KERA PUTIH

Posted By Cerpen universal on Saturday, August 18, 2018 | August 18, 2018

 KERA PUTIH

Seorang anak laki-laki yang terdampar di sebuah pulau. Dateng seekor Kera Putih menolongnya. Anak laki-laki tersebut bernama Kubo. Dengan lugunya Kubo mengikuti Kera Putih yang menolongnya ke sebuah desa terdekat.  Sampai di desa desa rawat oleh warga setempat. Sedangkan Kera Putih kembali ke hutan. Kubo dengan senang menerima bantuan dari Bapak dan Ibu Toba yang merawatnya. Kubo di beri makan yang sederhana dan lezat oleh Ibu Toba yang baik hati. Setelah itu Kubo di suruh untuk bergantian pakaian. Lalu pergi tidur yang telah di siapkan. Saat Kubo tidur dengan lelap terjadilah malapetaka pada desa. Sekelompok iblis menyerang desa dan membunuh semua warga termasuk Bapak dan Ibu yang merawat Kubo.

Kubo bangun dari tidurnya mencari Bapak dan Ibu yang merawatnya. Terlihat keadaan rumah tidak ada orang, begitu juga ketika Kubo keluar  dari rumah tidak ada warga satu pun. Keadaan sekitar menjadi sunyi senyap. Kubo pun  bingung dengan semuanya yang dialaminya. Saat Kubo hendak masuk ke dalam terlihatlah sekelebat bayangan hitam berbentuk manusia. Dengan cepat Kera Putih dateng menarik tangan Kubo untuk pergi.

Degan  mengikuti arahan kera putih sebagai pemandu jalan. Kubo berlari dengan cepat menghindari serangan dari para Iblis. Pelarian Kubo dan Kera Putih sampai sebuah gunung. Udara mulai berubah terasa dingin. Kubo tiba-tiba pingsan di jalan. sedangkan Kera Putih sudah jauh berlari sampai ke dalam goa. Kera Putih pun sadar pada akhirnya berbalik untuk melihat keadaan Kubo.

“Hai nak bangun,” kata Kera Putih.

“Eeeee......,” kata Kubo.


Kubo mulai bangun dan melihat Kera Putih yang menolongnya.


“Jangan tidur di sini. Udara makin dingin sekali. Karena waktunya musim dingin. Ayo cepat tinggalkan tempat ini supaya tidak membeku,” kata Kera Putih yang baik.


“Eeeee...iya.......,” jawab Kubo.


Dengan kesadarannya pulih Kubo mulai bangun, langsung berjalan mengikuti Kera Putih. Dengan susah payah Kubo mengikuti Kera Putih pada akhirnya sampai di dalam goa. Kera Putih yang pintar mengumpulkan berapa ranting kering dan rumput kering. Lalu Kera Putih membuat api dengan memetikan dari sebuah batu yang di adu. Api tercipta dan menghangatkan ruangan goa.


“Nak sini.......hangat diri mu di cuaca bersalju,” kata Kera Putih.


“Iya......,” jawab Kubo.


Kubo mulai menghangat dirinya dekat api unggun begitu juga  dengan Kera Putih. Tiba-tiba perut Kubo berbunyi dengan sampai Kera Putih mendengarnya. Kera Putih mencari makan di sekitar goa. Kera Putih yang pintar menemukan beberapa jamur yang bisa di makan. Kera Putih memetiknya, lalu segera ke tempat api unggun. Kubo hanya memperhatikan ulah Kera Putih yang sedang menusukkan jamur ke ranting kayu. Kubo yang mulai mengerti lalu mengikuti ulah Kera Putih. Setelah jadi jamur di tusuk oleh ranting kering menjadi sate Kubo mencoba untuk memakannya.


“Jangan di makan jamur mentah itu harus panggang dulu di api unggun dengan jarak tertentu. Selah matang baru sate jamur di makan,” kata Kera Putih.


