IMPIAN JOKO

Posted By Cerpen universal on Saturday, August 18, 2018 | August 18, 2018

IMPIAN JOKO 

Sebuah desa terpencil jauh dari kota besar yang penuh hiruk pikuk dengan ke gelamorannya. Desa kecil tersebut di kenal desa  sukma hilang. Hiduplah seorang ahli mesin robotik yang mempunyai sejuta impian. Pemuda tersebut di kenal namanya Joko. Dengan kehidupan sehari-hari Joko berjuang membangun satu karya yang mutahir yaitu satu unit robot manusia yang sempurna. Joko merancang robot tersebut dengan penuh perasaan seperti anaknya. Di bengkel rumahnya terus merakitnya sampai sempurna.

“Hari ini cukup untuk menyempurnakan robot ini. Masih banyak komponen yang harus di rancang,” celoteh Joko di ruang kerjanya.

Joka meninggalkan robot rakitannya  menuju ke ruang makan untuk istirahat. Ketika membuka kulkas.

“Waah.....persedian makan sudah habis. Kayanya harus pergi untuk berbelanja dulu,” celoteh Joko.

Joko mengambil minuman segar dari kulkas untuk menyegarkan tenggorokannya. Lalu Joko memeriksa lemari makan dengan seksama.

“Ahhhh...ini dia, dikirian habis. Ternyata masih satu buah kaleng berisi daging giling. Kayanya cukup mengisi perut kosong,” celoteh Joko.

Joko yang kelaparan karena terus meneliti dan merancang robot sampai lupa waktu. Joko segera membuka kaleng dengan alat pembuka kaleng, lalu memasaknya di wajan yang telah di beri minyak di atas kompor. Dengan santainya Joko memasak makan siangnya.  Dengan sedikit racikan bumbu  dan tercium bau harum membuat air Joko mulai mengalir.

“Eeeeemmmmmmm.......kaya masakan saya enak nih.....,” gerutu Joko.

Masakan matang Joko menyajikan di piring tidak lupa mematikan kompor. Joko yang kelaparan menyantap masakan dagingnya dengan lahap sekali sampai rasa laparnya mengilang. Setelah selesai makan Joko minum air mineral untuk melonggarkan tengggorokannya selesai. Joko segera berbenah bekas makan di cuci di, lalu setelah bersih di taruh rak piring.

Joko segera kekamar untuk berganti pakaian untuk pergi ke pasar untuk membeli barang kebutuhan sehari-hari. Keluarlah dari rumah Joko dengan menggunakan mobil kodok kesayangannya. Saat Joko pergi untuk berbelanja ada sebuah mesin kecil terbang berbentuk seperti bola ada baling-balingnya dengan sistem jarak jauh di kendalikan oleh Tenma teman Joko sekaligus saingan dalam dunia robotik. Tanpa ketahuan pemilik rumah mesin kecil terbang masuk lewat jendela yang tidak terkunci,  segera masuk ke dalam rumah menuju ke ruang kerja Joko.

Mesin kecil terbang di dalam ruang kerja Joko dengan cepat memotret kerjaan Joko.

“Jadi.....ini ulah Joko selama diam-diam di dalam rumahnya,” celoteh Tenma.

Tenma mulai mengumpulkan data dengan sangat akurat. Tenma dengan segera mengendalikan mesin kecil terbangnya keluar dari kediaman Joko. Dilalah Joko pun pulang.

“Haaa...Joko pulang. Ketahuan bisa bahaya nih....,” gerutu Tenma sedikit panik.

Dengan lihainya mengendalikan mesin kecil terbangnya keluar menuju jendela.

“Kayanya ada sesuatu yang aneh,” celoteh Joko saat masuk ke dalam rumah.

Joko dengan seksama memperhatikan sekitar rumahnya.

“Oh..ini saya ...lupa menutup jendela,”  kata Joko.

Joko menutup jendela rumah dan menguncinya. Lalu Joko segera mengambil dompet di dalam kamar, lalu segera bergegas keluar rumah tidak lupa menguncinya. Joko langsung masuk mobil kodoknya pergi ke pasar. Sedang mesin terbang kecil dengan cepat di kendalikan Tenma menuju ke rumahnya.

“Hampir saja ketahuan......,” celoteh Tenma.

Dengan santai Joko mengendarai mobil antiknya sampai di sebuah toko kelontong. 

“Permisi.........,” kata Joko.

“Oh........Pak Joko mau beli apa ?,” tanya pemilik toko kelontong.

“Oh ini Bu Ijah seperti biasanya saja pesanannya,” kata Joko.

