MENGGAPAI MIMPI
Menjalani kehidupan seperti
air mengalir, tapi memang ada terjal-terjal kehidupan memang terus menghadang.
Keinginannya ingin berkembang di dunia yang penuh persaingan dibuktikan kerja
keras. Tristan anak punya mimpi dan mampu
bersaing dengan orang-orang yang punya kompeten dalam bidangnya. Tristan tidak
mundur dalam menghadapi semua tantangan di depan mata. Malahan menjadi motivasi
untuk maju kedepan. Sampai suatu saat
Tristan mendapatkan suatu pilihan. Pekerjaanya
sekarang hanya pegawai di suatu perusahaan. Jabatanya pun tidak terlalu tinggi biasa-biasa
aja. Walau begitu Tristan tetap
bersyukur kepada Tuhan masih diberikan pekerjaan. Kalau berkaca kepada orang
lain Tristan merasa cukup kadang bisa lebih. Lihat orang-orang yang terpuruk
karena sebuah alasan gak jelas. Kegagalan yang tak berhujung.
Tristan belajar agar
kehidupanya tetap stabil. Terkadang yang membuat Tristan kompleks adalah
perasaan. Ingin melakukan hubungan lebih jauh dengan kekasih banyak hal yang
harus dipikirkan. Sebenarnya tidak mau menjadi beban, tetapi hidup pasti bertemu dengan hal ini. Tristan
mengerti benar yang diinginkan kekasihnya yang bernama Laras. Meminta kepastian
hubungan. Padahal sudah tiga tahun berjalan berpacaran denganya. Tetap Laras
tidak mau mengerti.
Tristan sudah berusaha,
ia sebenarnya mau jujur dengan keadaan yang sebenarnya. Keadaan yang tidak
memungkin. Jika salah bicara, nanti jadi runyam. Laras anaknya gampang merajuk.
Kalau seperti itu Tristan segala cara untuk membuatnya mengerti atau paham.
Padahal bukan maksudnya membuatnya bete dengan Tristan.
Laras anaknya rada-rada
lemot dalam berpikir belum lagi manjanya. Tristan untuk memahami keadaan
pasangannya ekstra lebih kerja keras. Padahal tujuan pacaran agar perasaan ini
plong karena ada orang bisa memahami Tristan malahan kebalikanya. Rasa tertekan
yang muncul. Namanya juga cinta terhadap Laras. Mau gimana Tristan jalani.
Hubungan yang penuh dilema ini terkadang mengganggu pekerjaan Tristan yang
hanya seorang pegawai yang gajinya pas-pasan saja.
Walaupun begitu Tristan
tetap konsekwen dalam keputusanya. Dulu Tristan yang mengejar Laras agar bisa
jadi pacarnya. Padahal Laras lagi pede kate dengan cowok lain. Gak jauh-jauh teman sekampusnya.
Hubungan mereka sebenarnya biasa aja. Laras yang selalu tebar pesona dan joko
tertarik. Hubungan itu seperti kucing-kucingan. Tidak jelas junjunganya. Laras betek dibuat keadan yang
tidak pasti. Joko kaya iya kaya engak. Kalau ada orang kelihatan mersa kalau
ada orang menjauh lebih cenderung meninggalkan Laras dan memilih bermain dengan
anak kampus yang lain.
Jengkelnya laras gak
ketulungan. Suatu hari pertemuan terjadi antara Laras dan Tristan. Malahan
singkat bener. Dua minggu resmi berpacaran dengan Tristan. Baru bertemu
beberapa kali, tapi sudah tukeran nomor telepon. Hubungan itu berlajut sampai
sekarang. Sedang kan nasib joko kecewa. Joko sadar kesalahannya karena
mempermainkan perasaan Laras. Sebenjak itu Joko berubah dan menjalin hubungan
denga Purnama teman karibnya Laras.
Cinta Tristan memang
sungguh-sunguh, tetapi kenyataan harus
dibayar dengan pait. Laras memilih putus dengan Tristan. Karena terlalu
letih dengan hubungan seperti ini.
Tristan tidak mau memberikan ketegasaan
kalau ditanya. “ kapan melamar adek?.” Kata-kata itu terus menjadi momok buat Tristan. Sebenarnya mau menikahi Laras,
tetapi keadaan Tristan tidak memungkinkan. Akhirnya demi kebaikan berdua.
Tristan melepaskan cintanya. Kini Tristan hidup menjomlo hampir setahun. Ia
hambiskan waktunya dengan kerja-kerja. Suatu ketika Tristan di pangil Bos.
“Sudah berapa lama kamu kerja di kantor ini," tanya Pak Bos dengan tegas.
“Kira-kira mau masuk
tahun ke enam Pak,” jawab Tristan dengan lembut penuh kesopanan.
“Oh sudah enam tahun
ya. Kamu kerjanya bagus dan rajin lagi dan tidak pernah buat masalah. Kalau
begitu kamu pantes untuk jadi pimpinan,”
kata Pak Bos.
Tristan terkejut dan
memastikanya omomgan Pak Bos.
“Bener itu pak,” tanya
Tristan.
“Ya....ya, kamu akan
diangkat jadi pimpinan di cabang perusahan,” jawab Pak Bos.
“Terima kasih ya Pak
Bos.”
“Saya berusaha dengan
sekuat tenaga Pak Bos.”
“Bagus-bagus itu
namanya semangat anak muda. Maju terus pantang menyerah. Bapak suka dengan
kamu.”
Setelah perbincangan
yang cukup panjang Tristan bahagia karena ia berhasil meraih mimpinya, tapi sayangnya
kebahagian tidak lengkap. Orang di cintainya kini meningalkannya. Kesedihan itu
terus melanda. Walaupun terkadang beberapa kali Tristan tetap berhubungan
dengan Lasas untuk tetap menjaga silaturahmi dengannya. Akhir-akhir ini Tristan
ke hilangan kontak dengan Laras. Tristan tidak tahu keberadaan Laras sudah
mencari infonya lewat teman-teman kampusnya tetap tidak ada kabarnya. Tristan selalu berpikir
positif tentang cintanya terhadap Laras. Terus maju tidak mau kalah dengan
keadaan. Susah bener mendapatkan kepercayaan itu. dengan menyibukan kerja
Tristan mulai bisa melupakan kenangan tersebut. Waktu terus berlalu hingga
perusahaan yang di percayakan menjadi maju.

0 komentar:
Post a Comment