KENANGAN MANIS
Seusai pulang sekolah Tegar melewati gang kecil. Berapa anak pengganggu datang menghampiri Tegar. Meledeknya dengan kata yang melukai hatinya.
“Dasar anak penjahat,” kata anak nakal.
“Ya..dasar anak preman,” sahut anak nakal lainnya.
“Bapaknya brengsek...anaknya juga brengsek,” kata anak nakal lainnya.
“Diam kalian semuanya,” kata Tegar.
Tegar langsung berlari meninggal tempat tersebut menjauh dari anak nakal. Tegar terus berlari dan bersedih hatinya. Terlihat oleh Tegar sang Ayahnya bekerja keras mengangkut benda yang berat. Tegar sedih melihat Ayahnya, tetapi bahagia karena Ayahnya berusaha menjadi orang baik.
“Oh Tuhan ampunilah dosa orang tua baik tidak segaja atau di sengaja baik dahulu maupun sekarang. Ampunilah dosanya ya Tuhan maha penyasih lagi maha penyayang,” doa Tegar untuk Ayahnya tersayang.
Tegar pulang ke rumah dan membereskan rumah.
“Seandainya ada Ibu hidupku lebih berarti lagi,” celoteh Tegar yang kangen.
Tegar setelah membereskan rumah dengan bersih dan rapih. Kemudian masuk kamar dan belajar mengerjakan tugas sekolahnya. Tegar berusaha mengerjakan tugas sekolah tersebut dengan baik agar tidak mengecewakan sang Ayah yang telah bekerja keras membiayai sekolahnya. Tugas sekolah selesai Tegar langsung membereskan bukunya dan memasukannya ke dalam tas.
“Semoga besok lebih baik lagi dari hari kemari,” doa Tegar.
Tegar keluar dari kamarnya dan bermain di luar menunggu Ayahnya pulang. Sambil mengambil bola kesayangannya Tegar bermain sendirian di depan rumah. Terkadang ada anak tetangga yang main bersamanya. Tapi hari ini tidak sama sekali, anak tetangga lagi pergi bersama orang tuanya ke desa.
Tegar terus bermain menghilangkan kejenuhan dirinya sampai hari berganti malam. Tegar bergegas masuk ke dalam rumah dan membersihkan diri. Seusai mandi dan berganti pakaian sang Ayah pulang dengan mengetuk pintu.
“Ya sebentar,” kata Tegar.
Dengan berjalan terburu-buru, lalu segera Tegar membuka pintunya. Terlihat Ayahnya yang letih dan capek. Tegar menyambutnya dengan kecerian. Sang Ayah kembali bersemangat. Rasa letih dan capek Ayah hilang karena usahanya untuk anaknya. Tegar yang selalu bersyukur atas kerja keras Ayahnya untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.
Ayah pun bahagia keharmonisan terjadi dalam hidupnya. Walaupun sang Ayah tahu tidak lengkap hidup anaknya karena ibunya tidak di sisinya. Masa lalu terkenang di benak Ayah di mana masa bahagia bersama orang paling dia cintai sebelum Anaknya yang di sayangi terlahir.Tapi Ayah sadar semuanya menjadi kenangan manis dan amanah istrinya selalu di jaga yaitu buah hati yang di cintainya.
“Dasar anak penjahat,” kata anak nakal.
“Ya..dasar anak preman,” sahut anak nakal lainnya.
“Bapaknya brengsek...anaknya juga brengsek,” kata anak nakal lainnya.
“Diam kalian semuanya,” kata Tegar.
Tegar langsung berlari meninggal tempat tersebut menjauh dari anak nakal. Tegar terus berlari dan bersedih hatinya. Terlihat oleh Tegar sang Ayahnya bekerja keras mengangkut benda yang berat. Tegar sedih melihat Ayahnya, tetapi bahagia karena Ayahnya berusaha menjadi orang baik.
“Oh Tuhan ampunilah dosa orang tua baik tidak segaja atau di sengaja baik dahulu maupun sekarang. Ampunilah dosanya ya Tuhan maha penyasih lagi maha penyayang,” doa Tegar untuk Ayahnya tersayang.
Tegar pulang ke rumah dan membereskan rumah.
“Seandainya ada Ibu hidupku lebih berarti lagi,” celoteh Tegar yang kangen.
Tegar setelah membereskan rumah dengan bersih dan rapih. Kemudian masuk kamar dan belajar mengerjakan tugas sekolahnya. Tegar berusaha mengerjakan tugas sekolah tersebut dengan baik agar tidak mengecewakan sang Ayah yang telah bekerja keras membiayai sekolahnya. Tugas sekolah selesai Tegar langsung membereskan bukunya dan memasukannya ke dalam tas.
“Semoga besok lebih baik lagi dari hari kemari,” doa Tegar.
Tegar keluar dari kamarnya dan bermain di luar menunggu Ayahnya pulang. Sambil mengambil bola kesayangannya Tegar bermain sendirian di depan rumah. Terkadang ada anak tetangga yang main bersamanya. Tapi hari ini tidak sama sekali, anak tetangga lagi pergi bersama orang tuanya ke desa.
Tegar terus bermain menghilangkan kejenuhan dirinya sampai hari berganti malam. Tegar bergegas masuk ke dalam rumah dan membersihkan diri. Seusai mandi dan berganti pakaian sang Ayah pulang dengan mengetuk pintu.
“Ya sebentar,” kata Tegar.
Dengan berjalan terburu-buru, lalu segera Tegar membuka pintunya. Terlihat Ayahnya yang letih dan capek. Tegar menyambutnya dengan kecerian. Sang Ayah kembali bersemangat. Rasa letih dan capek Ayah hilang karena usahanya untuk anaknya. Tegar yang selalu bersyukur atas kerja keras Ayahnya untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.
Ayah pun bahagia keharmonisan terjadi dalam hidupnya. Walaupun sang Ayah tahu tidak lengkap hidup anaknya karena ibunya tidak di sisinya. Masa lalu terkenang di benak Ayah di mana masa bahagia bersama orang paling dia cintai sebelum Anaknya yang di sayangi terlahir.Tapi Ayah sadar semuanya menjadi kenangan manis dan amanah istrinya selalu di jaga yaitu buah hati yang di cintainya.


0 komentar:
Post a Comment