TEKA-TEKI
Pada
suatu ketika Boy dan Loli datang dari kota untuk berlibur. Karena baru pertama
kali berkunjung kerumah kakek Toni. Karena selama
ini Boy dan Loli selalu sibuk liburan di
daerah lain. Tidak pernah ke kampung halaman sendiri. Tanah kelahiran para
leluhur keluarga Boy dan Loli. Memang sih
letak kediaman kakek Toni jauh dari kota.
Desa yang terpencil di kelilingi oleh indahnya pemandangan. Rumah kakek Toni
telah di wariskan secara turun-menurun dari generasi pertama ke generasi
selanjutnya. Walaupun baru pertama berkunjung ke rumah warisan Boy dan Loli
senang sekali.
“Tinggal di rumah ini harus mengikuti semua peraturan yang telah di tetapkan.
terutama jangan bermain di halaman belakang rumah sampai matahari terbenam. Itu
peringatan keras,” kata kakek Toni.
“Iya kek,” jawab keduanya.
Setelah
Boy dan Loli menaruh barangnya kekamarnya. Mulai pembicaraan yang kurang
mengenakan di antara keduanya. Samar-samar kakeknya mendengar dari kejauhan
kamar Boy dan Loli.
“Banyak sekali peraturan di rumah ini. Yang ini lah, yang itu lah,” gerutu Boy.
“Ya begitu lah, namanya rumah tua. Nilai historinya harus di jaga,” sahut Loli.
“Ada apa ya dengan halaman belakang rumah,” kata Boy.
“Sudah-sudah jangan di pikirkan. Kita disinikan mau liburan. Bukannya nambah stress
karena peraturan. Jalani aja dengan sebaik-baiknya. Toh itu juga untuk kebaikan
bersama. Mungkin kakek punya alasan tertentu memperingati kita dengan keras,”
kata Loli.
“Benar juga kamu, Lol. Kesinikan mau liburan. Tetap saja saya penasaran dengan
halaman belakang rumah,” ujar Boy.
“Ya, balik lagi ke awal. Susah kamu, Boy untuk di nasehati. Kalau sudah waktunya
kena batunya juga,” kata Loli.
“Kok gitu ngomongnya Lol,” sahut Boy.
“Sudahlah saya mau tidur,” jawab Loli
dengan keadaan sudah terbaring di tempat tidurnya.
*****
Keesokan
harinya Boy dan Loli menikmati keindahan
pemandangan dari atas balkon rumah. Merasakan udara segar yang memasuki
ruangan. Lagi-lagi Boy penasaran dengan halaman belakang. Kemudian mengajak
Loli untuk pergi halaman belakang rumah. Sesampainya tempat tersebut Boy dan
Loli melihat pemandangan yang sangat menajubkan. Taman bunga yang cantik dan
ada juga tempat untuk bermain. Karena
keasikan bermain di halaman belakang sampai matahari terbenam. Boy tetap tidak
mengindahkan peringatan Kakek Toni
walaupun sudah di ingatkan berulang kali sama Loli. Akhirnya Boy dan Loli melanggar
peraturan yang sudah lama di buat.
Boy
dan Loli tak merasakan apa yang terjadi pada mereka?. Fenomena tersebut sangat
cepat. Tak di duga Boy dan Loli telah masuk ke
dalam sebuah dunia lain.
Padahal rumah dekat tetapi terasa jauh dan lama kelamaan makin jauh dan
menghilang. Boy dan Loli semakin takut dengan keadaan tersebut. Lalu dari sebuah
semak-semak ada sebuah makluk keluar lucu dan manis mencoba untuk berkenalan dengan Boy dan Loli. Dengan
penuh keberaniaan mendekati makluk yang lucu tersebut. Baru langkah kedua
tiba-tiba makluk terlihat aneh seperti bergetar sendiri, lalu melompat kesana-
kesini tidak tentu arah. Tiba-tiba berhenti
ketempat semula tepat di depan Boy dan Loli. Terjadilah ledakan dari
makluk tersebut dan berubah menjadi monster yang sangat menyeramkan.
“Aaa………………….,”
teriak
keras Boy dan Loli.
Kemudian
mereka berdua lari terbirit-birit menuju suatu tempat. Rimbun dan gelap mereka masuk kedalamnya. Keadaan ketakutan mereka berdua mencoba untuk memberanikan diri.