“Baik......,” jawab Kubo dengan lugu.


Kubo dan Kera Putih mulai memanggang sate jamur sampai matang.  Setelah itu Kera Putih dan Kubo menyantap sate jamur dengan lahap. Kemudian rasa haus pun datang membuat serat tenggorokan juga. Kera Putih mendekati sebuah tetesan air yang mengalir di goa lalu membuka mulutnya, lalu air masuk ke dalam mulut Kera Putih.


“Segar sekali air ini,” kata Kera Putih.


Kubo pun mengikuti ulah Kera Putih meminum air dari tetesan air yang mengalir di goa, tapi cara minumnya beda Kubo menadahkan tangannya ke tetesan tersebut. Air tetesan tersebut di tampung dengan ke dua tangan Kubo sampai penuh baru di minumnya.


“Wah......sekali air ini,” kata Kubo.


Kubo yang sudah kenyang dan rasa hausnya menghilang tidur dekat api unggun bersama Kera Putih sampai badai salju menghilang. Keesokan harinya Kera Putih melihat pemandangan di luar goa. Kubo baru bangun melihat Kera Putih yang terdiam. Kemudian Kera Putih menghampiri Kubo.


“Nak kita harus pergi dari sini ke desa yang lain. Mudah-mudahan ada yang menerima kamu untuk membimbing kamu dan menjaga kamu,” kata Kera Putih. 


“Iya.....,” jawab Kubo yang menurut.


Kera Putih dan Kubo keluar dari goa melanjutkan perjalannya menuju sebuah desa. Kera Putih yang tahu jalan memandu Kubo dengan baik melewati salju dan sampai ke hutan. Kubo mulai kedinginan sekali dalam perjalan. Sedang Kera Putih jojong jalan. tapi melihat keadaan Kubo mulai memburuk mulai khawatir.


“Nak....tunggu di sini dulu,” kata Kera Putih.


“Iya...,” jawab Kubo yang mulai membeku.


Kubo bertahan dengan dingin es salju. Keadaan pakaian Kubo yang tidak memungkinkan melanjutkan perjalan. Dengan sabar Kubo bertahan dari udara dingin di pinggir hutan sambil bersandar di bawah pohon. Secepat mungkin Kera Putih berlari menuju tempat pemukiman warga desa.  Sampai di desa terdekat Kera Putih masuk ke dalam rumah warga lewat jendela. Kera Putih melihat sekeliling ruangan rumah warga. Terlihat pakaian yang cukup tebal.


“Kayanya pakaian pas untuk anak tersebut,” celoteh Kera Putih.


Terdengar suara langkah kaki mendatengin Kera Putih yang lagi memilih pakaian. Kera Putih langsung bergerak dengan instingnya keluar dari rumah warga lewat jendela. Dengan cepat Kera Putih bergerak menuju tempat keberadaan Kubo. terlihat pandangan Kera Putih dari jauh Kubo sedang bersandar di pohon. Meningkatkan kecepatan lari an lompatannya sambil membawa pakaian. Sampai Kera Putih di hadapan Kubo.


“Nak.....pakai pakaian ini supaya  tubuhmu hangat,”  ujar Kera Putih.


“Iya.......,” saut Kubo.


Kubo segera mengambil pakaian yang di sodorkan ke dirinya, lalu segera  memakainya. 

“Hangat sekali....,” kata Kubo.


“Ayo....kita meninggalkan tempat ini,”  ajakan Kera Putih.


“Iya........,” jawab Kubo.


Kera Putih dan Kubo meneruskan perjalan menuju pemukiman warga.  Hari menjelang malam.  Sampailah Kera Putih dan Kubo di desa terdekat. Terlihat pemandangan aneh  pada desa.


“Kemana warga perginya. Padahal saya baru kesini,” kata Kera Putih


Kubo yang lugu masuk ke dalam rumah dan memastikan ada orang gak di rumah. Ternyata para warga menghilang lagi. Kubo keluar dari rumah mendatengin Kera Putih di luar. 


