AWALNYA BENING JADI KERUH
Suatu hari Rafi datang ke perkulihan. Karena dosen belum datang menunggu lama di kantin. Datanglah Dedi dan Marjuli ke kampus. Akhirnya rasa bosan Rafi menghilang Rafi dan kawan menuju tempat yang sepi untuk berbincang. Dengan menghidupkan hp musik mereka mulai bercerita. Tak sadar Rafi terjebak keadaan menceritakan perasaannya tentang teman kuliahnya. Pada hal Cuma minta saran, tapi teman-temannya mengompori. Rafi jadi berani untuk menunjukkan cintanya.Tetapi selang berapa saat pikiran Rafi berubah untuk mengelak perasaan itu. Lagi-lagi gara teman-temannya memberikan keyakinan membuat Rafi dilema lagi.
“Pria tidak boleh menjilat ludahnya. Kalau loe suka katakan,” kata Dedi.
“Ya itu mah terserah loe,” sahut Marjuli.
“Eeeeeeemm,” gumem Rafi.
“Yakin gak,” kata Dedi lagi.
“Ya lah,” kata Rafi.
“Ya udah lah,” ujar Marjuli.
Rafi mendatengi kosan Ida tidak jauh dari tempat perkulihan. Marjuli menemani Rafi menemui Ida agar tidak jadi salah paham. Sedangkan Dedi nunggu di Universitas. Sampailah Rafi di depan pintu kosan Ida.
“Ida,” pangil Rafi.
“Ya bentar,” jawab Ida.
Keluar Ida dari kosan.
“Ada apa Rafi....jam kuliah kan belum di mulai?,” tanya Ida.
“Ada sesuatu aku ingin bicarakan,” kata Rafi.
Kemudian Ida menanggapi dengan baik Rafi bicara dengan Ida di halaman depan kosan beserta Marjuli mendampingi.
“Eeeee..da..guwa suka sama loe,” kata Rafi.
“Eeeee.........,” ida masih berpikir.
Rafi menunggu jawaban Ida. Tetapi Rafi seketika berubah dalam diamnya.
“Tapi..gue udah ada Rio,” kata Ida.
“Eeee..itu sih gue tahu. ...tapi gw baru suka belum mencintai,” kata Rafi sok kepintaran.
Kemudian Rafi meninggalkan perbicaraan yang udah selesai itu. Marjuli juga ikut serta meningalkan Ida sendirian di halaman depan. Rafi dan Marjuli kembali ke kampus. Ida pun masuk ke dalam kosan dalam dilema. Dalam perjalan ke kampus pun merasa ada yang salah. Kemudian mereka berdua bertemua dengan Dedi kampus.
“Gimana Jul hubungan Rafi ?,” tanya Dedi.
“Gantung,” jawab Marjuli.
“Oh,” kata Dedi dengan mengangguk.
Dosen pun dateng perkuliahan pun di mulai. Masuklah Rafi ke kampus beserta Dedi. Sedangkan Marjuli masuk ke fakultas lain karena jurusan beda dengan Rafi dan Dedi. Ida pun datang, tapi biasanya mereka duduk bersama malah Rafi menghindar. Ida sedikit sok melihat Rafi bertingkah Aneh. Sampai usai kuliah Rafi banyak menghindar dari Ida dan fokus dengan pendidikannya. Ida pun juga fokus dengan kuliahnya. Pada Akhirnya hubungan mereka rmenjadi keruh karena pergolakkan perasaan.
Tapi di benak Rafi teringat peringatan Ida “ aku tidak ingin mencintai temanku sendiri,”. Malah kata itu berlalu tertelan oleh waktu, tapi sebelumnya saat berdua. Ida pernah bilang sama Rafi “ aku suka kamu,”. Kata inilah yang membuat bingung Rafi. Di sisilah Ida pernah bercerita dengan pacar barunya tentang Rio. Sontak hati Rafi terkejut. Karena pikiran Rafi fokus pendidikan akhirnya mengabaikan perasaan Ida itu.
Hubungan Ida dan Rafi terus menjadi keruh saat di kampus. Terkadang Chika menunjukan kesendiriannya. Rafi tahu Chika juga suka, tapi dengan berpikir jernih Rafi mengabaikan Chika. Pada akhirnya berkecamuklah dalam diri Rafi. Sampai curhat dengan Dayat tidak membuahkan hasil yang ada kata sama terucap yaitu “ ida gak mau pacaran dengan teman sendiri.”.
Rafi mengerti kata itu pada akhirnya terjebak oleh perasaan begitu dengan Ida. Hubungan perteman yang awalnya bening kini menjadi keruh. Beberapa kali Rafi menetralisirnya agar kembali bening tetap keadaan juga menjadi keruh kembali karena salah persepsi/ tangapan karena Rafi dan Ida tidak terbuka lagi. Perteman mereka berubah menjadi perasaan.
Ibarat kata orang ” di jalannin salah gak di jalanin juga salah pada akhirnya serba salah." Waktu menjawab semuanya perpisahan yaitu lulus dari Universitas. Tidak jelas hubungan Rafi dan Ida. Dan juga Rafi dapet kabar bahwa Rio putus dengan Ida, tetapi tetap masa bodo Rafi dengan semua kabar apa pun? Rafi terus berkonsentrasi dengan pekerjaan barunya.

0 komentar:
Post a Comment