TAK DI SENGAJA
“Aaaaah,” teriak Heru kesakitan dan pingsan.
Para karyawan pabrik menolong Heru begitu juga Ayahnya yang bernama Marsel menolong anaknya tersayang.
“Heru...heru....ini ayah,” kata Marsel sang ayah.
Para karyawan menyuruh Marsel untuk membawa Heru ke rumah sakit. Dengan cepat mereka semua melarikan Heru ke rumah sakit. Sampai di sana Dokter segera menolong Heru yang mengalami kritis. Sedangkan masalah biaya rumah sakit perusahaan pengolahan zat kimia bertangung jawab untuk menolong Heru. Marsel terbantu oleh bapak pimpinan perusahan pengolahan zat kimia.
“Gimana keadaan anak saya Dok,” tanya Marsel.
“Kondisi anak baik, tetapi di sayangkan matanya buta,” kata Dokter.
“Anakku...buta..,” kata Marsel dengan air mata.
“Yang sabar ya pak,” kata Dokter.
Marsel merawat dan menjaga Heru sampai siuman. Ketika Heru sadar mulailah traumasikisnya.
“Haaaaaaa.....,” teriak Heru.
Mendengar jeritan Heru suster dateng begitu juga dokter untuk menenangkan Heru. Marsel terus saja bersedih melihat anaknya terluka. Marsel pergi meningalkan rumah sakit untuk mencari nafkah yang lebih baik lagi. Dokter dan suster telah menanggani Heru dengan menyuntikan suntikan penenang. Heru kembali istirahat. Dokter dan suster meninggalkan kamar Heru.
Selang berapa saat Heru kembali bangun dari tidurnya. Dengan berusaha meyakini dirinya bahwa dirinya tidak bisa melihat lagi. Heru pun menerimanya di tambah masukan nasehat dari Dokter dan ayahnya. Heru mulai baikan Sang ayah Marsel membawanya pulang ke rumah dokter pun mengizinkanya.
Heru pulang ke rumah dan di rawat oleh ayah Marsel.
“Ayah berjanji akan berjuang mencari nafkah dengan cara baik-baik. Ayah kembali bertinju lag,” kata ayah Marsel.
“Ya...ayah.. saya mengerti,” kata Heru.
Heru mulai berlatih untuk bisa berjalan dengan mengunakan fungsi telinganya dengan baik. Heru merasakan sesuatu di dalam dirinya dengan mencoba mendengarkan getaran dari sebuah besi tangga.
“Teng.....,” suara getaran dari besi.
Telinga menangkap getaran tersebut dan proyeksikannya ke otak dan menciptakan bentuk benda. Heru serasa bisa melihat. Heru mulai melatih bela diri dan meningkatkan kekuatan tubuhnya di tambah rasa takutnya menghilang pada ketinggian. Heru berlatih setiap hari di atas gedung dengan semua alat-alat tinju ayahnya. Heru merasa hidup kembali dengan menerima anugrah pendengaran super tajem.
Heru pun tambah bahagia sang ayah menepati janjinya dan melatih dirinya menjadi petinju kembali dan kembali menyadang nama yang pernah di takuti lawannya yaitu iblis merah. Heru sering sekali melihat ayahnya berlatih di dan tanding di ring tinju. Ayah Heru terus menang walau sebenarnya umurnya telah masuk masa untuk tidak produktif lagi dalam dunia tinju.
Tapi keteguhan hati ayah Heru demi anaknya menjadi sumber inspirasi dan kekuatannya. Heru senang dan bahagia. Terkadang ayah sering mengajak Heru makan di luar setelah selesai menang dari pertandingan tinju. Heru senang dan bahagia hidupnya punya arti dan melupakan sedikit demi sedikit tragedi yang menimpa dirinya.


0 komentar:
Post a Comment