KASIH SAYANG

Posted By Cerpen universal on Friday, March 3, 2017 | March 03, 2017

KASIH SAYANG
Pagi yang indah berbalut keceriaan. Sosok Lugu berlarian mengejar sesuatu yang lucu dan menarik. Bunga terus saja mengejar kupu-kupu yang cantik. Kebahagian terpancar dari wajahnya yang ceria. Waktu pun berlalu Bunga kembali pulang ke rumah. Masuklah Bunga ke dalam rumah dengan mendorong pintu secara pelan-pelan, lalu kembali menutupnya.

“Saya pulang,” kata Bunga.

“Oh dari mana saja kamu seharian ini,” tanya Ibunya.

“Maaf bu,  hari seharian ini saya bermain di taman di belakang bukit,” kata Bunga.

“Dasar nakal ya udah sana ganti bersih diri dulu ke belakang,” suruh ibunya.

Bunga pun mengikuti perintah ibunya pergi ke belakang untuk membersihkan diri.

“Jangan terlalu keras dengan anak,” kata Nila..

“Ya gak lak hanya untuk mempertegas supaya bisa bertanggung jawab untuk dirinya,” kata Lilu.

Bunga mendengarkan percakapan antara ibu dengan bibi. Bunga tetap saja cuek bebek sibuk dengan membersihkan dirinya. Hidupnya penuh arti walau terkadang Bunga kangen dengan sosok sang ayah. Tapi Bunga tetap mengabaikan dengan keceriaan. Bermain sepanjang waktu untuk menikmati keindahan alam. Bunga selesai mandi dan berganti pakaian. Segera makan malam bersama ibu Nila dan bibi Lilu. Menikmatilah mereka bertiga makan yang ada di meja.

Setelah perut terisi. Bunga membantu ibu Nila membersihkan meja makan dan mencucinya di dapur. Setelah tugas telah beres Bunga kembali ke kamar mengambil buku dan penanya. Menulis cerita tentang perjalan hidupnya hari ini. Bunga terus menulis cerita-cerita yang menyenangkan harinya sampai waktu begitu larut. Rasa kantuk pun datang pada Bunga. Sang ibu  Nila datang ke kamar.

“Bunga apa kamu belum tidur?,” tanya ibu Nila

Ibu Nila melihat anaknya ketiduran dengan buku dan pena masih di gengamannya. Kemudian ibu Nila mengambil buku dan pena di taruh di meja dekat tempat tidur Nila. Sang ibu Nila menyelimuti anak kesayangannya.

“Dasar anak nakal. Persis seperti ayahnya. Andai ayahmu ada hidup mu lebih berarti,” celoteh ibu Nila.

Bibi Lilu melihat Nila sedang memanjakan anaknya. Perasaan senang melihatnya.  Lilu pun terkenang di mana Nila bersama Peter. Rasa cinta mereka berdualah membuahkan Bunga, gadis kecil yang cantik. Lilu pun meneteskan air mata ketika Peter meninggal dunia di pangkuan Nila. Lilu kemudian segera masuk ke kamar dan menghapus kesedihannya. Nila sendiri berusaha tegar dalam menghadapi hidup demi Bunga, gadis kecilnya yang cantik jelita.

Sang ibu Nila kembali ke kamarnya dan menutup rapat pintu kamar Bunga yang sedang tidur dengan nyaman. Bunga terlihat bahagia karena bermimpi  indah.
Blog, Updated at: March 03, 2017

0 komentar:

Post a Comment