AIRA'S CURSE: TERRORS OF SHOES

Posted By Cerpen universal on Tuesday, September 8, 2020 | September 08, 2020

AIRA’S CURSE: TERRORS OF SHOES

“Bayu tewas!”, ucap Pak Doni menyeka air matanya yang mulai menetes di balik kaca matanya. Intan dan Ramon kaget dan tak percaya akan semua kenyataan ini. Lelaki tambun dan doyan makan itu telah tewas terbakar dalam tragedi kebakaran sekolah mereka.

“Pak! Tim pemadam menemukan sejumlah berkas, satu kotak amal yang berisi uang dan ini Pak…”, ucap Pak Juna selaku ketua pimpinan pemadam kebakaran seraya memberikan barang barang yang berhasil ditemukan dalam keadaan utuh.

“Sepatu?”, ucap Pak Anton heran kala menerima benda berupa sepasang sepatu sekolah yang terbuat dari kulit masih dalam keadaan utuh.

“Ini sepatu siapa Pak?”, tanya Alya keheranan.

“Bapak gak tahu, mungkin ini punya murid lain yang menjadi korban”, jawab Pak Anton mengukuhkan milik siapa sepasang sepatu kulit yang masih utuh itu.

“Korban hanya Bayu Pak! Lagian sepatu ini ditemukan di ruangan OSIS kan Pak? Seharusnya terbakar! Sisa berkas dan kotak amal pun mengalami sedikit kerusakan. Kenapa sepatu ini tidak Pak?”, sanggah Ramon lalu menanyakan keanehan yang terjadi di sepatu itu.

“Entahlah Ramon, Bapak juga gak ngerti”, ujar Pak Anton dengan dahinya yang mengerut.

Seminggu berlalu. Sekolah sudah selesai diperbaiki. Hanya ruangan aula, ruangan OSIS dan kantin saja yang direnovasi.

“Aku di lorong atas nih! Nanti Aku turun kesana ya!”, ucap Intan bercakap lewat ponselnya. Perlahan Intan menuruni anak tangga dari lantai dua sekolahnya.

“Aaaa…”, Intan berteriak kala kakinya terpeleset dari anak tangga. Tubuhnya tergelincir dan jatuh tergopoh gopoh.

BRAKKK!

Raganya menabrak tiang penyangga dengan kerasnya. Tubuhnya yang ramping dan lumayan tinggi meringkuk seketika. Darah mengalir dikepalanya.

“Astaghfirullah…”, teriak Bu Shinta diikuti gemuruh panik siswa lainnya. Beberapa menit berlalu. Intan dilarikan ke Rumah Sakit terdekat. Nampak hadir kedua orangtua, guru dan beberapa teman dekat Intan. Dokter pun keluar dengan raut penyesalan. Sambil membetulkan kaca matanya. Dokter pun menjawab pertanyaan Ibu Intan yang menderu panik.

“Maaf! Nyawa putri Anda sudah tak bisa ditolong! Benturan yang keras dikepalanya melenyapkan sel sel saraf dan putri Anda sudah tewas ditempat”, ucap Dokter itu dengan menyesal lalu pergi melalui kerumunan yang perlahan larut dalam tangisan.

“Sepatu itu!”, gumam Ramon mengingat ingat kejanggalan dari tragedi kematian Intan beberapa minggu yang lalu.

“Sepatu itu milik Aira!”, ucap Dena dari arah belakang Ramon sehingga mengagetkan Ramon.

“Ini salah Kita semua Ram. Aira marah!”, Dena berucap membuat Ramon kembali kaget.

“Maksud Kamu? Itu kutukan dari Aira untuk balas dendam sama orang orang yang sudah menyakitinya?”, tanya Ramon dengan tatapan penuh tanya. Dena mengangguk ringan tanpa memandang wajah Ramon. Ramon menarik pandangannya dari wajah Dena. Dahinya mengereyit. Tangannya mengusap lembut wajahnya yang terlihat gusar.

“Aku menyesal Ram!”, ujar Dena kemudian meneteskan air matanya.

“Aku… Aku… Aku juga Den, Aku sempat membuat Dia tersakiti karena sikap Aku!”, tambah Ramon membuat Dena memalingkan pandangannya ke wajah Ramon.