“Ok.............Minah siapkan pesana Pak Joko dan Dadang cepat siapkan pesan Pak Joko,” perintah Bu Ijah ke anak buahnya.

“Iya......Bu,” jawab Minah dan Dadang.

“Ada yang lain Pak Joko...........,” tanya Ibu Ijah.

“Oh...... cukup dan ini uangnya untuk semua belanjaanya,” kata Joko.

Dengan cepat Ibu Ijah mengambil uang yang di sodorkan Joko untuk membayar belanjaannya.  

“Oh...iya........pas semuanya Pak Joko dan gak kurang gak lebih,” saut Ibu Ijah.

“Eeeeh...urusan uang cepet ngitungnya,” gerutu Dadang dan Minah.

“Seperti biasanya gerutu. Ayo cepet masukan semua pesan itu ke dalam kantong plastik setelah taruh di mobil Pak Joko,” perintah Ibu Ijah.

“Iya......Bu......,” jawab Dadang dan Minah.

Dengan cepat kerja Dadang dan Minah karena di dikte oleh Ibu Ijah. Semua barang pesanan sudah di masukkan ke dalam mobil antik Joko. 

“Beres juga,” kata Minah dan Dadang.

“Oh....ini ada sedikit tip untuk kalian berdua..........,” kata Joko sambil mengeluarkan uang dan di berikan ke Dadang ke Minah.

“Terima kasih Pak.....,” jawab Dadang dan Minah bersamaan.

“Iya....sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu....,” ujar Joko dengan santun.

“Iya....Pak....sering-sering mampir ke sini,” kata Ibu Ijah  dan anak buahnya.

Joko segera masuk ke dalam mobil menuju toko berikutnya yang sedikit jauh dari tempatnya berbelanja.  Selang berapa saat sampai di  toko elektronik. Joko turun dari mobil dan segera masuk ke dalam toko.

“Hay......Pak Anis....gimana pesanan saya hari ini ada....?,” tanya Joko.

“Oh........Joko...........ada-ada. Saya sudah siapkan. Memang bener barang ini susah untuk di dapetkan dan juga jarak pengirimannya jauh ke desa kita ini. Ya gimana yaaaaa......ongkosnya agak sedikit mahal,” kata Pak Anis.

“Ohhh....itu mah gak ada masalah Pak Anis yang penting barang ada. Uangnya sudah saya siapakan dan juga saya suka dengan pedagang yang jujur. Jadi pembeli enak menerima barang di belinya dan pedagang enak karena barang laku. Kedua belah pihak saling menguntungkan,” kata Joko.

“Ahhhh...bisa...aja....kamu ini Joko..........kaya ocehan Presiden aja. Yang selalu mengeluarkan kebijakan pemerintah, tapi harus di perhitungkan kebijakan publiknya. Agar tidak timbul  masalah di kemudian hari,” kata Pak Anis.

“Ah...bisa aja Pak Anis pujianya saya jadi malu. Padahal saya hanya orang biasa yang belajar dari orang tua untuk melangkah ke depannya lebih baik agar tidak terselandung masalah yang besar. Kalau masalah kecil ya.......segera cepat di bereskan agar tidak jadi masalah besar,” kata Joko.

“Iya...iya...kamu benar sekali. Yang tua memberi Ilmu dan yang muda menerima ilmu kadang sebaliknya yang muda memberi ilmu dan yang tua menerima ilmu. Saling mengisi satu sama lainnya,” kata Pak Anis.

“Oh .....iya..ini uangnya. Tolong di hitung takut kurang,” ujar Joko.

“Iya....Joko...saya hitung ya.....,” kata Pak Anis.

Dengan seksama Pak Anis menghitung uang, lalu Joko dengan santai menunggu hitungan Pak Anis.

“Ok...cukup,” kata Pak Anis.

“Ok.....kalau begitu saya bawa barangnya...Pak Anis.......terima kasih banyak,” kata Joko.

“Oh ya...Joko..sama-sama,” jawab Pak Anis yang malu.

Joko keluar dari toko elektronik dengan membawa pesannya masuk ke dalam mobil kodoknya. Dengan santai Joko mengendarai mobilnya menuju ke rumah. Joko sangat senang sekali karena barang yang butuhkannya ada semuanya. Tiba-tiba Joko berhenti sejenak di sebuah sekolahan. Di dalam mobil Joko melihat sesosok wanita muda cantik sekali mengajar di sebuah sekolah dasar. Joko terpukau oleh kecantikan guru muda bernama Luna.

Joko terus memperhatikan dengan seksama kecantikan Luna sampai tidak sadar sapam dateng.

“Hey Pak Joko...seperti biasanya melamun di sini,” kata sapam sekolah.

