MALANGNYA NASIFKU
Hari ini langit memang cerah, tapi tiba-tiba awan hitam melintas dan turun hujan rintik-rintik. Tabah berlari menuju tempat yang ada atapnya agar tidak kehujanan. Sampai di pohon besar dan Tabah berhenti.
"Apa aku iyup di sini aja ya. Jangan lah. Nanti pohon ini di sambar petir.
Tabah pun berlari lagi sampai di pinggiran toko yang tidak buka hari ini karena memang ada selebaran di tempel di depan toko dan Tabah membaca "Jual cepat. Hubungin nomor ini 08xxxxxxxxxx."
Tabah berdiam di situ dengan baik. Hujan masih turun rintik-rintik. Tiba-tiba kilat di barengin suara gledek yang menggelegar. Tabah melihatnya dengan pohon yang rindang di sambar petir.
"Astafirohulazim. Aku selamet. Tidak iyup di pohon rindang itu," kata Tabah.
Pohon yang di sambar petir itu roboh bagian batang pohonya dan jatuh di atas mobil mewah. Semua orang tidak berani ke tempat robohnya batang pohon yang di samber petir, karena takut di kesamber petir. Hujan yang rintik-rintik pun berhenti dan langit cerah lagi. Baru semua orang membereskan batang pohon yang di sambar petir tersebut.
Tabah yang masih punya urusan lebih baik pulang ke rumahnya. Selang berapa saat sampai di rumah. Saat duduk di teras rumah. Tabah masih meratapi nasipnya.
"Nasif jadi orang miskin. Susah juga jadi kaya. Udah usaha ke sana ke sini tetap gak bisa naikin derajat."
Ada dua melintas di depan rumah Tabah sedang asik ngobrol tentang pohon yang di samber petir. Yang membuat Tabah mendengar omongan dua orang melintas di depan rumahnya adalah "Ada setan tinggal di pohon tersebut, malaikat melemparkan petir ke pohon tersebut".
Tabah memang gak abis pikir berkenaan pola pikir manusia yang selalu di kaitkan dengan hal yang gak masuk akal itu, maka itu di abaikan oleh Tabah. Beni pun main ke rumah Tabah. Dan seperti biasa mengajak Tabah untuk kerja sama Beni, memang Beni sering dapet loka kerjaan walau jadi kuli bangunan. Tabah ya senang ada dapet kerjaan dari Beni, untuk menyambung hidup yang benar sulit ini.
Beni pun pulang ke rumahnya, karena ada urusan yang lain jadi Tabah mempersilakan Beni, toh urusan kerjaan akan di mulai esok pagi. Tabah ingin santai di rumah, tetapi memutuskan jalan-jalan.
Sampai di persimpangan gang. Tabah melihat pengemis yang cacat, ya kerjanya minta-minta. Emang sih Tabah iba, tapi dirinya pun masih harus banyak di kasianin karena hidup di daerah perantauan dan tinggal di kontrakan pula. Uang pun di keluarkan oleh Tabah dari saku celananya.
"Uang ku tinggal Rp 5000. Ya...sudahlah ku sodakohin 2 ribu aja."
Tabah memberikan uang Rp 2000 ke pengemis. Dan pengemis pun berkata "Terima kasih ya nak atas sodakohnya ke Bapak."
Tabah pun berkata pula "Iya sama-sama."
Tabah pun berjalan-jalan lagi. Sampai di mesjid. Tabah pun langsung sholat bersama warga yang lainnya yang taat beribadah. Sholat berjalan dengan khusuk banget. Selesai sholat. Tabah mengeluarkan uang yang tinggal Rp 3000. Jadi Tabah masuk uang tersebut ke dalam kotak amal.
"Infak di jalan kebaikan," kata Tabah dengan suara samar.
Tabah pun memutuskan pulang ke rumahnya. Sampai di rumah. Tabah duduk diam di teras rumah melihat gas idamannya di depan rumah.
"Cantika. Ingin hati mendapatkan mu, tapi daya kemampuan ku tak ada untuk mendapatkan mu. Hanya bisa melihat mu saja aku sudah senang. Nasif-nasif orang miskin yang mencintai gadis cantik jelita sesuai dengan namamu," kata Tabah dengan suara samar.
Tabah pun masuk rumah dan melupakan kata-kata puitis yang telah terucap.
Esok harinya. Tabah yang janjian dengan Beni, mulai menjalankan kerja sebagai kuli bangunan di rumah Bapak Teguh, ternyata rumahnya Cantika. Tabah memang agak minder menghadapi Bapak Teguh, karena anaknya memang di sukai Tabah.
Ya Tabah pun berkata dalam hatinya "Nasif jadi kuli. Urusan cinta ya....bisa merindukan bulan saja."
Beni dan Tabah giat bekerja untuk membangun rumah. Sampai hal yang membuat Tabah kaget. Cantika sudah punya pacar, saat pulang ke rumahnya di antarkan oleh cowoknya yang ganteng dan tajir.
Tabah berkata dalam hatinya "Malangnya nasifku orang miskin. Cinta hanya bisa merindukan saja orang di sukai. Untung saja orang tuaku memberi nama Tabah, jadi aku harus tabah menghadapi ujian ku ini. Memang susah naikin derajat."
Tabah lebih serius bekerja dan melupakan semua kisah cintanya yang gak penting lagi dan menjalani nasifnya sebagai orang miskin yang terus berusaha keras naikin derajatnya menjadi orang mampu alias kaya raya.


0 komentar:
Post a Comment