DILEMA
Kukuruyuk…
Suara ayam berkokok mulai terdengar, matahari pun sudah mulai terbit, aku mulai bergegas menuju ke kamar mandi. Hari ini adalah hari pertamaku sekolah setelah libur kenaikan kelas dua minggu yang lalu. Aku dan sahabatku mencari kelas kami masing-masing, ternyata aku masuk ke kelas IX. 5 sedangkan sahabat ku Lala masuk kekelas IX. 4 dan Namira masuk kekelas IX. 1.
Kami sudah bersahabat sejak lama namira satu kelas dengan fakhri, fakhri salah satu teman dekat ku, aku menyukainya dan semua orang banyak mengira bahwa dia juga menyukaiku. Namira selalu menjodoh-jodohkanku dengan fakhri.
“Sembilan lima, sembilan lima” teriak kami saat kelas kami bertanding futsal.
“Sembilan satuuuuuu” teriak suara lawan kami
Aku dan teman-teman sekelasku berdiri di pinggir lapangan sebagai suporter kelas kami. Fakhri tidak sengaja menendang bola ke aarahku, saat ia mendekat untuk mengambil bola ia tersenyum kepadaku dan aku pun membalas dengan senyuman.
“Eh saling senyum-senyuman cie” ucap namira, “eh kamu nam tiba-tiba ada di sini”, “aku males di rombongan kelasku, aku di sini aja ya”, aku tersenyum sambil mengangguk
Golllll… yes, sahut kelas IX. 5, score nilai kedua tim seri, tendangan pinalti dan kelas IX. 1 menang. “Cie yang menang” kata namira kepada fakhri, “iya lah ada penyemangat”, “siapa dhetak ya?”, “apaan si lu nam” sahutku dengan malu.
Tik.. tik.. tik.. hujan pun mulai turun “Nam mana dhetak?” Ucap lala, “tu lagi menikmati hujan”
Aku memang sangat menyukai hujan, saat hujan turun aku merasa kebahagiaanku datang, hujan adalah salah satu nikmat yang allah berikan untuk umat manusia, tanpa hujan aku tidak tahu bagaimana tanaman-tanaman akan tumbuh subur.
Tiba-tiba ada suara yang berbicara kepadaku
“Kamu suka hujan?”, “kenapa kamu bisa suka hujan?”, ternyata itu fakhri aku hanya terdiam, “eh jawab!”, “emang kalau kita suka sama sesuatu harus ada alasan ya ri?” Ucapku, “nggak juga sih” sahut fakhri.
Tidak lama kemudian hujan mulai reda aku, namira, dan lala pun keluar gerbang, fakhri dan teman-temannya mengendarai motor dan berpamitan pulang duluan kepadaku.
Keesokan harinya namira dan aku ingin pergi jalan-jalan kebetulan lala tidak ikut karena ada kegiatan pramuka di sekolah. Tidak lama menunggu ternyata namira datang dan aku terkejut ketika ada seorang lelaki di belakang namira ternyata itu fakhri aku bingung kenapa ada fakhri di sini. “Kok bisa sama fakhri nam?”, “hmm, aku yang ajak dia gak papa kan” jawab namira dengan gugup. Aku hanya terdiam sambil berfikir aneh semenjak kapan mereka dekat.
“Tak ke kantin yuk?” Ucap lala, “yuk” sahutku. Fakhri dan teman-temannya juga ada di kantin, mereka mendekati kami, saat kami sedang berbincang-bincang entah mengapa aku merasa aneh, akhir-akhir ini sikap fakhri sudah berubah dulu selalu care sama aku, apa-apa yang pasti sama aku tapi kenapa sekarang udah beda.
“Tak gila tu sahabat kamu masak dia sering banget jalan sama fakhri padahalkan yang suka sama fakhri kamu” ucap clara dengan lantang, “jangan nyebar gosip” ucapku denga kesal, “tak ini fakta bukan cuma aku kok yang ngeliat banyak, please percaya sama aku”, aku hanya terdiam mendengar perkataan clara, kenapa ini semakin aneh, gak mungkin sahabatku sendiri juga suka sama orang yang aku sayang karena yang dari dulu menguduk aku itu dia kenapa bisa sejahat ini.
“Tak bener yang dibilang clara tadi sama kamu emang fakhri sering jalan sama namira” ucap lala dengan gugup, “kenapa baru sekarang kamu bilang kayak gini? kenapa gak dari dulu?”. Lala hanya terdiam sambil menunduk.
Aku pun pergi dan menangis, aku bertanya-tanya dalam hati ku kenapa bisa seperti ini? kenapa dia sejahat itu? dia sahabatku? dia yang ngedukung aku kenapa sekarang malah dia yang nikung aku? kenapa?? hujan pun turun dan aku berdiri di bawah hujan sambil menangis, saat ini awan sedang menangis sama seperti hatiku, kenapa aku bisa sesayang ini sama fakhri.
“Tak maaf kalo sekarang aku dekat sama fakhri, aku nggak tau kenapa perasaan ini bisa muncul” ucap namira dengan sedih, “maaf? kok kamu bisa sejahat itu sama aku? aku sahabat kamu!”, namira hanya terdiam. Aku pun pergi aku bingung kenapa semuanya bakal serumit ini, namira bisa sejahat itu sama aku dan fakhri yang dulu selalu ngeyakini aku kalau aku bisa terbang setinggi langit dengan sayap yang dia berikan ternyata dia juga yang matahin sayap itu dan buat aku terhempas ke tanah, aku benci mereka.
Sekarang hari-hariku selalu dipenuhi kata maaf dari mereka berdua tapi aku belum bisa menerima keadaan ini aku belum bisa nerima sikap mereka ke aku, “tak sebaiknya kamu selesain masalah kamu sama mereka jangan diem kayak gini, lari dari masalah gak bakal bikin masalah itu selesai” ucap lala, aku pun berfikir kenapa aku seegois ini? iya namira sahabatku dan dia bahagia sama fakhri orang yang aku sayangi, begitu juga fakhri dia lebih nyaman sama namira dari pada sama aku, aku gak boleh kayak gini, aku gak boleh menghalangi kebahagiaan mereka.
“Tak aku minta maaf sama kamu soal kejadian kemarin aku emang gak punya hati, padahal aku tau kalau kamu suka sama fakhri tapi sekarang aku malah ngerebut fakhri dari kamu sampai persahabatan kita sekarang hancur, tapi jujur aku sayang banget sama fakhri maafin aku tak” ucap namira dengan sedih, “iya nam aku maafin kamu, maafin aku juga ya karna aku terlalu mikirin ego aku”, “nggak kamu gak salah kok”, “kita sahabat persahabatan kita gak boleh hancur cuma gara-gara satu cowok, kita gak boleh saling tikung inget janji persahabatan kita dulu”, aku dan namira pun tersenyum kemudian lala memeluk kami dari belakang, dan sekarang kami bersahabat seperti dulu lagi walaupun gak sedekat dulu.


0 komentar:
Post a Comment