GAMOPHOBIA
Tercium bau aroma terapy menyengat masuk ke dalam lubang hidungnya, namun ia terus berjalan mengikuti arahan kekasihnya, kemudian mereka berhenti dan membuka penutup mata yang kekasihnya kenakan pada Silvia, Terlihat ratusan lilin bertaburan di atas rumput dan kolam. hijau, kuning, biru, ungu, dan yang paling mendominasi adalah merah dia bilang itu melambangkan gairah dan semangatnya yang besar pada Silvia kekasihnya
Sebagai seorang wanita ia jelas merasa sangat terkejut dan senang, ia kagum dengan perjuangan kekasihnya selama ini. Dengan gaun merah Yang ia kenakan Silvia memeluk dan menciuminya sesuka hati.
Selesai makan dan berdansa Silvia duduk di pangkuan Robin, mereka lengkapi suasana romantis malam itu dengan ciuman panas yang bergairah.
“Ahaha luar biasa, apa kau bahagia sayang.”
“Ya aku bahagia mendapat kejutan ini sayang.”
“Aku mencintaimu Silvia.”
“Aku tau, aku juga mencintaimu,” jawabnya sembari hendak mencium lagi bibir Robin.
“Tidak, sungguh aku mencintaimu, aku ingin hidup bersamamu,” sambil menghindari ciuman Silvia.
Silvia terdiam.
“Kenapa? Maukah kau menikah denganku.”
Tangan Silvia menjadi dingin, wajahnya terlihat panik, ia sangat gelisah.
“Ada apa Sayang?”
Ia tetap diam terlihat semakin gelisah.
“kenapa? Kenapa? Kenapa harus Menikah?” Tanyanya dalam hati
“Silvia lihat aku!”
“Aku.. aku tak bisa menikah denganmu Robin.”
“Kenapa? Kamu tak mencintaiku?"
“Klise, pertanyaanmu klise Rob.”
“Lantas apa yang harus aku tanyakan lagi,” jawabnya dengan wajah kecewa.
“Maaf, aku tak bisa menikah denganmu.”
“Tapi kenapa?“
“Iya karena aku gak bisa.”
“Alasanya Silvia, alasannya beritahu aku apa alasanmu.”
Ia terdiam.
“Apa memang sejak dulu kamu tak pernah ada hati untukku, semua yang kamu bilang adalah dusta, apakah selama ini kamu hanya memanfaatkanku benar begitu? Jawab Silvia? Jawab!”
“Bukan seperti itu rob, bukan itu yang aku harapkan, bukan ini yang aku inginkan, ah kau merusak gairahku.. Sudahlah aku pergi”
“Silvia berhenti..”
Ia tetap berlalu meninggalkan Robin, dengan isak tangis dan perasaan yang ia tak mengerti.
“Kamu Jahat Silvia, Kamu pembohong!”
“Maafkan aku Rob. Bukan tak mau terikat.. Hanya saja rasanya menyeramkan ketika hidupku harus jatuh dalam ikatan dan hidup bersama orang lain. Aku takut .. Entah kenapa aku takut untuk menikah” gumamnya sambil terus beranjak pergi.
Sebulan berlalu.
“Aku takut hidupku akan terkekang, dikekang, tak bebas.. Aku takut.”
“Gamophobia.”
“Apa?”
“Kamu takut untuk menikah.”
“Ahahahha gila kamu vin.”
“Kamu yang gila diajak menikah gak mau, kurang apa lagi?”
“Aku gak tau Marvin, udah yah aku harus kencan hihii bye.”
“Kebebasan inikah yang kamu impikan?”
“Entah, tapi setidaknya aku tau kenapa aku seperti ini, dengan keadaanku Yang lebih menyukai one night stand.”
“Ya, berhati-hatilah dengan pasangan barumu.”
“Ok.” Ujarnya sembari mencium lembut bibir Marvin sebelum pergi.
“Si.. silvia.”
“Aku lebih sering patah hati karena jatuh hati, aku kira itulah sebabnya aku seperti ini.” Gumamnya dalam hati.
