh cinta dengannya dulu.
Aku berdiri lalu melangkah pergi, menjauh dengan membawa
sepenggal cerita hidup yang tak akan sama lagi..
Aku memutuskan untuk meninggalkan semuanya, pergi dan
barangkali tak kembali. Membiarkan cincin bersama puisinya lapuk di dalam laci
meja yang lembab itu, kesepian diantara dinginnya kamar yang tak berpenghuni.
Aku tertawa putus asa, mencibir tentang perasaan ku lalu menangis kemudian
berteriak dengan memekik, mengasihani hati ku dengan jiwa tak berakal. Tak lagi
kurasakan tapak kaki ku berpijak, sampai akhirnya aku tersungkur jatuh, dan
ditengah keramaian Bandara aku duduk terisak sambil menyesali apa yang telah
aku lewati. Lihatlah bukankah aku Pria malang yang kaya tapi miskin cinta,
lihatlah Pria yang sama sekali tak bisa mendefinisikan cinta dengan sebenarnya.
Lalu dengan langkah gontai aku memasuki pesawat, dan cerita ini pun berakhir,
tak ada lagi yang bisa diselamatkan. Apalagi dengan perasaan ku.
Sekarang aku bersembunyi di kota terpencil, menyibukkan diri
sampai jatuh terlelap karena kelelahan hanya agar tak teringat dengan perihnya.
Mengubur dalam diri ku yang dulu lalu membinasakan hati ku, namun tetap saja
sesekali aku masih merintih pada malam, menanyakan mengapa langit setega itu
kepada ku, lalu tertawa putus asa dan saat paginya mencoba berlari dari
kenyataan, apakah kau tahu adakah Pria yang lebih malang dariku atau hanya aku
saja Pria dungu di dunia ini…


0 komentar:
Post a Comment