SECRET ADMIRER
Aku menutup buku diaryku sambil tersenyum puas. Suasana pagi ini benar-benar terasa sejuk. Pancaran sinar matahari pagi yang beriringan dengan suara gemerisik daun-daun dari atas pohon yang terkena angin. Sedari tadi mereka melambaikan daun mereka untuk menyambut setiap murid yang datang. Aku duduk masih dengan buku diaryku di atas meja sambil terus berimajinasi tentang, Dia.
Dia, Grey. Si Kakak Kelas tampan yang menjadi idaman setiap wanita di sekolahku. Dia benar-benar laki-laki idaman masa kini. Rambutnya yang hitam pekat, selalu tampil sempuna. Matanya yang kecokelatan terpancar sinar matahari, selalu menjadi pengganti cahaya di hatiku. Bakatnya bermain alat musik dan bernyanyi, selalu membuatku memandang indah dirinya. Aku benar-benar tak percaya ada orang yang kira-kira beberapa senti lagi mendekati sempurna itu. Tapi, sayang. Ia sudah memiliki seorang kekasih hati yang sekiranya jauh lebih cantik dariku. Bahkan perbedaan aku dengan kekasihnya Grey seperti Sabang dengan Merauke, sangat jauh.
Aku sering sekali berkhayal tentang kebersamaan kami. Tapi aku rasa, itu akan terjadi kalau di dunia ini hanya ada aku dan Grey. Syukur-syukur kalau ia mau bersamaku, kalau ia malah memilih untuk sendiri selamanya dibanding bersamaku? Itu akan sulit jadinya. Tapi memang apa salahnya bermimpi dan berkhayal? Itu tidak dosa kan. Asal kalau kata mereka, jangan mimpi ketinggian, nanti jatohnya sakit.
“Jess!” Panggil seseorang dari ambang pintu kelas. Aku melihat seseorang dengan tubuh tinggi yang berlari menuju arahku. Tangannya langsung memegang bahuku dan ia menunduk. Ia menenangkan nafasnya sambil terus menghembuskan nafasnya. “Lo abis lari-larian ya?” Sekarang, lelaki itu meletakkan tasnya di kursi sebelahku yang masih kosong.
“Iyalah, gue kan buru-buru tadi. Oh iya, ada yang mau gue kasih tau ke lo, Jess,” Hangat tubuhnya sangat terasa sampai ke tubuhku walau jarak kami melebihi 20 sentimeter.
“Apaan emang?” Lelaki itu lo tersenyum hangat. “Grey putus sama Erica,” Mendengar kalimat itu, sontak aku loncat dan menggebrak meja. “WHAT?!” Aku benar-benar masih belum percaya. “Gila, mimpi gue didukung Tuhan! Makasih infonya!”
“Jess, lo yakin mau sama Grey?” Aku langsung memasang tampang cemberut. “Ya yakin lah! Masa sama cogan gitu gue gak mau. Lucu lo,” Cowok itu hanya membalasku dengan senyuman hangat khas Sean. “Istirahat lo temenin gue ya, gue mau liat dia ngeband di aula. Dia kan ada latihan hari ini.” Sean hanya mengangguk patuh.
Istirahat kali ini, aku ditemani Sean pergi menuju aula sekolah. “Sean, nanti gue mau lo tunggu di depan aula, ya. Gue mau ngeliat Grey. Tolong ya, please…” Sean mengusap rambutku sambil berkata, “Iya, Jess. Gue mah sahabat yang setai. Eh, maksudnya setia… hehehe,” Aku ikut tertawa kecil. Sean memang satu-satunya orang yang bisa menghiburku di sekolah.
Aku melihat Grey sedang duduk dengan gitarnya di dalam aula. Aku melihatnya mulai memetik gitarnya dari ambang pintu. Lelaki itu terus memainkan gitarya sampai lagu selesai. Dan tiba-tiba, “Hey, Grey! Ini minum kamu,” Si gadis centil itu malah yang masuk ke aula merusak suasana. Gadis itu tiba-tiba muncul dari pintu belakang. Dasar perusak suasana.