“Ini semua pekerjaan Iblis lagi..........,” kata Kera Putih.


“Iblis......,” saut Kubo dengan lugu.


Tiba-tiba muncul sekelebat bayangan hitam dari jauh menuju ke arah berdiri Kera Putih dan Kubo. Secara insting Kera Putih bergerak melompat ke atap rumah dan hendak pergi ke dalam hutan. Kubo hanya terdiam diri di tempat menyaksikan banyangan hitam mendatengin dirinya. 


“Lari.................nak............,” teriak Kera Putih yang masih di atas pohon.


“Haaaa,”  sadarnya Kubo mendengar panggilan teriakan Kera Putih.


Kubo hendak melarikan diri, tetapi terlambat bayangan hitam berubah menunjukkan wujutnya menjadi Iblis yang memakai pakaian lengkap seorang kesatria dan senjata pedangnya sudah mau menebas Kubo. Datenglah seorang wanita membawa kecapi di hadapan Iblis menyelamatkan Kubo. Di mainkannya kecapinya  dengan sangat extrim melawan kekuatan Iblis. Terjadi benturan gelombang yang mengacaukan pergerakan Iblis.


Kobo menyinggir dan bersembunyi di dalam rumah sambil melihat pertarungan heba. Wanita cantik terus memainka kecapinya mendesak Iblis. Sang Iblis sangat hebat membuat serangan seperti putaraan badai hitam menuju wanita cantik yang memetikkan kecapi. Pada akhirnya sang wanita cantik kalah dan menghilang dan menjatuhkan kecapinya di tanah. Sedangkan sang Iblis kembali ke wujudnya. Lalu pergi meninggalkan desa tersebut terbang ke langit.


“Selamat......,” kata Kubo yang bersembunyi.


Kubo keluar dari rumah  dan mengambil kecapi yang tergeletak di lantai. Kera Putih pun dateng menghampiri  Kubo.


“Nak kamu gak pa-pa,” kata Kera Putih.


“Gak..apa-apa,” jawab Kubo yang masih bingung.


Kera Putih dan Kubo mencari makan di dalam rumah warga untuk perbekalan di jalan.  Setelah itu Kera Putih pun mengajak Kubo pergi meninggalkan desa yang tidak berpenghuni lagi. Mulailah perjalan Kera Putih dan Kubo menuju tempat yang ada warga desa.  Bergerak cepatlah mereka berdua  sampai di sebuah goa. Kera Putih dan Kubo masuk untuk beristirahat.


“Wah bagus bener goa ini,” kata Kubo yang lugu.


Kubo mengeluarkan makannya yang ikat pada kain yang gendong di bahunya. Kubo membagi makannya dengan Kera Putih. Makanlah mereka berdua sampai perut kenyang di tambah air yang dibawa Kubo untuk menghilangkan haus dan serat di tenggorokan. Tiba –tiba di saat santai terlihat sebuah bayangan yang besar. Kera Putih kaget dan waspada  sedang Kubo di belakang Kera Putih. Bayangan itu terus makin mendekat ke arah mereka berdua.


“Waaaaaa,” suara teriakan.


Kubo dan Kera Putih mulai ketakutan.  Tiba-tiba bayangan tersebut membentuk sesuatu seperti manusia berbakaian kumbang.


“Hai.......,” sapa Satria Kumbang.


“Hai....juga,” jawab keduanya dengan perasaan lega.


“Jadi kalian disini sedang apa?,” tanya Satria Kumbang.


“Eeeee....sedang bersantai dan hendak meneruskan perjalan menuju desa berikutnya.” Kata Kera Putih.


“Ooohhhhh......begitu......,” saut Satria Kumbang.


“Siapa kamu?,” tanya Kubo.