Aku adalah seorang wanita normal seperti yang lain, sering menangis, kecewa, karena cinta, namun ada hal yang aku rahasiakan dari semua orang kecuali Marvin sahabatku, ya aku adalah seorang Gamophobia. Banyak sekali kawan kencanku yang mengajak menikah namun aku menolaknya, dengan berbagai alasan. Terkadang aku sering mengabaikan perasan mereka setelah aku dengan susah payah mendapatkannya, entah kenapa rasanya bosan setelah aku mendapatkan hatinya. Dan ini belum berakhir aku kini merasa sangat takut kadang merasa gelisah ketika umurku kini hendak menginjak 27, berganti pasangan itu yang aku lakukan untuk sedikit meringankan gelisahku. Tulisnya dalam catatan memo.
Namun suatu malam ketika silvia harus menginap di kantor karena lembur, ia melihat menejer tempatnya bekerja keluar masuk dapur, entah apa yang ia kerjakan dan itu menggangu konsentrasi Silvia. Ia pun memutuskan untuk menghampiri Manejer itu
“Lembur pak.”
“iya.”
“…”
“Kenapa masih di kantor, lembur juga?”
“Eh iya pak.”
“Baguslah, malam ini jadi ada teman.”
“Bapak lembur terus ya, sibuk sekali kelihatannya.”
“Ah begitulah.”
“Em.. Ngomong-Ngomong bapak lagi ngapain dari tadi di dapur.”
“Oh ini saya mau buat kopi tapi kayak nya mesinnya rusak.”
“Wah iya pak memang rusak, maaf baru memberitahu, begini saja bapak kembali saja keruangan nanti saya buatkan kopi.”
“Wah bagus, kalo begitu saya tunggu kopinya.”
“Ok.”
Selesai mengantarkan kopi, Silvia kembali lagi fokus pada pekerjaannya. Kemudian setelah malam itu kini ia sering melihat menejernya bergabung dengan pegawai yang lain bercengkrama dan tertawa, tidak ada hal yang aneh saat itu karena itu adalah kebiasaan menejernya namun bedanya kini ia lebih sering berkunjung ke lantai bawah dan tak jarang Silvia memergoki menejernya sedang mentap matanya.
“Tampan juga sih tuh menejer muda.. eh apan sih GR lagi, belum tentu dia suka kan,” gumamnya sembari memukul-mukul kepalanya.
“Kenapa Silvia,” tanya seorang tiba-tiba.
“Eh buset! Eh bapak! Eh maaf..”
“Haha Eh eh kenapa eh,” tanya menejer itu.
“Yah bapak bercanda aja, maaf pak ada apa ya?”
“Tidak, saya mau tanya malam ini kamu lembur?”
Silvia terdiam, bepikir sejenak.
“Tidak pak, memangnya kenapa?”
“Oh sayang sekali, saya kira malam ini kamu lembur,” ujarnya terlihat kecewa.
“Eh sepertinya lembur sih pak, karena masih banyak berkas yang harus segera di selesaikan," jawabnya cepat.
“Benarkah? Bagus, oke kalo begitu selamat lembur Silvia” Ujarnya sebari berlalu dengan wajah sumringah.
“Duh ngapin aku jawab lembur sih, eah padahal kan ada kencan sama fadlan, aduh.. Kenapa sih gue,” omelnya pada diri sendiri.
Dalam ruang gelap ada satu lampu yang masih menyala, terlihat Silvia sedang tidur di atas meja dengan leptop yang masih menyala
Tep
Seseorang menempelkan sebuah kaleng pada pipi Silvia.
“Waduh panas!”
“Hahahah,” ia tertawa dengan mata sipitnya, terlihat damai dan lepas.
“Sialan nih orang,” gerutunya.
“Katanya Lembur tapi malah numpang tidur di kantor.”
“Eh bapak, maaf pak saya ketiduran.”
“Sini,” ajaknya sembari menepuk lantai di sebelahnya.
“Sa.. Saya.”
“Iyalah masa kursi saya suruh duduk.”
