PERTEMUAN
Sesampainya di rumah orang tuanya Robert di kampung halaman. Mulai Robert dan Lakmi sungkeman.“Jadi ini istrimu,” tanya Ayah Robert.
“Bukan begitu,” jawab Robert yang malu dan bingung.
“Sebenarnya sih anaknya baik kelihatanya,” sahut Ibu Robert.
“Ayah dan Ibu sebenarnya sih dia ini hanya teman,” ujar Robert.
“Ah.....jangan menutupi, terlihat dari wajahmu itu kalau kamu suka sama dia,” kata Ibunya.
“Iya sih, tetapi penjelasan Robert ini bener gaknya harus kita yakini dulu,” sahut Ayah Robert.
“Tapi yah sebenarnya sih dia ini.....gimana sih jelaskannya....ya.....,” kata Robert.
“Kalau di pikir Robertnya masih bingung. Kalau jadi mantu kita sih bagus juga sih,” kata Ibunya.
“Itu sih bener juga,” kata Ayah Robert.
Terlihat di mata ayah ponakannya membawa makan sebuah semangka besar yang telah di potong dan di sajikan sama saudara lain. Salah satu dari ponakannya melahapnya.
“Sut,” suara Ayah Robert.
Terliahat dari mimik Ayah Robert menyuruh Lakmi untuk menghindar. Lakmi yang sigap mennyaping sebelah kanan ke arah Robert berada. Sang Ayah menyambil sendalnya melempar ke ponakannya yang lancang.
“Buuuk,” bunyi suara lemparan.
Ponakan yang asik makan semangka jatuh tersungkur karena lemparan sendal yang sangat kuat.
“Ternyata dia anak pintar,” kata Ayah Robert memuji Lakmi
“Itu benar sekali,” sahut Ibunya
Setelah percakapan panjang Robert dan Lakmi di suruh untuk membersihkan diri mereka. Sang ibu telah menyiapkan pakaian gantinya. Setelah itu mereka semua makan malam bersama. Dengan banyak cerita tentang kerjaan Robert dan Latar belakang Lakmi. Kemudian Robert dan Lakmi tidur di ruangan yang sama tetapi ranjang terpisah. Keduanya terlihat canggung. Waktu pun berlalu pada akhirnya mereka tidur bersama di ranjang masing-masing sampai pagi. Keesokan harinya Robert bangun pagi dan membantu ibunya yang memasak di dapur.
“Gimana kamu suka dengannya,” kata Ibunya
“Ya sih bu...,” kata Robert yang jujur.
“Ya udah langsung aja menikah jangan di sia-sia kempatan, jangan kaya Ayah mu dulu terlalu bertele-tele,” kata Ibunya.
“Masa iya,” sahut Robert.
“Ini sebuah kalung untuk menantu ibu,” kata Ibu Robert.
“Baik bu,” ujar Robert sambil mengambil kalung di berikan ibu dan di simpan.
Robert terus membantu di dapur sampai masakan matang semuanya. Di sisi lain sang Ayah Robert bersama Lakmi berbincang di halaman depan.
“Gimana tidurnya?,” tanya Ayah Robert.
“Nyaman” jawab Lakmi.
“Gimana perasaan mu dengan anak Ayah?,” tanya Ayah Robert kembali.
“Saya masih memikirkannya,” jawab Lakmi kembali.
“Ooooh...begitu,” kata Ayah Robert.
“Ayo makan,” panggilan Ibu Robert.
“Ibu sudah memanggil. Ayo kita sarapan dulu,” kata ajak Ayah Robert
“Iya....,” jawab Lakmi dengan sopan.
Ayah Robert beranjak dari duduknya begitu juga Lakmi masuk ke dalam ruang makan beserta ponakan yang lain. Mereka semua sarapan yang enak berasal dari kebun yang di olah dan jaga dengan baik. Menghasilkan sayuran yang berkualitas dan ikan yang berkualitas dari empang. Setelah sarapan semuanya Ibu memereskan di bantu dengan lainya agar cepat selesai. Robert dan Lakmi berpamitan kepada Ayah dan Ibunya untuk kembali ke kota siang itu juga.

0 komentar:
Post a Comment