MENOLONG IBU
Sisi lain Yung melihat cowok ganteng dengan mengendarai motor antik keluar dari parkiran toko buku. Saat itulah teman-temannya datang dengan membawa minuman dan makan ke tempat Yung berada.
“Kamu lagi memperhatikan cowok ganteng,” kata Mia si gemuk.
“Bahaya....bahaya ini anak di lepas sendirian,” kata Muy.
“Bener-bener kelewatan ini anak, masih kecil udah mulai kasmarannya,” sahut Luy.
“Apaan sih kalian ganggu praivesi aja?,” kata Yung.
Mereka berempat langsung tertawa bersama karena sebuah bencandaan. Yung mengajak mereka semua untuk pulang. Semua setuju dengan pendapat Yung. Berangkatlah mereka berempat dengan mengambil barang yang di titipkan di tempat penitipan barang.
Keluarlah mereka berempat dari toko buku dan melangkah pulang. Sampai di pertigaan jalan Yung berpisah dengan ketiga temannya.
“Daaa semuanya,” kata Yung sambil melambaikan tangan.
“Daaa,” sambut ketiga teman karibnya.
Berbalik badan Yung dan melangkah ke arah rumahnya. Sebuah rumah tua yang di gunakan oleh ibu untuk usaha kedai makan sekalian tempat kontrakan.
“Aku pulang bu,” kata salam Yung.
“Oh Yung... segera beresin belakang ya..ibu lagi repot ni banyak pelanggan,” perintah ibu.
“Ok..beres,” sahut Yung.
Segera Yung masuk ke dalam untuk membereskan apa yang di perintah ibunya. Tetapi sebelumnya Yung berganti pakaian dulu di kamar setelah itu baru ke dapur membereskan barang yang berantakan.
“Wah....banyak juga,” celoteh Yung.
Datang dari belakang Yung dan mengagetkan.
“Itu benar sekali...kami lagi kerepotan,” kata Ying.
“Wah kamu ini bikin kaget aja. Mana bibi Anti?,” tanya Yung.
“Di depan lagi sibuk,” jawab Ying.
Yung melihat sebentar ke depan untuk memastikan omongan Ying. Mata Yung melirik kesana- kesini di lihat bibi Anti menyajikan makan dari pesanan pelanggan yang ramai memesan.
“Wah repot bener ni......,” kata Yung.
Masuklah Yung ke dalam untuk membereskan semua cucian piring dan gelas yang kotor.
“Nah loh tambah banyak,” kata kaget Yung.
“Udah jangan banyak protes kerjain aja,” sahut Ying.
Mulailah Yung membereskan semuanya dengan ligat. Setalah pada bersih gelas dan piring Yung menyusunnya rapih di rak. Setelah itu mengumpulkan sisa makan dan masukan dalam kantong plastik, lalu segera di buang ke kotak sampah melewati pintu belakang lalu ke depan jalan ada sebuah tong sampah di situlah Yung membuang sampah sisa makan.
Kemudian kembali lagi ke dapur dan membantu memasak karena pesanan masih banyak yang meminta. Waktu berlalu seiring kepuasan pelanggan. Satu persatu pelanggan pulang. Kedai makan akhirnya tutup karena sudah larut malam. Terlihat semuanya keletihan dan duduk di depan sambil menikmati makan malam mereka.
“Terima kasih atas kerja samanya hari ini pelanggan hari puas dengan pelayanan kita semua,” kata Ibu.
“Ya...bu,” jawab Yung dan Ying sambil menikmati makan malam.
“Ya...kak, saban hari seperti ini terus,” sahut bibi Anti.
“Itu benar bu.....,” jawab Yung dan Ying.
“Ya itu benar...ayo kalu begitu ayo makan. Kita nikmati hari yang melelahkan ini,” kata ibu Yung.
“Itu baru ibu ku,” kata Yung.
“Myam..myam,” suara Ying menikmati makannya.
“Sut...,” suara bibi Anti yang minum dari pipet.
Semuanya terlihat ceria hari ini karena sudah berusaha keras untuk melayani pelanggan kedai makan ibu Yung. Semuanya lagi menikmati makan dan minuman untuk mengganti energi yang hilang karena kerja keras.


0 komentar:
Post a Comment