KEHILANGAN AYAH

Posted By Cerpen universal on Friday, March 3, 2017 | March 03, 2017

KEHILANGAN AYAH
Sampailah Cahaya dirumah. Lansung menuju kamar perawatan melihat ayahnya terbaring di kasur dengan penuh luka bakar sekujur tubuhnya. Lina bersedih hati melihat keadaan ayahnya.

“Silakan nona,” kata Kint.

“Ya,” jawab Cahaya.

Cahaya mendatangi ayahnya yang setengah sadar.

“ayah,” kata Cahaya.

“Anak ku,” ujar Ayah dengan terbatah-batah.

Nafas sang Ayah mulai tersengah. Pada akhirnya sang menghebuskan nafas terakhir. Cahaya meneteskan air mata jatuh di wajah ayahnya.

“Ayah...,” teriak Cahaya dengan derai air mata.

“Nona....relakan kepergian Tuan Aman,” kata Kint

Kint mengambil kain putih dan menutup jasad Tuan Aman yang baru meninggal.

“Siap pelakunya King?,” tanya Cahaya.

“Indra......pelakunya nona,” kata Kint.

“Kint urus pemakaman ayah dengan baik,” perintah Cahaya.

“Baik nona,” jawab Kint.

Cahaya keluar dari ruang perawatan. Kemudian mengendarai mobil pribadinya pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri. Cahaya terlihat kacau dengan kebutnya Cahaya membawa mobinya sampailah di pinggir pantai. Cahaya keluar dari mobil langsung berjalan menuju pantai. Cahaya melihat keindahan pantai untuk menghilangkan kesedihannya. Cahayaterdiam begitu lama di bibir pantai. Waktu sekitar terasa berhenti buat Cahaya.

Tiba-tiba datang seorang laki-laki. Menghampiri Cahaya dengan simpatik.

“Maaf kalau kau lagi bersedih kehilangan seorang ayah,” Kata Abadi yang mencoba mengerti Cahaya.

Cahaya tetap memperhatikan Abadi yang mencoba memahami dirinya.

“Oh ya jadi saya kesini ingin mencoba untuk ........mengerti keadaan mu...Cahaya,” kata Abadi yang kikuk.

Cahaya mulai dapat pencerahan dalam dirinya karena Abadi datang untuk dirinya. Cahaya mecium Abadi dengan penuh kelembutan. Abadi menerima ciuman Cahaya dengan penuh kejutan. Cahaya langsung pergi meninggalkan pinggir pantai.

“Eeeeh maksud apa ini?...jadi bingung,” kata Abadi.

Cahaya pulang dengan mengendarai mobil pribadinya dan mengurus pemakaman ayahnya dengan baik. Sedang Abadi selalu ada untuk Cahaya sebagai bayangan hidup agar Cahaya senang. Setelah urusan selesai memakam ayah, Cahaya mulai menyiapkan perhitungannya untuk membalas perbuatan King.

“Ini perangku,” celoteh Cahaya.

Bergerak Cahaya dengan rencana di benaknya dan mengukuhkan tekatnya untuk menghabisi musuh besarnya yang bernama King.
Blog, Updated at: March 03, 2017

0 komentar:

Post a Comment