BAGAI HUJAN
Na melongo menatap surat kusam berwarna kecoklatan ditangannya. Rasa yang tertinggal, dulu. Menyeruak begitu saja tanpa pintanya. Sosok itu. Kenangan itu. Membuka segel yang telah ia kunci rapat-rapat, tanpa berharap kan terbuka. Tangis kali ini tak meluncur seperti dulu. Hanya saja rasa sesak menerkam hatinya jauh lebih kuat.
Mas, bagaimana bisa kau datang?. Bukan menjumpa? Hanya saja membuatku terluka.
Mas, cintaku diamku masih sama. Salah siapakah? Aku? Atau kenangan kita dulu?.
Bagai hujan, ucap mas membuatku mengeriyit. Suasana sepi buyar akan perkataan mas tiba-tiba.
“Na suka hujan?”
Pertanyaannya membuatku terkikik. Pertanyaan retoris, tentu saja kan kujawab dengan anggukan kepala. Senyumku menyungging. Melihatkan gigi kecilku yang berderet rapi. Ah! Masih kuingat jelas pujian mas tentang gigi-gigiku. Mas selalu tertawa kala gigi kelinci menonjol keluar ketika tawaku pecah. Manis kata mas. Apakah mas tau? Pujian itu membuatku terjaga semalaman, suara mas memenuhi telingaku. Aku bagai orang mabuk cinta. Mama saat itu sampai tak bisa tertidur karena memikirkan tingkah anehku. Mas, jangan puji aku lagi.
“Mas tak suka hujan. Hujan membuat mas sakit” tawanya.
“Loh kok? Mas main hujan-hujanan?” tanyaku, mas mengusap puncak kepalaku yang terselimut kerudung gemas. Mas tersenyum seakan hendak menertawakan kepolosanku namun tertahan. Air bening mengucur di sela matanya yang sipit. Mas memang berwaris darah chinese, ayahnya keturunan tionghoa, sedangkan ibu mas orang jawa asli. Mas memiliki wajah seperti orang cina, hanya saja kulitnya berwarna tan. Mas primadona kampung. Wajahnya rupawan. Badannya tinggi kekar. Matanya menyipit kala senyuman terpatri di wajahnya. Mas orang yang santun, ia cukup pintar terhadap ilmu agama. Mas suka sekali dengan ilmu fiqih. Mas, entah apa kekuranganmu. Kau juga rajin dalam aktivitas balai di kampung. Pendidikanmu tinggi, walaupun kini kau masih pengangguran. Mas, aku jatuh hati pada mas.
“Mas nangis?” tunjukku pada air yang menggenang di pipi mas. Mas mengusap air matanya cepat. Menatapku dengan senyuman mas seperti biasa. Mas, mas pintar menyembunyikan perasaan mas dariku. Berulang kali kukatakan untuk berbagi beban denganku. Pundakku selalu tersedia untuk mas. Aku siap terjaga untuk mas kapanpun. Mas hanya menanggapinya dengan senyuman dan elusan kepala seperti biasa. Mas, berbagilah denganku.
“Hujan menghujam tubuh mas sampai esok lalu esok dan kemudian esok lagi”
Mas? Apakah hujan yang dimaksud mas dalam kata lain?. Mas selalu bermain kata denganku. Tau kah mas, aku bodoh dalam bermain kata, mengartikan apa yang kau maksud terlalu sukar bagiku?. Aku mungkin terlalu muda untuk mengerti tentangmu mas. Seperti yang selalu kau ujarkan dulu.
“Mas. Hujan tak akan terus mengguyur kala musim kemarau datang. Bersabarlah mas..” ujarku mengusap punggung mas pelan.
“Na sudah dewasa sekarang”
Mas asal kau tau. Aku lebih suka disamakan dengan usiamu. Perbedaan usia kita membuat jarak semakin terbentang. Tembok seakan kokoh membatasi kita.
Mas sering sekali aku bercengkrama dengan mama. Mulai dari perbincangan basa basi, hingga puncaknya lagi lagi aku menyinggung sosok mas. Memuji muji mas di hadapan mama. Mama seakan hafal dengan tingkahku, pada perbincangan terakhir, aku meminta mama untuk melamar mas untukku. Mama berdacak, kadang tingkahku melebihi kesewajaran. Na, Galang tak pantas bersanding denganmu, tak penting ia pintar dan berpendidikan tinggi usiamu terpaut jauh darinya. Semuanya seakan berakhir, kala usia selalu mama jadikan penghalang diantara aku dan mas. Usia mas menginjak kepala 3 tahun tahun depan, sementara aku tahun ini menginjak usia 18 tahun. Usia kita terpaut 11 tahun, tapi bagiku mas masih sangat muda, wajah mas mengimbangi pautan umurku yang masih remaja. Mas entah apa yang harus kulakukan?
Mas suka sekali menggunakan kaus putih oblong dan celana bahan hitam 3/4. Penampilan mas yang hampir sama setiap hari tetap saja membuatku jatuh hati pada mas. “Berapa banyak kaos putih oblong di lemari mas?” tanyaku sembari menahan tawa. “Sangat banyak” kata mas membuat tawa kami meledak. Mas orang yang tak mudah marah. Sering ibu-ibu bergosip tentang mas yang masih saja lajang sementara adik-adiknya yang lain telah berumah tangga. Tetap saja, senyuman mas selalu menjadi jawaban disela-sela pertanyaan apapun yang dilontarkan pada mas. Mas selentingan tentang kedekatan kita kini sering terdengar. Mereka bergosip tentangmu yang menyukai gadis kecil sepertiku. Katanya kau tak tau malu. Mas aku marah, tapi karenamu aku diam tak bisa melawan. Diammu yang tulus tuk tak membalas perkataan jelek dari orang lain. Membuatku ikut bungkam.