“Ehhhh....kamu lagi Yusup....ganggu aja,” kata Joko.

“Kamu ini yang aneh udah di larang parkir tetap menclok seperti capung dan juga masalahnya tetap sama memperhatikan Bu Luna yang cantik itu lagi,” kata Yusup.

“Sudah...sudah males membahasnya,” kata Joko yang hendak pergi dari tempat situ.

“Tunggu dulu mau cepat pergi kalau ketahuan belangnya,” kata Yusup.

“Iya.....saya tahu uang tutup mulut........jangan sampai ketahuan Ibu Luna, kalau saya memperhatikan dia,” kata Joko sambil mengeluarkan uang dari dompetnya.

“Itu beres... yang penting uang tutup mulut ini halal,” kata Yusup sambil menyambut uang yang di berikan Joko.

“Kalau begitu saya permisi dulu.......,” kata Joko.

“Ok...hati-hati di jalan.....Joko,” kata Yusup yang seneng dapet uang makan.

Joko segera melaju mobilnya dengan penuh kenangan memikirkan Luna yang cantik. Dengan santai mengendarai mobil kodoknya sampai ke rumahnya. Sampai di rumah Joko segera memarkirkan mobilnya di halaman depan. Lalu mengeluarkan barang-barang belanjaannya dari mobil di bawa ke dalam rumah. Joko mulai menyusun rapih barang belanjaannya di kulkasa dan lemari penyimpanan makanan. Alat yang di dapatkan dari toko elektronik Joko bawa ke ruang kerja.

“Waktunya menyelesaikan pekerjaan,” celoteh Joko.

Joko mulai mengutak atik komputernya untuk mengecek sistem robot yang di buatnya. Kemudian alat yang di dapatkan Joko mulai di disen ulang agar cocok dengan bagan robot. Dengan penuh semangat akhirnya Joko berhasil mencocokannya alat yang di belinya dengan bagan robot. Lalu dengan segera Joko memasangnya dengan hati-hati.

“Ini kuncinya....jantung robot,” ujar Joko dengan serius.

Pemasangan sistem telah sempurna sekali. Joko mulai dengan pemberian energi ke dalam robot. Dengan memasang colokan listrik ke robot. Lalu Joko di depan komputernya mulai mengecek kembali kalau ada kesalahan. Dengan cermat memperhitungkan segalanya di depan layar komputer.

“Okkkkkk.....semuanya bagaus waktunya menghidupkan robot,” celoteh Joko.

Dengan menekan sistem enter di mesin komputer. Energi listrik yang besar mulai di salurkan ke robot yang di ciptakan Joko. Pengisian energi terus berlangsung dan Joko memperhatikan di depan layar komputernya energi listrik mengalir belum 100%. Dengan sabar Joko menunggu sambil minum kopi. Terkadang makan roti isi sambil membaca buku. 

“Eeeeee.........masih belum juga,” gerutu Joko.

Dengan memperhatikann proses kerja pengisian akhirnya sistem robot terisi penuh terlihat dari layar komputer.

“Akhirnya....selesai juga pengisian energi,”  kata Joko.

Joko mendatengi robotnya dan melepaskan semua kabel yang menempel pada robot yang di ciptakan. 

“Ayo....bangun...,” panggilan Joko.

Robot tidak merespon panggilan Joko. 

“Ahhhhhh.......sial banget robotnya gak aktif,” gerutu Joko yang jengkel.


Joko pergi meninggalkan pekerjaannya pergi ke ruang makan untuk mengambil sesuatu untuk menghilangkan kejenuhannya. Baru melangkah beberapa langkah menuju ruang makan. Robot mulai menunjukkan aktivitasnya. Bangunlah robot dan Joko segera menghampirinya. Robot mulai menganalisa sang penciptanya dan Joko mulai mengajarinya. 

“Robot namamu adalah Joshua,” kata Joko.

“Baik Dokter.......,” kata Robot Joshua merespon.

“Ok bagus sekali........kamu adalah robot anak kecil di ciptakan sama seperti anak SD umur 6 tahun. Saya telah menyiapkan untuk kamu besok mulai masuk sekolah,” kata Joko.

“Baik Dokter.....,” jawab Joshua.

“Yes...yes...yes.....proyek ku berhasil. Tinggal rencana berikutnya mendekati guru Luna yang cantik,” kata Joko sambil menghayal.

“Kenapa Dokter.....kok mesem-mesem?,” tanya Joshua.

“Ah......gak anak kecil gak boleh tahu,” jawab Joko.

“Oh.....begitu kalau begitu saya boleh main?,” tanya Joshua.

“Boleh saya main dokter......?,” tanya Joshua.

