BIRU

Posted By Cerpen universal on Tuesday, September 1, 2015 | September 01, 2015

BIRU

Datang jauh dari luar angkasa menuju bumi. Melewati asmosfir bumi jatuh di sebuah hutan belantara. Sebuah bongkahan batu kristal berwarna biru. Menyerap banyak energi kehidupan di bumi. Batu Kristal mulai mengalami perubahan. Sesosok makluk yang manis dan lucu terlahir dengan wujud sempurna. Perlahan-lahan Makluk tersebut keluar dari tempat kelahirannya. Melihat dan merasakan dunia fana. Mencoba beradaptasi dengan lingkungan sekitar.

Bermain dan mencari makan di lakukan dengan sendirinya diantara lebatnya hutan. Terkadang bersama para binatang yang menerima keberadaanya. Tapi ada yang tidak menginginkan keberadaanya. Terkadang kejam karena proses dari rantai makanan. Sang makluk tersebut diburu oleh predator yang sedang bersembunyi. Mengawasi setiap gerak-gerik sang makluk yang baru lahir tersebut. Saat yang tepat predator yang buas tersebut menerkamnya. Dengan isting sang makluk berusaha lepas dari terkaman seekor Macan Kumbang. Sang makluk tersebut berhasil lolos dari terkaman Macan Kumbang. Berlari dan berlari  sekuat tenaga menjauh dari Macan Kumbang. Menuju ketempat yang lebih jauh dari tempat kelahirannya.  Sampai  pada pemukiman manusia. 

Karena letih berlari sang makluk mencari air. Dengan perlahan-lahan sang makluk menemukan sebuah kawasan yang di penuhi air. Tetapi jaraknya terlalu jauh dari permukaan. Tiba-tiba datang makluk tinggi besar dengan membawa sebuah benda di kedua tanganya. Mengambil Air ke dalam sebuah lubang yang dalam. Perlahan-lahan air muncul ke permukaan. Kemudian di tuangkan ke tempat manusia bawa. Sang makluk bersembunyi menunggu  ke sempatan untuk meminum dari tempat yang tinggalkan manusia. Sambil menunggu di  dalam semak-semak akhirnya sang makluk tertidur.

Sampai suatu ketika seorang anak manusia yang bernama Budi menemukannya di balik semak-semak. Makluk tersebut sedang tidur. Tidak sengaja keluar dari persembunyiannya. Mengagetkan Budi yang sedang lewat menuju pulang kerumah. Karena lucunya makluk tersebut Budi mencoba menangkapnya. Awal gampang-gampang susah. Pada akhirnya makluk tersebut menghampiri Budi seperti anak kucing yang meminta makanan atau ingin di elus-elus bulunya. Manjanya makluk tersebut yang membuat Budi makin sayang padanya. Budi memutuskan ingin merawat makluk tersebut yang mirip kucing dari segi kelakuannya. Semenjak itu Budi berteman dengan makluk tersebut. Kemudian Budi memberi namanya Biru karena sesuai dengan warna bulunya.

Pada awalnya orang tuanya tidak member izin untuk merawat Biru. Wujud Biru yang berbeda dari makluk kebanyakan yang membuat orang tuanya Budi khawatir. Atas  permintaan Budi yang keras kepala kepada orang tuanya. Akhirnya menerima Biru tinggal bersamanya dengan catatan bertanggung jawab penuh terhadap Biru.

Biru makluk yang lucu dan manis. Merawatnya gampang-gampang susah. Karena proses adaptasinya Biru yang cukup tinggi. Membuat Budi mudah untuk melatihnya. Agar tidak membuat masalah. Terkadang Juga Biru makluk yang rewel kalau telat di beri makan.

Terkadang Budi berpikir apa tujuan Biru telahir?. Pikiran-pikiran tersebut menjadi biasa aja. Seperti angin lalu. Budi berpikir positif saja dengan kelahiran Biru. Suatu ketika Eko bermain kerumah Budi. Sesampai dirumahnya Budi. Eko di persilakan masuk oleh Budi lalu di suruh masuk kekamarnya duluan. Budi hendak mengambil sesuatu di ruang kerja ayahnya. Eko dengan tidak sungkan melangkah masuk menuju kamar Budi. Pintu di buka perlahan-lahan. Eko melihat seekor binatang yang berbeda dengan binatang yang ada di bumi. Tiba-tiba Eko terkejut melihat makluk asing yang belum ia lihat sama sekali.

“Aaaahhhhhhh,” teriak Eko.

Biru terkejut juga. Terlihat dari bulunya yang berdiri dan terlihat dari mimik wajahnya yang sedikit menyeramkan. Budi mendengar terikan tersebut, lalu Budi bergegas dari tempatnya. Menuju di mana teriakan tersebut berasal. Budi melihat Eko yang ketakutan begitu dengan Biru.

“Kalian berdua tenang....tenang!” kata Budi.

Keduanya berusaha untuk menenangkan diri.

“Sebenarnya makluk apaan?” tanya Eko.

“Entahlah makluk apa sebenarnya?, tetapi selama bersama ku makluk ini baik dan tidak berbuat yang aneh-aneh. Juga aku sangat menyayanginya,” jawab Budi sambil mengelus-ngelus Biru layaknya seperti kucing.

“Dari mana asalnya?” tanya Eko dengan penuh keingin tahuannya.

“Aku juga bingung asalnya!. Dari luar angkasa atau  dalam bumi,” jawab Budi.

“Siapa namanya,” kembali Eko bertanya.

“Namanya Biru,” Kata Budi dengan tegas.

Budi menjelaskan bagaimana Biru bisa menjadi temannya dan tinggal bersamanya walaupun sebenarnya para tetangga tidak tahu keberadaanya. Tujuannya untuk keselamatan Biru itu sendiri. Setelah mendengarkan penjelasan Budi dengan seksama. Eko mengerti rasa ketakutannya hilang seketika. Kemudian mulai memberanikan diri untuk mengelus-elus Biru dengan penuh kelembutan.

Semenjak kejadian tersebut sering Eko bermain kerumah Budi. Terkadang membelikan makan untuk Biru. Hubungan mereka semakin akrap sekali satu sama yang lain. Biru terlihat senang terlihat warna bulunya berubah menjadi merah jambu. Sesekali Budi dan Eko membawa Biru bermain ke luar. Diajaknya Biru bermain di belakang bukit dekat danau. Agar tidak ada manusia lain mengetahui keberadaan Biru.
Blog, Updated at: September 01, 2015

0 komentar:

Post a Comment