MENGGAPAI MIMPI

Posted By Cerpen universal on Sunday, May 10, 2015 | May 10, 2015

MENGGAPAI MIMPI

Menjalani kehidupan seperti air mengalir, tapi memang ada terjal-terjal kehidupan memang terus menghadang. Keinginannya ingin berkembang di dunia yang penuh persaingan dibuktikan kerja keras. Tristan anak punya mimpi dan mampu bersaing dengan orang-orang yang punya kompeten dalam bidangnya. Tristan tidak mundur dalam menghadapi semua tantangan di depan mata. Malahan menjadi motivasi untuk maju kedepan. Sampai suatu saat Tristan mendapatkan suatu pilihan. Pekerjaanya sekarang hanya pegawai di suatu perusahaan. Jabatanya pun tidak terlalu tinggi biasa-biasa aja.  Walau begitu Tristan tetap bersyukur kepada Tuhan masih diberikan pekerjaan. Kalau berkaca kepada orang lain Tristan merasa cukup kadang bisa lebih. Lihat orang-orang yang terpuruk karena sebuah alasan gak jelas. Kegagalan yang tak berhujung.

Tristan belajar agar kehidupanya tetap stabil. Terkadang yang membuat Tristan kompleks adalah perasaan. Ingin melakukan hubungan lebih jauh dengan kekasih banyak hal yang harus dipikirkan. Sebenarnya tidak mau menjadi beban, tetapi  hidup pasti bertemu dengan hal ini. Tristan mengerti benar yang diinginkan kekasihnya yang bernama Laras. Meminta kepastian hubungan. Padahal sudah tiga tahun berjalan berpacaran denganya. Tetap Laras tidak mau mengerti.

Tristan sudah berusaha, ia sebenarnya mau jujur dengan keadaan yang sebenarnya. Keadaan yang tidak memungkin. Jika salah bicara, nanti jadi runyam. Laras anaknya gampang merajuk. Kalau seperti itu Tristan segala cara untuk membuatnya mengerti atau paham. Padahal bukan maksudnya membuatnya bete dengan Tristan.

Laras anaknya rada-rada lemot dalam berpikir belum lagi manjanya. Tristan untuk memahami keadaan pasangannya ekstra lebih kerja keras. Padahal tujuan pacaran agar perasaan ini plong karena ada orang bisa memahami Tristan malahan kebalikanya. Rasa tertekan yang muncul. Namanya juga cinta terhadap Laras. Mau gimana Tristan jalani. Hubungan yang penuh dilema ini terkadang mengganggu pekerjaan Tristan yang hanya seorang pegawai yang gajinya pas-pasan saja.

Walaupun begitu Tristan tetap konsekwen dalam keputusanya. Dulu Tristan yang mengejar Laras agar bisa jadi pacarnya. Padahal Laras lagi pede kate dengan  cowok lain. Gak jauh-jauh teman sekampusnya. Hubungan mereka sebenarnya biasa aja. Laras yang selalu tebar pesona dan joko tertarik. Hubungan itu seperti kucing-kucingan. Tidak jelas  junjunganya. Laras betek dibuat keadan yang tidak pasti. Joko kaya iya kaya engak. Kalau ada orang kelihatan mersa kalau ada orang menjauh lebih cenderung meninggalkan Laras dan memilih bermain dengan anak kampus yang lain.

Jengkelnya laras gak ketulungan. Suatu hari pertemuan terjadi antara Laras dan Tristan. Malahan singkat bener. Dua minggu resmi berpacaran dengan Tristan. Baru bertemu beberapa kali, tapi sudah tukeran nomor telepon. Hubungan itu berlajut sampai sekarang. Sedang kan nasib joko kecewa. Joko sadar kesalahannya karena mempermainkan perasaan Laras. Sebenjak itu Joko berubah dan menjalin hubungan denga Purnama  teman karibnya Laras.

Cinta Tristan memang sungguh-sunguh, tetapi kenyataan harus  dibayar dengan pait. Laras memilih putus dengan Tristan. Karena terlalu letih  dengan hubungan seperti ini. Tristan tidak mau memberikan ketegasaan  kalau ditanya. “ kapan melamar adek?.” Kata-kata itu terus menjadi momok  buat Tristan. Sebenarnya mau menikahi Laras, tetapi keadaan Tristan tidak memungkinkan. Akhirnya demi kebaikan berdua. Tristan melepaskan cintanya. Kini Tristan hidup menjomlo hampir setahun. Ia hambiskan waktunya dengan kerja-kerja. Suatu ketika Tristan  di pangil Bos. 

“Sudah berapa lama kamu kerja di kantor ini," tanya Pak Bos dengan tegas.

“Kira-kira mau masuk tahun ke enam Pak,” jawab Tristan dengan lembut penuh kesopanan.

“Oh sudah enam tahun ya. Kamu kerjanya bagus dan rajin lagi dan tidak pernah buat masalah. Kalau begitu kamu pantes untuk jadi pimpinan,”  kata Pak Bos.

Tristan terkejut dan memastikanya omomgan Pak Bos.

“Bener itu pak,” tanya Tristan.

“Ya....ya, kamu akan diangkat jadi pimpinan di cabang perusahan,” jawab Pak Bos.

“Terima kasih ya Pak Bos.”

“Ya...ya, sama-sama. Selamat bekerja  Tristan dan  jangan mengecewakan saya.”

“Saya berusaha dengan sekuat tenaga Pak Bos.”

“Bagus-bagus itu namanya semangat anak muda. Maju terus pantang menyerah. Bapak suka dengan kamu.”

Setelah perbincangan yang cukup panjang Tristan bahagia karena ia berhasil meraih mimpinya, tapi sayangnya kebahagian tidak lengkap. Orang di cintainya kini meningalkannya. Kesedihan itu terus melanda. Walaupun terkadang beberapa kali Tristan tetap berhubungan dengan Lasas untuk tetap menjaga silaturahmi dengannya. Akhir-akhir ini Tristan ke hilangan kontak dengan Laras. Tristan tidak tahu keberadaan Laras sudah mencari infonya lewat teman-teman kampusnya tetap tidak ada kabarnya. Tristan selalu berpikir positif tentang cintanya terhadap Laras. Terus maju tidak mau kalah dengan keadaan. Susah bener mendapatkan kepercayaan itu. dengan menyibukan kerja Tristan mulai bisa melupakan kenangan tersebut. Waktu terus berlalu hingga perusahaan yang di percayakan menjadi maju. 
Blog, Updated at: May 10, 2015

0 komentar:

Post a Comment