“Iya boleh main.....tapi jangan jauh-jauh,” kata Joko.

“Ok...Dokter....,” jawab Joshua.

Robot Joshua mulai bergerak menuju keluar rumah. Sedangkan Joko mulai membereskan semua pekerjaanya. Robot Joshua melihat pemandangan yang indah dengan kedua matanya yang sama persis dengan manusia lalu data di simpan di memorinya. Robot Joshua mulai penasaran bergerak dengan berlari cepat menuju ke gunung.

“Wing.........,” celoteh Robot Joshua.

Sampailah Robot Joshua  di kaki gunung.

“Wah tinggi sekali......,” kata Robot Joshua.

Dengan menganalisa dan keingintahuan tinggi Robot Joshua mulai meningkatkan kekuatan kakinya dengan melompat mendaki gunung sampai puncak. Di atas gunung Robot Joshua melihat desa sukma hilang dan daerah sekelingnya.

“Wah...indah sekali........................,” kata Robot Joshua yang masih belajar.

Sangking asiknya melihat pemandangan yang indah. Robot Joshua tidak memperhatikan langkahnya, lalu terpeleset. Robot Jatuh dengan sangat cepat menurunin gunung. Robot Joshua mulai menganalisa kesalahanya dan memegang batang pohon kecil, tapi ternyata tetap saja akar pohon tertarik Robot Joshua terus terpelanting sampai ke kaki bukit.

“Ahhhhhhh......pusing juga....jatuh dari ketinggian,” celoteh Robot Joshua.

Robot Joshua mulai berusaha keluar dari hutan. Terlihat pandangannya sebuah telur yang besar di tengah hutan. Robot Joshua yang masih belum mengerti layaknya seperti bayi baru lahir. Mengambil telur besar tersebut dan di bawa pulang dengan berlari sangat cepat.

“Wing.................,” celoteh Robot Joshua.

Sampailah Robot Joshua di rumah lalu segera masuk ke dalam rumah.

“Joshua apa yang kamu bawa dan juga kenapa kamu berantakan ini dari mana kamu?,” tanya Joko.

“Telur yang saya dapatkan dari hutan...hanya jatuh dari gunung sih,” jawab Robot Joshua.

“Wah bikin repot aja,” kata Joko.

Joko yang sayang dengan ciptaannya mulai membersihkannya layaknya anaknya sendiri. Lalu Joko memeriksa kalau-kalau ada sistemnya yang rusak.  Tidak lupa Joko memeriksa telur yang di bawa Robot Joshua dengan seksama.

“Wah....ini telur dinosaurus.........ternyata masih aktif,” kata Joko.

“Jadi Dok telur  di tetaskan saja....,” kata Robot Joshua.

“Kalau di tetaskan, maka timbul masalah baru.........saya jadi repot mengurus makluk purba kala ini dan apalagi ini  jenis yang berbahaya,”  kata Joko.

“Maksudnya Dok jenis berbahaya........?,” tanya Robot Joshua.

“T – REX,” kata Joko.

“Kalau begitu kita masak aja dok biar punah sekalian......kalau itu berbahaya,” kata Robot Joshua.

“Jangan....di masak lebih baik saya telpon teman saya yang alih purba kala agar mereka merawatnya,” kata Joko.

“Ya..sudah kalau begitu,” saut Robot Joshua.

Joko segera menelpon temannya ahli di bidang hewan purba bernama Abraham. Sedangkan Robot Joshua memegang terus telur tersebut. Selang berapa jam datenglah temannya Joko dengan menggunakan helikopter dan turun  halaman depan rumah Joko.


“Hai.....Joko mana telur dinonya......?,” tanya Abraham.

“Itu di pegang Joshua,” kata Joko.

“Okkkkkk..........penemuan langka....saya ambil ya telur ini,” kata Abraham dengan senang.

“Iya silakan,” kata Robot Joshua.

Abraham mengambilnya dan di masukkan ke dalam kotak khusus dengan penuh ke hati-hatian.

“Ok...kalau begitu saya pulang dulu untuk mengecek lebih lanjut telur dino ini,” kata Abraham.

“Iya....iya..silakan,” jawab Joko dan Joshua.

Abraham segera naik helikopternya dan terbang menuju ke pusat penelitian hewan purba di tengah kota besar.

“Masalah besar selesai juga.....,” kata Joko.

Joko dan Robot Joshua beristirahat dengan tenang di rumah karena hari sudah larut malam. Kehidupan Joko lebih hidup lagi setelah impiannya telah tercapai dengan baik.
Blog, Updated at: August 18, 2018

0 komentar:

Post a Comment