MEMAHAMI SESUATU
Hari menjelang magrib. Awin sedang membereskan diri untuk sholat magrib. Setelah berwudhu, lalu segera Awin memakai sarung. Sholat Magrib Awin dengan khusuk. Setelah sholat Awin membuka sarungnya dan di taruh di bakul. Tiba-tiba terdengar mendengar pintu kontrakan di ketuk.“Tok-tok,” itu bunyinya.
“Ya sebentar,” kata Awin.
Bergegas Awin membuka pintu.
"Mas makan,” kata Maman.
“Iya,” sahut Awin.
Awin mengambil piringnya meja marmer dekat kamar mandi. Segera Awin ke kontrakan Maman untuk mengambil makan.
“Seadanya mas,” kata Maman.
“Ya ,” jawab Awin.
Dengan segera Awin mengambil nasi yang ada di mejikom / recekucer yang ada di ruang tamu.. Menyentongnya nasi di mejikcom di isilah piring Awin. Lalu Awin masuk ke dalam dapur untuk mengambil lauk di atas kompor. Dituangkanlah pindang ikan dari panci ke piring Awin.
“Mas sayurnya Cuma ada terong,” kata Maman.
“Iya,” sahut Awin.
Awin mencari terong di dapur dengan mengangkat piring. Ternyata terong tidak di temukan.
“Mas terongnya di bawah mas,” kata Maman.
Awin segera melihat ke bawah meja dapur. Terlihat 4 buah terong ijo. Awin mengambil 2 buah, lalu di taruh di piringnya.
“Oh ya mas ambil aja ayam gorengnya, itu sisa makan kemarin,” kata Maman.
“Iya,” kata Awin.
Segera Awin mengambil ayam goreng di sebuah piring kecil. Segera Awin mengambilnya, kemudian di taruh di piringnya. Awin meninggalkan dapur keluar dari kotrakan Maman sambil menutup pintu kontrakan. Melangkah Awin masuk ke dalam kontrkannya. Awin sudah di dalam kontrakan segera menutup pintu kontrakan. Duduk Awin beralaskan tikar. Makan dengan santailah Awin. Dengan lahap menyantap makan. Tenggorokan terasa seret. Piring makan Awin di taruh di lantai beralaskan tikar. Awin bangun dan mengambil minum yang ada di meja marmer. Menungkah ari dalam tekok ke dalam sebuah gelas. Air terisi penuh. Segera Awin minumnya.
“Glek..glek,” suata tegukan.
Gelas pun taruh di meja marmer. Awin menghampiri piring makanya yang di taruh di di lantai beralaskan tikar. Awin melihat sesuatu di ayam goreng mengeliat. Di perhatikan dengan seksama. Ternyata sekumpulan belatung mengerubutin ayam goreng. Awin segera mengambil ayam goreng dan di taruh ke dalam gelas di beri air di dalam kamar mandi. Kelas berisi ayam goreng di taruh di meja marmer.
Pintu pun di ketuk lagi. Segera Awin membuka pintu kontrakan.
“Mas makan sudah. Kalau sudah kita pergi ngaji,” kata Maman.
“Iya,” sahut Awin.
Maman segera masuk ke dalam kontrkanya. Awin segera menutup pintu kontrakannya. Awin segera ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, setelah itu segera melaksanakan sholat Isya. Karena Azan telah di kumandangkan. Dengan Khusuk Awin melaksanakan Sholat Isya. Setelah selesai membuka sarungnya kemudian menaruhnya di bakul. Kembali Awin mengambil piring makannya yang ada di lantai beralaskan tikar. Makan dengan santai Awin. Berusaha menghilangkan rasa jijik, karena belatung pada ayam goreng. Dengan lahap Awin memakan makannya di piring. Perut pun kenyang. Segera piring kotor di taruh di kamar mandi.
Awin mengambil gelas berisikan ayam goreng yang ada belatungnya. Lalu Awin membawa keluar dari kontrakan dan diberikan ayam goreng di dalam gelas berisi air. Kucing segera melahap ayam goreng tersebut dengan lahap sekali. Awin lalu masuk ke dalam kontrakan dan tak lupa menaruh gelas kotor ke kamar mandi.
Awin bergegas memakai pakai rapih, lalu mengambil Al Qur’an yang berada di meja marmer. Segeralah Awin keluar dari kontrakan. Pintu kontrakan di kunci rapih. Dengan membawa Al Qur’an mendatangi Maman yang sudah siap di luar.
"Mas pake helmnya. Oh ya Al Qur’annya taruh di tas aja,” kata Maman sambil mneyerahkan tasnya.
Awin memasukan Al Qur’an di dalam tas, lalu di sandang lah tas ransel di bahu Awin. Naiklah Awin motor metik. Maman mulai menyalahkan mesin motor metik. Jalanlah mereka berdua menuju mesjid. Perjalan menuju mesjid cukup memakan waktu, karena jauh. Menikmati angin malam sambil berkendaraan Awin dan Maman. Pada akhirnya sampai tujuan yaitu di sebuah Mardasah. Berhentilah motor yang di kendarai Maman. Segera memarkirkan motor metik di tempat di sediakan. Maman Awin berjalan masuk ke dalam sebuah mesjid. Para undangan pengajian telah banyak yang dateng. Maman dan Awin duduk dalam satu ke satuan jama’ah. Acara pengajian segera di mulai. Mulailah imam membahas tentang Aqidah islam. Dengan hikmat para jama’ah mendengarkan ceramah. Sampai waktu habis di tentukan oleh tim pengadaan acara.
Para jama’ah berdo’a bersama. Setelah berdo’a para jama’ah keluar dari mesjid karena pengajian telah selesai. Maman dan Awin mengambil motor metiknya di parkiran. Motor metik di nyalakan, kemudian Awin naik. Segeralah motor metik di kendarai keluar dari komplek Mardasah. Begitu juga dengan jama’ah yang lain.
Pulang Maman dan Awin dengan menikmati angin malam dengan mengendarai motor metik. Selang berapa saat sampailah di kontrakan. Awin pun turun dari Motor.
“Mas Al Qur’an mu,” kata Maman.
Segera tas ransel di sandang Awin mengeluarkan Al Qur’a. Setelah itu tas di kembalikan ke Maman.
“Mas tolong helmnya taruh di ruang tamu,” kata Maman.
“Iya,” sahut Awin.
Maman pergi menjemput Istrinya. Awin segera membuka pintu kontrakan Maman dan menaruh helm di ruang tamu. Pintu kontrakan Maman segera di tutup oleh Awin. Dengan melangkah ke kontrkanya. Awin membuka pintu dan masuk ke dalam, lalu tidak lupa menutup pintu. Segera menaruh Al Qur’an di atas meja marmer. Segera Awin berganti pakaian. Waktu menujukkan jam 10.36 WIB. Terasa kantuk Awin. Mulai membenahkan tempat tidurnya. Baru Awin rebahan pintu di di ketuk. Segera Awin membukanya.
“Mas makan lagi gak,” kata Maman.
“Gak, masih kenyang,” sahut Awin.
“Oh iya,” ujar Maman.
Maman kembali ke kontrkanya dan segera menutup pintu. Awin menutup pintu kontrakan. Segera mengambil selimut dan tidur dengan tenang.

0 komentar:
Post a Comment