“Saya...............adalah Satria Kumbang yang membela kebenaran. Saya mempunyai pedang hebat untuk memberantas para penjahat yang lalim,” kata Satria Kumbang sedikit bercerita tentang dirinya.


“Ohhhhhh...begitu,” saut Kubo yang lugu.


“Aahhhh.....berbohong.....terlihat dari pedangnya tumpul yang tidak pernah di pakai untuk berperang.....,” kata menjatuhkan Kera Putih.


“Iya sih......saya tidak pernah berperang karena saya penakut. Karena ada Iblis yang desa saya. Lalu saya selamat dan bersebunyi di goa ini. Itu saja yang sebenarnya,” ujar Satria Kumbang yang murung.


“Iya...kan........bener....satria lemah,”  tegasnya Kera Putih.


“Oh.....begitu.....gak pa-pa. Kalau begitu kita sama pergi ke desa terdekat siapa tahu ada menolong kita,” ajakan Kubo yang lugu.


“Iya saya ikut dengan kelompok kalian dan juga saya di sini kesepian........,” kata Satria Kumbang.


“Ya.....udah......mulai bergerak kita akan menuju desa terdekat,” kata Kera Putih.


Kubo, Satria Kumbang dan Kera Putih meninggalkan goa segera melanjutkan perjalan menuju desa terdekat. Dengan bercanda mereka bertiga menghidupkan suasana perjalanan. Melewati hutan sampai di pinggiran sungai.  Kemudian menyeberangi sungai dengan saling bahu-membahu lewat jembatan tali yang di buat warga kampung. Menjelang malam sampailah Kubo, Satria Kumbang dan Kera Putih  sampai di Desa terpencil.
Terlihat oleh mereka bertiga desa yang telah sunyi senyap tidak ada warga.


“Wah....sejauh ini sia-sia kita,” kata Satria Kumbang.


“Benar sekali......Iblis telah sampai dulu ke desa ini,” saut Kera Putih.


“Ya udah jangan di pikirkan itu lebih baik kita istrirahat dulu,” kata Kubo.


“Iya kita istirahat  dulu,” jawab Kera Putih.


“Iya ngikut aja deh....,” kata Satria Kumbang.  


Mereka bertiga istirahat di rumah warga yang tidak berpenghuni. Kemudian Satria Kumbang langsung masuk ke dapur untuk mencari makanan dan segera memasaknya. Dengan santai Kubo menunggu sambil mencoba bermain kecapi. Kera Putih melihat Kubo yang sungguh dalam bermain kecapi. Kera Putih pun pergi ke rumah-rumah warga untuk mencari sebuah gulungan yang berisikan sair-sair lagu. Kera Putih berhasil menemukan sebuah gulungan yang di simpan di kotak. Segera Kera Putih mengambilnya dan membawanya ke tempat Kubo.


“Nak.....ini gulungan berisi sair-sair lagu untuk belajar kecapi,” kata Kera Putih yang baik hati.


“Oh...iya terima kasih banyak,”  saut Kubo dengan rendah hati.


“Makan sudah siap.....ayo kita makan bersama,” kata Satria Kumbang yang menyajikan makan di meja makan.


“Ayo.....,” jawab Kubo dan Kera Putih.


Mereka bertiga menyantap makan malam mereka dengan tenang. Setelah perut kenyang mereka bertiga istirahat di dipan.Waktupun berlalu pagi menjelang.Terlihat Kubo yang asik berlajar dengan serius bermain kecapi. Kera Putih yang baru bangun senang melihat kerja keras anak kecil yang mencari keahlian. Sedangkan Satria Kumbang sibuk dengan menyiapkan makan pagi dan membuat perbekalan untuk mereka di perjalanan.  Kubo terus saja mengapal setia kunci-kuncinya lalu memetik  dawai kecapi dengan halus. Kubo pun berhasil dengan baik sampai alunan musik terdengar merdu. Terjadi lah fenomena yang tidak di sangka-sangka. Alunan musik tersebut menerbangkan daun-daun seolah menari-nari. Kera Putih dan Satria Kumbang terpukau sekali.


