MARMUT
Malam begitu larut sekali di tengah kota besar. Marmut naik sebuah taksi yang di pesannya. Pak sopir melajukan mobil taksi dengan baik sekali. Saat melewati terowongan Marmut meminta ke pada Pak sopir untuk menepi. Karena perintah pelanggannya Pak sopir menepi di pinggir jalan.
"Apakah benar anda turun di sini?," tanya Pak sopir.
"Ia benar sekali......, dan berapa yang saya harus saya bayar?," kata Marmut sambil menyandang tas ransel berwarna hitam.
"Tunggu...dulu... urusan bayar- membayar. Ada bau gak enak dari tubuh anda. Apa jangan-jangan anda seorang pemburu vampir?," kata Pak sopir.
"Kalau...benar....kenapa?," kata Marmut.
"Kalau begitu anda harus mati di tangan saya," kata Pak sopir.
Pak sopir menunjukkan wujudnya yang asli dengan mengeluarkan kekuatan ekornya yang sangat kuat yang mampu merobek apapun?. Marmut tidak lengah dari serangan Pak sopir. Marmut keluar dari mobil dengan cepat membuka pintu, dan melompat. Serangan mematikan Pak Sopir gagal mengenai Marmut.
"Hampir saja..saya celaka," kata Marmut.
Pak sopir keluar dari mobil taksi, lalu menghempas mobil taksi dengan kekuatan ekor yang sangat kuat.
"Siapa..kamu sebenarnya?," tanya Marmut.
"Saya adalah Tikus dari klan vampir bawah tanah," katanya dengan marah sekali.
"Kalau begitu...target saya..benar. Kamu yang banyak membunuh di taksi gelap di tengah malam di jalan kota besar," kata Marmut.
"Kalau...benar...kenapa?. Mau..ikut campur urusan orang dalam mencari makan.......," kata Tikus sambil menyerang Marmut.
Marmut terus saja menghindari serangan ekor Tikus yang kuat.
"Kalau begini tidak bisa di diamkan," kata Marmut.
Marmut mengeluarkan pedang dari ranselnya. Untuk supaya pergerakan leluasanya Marmut, lalu membuang tas ransel ke jalan.
"Waktunya menghabisi..vampir bodoh," kata Marmut yang siap menyerang.
"Dasar pemburu vampir sialan.......," kata Tikus yang marah.
Tikus menyerang dengan ekornya yang sangat kuat ke arah Marmut. Marmut menangkisnya dengan pedangnya yang sangat tajam. Tapi ternyata Tikus menguasai elemen logam. Ekor Tikus yang kuat seperti besi menyerang membabi buta ke Marmut.
Serangan terus-menerus Tikus dari ekornya memojokkan Marmut. Dengan sekuat tenaga Marmut menahan serangan ekor Tikus dengan pedang yang tajam.
"Berengsek...ternyata level pertarungan...tinggi juga," kata Marmut.
"Baru..tahu..kamu..," saut Tikus.
"Saya..tidak mau kalah di sini.........kamu harus mati di tangan saya..," kata Marmut sambil meciptakan tolakan lewat kakinya untuk mundur ke belakang.
Marmut dengan berlari cepat menyerang Tikus dengan pedang pajamnya. Pertarungan semakin sengit di ke duanya. Tikus makin marah, karena posisi makin terdesak oleh serangan Marmut si pemburu vampir. Tikus meningkatkan serangan ekornya yang mematikan sampai mematahkan pedang Marmut.
"Haaaa...pedang ku patah," soknya Marmut.
Tikus tidak memberi waktu kosong dalam serangannya. Dengan cepat di hunuskan ujung ekor besi ke Marmut. Sedangkan Marmut berusaha menghadang serangan Tikus dengan pedang yang patah. Motor melaju dengan sangat cepat sekali. Beberapa pisau terbang mengarah ke Tikus dan Marmut.
Tikus terkena dampak dari pisau terbang.
"Brengsek.....," kata Marah Tikus.
Motor pun berhenti di depan Marmut. Marmut juga terkena pisau terbang juga sampai mengores pipinya.
"Kamu..Kadal., kalau menyerang..lihat-lihat dulu," kata Marmut menasehati temannya.
"Maaf deh..saya sangat bersemangat menghajar Tikus..itu," kata Kadal.
"Satu..lagi...pemburu vampir," kata Tikus yang marah sekali.
Tikus pun menyerang Kadal yang berada di motor. Kadal pun sadar serangan mematikan dari Tikus dengan cepat mengegas motornya. Kadal berhasil menghindari serangan Tikus. Marmut pun langsung mengelak juga dari serangan membabi buta dari Tikus.
