TERIMA KASIH "TIDAK SUKA"

Posted By Cerpen universal on Tuesday, September 8, 2020 | September 08, 2020

TERIMA KASIH “TIDAK SUKA”

Diguyur hujan hingga kebas tak bersisa. Tetes demi tetes guyuran hujan mengiring airmata jatuh mengalir deras di pipiku. Aku berlari di jalan sepi itu, hanya ditemani titik deras hujan di kota itu. Aku seperti membawa darahku sendiri, sesak benar dadaku ini. Aku masih menganga tak percaya, oh langit, bagaimana? tanyaku.


Di lembar ini, masih kosong. Aku tersenyum melayangkan pandanganku kalau-kalau lembar ini akan diukir oleh sebuah tinta merah mengayun dengan indahnya dan gemulainya. Aku tertunduk malu menahan senyumku, padahal di sekelilingku hanya keheningan yang tersisa setelah seantero orang menutup mata berlari ke mimpi.

Alunan lagu SNH48 berjudul “Star Wish” mendadak mengalun di kepalaku, sebuah koin yang dilempar, melayangkan impian, disana aku berdoa dengan tersenyum “Oh, Suka, bawalah aku meraih tinta merah itu.” dan jatuhnya koin itu, tidak serta merta jatuh, ia berputar-putar, menari-nari seperti tubuh kecil ini menari bahagia menantikan impian itu menjawab doaku. Masih berputar.


Almanak 23 September berteriak di pagi buta, masih pukul 04:30. Aku terkejut dengan mata setengah melekat. Betapa cepatnya dan kerasnya ia berteriak memekakkan telingaku. Aku berlari menembus embun pagi dan kabut. Tuhan mungkin tertawa disana. “Ah, anak-Ku. Mengapakah dikau demikian riuhnya menghias kepalamu dengan berbagai ekspektasi?” Aku tahu, Ia setengah bertanya juga setengah menyembunyikan jawabNya di balik koin berputar itu. Ya, koin Star Wish.

Di cafe itu, aku duduk termenung diantara bangku-bangku kosong. Sambil menunggu Sang Surya terbit menyambut, aku sudah lebih dulu menunggunya. Sesekali menengok ke arah jarum jam, mengapa terasa begitu lama, padahal Suka, Suka, dan Suka, sudah begitu riuh membising di kepalaku.

“Ini pesanan Anda.”

Terkejut aku mendengar suara pelayan yang sontak mengacaukan bayangku. Bayangku tentang suka nan berlari dan menari hendak mengajakku menebak.

“Oh iya, terimakasih.”

Asap kehangatan kuah mengepul merasuk sukmaku. Aku benar-benar tak pernah sebergairah ini menghirup kepulan asap.

“Ah, Suka… Jika makanan ini saja mampu mengepulkan asap kehangatan yang luar biasa menembus dada, terlebih kau.” tiba-tiba aku berujar demikian. Si Pelayan pun memalingkan pandangannya padaku.

“Excusez-moi?” (*)

“Duibuqi, meiyou aa.” (**)

Ia tersenyum mengubur keheranannya. Aku seperti diawasi sepasang makhluk-makhluk halus yang membuatku tak dapat berlama-lama duduk disana.

Kabut telah menipis, embun telah menepis bersama fajar yang menyingsing, aku meninggalkan cafe itu.

“Baju, sudah. Penghias kepala yang lucu dan cantik, juga sudah. Hmm… Aku akan menjadi peri mawar untuk Sukaku! Kinou yori, motto suki (***), la la la la!”

Benar saja, sekejap banyak pasang mata memuji penampilanku dengan hiasan mawar merah muda di kepalaku bersamaan dengan kemeja merah muda yang ibuku kirim semalam dari kota aku berasal. Namun, semua pujian itu tidak cukup jika Suka ku saja tidak sudi menengoknya. Aku hanya membisik dalam hatiku “Hai, Suka! Tengoklah aku!”