“Wah....indah banget,” celetukan Satria Kumbang.


Kubo yang sadar menghentikan main kecapinya.


“Oh kalian.....maaf mengganggu saya baru belajar sedikit,” kata Kubo yang malu.


“Eh...gak pa-pa yang penting adalah musik yang merdu itu adalah buah dari hasil dari kerja keras harus di bina sampai kamu benar- benar di sebut ahli bidang tersebut,” kata Kera Putih yang bijak.


“Itu benar sekali mencapai sesuatu butuh pengorbanan yaitu usaha dan waktu. Jangan pernah kata menyerah harus terus sampai mencapai puncak yang di impikan. Tapi jika sudah sampai di puncak jangan lupa masa lalu. Agar tidak sombong. Karena sombong adalah dasar ke hancuran,” kata Satria Kumbang.


“Iya itu benar sekali apa yang di kata Satria Kumbang. Kalau berhasil jangan sombong dan jangan sok kepintaran. Setiap orang punya ilmu masing-masing sesuai perjalan waktunya. Hanya orang rendah dirinya mengerti awal dari sebuah perjalan hidup. Seperti pribahasa padi yaitu semakin berisi semakin merunduk,” ujar Kera Putih.


“Iya...saya berusaha memahami semuanya....agar menjadi individu yang rendah diri dan menghargai waktu. Karena waktulah yang buat kita mengerti arti hidup.,” kata Kubo.


“Bagus.....itu mengerti, tapi harus di masukin k edalam hati setiap nasehat yang baik. jangan  seperti pribahasa yaitu masuk telinga kanan keluar telinga kiri yang artinya setiap hasehat tidak serap di anggap angin lalu. Padahal nasehat adalah nasehat agar kita memahami setiap ke salahan di waktu masa lalu, sekarang dan masa depan,” kata Kera Putih yang lebih bijak lagi.


“Iya udah belajarnya nanti lagi ayo kita makan,” ajakan Satria Kumbang menyiapkan makan di meja makan.


“Iya ....,” jawab Kubo yang santun.


Mereka bertiga sarapan pagi dengan sangat lahap di siapkan oleh Satria Kumbang. Setelah kenyang mereka bertiga bergegas untuk ke desa selanjutnya. Dengan membawa perbekalan yang telah di siapkan mereka bertiga berjalan menuju desa di puncak bukit. Perjalan mereka bertiga melintasi alam begitu sulit sekali. Saling bahu- membahu agar sampai cepat ke tempat tujuan. Berhari-hari menaikin  puncak gunung akhirnya sampai di desa. Terlihat para warga yang mulai ketakutan sekali. Iblis dateng ingin membinasakan warga desa.  Mereka bertiga segera bersembunyi di bali batu.


“Gimana ini para warga binasa kalau tidak menghancurkan Iblis,” kata Satria Kumbang.


“Saya mana tahu,” kata Kera Putih.


Kubo mulai bertindak dengan berani langsung menghadapi Iblis bayangan hitam.


“Iblis......jahat jangan kamu sakitin lagi warga desa,” kata Kubo dengan teriak keras.


Sang Iblis yang  hendak menebas para warga dengan pedangnya tidak jadi dan berbalik untuk melihat anak kecil yang berani.


“Dasar sial....anak ini bikin ulah,” kata Kera Putih yang khawatir.


“Saya harus membantu Kubo,” kata Satria Kumbang.


