PERTEMUAN YANG BERAKHIR TRAGIS
Dimulai dari, ketika itu usiaku baru menginjak 14 tahun. Masih abg abg nya. Langsung saja ke intinya.
Namaku Rhytmawan Claudiany. Aku biasa dipanggil claudia. Tapi, di basket semua memanggilku rhytmawan.
Hp ku bergetar 3 kali. Aku meraihnya dari atas meja. Kulihat, ternyata pengumuman untuk latihan hari ini.
“Hari ini latihan di sekolah jam 3. Harap datang sebelum jam 3!” Basket lagi? Maklumlah, latihan sering diperketat. Karena sudah mendekati event. Kulirik jam tangan yang melilit tanganku, sudah jam 2 ternyata. Langsung saja, aku ganti baju. Kumasukkan sepatu basket dan botol minumku ke dalam tas. Aku menyambar kunci motor yang ada di atas meja.
“Ma! Aku berangkat sendiri!” Aku setengah berteriak karena mama sedang memasak di dapur.
“Ya! Hati hati di jalan!” Jawab mama.
Sesampainya di sekolah, aku memarkir sepeda motorku. Sialan, kemana yang lainnya?
“Lu semua kemana? Gua udah ada di sekolah. Dan gua sendirian,” Kukirim pesan itu ke grup. Sesaat, ada yang membalas.
“Heh, gua gak dianggap orang nih?”
Aku menoleh. Ternyata ada hizkia di sana. Aku menghampirinya.
“Lu dari tadi di sini?” Tanyaku.
“Barusan. Gua datang, lu datang.” Jawabnya. Aku tak berkata apa apa. Hanya berlalu dan menunggu temanku yang lain datang.
Tak berapa lama, Dhea datang membawa bola basket di tangannya.
“Dhe! Bolanya!” Aku melambaikan tangan, mengisyaratkan agar dhea memberikan bola basketnya.
“Eh, mana yang lain?” Tanya dhea. Aku hanya mengendikkan bahuku. Lalu, mecoba lay up kiri. Memang, lay up kiriku belum bisa dibilang sempurna. Langkahnya sudah benar, cara menetapkan bolanya yang selalu saja salah.
“Slam, Rhyt!” Teriak dhea. Hah? Aku menoleh. BRUAKH!!! Sial, aku menubruk tiang basket ini.
“E-eh, rhyt! Lu nggak papa?!” Dhea menghampiriku. Sakit.
“Nggak papa. Cuman lecet dikit,” jawabku.
Tak berapa lama, Anan dan Anta, si kembar yang salah satu dari mereka adalah kapten basket. Ananda Dimas Ramadhan dan Ananta Prahadi Ramadhan.
“Mana coach ahmad?” Tanya Anan.
“Belum datang. Tadi ngomongnya agak telat,” Jawabku.
Aku mengecek hp ku. Hmm? Berapa kali Mahar mengirimiku pesan? Oh ya, Mahar adalah pdkt an ku.
“Aku masih latihan. Nanti saja chat nya,” Balasku. Baru saja kutaruh, Mahar sudah membalas lagi.
“Dari kemarin alasan latihan mulu! Kapan kamu luangin waktu buat aku?”
Heh? Mahar ngambek. Gawat ini.
“Bukan gitu, aku memang sedang latihan hari ini. Aku masih menunggu coach ahmad datang,” Send.
“Jangan bohong deh!”
Ah, mahar benar benar marah! “Kumohon jangan marah padaku! Aku bersumpah, aku benar benar latihan hari ini,”
Chatku hanya di Read olehnya. Terserahlah, buat apa gua ngurusin elu. Gumamku.
Coach ahmad datang. Latihan pun langsung kami mulai.
Latihan kami sudahi pada jam 5.45 petang.
“Baik, kita sudahi latihan hari ini,” ujar coach ahmad. Semua pun pulang. Aku mencoba chat mahar berkali kali. Namun hasilnya nihil, hanya dibaca saja oleh mahar.
“Kamu ngilang selama berjam jam, segitu marahnya sama aku?” Tanyaku. Lagi lagi hanya diread.
“Rhyt, lu kenapa? Galau?” Tanya dhea. Aku menahan air mata yang hendak menetes.
“Eng-enggak kok.” Aku berlalu dengan motorku. Dhea hanya menggelengkan kepalanya. Tak biasanya aku bersikap seperti ini padanya.
Aku mati matian menahan air mataku agar tidak jatuh. Sial, kurasa percuma saja.
Sore ini, hujan mengguyur tanah pertiwi. Walaupun hanya rintik rintik, aku tetap nekat pulang. Aku menangis di derasnya hujan. Tak peduli jika aku akan menanggung sakit. Di jalan, aku berpapasan dengan hizkia.
“Heh! Lu kenapa?! Kok kayaknya nangis gitu?!” Tanda hizkia setengah berteriak. Aku menoleh, berusaha tidak menunjukkan kesedihanku.
“Gua enggak nangis!” Jawabku. Aku memacu motorku sekencang mungkin. Berusaha menghindari pertanyaannya. Langsung saja aku berbelok ke rumah.
“Ah, kemana dia tadi?” Hizkia celingak celinguk mencariku. Aku melesat hilang di antara gang gang sempit ini.
“Ah, sudahlah. Gua tanyain besok ajalah.” Motor hizkia melaju. Pergi menjauh meninggalkanku. Aku muncul dari balik rumah kosong.
“Huft, hampir aja. Hiz, lu nggak perlu tau apa yang gua alamin. Kalo lu tau pun, lu gak bakalan ngerti apa yang gua maksud,” Aku berlalu. Pulang ke rumah
“Rhytmawan! Kamu kehujanan kenapa maksa pulang?” tanya mama. Aku hanya diam dan segera mandi. Aku masih tak mengerti dengan mahar.
