PENOLONG

Posted By Cerpen universal on Tuesday, September 1, 2015 | September 01, 2015

PENOLONG

Saat ini hari makin gelap. Pelangi berjalan menyisir gang yang gelap untuk cepat pulang ke rumah. Pelangi berlari-lari kecil agar cepat sampai. Pelangi sangat khawatir dengan keadaan neneknya di tinggal sendirian di rumah. Tiba-tiba mulai terasa ada yang aneh di sekitarnya. Perasaan takut dan was-was kalau ada orang yang mau mencelakainya. Dengan menekan perasaan yang resah karena keadaan. Pelangi mengabaikan semuanya agar cepat sampai ke rumah. Khawatiran Pelangi di bayar dengan malapetaka. Tiba-tiba tiga orang pemuda menghadang langkah Pelangi.

“Mau apa kalian? ” Tanya Pelangi.

“Mau senang-senang dengan kamu, Gadis manis,” jawab salah satu pemuda.

“Kalau macam-macam saya berteriak,” kata Pelangi.

“Teriak saja tidak ada yang mendengar,” sahut pemuda yang lain.

Saat pelangi mau berteriak. Pemuda yang tepat di belakang pelangi segera menyergapnya. Kemudian menutup mulut Pelangi dengan tangan kanannya. Pelangi berontak dengan sekuat tenaga. Lalu kedua pemuda mendekat dan segera memegang kakinya pelangi dan tangan kemudian di ikat. Dalam keadaan sesulit itu Pelangi terus berusaha. Dengan menggigit tangan pemuda yang membungkam mulutnya. Pemuda tersebut kesakitan dan melepaskan bungkamannya dari mulut Pelangi.

“Tolong………………,” teriak Pelangi sekeras mungkin.

Pemuda yang lain segera membungkam mulut Pelangi dengan sebuah kain dan di ikatkan ke leher Pelangi. Ketika pemuda tersebut senang karena rencananya berhasil. Tapi mereka lupa bahwa teriakan pelangi mengundang seorang penolong. Wujudnya tidak terlihat. Yang terlihat adalah setiap pemuda mendapatkan pukulan di sekujur  tubuh mereka. Ketiga pemuda kesakitan akibat pukulan yang tak berwujud.

Salah satu pemuda mencoba menantang bayangan tersebut.

“Kalau berani tunjukan wujudmu. Jangan bersembunyi dalam kegelapan malam.”

“Untuk apa saya menunjukkan wujud saya?. Di hadapan para cecunguk yang bisanya menganiaya makluk lemah,” kata orang yang tidak terlihat.

“Maksuknya apa? ” Tanya salah satu pemuda.

“Dasar bodoh. Yang dimaksud itu wanita ini. Bodoh kok di piara.” Sahut  pemuda lain.

“Kalau begitu kita harus bekerja sama untuk mengalahkan orang tidak nampak wujudnya,” ujar  pemuda yang lainnya.

Ketiga pemuda berusaha untuk melawan orang yang ingin menolong pelangi. Terjadi perkelahian yang tidak seimbang. Dengan sekejab orang yang tidak terlihat menghajar tiga pemuda tersebut. Sampai lari tunggang langgang meninggalkan tempat tersebut. Kemudian pelangi yang menyaksikan semua itu hanya terdiam. Dengan segera orang yang tidak terlihat mendatangi Pelangi terdengar dari langkahnya.  Tepat di hadapan Pelangi orang tidak terlihat tersebut menunjukkan wujudnya. Karena pengembalian wujud butuh waktu cukup lama. Yang terlihat hanya sebuah bayangan hitam. Pelangi melihat wujud tersebut menjadi ketakutan.

Lalu, Pelangi pingsan. Bayangan tersebut membawa Pelangi ke rumahnya dengan segera. Sesampai di rumah.

“Permisi nenek Pelangi,” salam dari seorang pemuda.

Kemudian nenek Pelangi keluar dari rumah. Melihat nak Anjas menggendong pelangi yang pingsan. Dengan keadaan cemas terhadap cucunya. Nenek Pelangi menyuruh nak Anjas membawa Pelangi ke kamarnya untuk di baringkan.

“Endok kenapa kamu ?. Kok bisa jadi begini,” gerutu nenek Pelangi.

Sesampai di dalam kamar Anjas perlahan-lahan membaring Pelangi. Kemudian Anjas menerangkan semua kejadiannya yang menimpa Pelangi hari ini. Walaupun tidak sebenarnya agar nenek Pelangi tidak khawatir.

“Kalau gitu saya pulang dulu ya nenek.” Kata Anjas denga halus.

“Oh ya….terimakasih ya, nak Anjas atas bantuanya,” Sahut nenek dengan kelembutan.

“Ya…..sama-sama nek,” jawab Anjas

Nenek Pelangi menunggui cucunya yang pingsan dengan penuh kasih sayang. Beberapa jam kemudian Pelangi terbangun dari pingsannya.

“Dimana saya,” kata Pelangi.

“Kamu di rumah endok,” jawab nenek penuh kelembutan.

“Bukannya saya?

Pelangi mulai mengingat kejadian itu dengan seksama.

“Lalu siapa yang membawa saya ke rumah?” tanya Pelangi kepada nenek.

“Kamu di antar nak Anjas tetangga kita. Katanya nak Anjas kamu pingsan di jalan, lalu kamu di bawa ke rumah,” jawab nenek.

Mendengarkan penjelasan nenek. Pelangi jadi bingung dibuatnya.

“Kok bisa kak Anjas. Pada hal yang menolongku adalah sesosok makluk yang tidak tampak wujudnya dengan jelas,” gerutu Pelangi.

“Sudah-sudah jangan banyak mikir lebih baik kamu banyak istirahat agar lekas sehat. Jangan ngoyo lagi kalau kerja agar supaya tidak terulang kejadian seperti ini,” nasehat nenek.

“Iya nek,” jawab Pelangi dengan penuh kasih sayang.

Akhirnya Pelangi perlahan-lahan melupakan kejadian tersebut. Tetapi yang membuat penasaran Pelangi.

“Siapa yang menolong dirinya?.”
Blog, Updated at: September 01, 2015

0 komentar:

Post a Comment