JANGRIK
Malam yang begitu indah di terangi bulan purnama. Jangrik sedang duduk sebuah batu di pinggir sungai sambil benyanyi untuk menghilangkan rasa kesepiannya. Lagi asik bersenandung Jangrik mendengar "Buyur." Sontak Jangrik langsung berdiri seakan-akan waspada. Tiba-tiba gelombang air naik hampir melebihi dirinya Jangrik.
"Saya bisa hancur oleh tengelam oleh sunami ini," kata Jangrik.
Dengan sangat cepat bertindak Jangrik melompat langsung naik ke sebuah batang pohon. Terus saja melompat sampai ke atas. Air bah hampir menghempas Jangrik.
"Saya selamat......," kata Jangrik.
Jangrik pun dari pohon dengan penuh ke hati-hatian. Saat air sungai mulai surut. Jangrik mulai mencari siapa yang membuat air sungai naik?. Terlihat seekor Kodok sedang sedang bermain di air. Jangrik menghampirinya dengan cepat.
"Hai....Kodok apa kamu yang membuat air sungai naik...sampai menciptakan sunami?," tanya Jangrik.
"Oh....mungkin iya...mungkin juga tidak?," kata Kodok.
"Kenapa begitu jawabannya seperti itu...?," tanya kembali Jangrik.
"Masalahnya......saya mungkin yang menaikan air sungai. Karena saya melompat dari ketinggian, dan masuk ke air. Pada akhirnya air sungai naik.......," kata Kodok menjelaskan.
"Jadi kamu pelakunya yang mencelakai saya...," tuduhan Jangrik.
"Kalau masalah mencelakai kamu, karena air naik seperti sunami.....ya..gak mungkin..lah," kata Kodok.
Lalu Kodok keluar dari air berjalan sampai ke pinggir sungai. Lalu Kodok naik pohon dengan sangat cepat. Sampai di puncak untuk melompat si Kodok.
"Hey....Jangrik saya akan memberi contoh.....kenapa air sungai naik. Tapi jika benar air sungai ini naik menciptakan sunami dan mengenai kamu. Berarti saya yang salah. Tapi jika tidak menciptakan sunami berarti tuduhan kamu ke pada saya harus di cabut. Itu tandanya Fitnah....," kata Kodok.
"Baik...saya.....akan mencabut tuduhan saya...jika kamu tidak bersalah. Saya akan meminta maaf ke pada kamu Kodok....atas kekeliruan saya," kata Jangrik.
Kodok langsung melompat dari pohon, dan masuk ke dalam air.
"Byuuur....," suara air sungai.
Kodok langsung berenang keluar dari air, dan ngapung.
"Jangrik...saya tidak menciptakan sunami....kan," kata Kodok.
"Iya..bener....air sungai tidak naik. Jadi Saya meminta maaf karena menuduh mu Kodok," kata Jangrik yang penuh santun.
"Saya..maafkan..Jangrik..., karena kamu pun tidak bersalah. Karena kamu lagi mencari orang yang mencelakai kamu...," kata Kodok.
Tiba-tiba air sungai naik menciptakan gelombang sunami.
"Wah..kacau ini saya bisa celaka," kata Jangrik yang panik.
Kodok langsung berenang cepat menolong Jangrik yang hampir terjebak oleh gelombang air pasang. Kodok menyelamatkan Jangrik saat air menenggelamkannya.
"Tolong....," kata Jangrik di dalam air.
Kodok berhasil menyelamatkan Jangrik. Dengan berenang cepat Kodok membawa Jangrik ke tepi sungai saat air bah sudah surut. Kodok berusaha memberi nafas buatan ke Jangrik. Dengan usaha keras Kodok akhirnya Jangrik selamat.
"Saya...bisa bernafas..lagi," kata Jangrik sambil memuntahkan air.
"Jangrik......kamu..panjang umur..," kata Kodok yang tiduran di tanah.
"Terima kasih Kodok telah menyelamatkan saya..," kata Jangrik.
"Sama-sama.....," jawab Kodok.
"Jadi siapa yang menciptakan sunami....?," tanya Jangrik.
"Mana saya..tahu...," saut Kodok.
Jangrik yang penasaran mencari dengan memanjat pohon yang lebih tinggi lagi. Sedangkan Kodok malah ketiduran di tanah karena capek main air. Di puncak pohon Jangrik melihat dengan sesama. Terlihat dengan samar dari kejauhan oleh Jangrik. Pandangan Jangrik burem.
"Bagaimana saya bisa melihat sosok makluk di seberang sungai itu?," celoteh Jangrik.
Jangrik mulai berpikir dengan keras sekali.
"Aaaa...haaaaa....gimana saya membuat teropong saja..," kata Jangrik yang pandai.
Jangrik mengambil memotong daun di pohon dan di gulung kerucut. Lalu mencari sebua air embun untuk sebagai lensa pembesarnya. Teropong pun jadi buat oleh Jangrik.
"Saya bisa melihat kejauhan..., dan tidak burem lagi...," kata Jangrik yang percaya diri.
Jangrik melihat dengan seksama makluk di seberang sungai.
"Astaga......Manusia..membuang sampah di sungai. Maka air sungai naik seperti sunami. Makluk kecil seperti saya ......celakalah, karena ulah Manusia yang bertindak seenaknya," kata Jangrik.
Manusia mulai melempar lagi sebuah sampah yang cukup banyak ke sungai.
"Bahaya ini..Kodok bisa kena..air sungai yang meluap.....," kata Jangrik.
Turunlah dengan cepat Jangrik dari pohon, dan segera membangunkan Kodok yang tidur di pinggir sungai. Sampai di depan Kodok dengan segera Jangrik membangun Kodok. Ternyata Kodok susah di bangunkan. Air bah mulai mendatangi Kodok dan Jangrik. Dengan cepat berpikir Jangrik melompat, dan menerjang perut Kodok yang gembul.
"Ahhhhh..gempa..bumi..," teriak Kodok.
"Kamu sudah...bangun....Kodok..... Sekarang lari.......," perintah Jangrik.
Kodok pun melihat air bah yang mau menenggelamkan Kodok dan Jangrik. Dengan cepat Jangrik melompat, dan langsung naik pohon lebih tinggi. Sedangkan Kodok melompat dengan sangat hebatnya sampai di puncak pohon bersama Jangrik.
"Saya...selamat...dari bencana..," kata Jangrik.
"Saya..juga......," saut Kodok.
"Oh...iya..Kodok...saya minta maaf..telah membangunkan kamu dengan kasar," kata Jangrik.
"Saya...maafkan..asalkan niat mu baik...demi menyelamatkan saya," kata Kodok.
"Jadi..saya..tidak ada hutang lagi dong..," kata Jangrik.
"Hutang...apa?," tanya Kodok.
"Nyawa.....," kata Jangrik.
"Ah...kalau urusan itu sih..gak usah di pikirkan. Selagi saya bisa menolong ya saya menolong.....," kata Kodok.
"Bener....makluk ...di muliyakan Tuhan....," kata pujian Jangrik.
"Amin......," jawab Kodok.
Kodok, dan Jangrik beristirahat di atas pohon dengan berselimutkan daun untuk menghangatkan diri mereka berdua. Kodok, dan Jangrik sangat kecapeaan sekali menyelamatkan diri dari sunami di buat oleh Manusia yang tidak bertanggung jawab membuang sampah sembarang tempat.

0 komentar:
Post a Comment