PENOLONG
Saat ini hari
makin gelap. Pelangi berjalan menyisir gang yang gelap untuk cepat pulang ke
rumah. Pelangi berlari-lari kecil agar cepat sampai. Pelangi sangat khawatir
dengan keadaan neneknya di tinggal sendirian di rumah. Tiba-tiba mulai terasa
ada yang aneh di sekitarnya. Perasaan takut dan was-was kalau ada orang yang
mau mencelakainya. Dengan menekan perasaan yang resah karena keadaan. Pelangi
mengabaikan semuanya agar cepat sampai ke rumah. Khawatiran Pelangi di
bayar dengan malapetaka.
Tiba-tiba tiga orang
pemuda menghadang langkah Pelangi.
“Mau apa kalian? ” Tanya Pelangi.
“Mau senang-senang dengan kamu, Gadis manis,” jawab salah satu pemuda.
“Kalau macam-macam saya berteriak,” kata Pelangi.
“Teriak saja tidak ada yang mendengar,” sahut pemuda yang lain.
Saat
pelangi mau berteriak. Pemuda yang tepat di belakang pelangi segera
menyergapnya. Kemudian menutup mulut Pelangi dengan tangan kanannya. Pelangi berontak
dengan sekuat tenaga. Lalu kedua pemuda mendekat dan segera memegang kakinya
pelangi dan tangan kemudian di ikat. Dalam keadaan sesulit itu Pelangi terus
berusaha. Dengan menggigit tangan pemuda yang membungkam mulutnya. Pemuda tersebut
kesakitan dan melepaskan bungkamannya dari mulut Pelangi.
“Tolong………………,” teriak Pelangi sekeras mungkin.
Pemuda
yang lain segera membungkam mulut Pelangi dengan sebuah kain dan di ikatkan ke
leher Pelangi. Ketika pemuda tersebut senang karena rencananya berhasil. Tapi mereka
lupa bahwa teriakan pelangi mengundang seorang penolong. Wujudnya tidak
terlihat. Yang terlihat adalah setiap pemuda mendapatkan pukulan di sekujur tubuh mereka. Ketiga pemuda kesakitan akibat
pukulan yang tak berwujud.
Salah
satu pemuda mencoba menantang bayangan tersebut.
“Kalau berani tunjukan wujudmu. Jangan bersembunyi dalam kegelapan malam.”
“Untuk apa saya menunjukkan wujud saya?. Di hadapan para cecunguk yang bisanya
menganiaya makluk lemah,” kata orang yang tidak terlihat.
“Maksuknya apa? ” Tanya salah satu pemuda.
“Dasar bodoh. Yang dimaksud itu wanita ini. Bodoh kok di piara.” Sahut pemuda lain.
“Kalau begitu kita harus bekerja sama untuk mengalahkan orang tidak nampak wujudnya,”
ujar pemuda yang lainnya.
Ketiga
pemuda berusaha untuk melawan orang yang ingin menolong pelangi. Terjadi perkelahian
yang tidak seimbang. Dengan sekejab orang yang tidak terlihat menghajar
tiga pemuda tersebut.
Sampai lari tunggang
langgang meninggalkan tempat tersebut.
Kemudian pelangi yang menyaksikan semua itu hanya
terdiam. Dengan segera orang yang tidak terlihat mendatangi
Pelangi terdengar dari langkahnya. Tepat di
hadapan Pelangi orang tidak terlihat tersebut menunjukkan wujudnya. Karena
pengembalian wujud butuh waktu cukup lama. Yang terlihat hanya sebuah bayangan
hitam. Pelangi melihat wujud tersebut menjadi ketakutan.
Lalu, Pelangi
pingsan. Bayangan
tersebut membawa Pelangi ke rumahnya dengan segera. Sesampai di rumah.
“Permisi nenek Pelangi,” salam dari seorang pemuda.
Kemudian
nenek Pelangi keluar dari rumah. Melihat nak Anjas menggendong pelangi yang
pingsan. Dengan keadaan cemas terhadap cucunya. Nenek Pelangi menyuruh nak
Anjas membawa Pelangi ke kamarnya untuk di baringkan.
“Endok kenapa kamu ?. Kok bisa jadi begini,” gerutu nenek Pelangi.
Sesampai
di dalam kamar Anjas perlahan-lahan membaring Pelangi. Kemudian Anjas
menerangkan semua kejadiannya yang menimpa Pelangi hari ini. Walaupun tidak
sebenarnya agar nenek Pelangi tidak khawatir.
“Kalau gitu saya pulang dulu ya nenek.” Kata Anjas denga halus.
“Oh ya….terimakasih ya, nak Anjas atas bantuanya,” Sahut nenek dengan kelembutan.
“Ya…..sama-sama nek,” jawab Anjas
Nenek
Pelangi
menunggui cucunya yang pingsan dengan penuh kasih
sayang. Beberapa jam kemudian Pelangi terbangun dari
pingsannya.
“Dimana saya,” kata Pelangi.
“Kamu di rumah endok,” jawab nenek penuh
kelembutan.
“Bukannya saya?”
Pelangi
mulai mengingat kejadian itu dengan seksama.
“Lalu siapa yang membawa saya ke rumah?” tanya Pelangi kepada
nenek.
“Kamu di antar nak Anjas tetangga kita.
Katanya nak Anjas kamu pingsan
di jalan, lalu kamu di bawa ke rumah,”
jawab nenek.
Mendengarkan penjelasan nenek. Pelangi jadi bingung
dibuatnya.
“Kok bisa kak Anjas. Pada hal yang menolongku adalah sesosok makluk yang tidak tampak wujudnya dengan
jelas,” gerutu Pelangi.
“Sudah-sudah jangan
banyak mikir lebih baik kamu banyak istirahat agar lekas sehat. Jangan ngoyo
lagi kalau kerja agar supaya tidak terulang kejadian seperti ini,” nasehat nenek.
Akhirnya Pelangi perlahan-lahan melupakan kejadian
tersebut. Tetapi yang membuat penasaran Pelangi.
“Siapa yang menolong dirinya?.”

0 komentar:
Post a Comment