Namun, seperti yang sudah-sudah, ketika hampir sepasang mata kita saling memandang, saat itu juga entah langit, entah tanah, entah angin, terlebih dahulu memanggil nama kita dan membuat kita tak saling memandang apalagi bertegur sapa. Kita seperti tebak-tebakan perasaan. Selalu benakku bertanya jika aku melihatmu dari jauh “dimanakah matamu tertuju?”


Kertas ini masih kugenggam, masih putih bersih, bahkan hingga aku telah berada di dimensi lain pun, tetap masih kosong.

“Ah, dimana pena merah itu?” gemasku. Pena merah, aku memang melihatnya berjalan kesana kemari, tapi jika kukejar, aku malah lari menjauh ketakutan, terpelanting, dan bersembunyi. Betapa konyolnya aku ini. Lagi-lagi Tuhan mungkin menertawakanku disana.

“Hyang Widhi (****) mengapa kertas ini masih kosong?” kesalku sembari duduk termenung menikmati sore di dalam sunyi dan sendu. Aku mengurung diri, seolah menyerah, kertas ini akan tetap kosong sampai esok petak umpet ini berakhir. Aku menundukkan kepala, menenggelamkan segala harapku bersamaan matahari yang hendak tenggelam. Keriuhan di luar sana memaksaku keluar dari kurungan itu. Tiba-tiba, Suka itu… Berdiri di hadapanku. Hanya tersenyum lantas pergi. Aku hanya membalas senyumnya dan menganga tak percaya. 

“Suki da yo!” sorakku didalam tenda, bukan lagi terasa bak kurungan. Ini melebihi rasanya kubangan air susu dan bebek-bebek mungil yang berenang diatasnya. Kini lembar itu telah mengukir dengan lentik bertuliskan “Senyuman”. Aku meremas kertas itu karena menahan bahagia yang merekah setelah nyaris layu ditelan senja. Aku semakin yakin, harapan ini akan tumbuh, mekar, membuahkan bahagia yang lebih dari sekedar “Senyuman.”


Kubawa dalam tidur kertas itu. Baru satu, “Senyuman.” Aku membuka tendaku dan lagi, ia muncul di hadapanku dengan suara sirene yang hendak membangunkan mereka yang masih berlari-larian dalam mimpinya.

“Tidak, tidak kubiarkan tinta ini berlalu tanpa menggoreskan sesuatu di kertas ini. Sukaaaaaaaa!!!”

Ia menengok ke arahku, aku telah memanggilnya.

“Bolehkah aku mandi?”

“Boleh.”

Sangat sedikit goresan, aku tidak terlalu puas dengan itu. Nomor dua, “Sekejap.” Namun demikian, Tuhan paling tidak telah membantuku tersenyum mengawali hariku. Merekah pagi itu, merekah pula harapku. Semakin gemas kugenggam kertas ini, kulayangkan pada langit.

“Hai, Suka! Kau akan memenuhinya dengan goresan bahagia! Ya Tuhan, kumohon….”

Aku bergegas menyelinap di bilik demi bilik labirin yang rasanya makin sulit saja ku kejar tinta merah itu. Malah kerap keliru bertemu tinta-tinta pena yang lain. Hanya satu tinta merah yang kucari. Suka.

Matahari semakin terik saja, baru nomor dua. Padahal, jam saatnya petak umpet ini berakhir tinggal hitungan jari. Lagi-lagi layu harapku. Langit terlihat mendung saat itu, mungkin koin hendak berhenti berputar, Tuhan siap memukulkan palunya di awan-awan pekat itu.

Aku berjalan setengah menyerah, lembar ini sudah lusuh, membisu, tidak berteriak seperti biasanya. Mungkin, dia sendiri sudah menebak jawabnya. Di bawah bayangan pohon aku menghentikan langkahku memandang ke arah angin berhembus, barangkali ia akan menjawab dimana tinta merah itu berada.

“Jess…” aku seketika berpaling terkejut, ternganga sejenak. Lidahku belum bisa menjawab dengan lantang. Ah, beku sudah diriku!

“Kamu kelompok berapa?”

“Am… Kelompok sembilan, Kak.”