Satria Kumbang memberanikan diri berdiri tegak  bersama Kubo menghadapi Iblis. Kubo mulai memainkan kecapinya dengan dengan baik. Setiap gelombang musik menyerang Iblis bayangan hitam yang berwujud satria. Karena alunan musik tersebut membuat terdesak sang Iblis. Dan Satria Kumbang mulai menyerang dengan pedangnya juga. Terjadilah pertarungan yang sangat sengit. Berkali Satria Kumbang terdesak oleh serangan Iblis jahat. Lalu Kubo menolongnya dengan menerbangkan benda-benda  untuk mengecoh pergerakan Iblis jahat. Sedangkan Kera Putih hanya menyaksikan mereka berdua bertarung tanpa mau mengalah.


Permain kecapi Kubo mulai terus semakin menajubkan sekali. Tiba-tiba terjadi hal yyang tidak terduka.  Tercipta kilatan cahaya yang cukup  hebat membuat Iblis terasa ketakutan dan segeralah Satria Kumbang menusuk Iblis jahat pada dadanya.  Sontak Iblis jahat terpental menabrak diding rumah.


“Wah...hebat sekali pedang legendaris ini kepunyaan leluhur ku,” kata Satria Kumbang.
Sang Iblis bangun dan berdiri kembali mulai menyerang.


“Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa,” suara teriakan Iblis bayangan hitam.


Kubo mulai memainkan kecapinya lagi. Lagi-lagi terjadi kejadian yang  menajubkan. Seorang dewi muncul langsung menghadang serangan Iblis bayangan dengan energinya. Kemudian Satria Kumbang menyerang Iblis jahat dengan pedang hebatnya.


“Maaf boleh saya mengambil kecapi saya,” kata Dewi yang cantik.


“Boleh.....,” saut Kubo dengan lugu.


Sang Dewi mulai memainkan kecapinya dengan sangat indah dan menyarang dengan ganas ke Iblis jahat sampai kewalahan. Satria Kumbang terus membantu dan menembas setiap tubuh Iblis jahat.


“Waktunya memusnahkan iblis jahat,” kata Dewi yang cantik.


Sang Dewi memainkan kecapi  dengan melodi yang bagus sekali dan langsung menghancurkan sang Iblis jahat sampai musnah.


“Booooommmmmm.........,” suara ledakan.


Pertarungan pun selesai sang Iblis jahat hancur. Warga desa puncak gunung senang sekali karena selamat dari kehancuran. Kera Putih bersembunyi, lalu keluar mendatengin Kubo dan Satria Kumbang.


“Terima kasih untuk segalanya.....kecapi ini untuk kamu anak baik,” kata Sang Dewi cantik.


Sang Dewi  pergi ke langit. Setiap mata memandang Dewi sambil mngucap terima kasih. Tiba-tiba sang Dewi menghilang. 


“Kamu hebat nak.......,” kata Kera Putih.


“Iya .....kamu hebat sekali memainkan kecapi itu...sampai sang Dewi muncul menolong kita semua,” kata Satria Kumbang.


“Kamu hebat Satria Kumbang dengan gagah berani menyerang Iblis dengan pedang leluhur tersebut,” kata Kubo.


“Eehh....saya jadi malu.....,” saut Satria Kumbang.


“Nak......tinggallah di desa ini dengan baik.  Mereka semua menerima kamu......jadi saya pergi dulu,” kata Kera Putih.


“Jadi kamu mau pergi....,” kata Kubo yang lugu.


“Iya........sampai berjumpa lagi,” kata Kera Putih.


Kera Putih pergi meninggalkan Kubo dan Satria Kumbang menuju hutan belantara di mana dia berasal. Kubo dan Satria Kumbang di terima warga desa, lalu di jamu makanan sambil beres-beres barang yang hancur. Kubo bahagia karena ada orang-orang yang baik yang menjaga dirinya untuk tumbuh dewasa. Kubo hanya bisa mengenang dirinya di mana  terdapar di pulau dan selamat dari kematian. Keluarganya hancur di telan oleh ombak di saat belayar di tengah lautan. Kini Kubo hidup dengan keluarga baru yang penuh rasa bahagia.
Blog, Updated at: August 18, 2018

0 komentar:

Post a Comment