DRETT! DRETT!

Getar ponsel Ramon membuyarkan pandangan Dena. Segera Ramon menjawab panggilan masuk itu.

“Apa?”, ujar Ramon setengah berteriak. Tak lama Ia mengakhiri panggilan ponselnya itu.

“Kenapa Ram? Ada apa?”, tanya Dena keheranan.

“Rombongan Tim Camping grup G kecelakaan. Semua tewas”, jawab Ramon lesu lalu menyandarkan tubuhnya ke dinding.

“Hah… Gak mungkin Ram! Gak mungkin”, sanggah Dena tak percaya akan hal itu.

“Luis, Alya, Karin, Anwar dan Dean! Mereka…”, ucap Ramon seraya menahan air matanya. Tangis histeris pun pecah dari diri Dena. Ia berlari menuju atap dengan secepatnya. Ramon tahu seperti apa yang dirasakan Dena. Begitupun dirinya.

“Aira! Aira! Aira!”, teriak Dena seraya menangis hebat.

“Sepatu itu!”, Dena melihat sepasang sepatu yang Ia kenal milik Aira, sahabatnya yang mati bunuh diri. Dia berlari menuju sepatu itu yang letaknya didasar pondasi atap. Dengan gemetar, Dena memungut sepatu itu dan mendekapnya erat erat.

“Maaf Aira! Aku nyesel! Aira! Hentikan semua ini Aira!”, teriak Dena histeris.

“Aaaaaaaaaaa…….”, sesuatu seperti mendorong tubuh Dena. Sehingga raganya perlahan terjun ke bawah dan menimpa mobil sedan putih yang terparkir. Kejadian itu pun terulang kembali. Gemuruh teriakan panik mengepung area sekolah ternama itu.

Berduka dan kehilangan! Sudah sembilan orang, siswa sekolah itu yang tewas hanya dalam kurun waktu 9 bulan. Penyebabnya masih misteri. Karena insiden itu, sekolah diliburkan untuk beberapa minggu kedepan guna menangani dan menenangkan trauma yang berkabung.

“Huhh… Huhh… Huhh..” suara napas Ramon terengah-engah karena berlari terburu-buru menuju aula sekolah untuk mengambil sebuah kotak berisi surat surat.

BLUG!!!

Pintu aula tiba-tiba menutup dengan sendirinya saat Ramon masuk ke dalamnya.

“Haah… Terkunci!” seru Ramon dengan raut kepanikan terpancar dari wajahnya yang mulai dipenuhi keringat. Tiba-tiba, pandangannya tertuju pada sebuah benda yang menjadi momok baginya. “Sepatu itu!” ucapnya dalam hati. Perlahan langkah kakinya yang terlihat bergetar menapak menuju sepasang sepatu berwarna keabuan itu. Tangan kekarnya mengambil sepasang sepatu yang penuh misteri itu.

“Aira! Maafkan Aku..” ucapnya terengah dengan desahan menahan tangis.

“Kenapa minta maaf?” suara tanya itu mengagetkan Ramon. Ia menoleh ke arah belakang. Berdiri seorang perempuan dengan wajah dan tubuh yang sama persis seperti Aira.
“Kau Aira?” tanya Ramon gemetaran.

“Hahahaha… Aku Airi bodoh!” jawabnya disertai pekikan tawa.

“Airi? Kau tak bohong kan?” kembali Ramon bertanya.

“Aku kembarannya Aira, Aku tak sekolah seperti Aira! Aku tak pernah seperti Aira yang lembut. Aku adalah Airi.” jawabnya seraya mengeluarkan pisau tajam yang mengkilap terkena sinar lampu aula. Airi perlahan mendekati Ramon dengan tatapan yang bengis.

“Kau mau apa?” tanya Ramon dengan raut ketakutan.

“Meski Aku dan Aira tak sama dalam hal sifat! Dia tetap saudariku yang ku cintai! Dan kau tahu! Kalian yang telah membuat Aira pergi telah ku bayar lunas!” ujar Airi seketika langkahnya terhenti.

“Maksudmu? Apa… Yang..” seru Ramon bertele-tele.