Aku berlari menjauh menahan senyumku yang siap meledak dalam hitungan detik. Yah, tiga. “Sapaan”

Layaknya kilauan bintang “Star Wish” menyiratkan kilaunya dan menyulap lembar putih ini kian bersih tak kusam seperti sedia kala. Dan aku, bagai disulap menjadi peri mawar yang sesungguhnya. Bergaunkan mawar merah muda, bermahkotakan mawar merah muda, bersepatu kaca merah muda nan bening, rambut mengombak tertiup angin dengan lembutnya.

“Ayo, keempat! Ukirlah, Suka!” teriakku pada langit dengan lantang dan penuh histeris.


Sudahlah tiba di penghujung acara. Petak umpet akan segera menjawab apa yang akan aku dapatkan dari sekian kali aku berlari, tenggelam, layu, pupus, dan bangkit lagi. Hampir semua seantero labirin ini tersenyum didepan kamera dengan senyumnya seperti menyambut hari perpisahan. Aku juga ingin mengabadikan layu mekarnya ragaku mengejar tinta merah bersama Suka. Dengan langkah kecil dan malu-malu, aku berjalan mendekati Suka.

“Kak, bolehkah aku mengajakmu berfoto? Bersama temanku juga.”

Lantas, terjunlah dari langit rintik demi rintik hujan membasahi kertas putih yang baru mengukir tiga kenangan.

Ia menolak-nolak ajakanku, sekali penolakan masih kutekadi. Namun, rintik yang jatuh di tanah tidak hanya berbunyi “Tik… Tik… Tik” seperti biasa kudengar di atap rumahku. Rintik ini memang hanyalah rintik, namun jatuhnya seperti bilah-bilah pisau mengiris hatiku. Aku semakin mundur melangkah. Terlebih dia semakin menolak walau ada suara yang menekanku tetap di tempat terbujur kaku menahan malu. Namun, tetaplah tolak ialah tolak.

Aku mundur perlahan, menahan malu d idepan sekian pasang mata yang menyaksikannya. Rintik itu kini turun dengan derasnya, aku mundur, membawa lembar kenangan yang kini tinggal serpihan yang basah tiada arti. Aku mundur, aku benar-benar mundur, dan berlari dari pandangannya. Aku memggenggam dadaku, menahan lara yang luar biasa, darah yang terus mengalir deras, ia menikamku bukan saja dengan bilah pisau. Ia mengirisku dengan pedang dan cairan jeruk nipis yang ia sertakan pada lukaku, perih sangat, ya, Tuhan, teriak sukmaku menangis pilu luar biasa.

Mahkota bunga mawar kini rapuh diterjang hujan yang deras dan hebat. Ragaku lemas, lembek sudah kuyup akan air hujan. Aku berjalan, aku telah rela sepenuhnya tubuh ini Engkau layukan. Aku telah salah, sungguh salah! Aku salah, ya, Tuhan. Aku berteriak pada langit namun guruh itu tetaplah mengguruh pada jawab yang sama. Ya, koin telah berhenti berputar, palu telah diketok oleh Yang Kuasa, ini jawabnya. Terakhir, tertulis, nomor empat “Sayonara.”

Dalam hening, menghadap senja seorang diri, aku duduk di antara bangku kosong, bukan lagi untuk menanti dan melayangkan mimpi. Hanya, aku tengah menghadap langit, menitipkan pada Tuhan, bukan kutuk dendam, bukan kekesalan, juga bukan umpatan mulut sampah. Hanya sebuah surat kerelaan sukmaku bernyanyi dalam ratapan. 

“Terimakasih, Tidak Suka. Aku berjanji ini yang terakhir.”

Semarang, 24 September 2017
*) Excusez-moi (Bahasa Perancis) = Permisi
**) Duibuqi, meiyou aa (Bahasa Mandarin) = Maaf, tidak ada apa-apa kok.
***) Kinou Yori Motto Suki (Bahasa Jepang, merupakan judul sekaligus kutipan lirik salah satu lagu AKB48) = Dari Kemarin Banyak yang Suka
****) Hyang Widhi = Sang Tuhan
Blog, Updated at: September 08, 2020

0 komentar:

Post a Comment