Silvia pun duduk di samping Menejer itu.
“Minumlah.”
“Siap, Terimakasih pak.”
“Hahah kamu kenapa harus seformal itu, santai sajalah kita hanya berdua di sini, dan jangan panggil saya bapak saat berdua, dan itu terkesan saya sudah kolot.”
Silvia kaget mendengar apa yang dilontarkan atasannya barusan.
“Malah bengong.”
“Maaf pak eh..”
“Windu, panggil aku Windu.”
“Siap.”
“Ahaha kamu terus saja membuatku ingin tertawa, kamu menyiksaku.”
“Wah bapak menyiksa gimana saya gak ngapa-ngapain juga, nih kalo nyiksa nyubit.”
“Eh berani ya nyubit atasan.”
“Maaf pak saya hanya memperagakan.”
“Tidak bisa diterima, kamu harus saya hukum.”
“Maaf pak maaf.”
“Nah jadi dua hukuman yang harus kamu dapat, pertama berani menyakiti atasan, yang kedua terus memanggil saya dengan sebutan Pak.”
“Maaf duh maaf duh..” Pinta Silvia.
“Sialan nih orang, pasti lagi cari alasan buat mecat gue.”
“Sini.”
Silvia pun bergeser mendekatinya dengan gelisah
Windu langsung menarik tubuh Silvia dan memeluknya,
“Ini adalah hukuman pertamamu.”
“Windu!” Ujar Silvia tak percaya.
“kenapa? kamu marah?”
“Tapi.”
“Aku hanya sedang menghukummu.”
“Tapi hukumanmu membuatku jadi ter*ngsang.”
“Benarkah? Oh ini tidak bagus” Jawab Windu sembari terus mempererat pelukannya.
“Ehh.. Aduh”
“Nikmatilah Silvia pelukanku.”
Silvia terdiam, ia mengangkat wajahnya dan melonggarkan pelukan Windu, sesaat raut wajah Windu langsung berubah kecewa.
“Maaf Windu..” gumam Silvia mendekatkan bibirnya pada Windu sembari mengalungkan kedua tangan pada leher windu, windu menyambutnya dengan suka cita.
“Wanita ini, membuatku semakin tertarik,” gumam Windu
Kejadian itu terus berlanjut hingga pada suatu ketika tiba-tiba sikap windu berubah disaat Silvia hendak membuka dan memantapkan hatinya.
“Ada apa Windu?” tanyanya dalam percakapan malam.
“Maaf Silvia, tapi sepertinya kita harus menghentikan semua ini.”
“Tapi kenapa? Apa aku mengganggumu?”
“Tidak Silvia, tapi kita memang harus mengakhiri ini.”
“Kamu.”
“Maaf tapi aku gak mau kamu menaruh harapan apalagi menaruh hati padaku, aku gak mau menyakitimu lebih lanjut.”
“Setelah semua yang kamu lakukan? Setelah semua yang telah kamu dapatkan, hahhaha sudahlah,” ujarnya dalam hati.
“Baiklah Windu,” jawab Silvia akhirnya.
Ia berusaha tersenyum Saat Windu meninggalkannya
“Kenapa aku seperti ini, aku tau aku akan sakit hati tapi kenapa aku malah menaruh hati pada Laki-laki lagi.”
“Udah sil.”
“Marvin…”
“Kenapa? kamu kecewa lagi sama teman kencanmu.”
Silvia hanya terus menangis dalam pelukan Marvin.
“Berhentilah melakukan semua itu mulai sekarang, aku gak mau kamu kecewa menangis lagi seperti ini, berbahagialah Bersamaku.”
“Mar.. Vin.”
“Aku akan selalu ada untukmu, sebagai apapun yang kamu inginkan aku akan ada untukmu Aku mencintai dan menyayangimu lebih dari siapapun, aku mohon berhentilah memuaskan dirimu pada orang lain, mulai sekarang lakukan padaku bahkan jika kamu ingin membunuh sekalipun lakukanlah padaku karena aku ingin kamu seutuhnya.”


0 komentar:
Post a Comment