“Mahar! Jawab pertanyaanku! Kenapa kamu segitu marahnya sama aku?” Send. Mahar hanya membacanya.
“Lebih baik jika aku diam,”
“Apa maksud kamu?” Send, gagal mengirimkan. Mahar, dia benar benar marah padaku. Tiba tiba, seseorang mengirimiku pesan. Setelah kulihat, ternyata hizkia.
“Lo tadi nangis, rhyt?” Tanyanya.
“Enggak,” jawabku singkat.
“Jujur sama gue. Siapa tau, gue bisa bantuin elu,”. Aku terdiam. Haruskah aku curhat padanya? Hizkia lelaki yang baik. Dia mengerti semua masalahku.
“Ngomong langsung ajalah. gak enak kalo di chat,” Balasku. Kuletakkan hp diatas meja belajar. Aku membanting tubuhku yang hampir remuk ini kekasur. Lagi lagi, aku menangis.
TOK… TOK… TOK…
Seseorang mengetuk pintu kamarku.
“Nggak dikunci,” jawabku.
“Rhyt?” Ah, ternyata hizkia.
“Eh, elu. Ada apaan kok mampir?” Tanyaku. Aku berusaha memasang wajah cuek.
“Lha, tadi suruh mampir. Giliran udah mampir, ditanyain,” gerutu hizkia. Aku tertawa renyah.
“Enggak ada apa apa kok, hiz.” Ujarku.
“Alah, elu tadi nangis kan pas pulang latihan?” Tanya hizkia. Aku terdiam seribu bahasa. Tak bisa menjawab pertanyaannya.
“Rhyt, masa pertanyaan mudah kek gitu lo gak bisa jawab?” Ulangnya. Air mataku menggenang. Mulai membanjiri pipiku.
“Rhyt, mending lo cerita deh sama gue,” hizkia menepuk pundakku.
Aku pun menceritakan semua yang menimpaku.
“Hah, emang jahat bener tuh si mahar. Masa dia berani nyakitin cewe baik kaya elo?”. Aku masih terisak.
“Udah, jangan dipikirin lagi si mahar. Mending lo sama gua aja. yang lebih serius,” hizkia mengusap air mataku. Aku kaget dengan ucapannya.
“Maksud lo?” Tanyaku. Kulihat, hizkia gugup.
“Gua suka sama elu sejak lu pdkt sama mahar. Lo mau nggak jadi pacar gua?” Tanya hizkia. Aku benar benar diam. Mulutku dibungkam olehnya. Aku tak menjawab, hanya kuanggukkan kepalaku. Hizkia tersenyum.
“Makasih,”
Malam itu, pukul 19.25, kami resmi jadian. Lada tanggal 9 september 2015.
Hari itu, tepat anniversary kami yang kedua bulan. Hari itu pula, aku harus merasakan pedihnya hatiku.
“Apaan, hiz? Kamu mau bilang apa?” tanyaku.
“Kita putus saja ya?” Tanya hizkia. Keterkejutan menguasai diriku.
“Tapi… Kenapa?” Yang aku. Air mataku mulai menggenang.
“Ya… Aku merasa tidak cocok lagi denganmu. Maaf,” jawabnya. Aku tak menjawab. Dengan air mata yang terus mengalir, aku pergi meninggalkannya.
“Rhyt! Rhytmawan!” Hizkia memanggil namaku berkali kali. Namun, rasa sakit ini sudah tak bisa kutahan. Dadaku serasa dipukul hingga sesak.
Aku berhenti di depan rumah kosong. Merenungi apa ada yang salah denganku.
“Lo yang bikin gua kayak gini, hiz. Dan lo harus manggung semuanya!” Aku berdiri. Mengusap air mataku. Aku mencari pisau lipat yang selalu kubawa kemana mana.
Aku berbalik, mencari hizkia. Dia di sana. Duduk mesra dengan seorang gadis. Kupicingkan mataku. Dhea?! Dia mengkhianatiku! Sahabat yang selama ini mendukung percintaanku dengan hizkia, ternyata diam diam menyelingkuhi hizkia?! Ini tak bisa kubiarkan! Aku melemparkan pisau lipatku. Jleb! Pisau itu menancap di kepala belakang dhea. Dhea langsung tewas seketika. Melihat hal ini, hizkia berusaha membangunkan dhea. Aku mengambil pisau lipatku yang lain. Jleb! Kutancapkan di leher belakang hizkia. Lalu, menariknya lagi. Darah segar mengalir deras.
“K-kau? Psikopat,” hizkia menunjukku. Sementara aku, tersenyum dengan sangat lebar.
“Ini balasan karena kau menyakiti hatiku. Siapapun yang berani menyakiti hatiku, akan kubunuh!” aku tertawa dengan sangat puas. Lalu, kutancapkan pisau itu ke perutku. Kutarik lagi dan menyayat pembuluh nadiku.
9 JANUARI 2016
“Telah ditemukan mayat 3 orang remaja. Diduga, dua diantaranya dibunuh. Dan satu nya bunuh diri. Ketiga remaja ini ditemukan oleh warga setempat di taman kota. Itulah lipitan kami sore ini. Saya diana hastiti, terima kasih”
Seseorang yang benar benar sudah tersakiti, bisa bertindak apa saja. Selayaknya psikopat. Karena itulah, jangan sesekali memainkan hati seorang gadis. Terutama para lelaki. Lelaki yang menyakiti hati gadis, tak pantas disebut lelaki. Karena perilakunya yang sangatlah memalukan dan tidak patut ditiru
END


0 komentar:
Post a Comment