“Thanks, Li,” Ucap Grey dengan suaranya yang khas. Aku hanya cemberut. Aku menarik tangan Sean dan berjalan kembali ke kelas. “Lo kenapa, Jess?” Aku masih memasang tampang kesal. “Tuh, Si Lika, ngerusak moment banget. Dasar centil.” Aku melepas tanganku dari tangan Sean dan berlari meninggalkannya.
Hari baru, semangat baru. Begitu kata orang-orang. Aku membenarkan hal itu. Aku kembali bersemagat untuk bertemu Grey. Omong-omong, aku masih saja terbawa emosi saat bertemu Sean. Padahal ia tidak punya salah sama sekali.
“Jess, ke kantin yuk bentar. Gue traktir deh. Gue belom sarapan nih, laper banget…” Aku tersenyum kecil membalas itu. “Iya, maafin juga yak kalo gue ada salah sama lo. Kemaren gue malah marahnya ke lo. Hehehe,” Aku cengengesan sendiri. “Iya, Jess. Gue maapin dah!”
Di kantin, aku hanya memesan susu kedelai dan menemani Sean makan. Tiba-tiba, sebuah adegan serius membuat hatiku seperti ditusuk oleh pisau yang sangat tajam. Grey…
“Temen-temen. Kalian semua jadi saksi ya, kalo gue udah jadian sama Lika,” Grey berteriak sambil berdiri di atas meja kantin.
Deg!
Hatiku seperti habis dibanting dengan sangat keras dan akhirnya pecah berkeping-keping. Sean yang sedang makan, terbatuk-batuk dan melongo. Ia memperhatikan ekspresiku yang sangat-sangat terpukul. Sean langsung berdiri dan menarikku ke luar kantin. “Jess, udah. Gue tau. Gue tau lo sakit hati. Jangan nangis Jess, jangan.” Sean langsung sibuk sendiri. Tapi, aku malah beanr-benar menangis tepat di depan pintu kantin. “Seannn…” Teriakku dan aku segera jatuh ke dalam pelukan lelaki itu.
Beberapa hari kemudian, hatiku sudah sedikit terobati dengan semua tingkah laku Sean yang menghiburku. Ia selalu ada untukku. Ia selalu ada di sampingku saat aku membutuhkannya. Aku benar-benar menyayanginya sebagai sahabatku.
“Sean, makasih ya. Lo yang selalu ada di samping gue. Gue sayang sama lo…” Aku merebahkan kepalaku di pundaknya sembari mengucapkan kata-kata itu. “Lo gak usah makasih, ini udah kewajiban gue buat ngejaga lo, karena…” Aku tahu apa kalimat selanjutnya. “Karena, gue gak mau liat lo sedih gini terus. Banyak cowok lain, Jess… Lo cantik, baik, pinter, banyak pasti yang mau sama lo, percaya deh…” ucapnya mengusap kepalaku. “Gue juga mau kok sama lo,” kata Sean berbisik, tapi aku masih bisa mendengarnya. “Gue gak budek ya,” kataku tertawa.
“Lo mau gak ama gue?” Katanya spontan dan dengan santai. “Ih! Gak.” Aku memasang muka jijik. “Gak salah lagi…” Sambungku tertawa. “Jadi lo mau sama gue? Pacaran gitu?” Aku hanya tersenyum dan menjawab, “Gue gak mau rusak persahabatan ini, lo gak usah minder karena gue gak mau pacaran sama lo, gue mau kita bersahabat dan bukan pacaran. Karena pacaran selalu ada akhirnya. Kalo persahabatan? Gak ada yang namanya mantan sahabat. Dan ada waktunya nanti, kita bakal bersama, mungkin selamanya.” Aku kembali merebahkan kepalaku di pundaknya. Aku rasakan kehangatan itu sekali lagi.


0 komentar:
Post a Comment