“Kau kira Aira yang melakukannya? Hahaha… Bodoh memang! Bayu… Dia tewas setelah ku bakar AC ruangan OSIS! Seperti ayam gemuk yang dibakar!” ucapnya membuat Ramon ternganga mendengar yang sebenarnya terjadi atas kematian teman-temannya.

“Intan! Si gadis nakal, mati tergelincir setelah ku taburi pelicin di tangga yang hendak ia pijak! Manis! Otaknya pecah seperti telur saja.” sambungnya.

“Dan. Regu Camping yang seru. Tewas tersungkur ke dalam jurang yang daaaaaalaaam sekali! Sekarang, di nerakalah mereka bercamping ria!” sambungnya lagi dengan tawa yang terdengar puas.

“Kenapa kau lakukan ini Airi?” ucap Ramon dengan nada marah.

“Kau itu bodoh! Apa kau tahu perasaanku bagaimana? Ditinggalkan saudari yang ku sayangi! Dengan cara yang menusuk hati. Semua gara-gara kalian! Aku tahu lewat tulisan isi hatinya di diary miliknya! Sekarang giliran kau lelaki bodoh!” teriaknya seraya menyodorkan pisau tajamnya ke arah badan Ramon. Dengan sigap Ramon menyampingkan badannya sehingga pisau itu tak menusuk badan tegapnya. Aksi serang menyerang terjadi di dalam aula yang luasnya tiga kali luas kelas itu.

BRUKK!!!

Airi tertimpa lemari yang berisi buku-buku. Tubuhnya tak bergerak karena beratnya beban yang menumpukkinya.

“Aku harus ke luar.” seru Ramon kemudian berlari menuju pintu aula.

“Aaaahh..!!” teriak Ramon kesakitan karena tak disangka pisau itu dilempar Airi sehingga menancap di bahunya. Darah membasahi sekitaran bahu kirinya.

“Aku… Sudah berjanji..” Airi ke luar dari tumpukan buku-buku namun naas.

PRAKK!!!

Lampu yang tergantung diatap aula terjatuh tepat di atas kepala Airi. Airi menjerit tersengat listrik sampai tak sadarkan diri. Ramon hanya duduk terdiam menatap Airi sambil menahan sakit.

Polisi datang dan usai menangani kejadian ini. Ramon mengalami pendaharan yang lumayan sehingga ia dilarikan ke rumah sakit. Sekarang, sudah terbongkar kenapa dan siapa yang menjadi dalang insiden mengerikan yang menimpa murid-murid sekolah itu. Pak Anton berterima kasih banyak pada Ramon, karena telah menceritakan detil latar belakang kejadian ini dengan teliti. Di sudut ruangan, terbaring Ramon dengan lesu karena darah yang ke luar sangat banyak. Matanya sedikit demi sedikit terbuka lebar menatap sekitaran ruangan yang kini jadi tempatnya dirawat.

FLASH!

Seberkas sinar terang menyilaukan pandangan Ramon. Dia menggosok-gosokkan matanya, dan di hadapannya kini berdiri sosok perempuan yang sangat cantik serba putih. Perempuan itu ia kenali, Aira. “Terima kasih Ramon! Keberanianmu telah mengungkap semuanya! Terima kasih telah menyatukan kami di sini! Kini aku dan saudariku tenang di alam yang kami tuju sekarang.” ucap arwah Aira dengan senyuman manis terukir di wajahnya.

“Maaf Ramon! Aku telah melukai bahumu! Sekarang maukah kau memaafkanku?” tanya Airi yang ternyata muncul tiba-tiba di balik badan Aira. Ramon mengangguk pertanda memaafkan. Airi tersenyum manis, kini dua senyuman terukir oleh dua saudara kembar yang sudah tak satu alam lagi dengan Ramon. Kembali cahaya silau menyebar. Ramon terbangun dari tidurnya. Dia melihat lihat di sekitar, tak ada siapa-siapa.

“Aira! Airi! Maafkan aku! Aku juga memaafkan kalian. Tenanglah di sana.” ucap Ramon sambil meneteskan air matanya. Kini momok yang menakutkan itu telah berubah menjadi akhir yang bahagia.
Blog, Updated at: September 08, 2020

0 komentar:

Post a Comment