Perlahan-lahan melewati hutan menuju ke tempat yang lebih terang. Karena
terlihat dari kejauhan terlihat sebuah cahaya yang berkedap-kedip. Boy dan Loli
mengumpulkan sebuah ranting-ranting kayu
kering untuk di jadikan obor. Agar bisa melihat
di dalam hutan lebat dan gelap.
Setelah
membuat obor mereka berdua melanjutkan perjalan menuju tempat yang di
rencanakan. Perlahan-perlahan mereka berdua berjalan akhirnya sampai juga
ketempat tersebut. Cahaya tempat tersebut sangat indah seperti cahaya bintang.
Boy mematikan obor yang dibawa sebagai
penerangan. Lagi asik menikmati indahnya pemandangan. Tiba-tiba tanah bergetar.
Langitnya mulai retak, lalu pecah berjatuhan menuju ketempat mereka berdua. Boy
dan Loli berlari menuju sebuah goa untuk berlindung. Beberapa saat keadaan
berubah menjadi dunia yang di selimuti salju. Keadaan sekitar menjadi dingin
dan beku. Mereka berdua menggigil di buat oleh keadaan. Boy
berusaha mencari cara bagaimana bisa keluar dari masalah?.
Boy
keluar dari goa dan berusaha mencari kayu bakar untuk menghangatkan diri. Baru
beberapa langkah keluar dari goa Boy melihat rumah kayu yang mengeluarkan asap
dari cerobong asap yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Kemudian Boy kembali
ke goa dan membawa Loli ke tempat rumah yang akan di tuju. Sampailah Boy dan Loli di depan rumah
kayu denga susah payah. Boy menetuk pintu rumah kayu tersebut berulangkali,
tetapi tidak ada jawaban. Begitu juga Loli mencobanya. Kembali tidak ada
jawaban. Kemudian Boy mencoba untuk membuka pintu.
Tiba-tiba tempat
tersebut berubah kembali. Rumah
kayu dan area
sekitar berubah menjadi kota yang tidak
berpenghuni. Boy
dan Loli tepat di depan pintu ada sebuah tulisan jangan
di buka. Boy lagi-lagi tidak mengindahkan
peringatan tersebut. Walaupun
Loli telah melarangnya. Dengan
pelan-pelan Boy membukanya. Ternyata tidak ada apa-apa yang terjadi?
Loli mulai mendengar
sesuatu dari kejauhan begitu juga
dengan Boy.
Keluarlah para hantu
mengejar Boy dan Loli. Mereka berlari ke tempat lebih jauh. Sampai di sebuah gudang untuk
bersembunyi. Tiba-tiba mereka berdua pindah kembali. Suatu tempat di sebuah ruangan yang
gelap. Lalu dari kejauhan ada suara bunyi pintu terbuka dan ada sinar terang
terpancar. Boy dan Loli ketakutan sambil
berteriak histeris. Ternyata yang datang dari balik sinar ternyata kakeknya
telah memperingatkan Boy dan Loli.
“Jadi kalian di sini,” kata kakek Toni.
“Apa yang terjadi dengan
kami sebenarnya kek? "tanya Boy.
“Teka-teki,” jawab kakek Toni.
“Maksudnya apa kek? ” tanya Loli.
“Kalian berdua melanggar
peraturan rumah ini. Maka itu para penjaga rumah ini hanya memberikan pelajaran
kepada kalian,”
ujar kakek Toni.
“Tapi kami hampir mati
di sana, ” kata Boy.
“Para makluk tersebut
telah memperhitungkan segalanya. Karena para makluk tersebut senang bermain
tapi ada aturannya,” Tegas kakek Toni.
“Siapa yang membuat
aturan tersebut?”
tanya kembali Boy.
“Lihat foto tersebut,” kata kakek sambil menunjukkan dengan
tangannya.
“Haaaaaaaaaaaaaaaaaaa......................,” terkejut keduanya.
Foto tersebut
adalah foto kakek buyut Boy dan Loli.
“Jadi kalian berdua
sudah mengerti !”
kata kakek Toni.
“Iya kek,” jawab Boy dan Loli.
Sambil
menundukan kepalanya menyatakan penyesalan.

0 komentar:
Post a Comment