Kadal pun memarkirkan motornya di pingir jalan. Langsung berlari menyerang Tikus dengan pisau yang di lemparkan ke arah Tikus. Dengan inting yang cepat Tikus menangkis semua serangan pisau terbang dari Kadal dengan ekornya. Lalu Kadal pun terkena pukulan yang sangat kuat dari ekor Tikus sampai terpental jauh.
"Brengsek...........," kata geram dari Kadal.
Kadal pun marah sekali, lalu berubah wujud dari tangan kananya berubah menjadi sebuah pedang langsung menyerang Tikus. Dengan tangap Tikus menahan serangan Kadal. Terjadilah adu kekuatan antara Kadal dan Tikus.
"Sebenarnya....kamu ini....makluk apa?," tanya Tikus.
"Saya setengah Vampir....," jawab Kadal.
Kadal langsung meningkatkan kemampuan serangan pedang di tangan kanannya. Tikus mulai terdesak oleh seranga Kadal. Tapi Tikus makin marah menunjukkan sosok aslinya. Lalu dengan kuat di hajar Kadal sampai terpental oleh ekornya yang kuat. Kadal pun terpental jauh dampak serangan Tikus yang beringas.
Tikus mengerang Marmut dengan menggunakan cakar yang tajam. Tiba-tiba Marmut berubah juga sama seperti Kadal. Tangan kanan Marmut berubah menjadi pedang yang cukup besar. Serangan cakar Tikus di tangkis oleh Marmut. Tapi ekor Tikus yang tajam langsung menyerang Marmut dalam posisi menahan serangan cakar Tikus.
Marmut berusaha menghindar dengan cara menolak ke samping. Tapi celah terlihat oleh Tikus. Mulut Tikus yang membuka dengan giginya yang tajem menyerang Marmut. Dengan sekejab Marmut tergigi di bagian tangan kirinya oleh Tikus.
"Berengsek..," teriak Marmut.
Marmut dengan cepat menebas Tikus dengan pedangnya. Dengan cepat Tikus menghindari serangan dadakan dari Marmut.
"Bener-bener...harus menggunakan kekuatan penuh..," kata Marmut.
Marmut menyerang Tikus dengan sangat cepat dan kuat. Di tebasnya Tikus dengan pedangnya Marmut sampai memotong ekornya.
"Aaaaaahhh.....," teriak Tikus.
Marmut tidak memberi celah waktu untuk Tikus menyerang kembali. Marmut langsung membelah Tikus menjadi dua.
"Aaaaahhh...," teriakan terakhir Tikus.
Jalan pun penuh dengan darah mengalir dari Tikus. Kadal pun menghampiri Marmut yang kehabisan tenaga.
"Kamu berhasil...mengalahkan Tikus..," kata Kadal.
"Iya....., ternyata dia musuh yang sangat kuat," kata Marmut.
Marmut, dan Kadal membereskan mayat Tikus dengan beberapa bala bantuan yang di telpon oleh Marmut. Dalam hitungan jam tempat kejadian sudah bersih. Sampai di markas besar Marmut menulis laporan. Para pemimpin menyidang Marmut yang bertindak di luar batas. Untung saja Cicak menolong Marmut dalam pembelaan laporan tugas kerja. Selang beberapa saat sidang laporan kerja selesai juga.
Marmut dan Cicak keluar dari ruangan kantor, dan bebicang-bincang sambil berjalan mengenai masalah yang di sidangkan. Cicak yang geram karena ulah Marmut bertindak sendiri tanpa koordinasi yang baik dengan tim pemburu vampir. Cicak meninju perut Marmut dengan cukup kuat.
"Lain....kali bertindak berpikir dua kali," kata Cicak.
"Baik..lah, tapikan.....pembunuhan dimana-mana yang di lakukan oleh klan vampir harus di hentikan secepat mungkin," kata pembelaan Marmut.
Cicak pun pergi meninggalkan Marmut begitu saja.
"Dasar.........makluk mau menang sendiri........," gerutu Marmut sambil menahan sakit di perutnya.
Marmut pun duduk di kursi sambil menahan rasa sakitnya. Waktu pun berlalu cepat sekali Marmut pulang ke rumahnya. Dengan santai Marmut berganti pakaian, dan membuat makan malam sendirian. Lalu Kadal pun dateng berkunjung ke rumahnya Marmut, dan ikut makan bersama. Hari-hari yang melelahkan di rasakan oleh Kadal, dan Marmut. Mereka berdua istirahat di kamar masing-masing. Tidur untuk menghilangkan rasa capek di tubuh Kadal dan Marmut.

0 komentar:
Post a Comment