“Na mas masih pengangguran. Pendidikan tinggi belum cukup untuk mendapatkan pekerjaan yang setimpal. Pintar pun seakan kalah dengan uang sogokan zaman sekarang” kata mas pagi-pagi buta mengetuk jendela kamarku.
Aku malu, penampilanku masih acak acakan di hadapan mas. Sementara mas sangat rapi dengan sisiran rambut ke belangkang, padahal jam menunjukan pukul 03.55 pagi. Baru kali ini mas datang menemuiku terburu-buru. Mengadu padaku. Ada rasa bahagia kala mas kali ini tak bermain kata denganku.
“Apakah tak masalah Na?” sambung mas. Apa maksud pertanyaan mas. Apakah mas akan melamarku?. Fantasiku terbang jauh. Kita tidak terikat. Bagiku cintaku kamu, cintamu aku kah mas?. Pertanyaanmu seakan memberiku kesempatan. Menerbangkan bunga-bunga di dalam perutku, menggelitik. Aku terlalu senang hingga lupa tuk membalas pertanyaanmu mas.
“Tak masalah mas. Uang memang kebahagiaan pokok, tapi bukan kebahagiaan akhirat. Asalkan kamu selalu dekat dengan yang di atas itu tak akan menjadi masalah mas” jawabku malu-malu.
“Aku akan melamar Siti Na. Aku telah jatuh hati padanya semenjak kami bertemu di balai beberapa tahun yang lalu” ujar mas membuat kesenanganku pudar begitu saja.
Mas, terlalu banyak berharapkah aku terhadapmu?. Terlalu jatuh hatikah hingga rasanya teramat sakit?. Mas, kau tak pernah mengerti tentang perasaanku. Ataukah sama sekali tak peduli. Mas, candamu tak lucu kali ini.
“Na aku jatuh hati pada Siti” jelas mas malu.
Tangisku pecah, tak kujumpai canda di wajah mas kali ini. Mas, apakah kali ini saatnya aku terluka?.
“Aku menyukai mas. Aku jatuh hati pada mas” tangisku.
“Na mas hanya menganggapmu sebagai adik, teman dan sahabat. Na usia kita jauh, kau tak pantas untuk mas”
“Lalu bagaimana dengan cintaku mas?” tangisku tak tertahan.
“Bagai hujan. Aku terkena hujan mas, esok, dan kemudian esok ketika aku melihatmu bersanding dengan Siti esok akan terus hujan. Mas aku tak suka hujan sepeti yang kau katakan dulu”
Kau terlihat gagah mas dengan setelan jas putih itu. Siti pun sangat cantik, tinggi Siti yang hanya terpaut beberapa senti denganmu membuat kalian terlihat cocok. Berbanding denganku mas, tinggiku hanya setinggi ketiakmu. Mas aku hanya ingin melihatmu bahagia, biarkan aku yang terluka. Mas, waktu akan bergulir. Waktu tak akan mengasihani orang yang terluka. Baginya duka dan suka, hanya kata yang sekedar titik kecil tak berarti. Mas, aku akan melupakanmu. Melupakan kenangan tentang kita. Biarkan kenangan tentang hujan yang kita lewati. Aku akan melupakan semua tentang permainan katamu Mas. Aku pergi, aku menghindar. Mas, aku telah memutuskan untuk pergi melanjutkan sekolah di luar kota. Mama yang mengusulkan, aku menyetujuinya, alasannya tentu untuk melupakanmu mas. Pecundang memang.
Na melongo menatap surat kusam berwarna kecoklatan di tangannya. Rasa yang tertinggal, dulu. Menyeruak begitu saja tanpa pintanya. Sosok itu. Kenangan itu. Membuka segel yang telah ia kunci rapat-rapat, tanpa berharap kan terbuka. Tangis kali ini tak meluncur seperti dulu. Hanya saja rasa sesak menerkam hatinya jauh lebih kuat.
Mas, bagaimana bisa kau datang?. Bukan menjumpa? Hanya saja membuatku terluka.
Mas, cintaku diamku masih sama. Salah siapakah? Aku? Atau kenangan kita dulu?.
Surat kusam yang aku buat untuk mas, sekedar ucapan salam perpisahan, sayang mentalku terlalu ciut. Aku tak berani menyerahkan suratku pada mas, cukup yang kutahu mas bahagia bersama Siti. Siti memang wanita yang cocok untuk menjadi istrimu mas. Wanita soleha, yang cantik. Wanita pintar yang mampu menyamai kepintaranmu mas. Entah seberapa lama waktu membuatku lupa tentangmu mas. Kenangan kita terlalu banyak. Mas salah apa aku kali ini?. Sakit yang dulu telah kupendam, takdir membawamu kembali. Mas melihatmu dari tirai kamarku bercengkrama dengan Siti, menoreh luka kembali dalam hatiku. Apalagi melihat pria kecil yang kini duduk dalam dekapanmu. Waktu tak membiarkanku lupa akanmu. Takdir yang membawamu sebagai tetanggaku kembali. Hanya saja statusmu telah berubah menjadi seorang ayah. Mas, apa aku harus lari?. Lagi.


0 komentar:
Post a Comment