ROH PENASARAN
Hari menjelang malam.Yo keluar dari rumahnya berjalan melewati beberapa gang. Sampailah di rumah Genta."Apa ini rumah Genta?, di lihat nomornya sih benar. Permisi..........,” kata Yo.
“Ya sebentar...,” jawab Genta.
Genta keluar dari ruang belajarnya dan membuka pintu rumah. Genta melihat Yo di depan gerbang. Segera Genta menghampirinya Yo dan sekalian membuka gerbang setelah itu mempersilakan Yo masuk ke rumah.
“Masuk dulu Yo,” ujar Genta.
“Ya terima kasih....” sahut Yo.
Keduanya masuk kedalam rumah. Genta mempersilakan Yo duduk di ruang tamu.
“Tunggu sebentar ya,” kata Genta.
“Gak usah repot-repot,” ujar Yo.
“Gak ngerepotin kok,” sahut Genta.
Dengan santai Yo duduk di ruang tamu sambil melihat sekeliling ruangan. Genta mengambil makan di lemari makan dan minuman di kulkas , lalu di bawa ke ruang tahu.
“Silakan,” kata Genta.
“Ya........,” jawab Yo.
Yo mulai mencicipi kue dan minum segelas teh hangat yang telah di hidangkan.
“Enak kuenya buat sendiri,” ujar Yo.
“Beli di toko kue tidak jauh dari komplek perumahan sini,” jawab Genta.
“Oh......begitu,” sahut Yo.
“Ngomong ada angin apa main kesini?,” tanya Genta.
“Sebenarnya sih mau mengajak kamu ke suatu tempat yang cukup menarik,” kata Yo.
“Kemana itu?,” tanya Genta.
“Musium,” ujar Yo.
“Malam-malam begini ke musium. Ngapain?,” tanya Genta.
“Mau menunjukkan sesuatu sama kamu yang menarik,” kata Yo.
“Apa itu?,” tanya lagi Genta.
“Di sana aja ceritanya lebih menarik,” kata Yo.
“Ya.... udah kalau begitu tunggu dulu. Saya mau beres-beres dulu,” kata Genta.
“Ya saya tunggu....,” jawab Yo.
Genta masuk kamar dan membereskan pekerjaan sekolahnya yang masih berantakan di ruang belajar. Setelah itu Genta ganti pakaian. Baru Genta keluar kamar langsung ke ruang tamu.
“Ayo kita berangkat,” kata Genta.
“Ini gak di beresin?,” tanya Yo.
“Oh iya-iya. Minumnya udah Yo,” kata Genta.
“Nie...gelasnya bocor,” sahut Genta.
Segera Genta membereskan gelas dan kue yang ada di meja ruang tamu ke dapur. Setelah baru mereka berdua keluar rumah. Tidak lupa Genta menguncinya rumah dengan rapih dan juga gerbang tutup rapat. Melangkahlah mereka berdua berjalan menuju ke musium yang tidak jauh dari kompleks perumahan. Setelah melewati beberapa gang dan menyebrang lewat jembatan penyebrangan. Melewati beberapa toko akhirnya sampailah di musium. Kemudian Yo meminta izin sama petugas malam. Selang berapa saat menunggu Genta menunggu akhirnya mereka masuk ke dalam musium. Sang petugas membukakan pintu musium. Yo dan Genta masuk ke dalam musium kemuian sang petugas menunggu di luar musium mengwasi sekitar.
Yo dan Genta melihat keindahan musium pada malam hari. Banyak sekali barang-barang antik yang terpajang dan memiliki nilai sejarah yang mengagumkan.
“Ayo kita kerungan sana ada lebih menarik,” kata Yo.
“Ya....ayo,” sahut Genta.
Mereka berdua melewati setiap ruangan sampailah di ruangan yang di tuju.
“Ruang senjata,” Celoteh Genta sambil membaca nama ruangan di depan pintu masuknya.
“Ayo masuk,” kata Yo.
“Ya....kenapa ruangan ini?,” tanya Genta.
“Ada yang menarik,” kata Yo.
“Apa itu?,” tanya Genta.
“Lihat sendiri,” kata Yo.
Berjam-jam mereka berdiri di rungan tersebut. Genta sampai jenuh menungu.
“Berapa lama lagi kita di sini?,” tanya Genta.
“Sebentar lagi,” jawab Yo.
“Tapi kaki ku sudah pegal memandangi senjata pedang tersebut,” ujar Genta.
“Sabar sedikit ada yang menarik pada pedang itu,” kata Yo.
“Apa itu?,” tanya Genta.
Tiba-tiba suasana menjadi hening. Bulu kuduk Genta mulai berdiri. Terlihat ada kabut yang menyelimuti ruangan di tambah angin bertiup berputar-putar di ruangan itu. Genta mulai ketakutan. Muncullah sesosok makluk berbaju putih berdiri di atas pedang kuno. Genta dan Yo melihatnya.
“Seeeeeeeeeeee.......tan....................,” teriak Genta.
Genta dengan ketakutan keluar dari rungan senjata dengan lari terbirit-birit.
“Genta.............,,dia malah ketakutan ,” panggil Yo.
Genta mengatur nafasnya di pintu masuk musium.
“Ha...ha.....saya di kerjain.....sial...banget,” celoteh Genta.
“Hei Genta,” kata Yo sambil menepuk pundak sebelah kanan.
“Haa....haa...,” teriak Genta.
“Kenapa berteriak keras?,” tanya Yo.
Genta mengatur nafasnya dan membalikkan badannya.
“Eeeeeeeeee...............setan.....,” teriak Genta.
Genta mulai gemetaran sangking takutnya sambil terkencing kencing di celana melihat Setan berbaju putih. Kemudian Genta pingsan di lantai.
“Ya......pingsan dia.... repot deh....pada hal baru lihat roh penasaran begini. Bagimana di lihat iblis?........beeeeeee......tambah repot lagi,” kata Yo.
Lalu sang petugas musium pun datang dan masuk ke dalam musium. Di lihat di hadapanya sesosok bersama Yo, berbaju putih melayang.
“Seeeeeee.......tannnnnnnnnnnnnnn...,” teriak petugas musium.
Sontak petugas musium membalikan badannya dan berlari keluar.
“Ya........satu......lagi.........berteriak ketakutan," kata Yo dengan santai.

0 komentar:
Post a Comment