YANG ADA DI DEPAN JENDELA

Posted By Cerpen universal on Saturday, October 17, 2020 | October 17, 2020

YANG ADA DI DEPAN JENDELA

Kebanyakkan cerita seram itu berasal dari bangunan tua, rumah tidak berpenghuni, gedung kosong, atau pun dari kuburan atau pohon yang tinggi besar. Tapi kali ini cerita seramku berasal dari gedung yang selalu ramai orang, terang dan cukup bersih. Memang di sekolah. Tetapi boleh dikatakan sekolah dimana tempatku bekerja tidak seperti sekolah pada umumnya. Kejadiannya berawal dari aku harus lembur untuk membuat rapor, maklum pekerjaan administrasi yang harus kujalani mengharuskan aku untuk menyelesaikan tengat waktu pembagian rapor.

Malam itu sebenarnya aku tidak sendirian di ruangan, ada temanku Lina, Moren, dan juga Gea. Yah tidak seruangan benar sih. Hanya Gea yang seruangan denganku, karena ruangan kami lumayan besar dan bersekat. Jam sudah menunjukkan pukul 7.30 malam. Mataku sudah sedikit perih karena dari pagi aku harus memandangi layar komputer. Bisa dibilang non stop tanpa berhenti. Kalau besok bukan pembagian rapor pasti aku sudahi saja. Gea yang berada tak jauh di samping kiriku masih bekerja.

Jam masih saja menunjukkan pukul 7.30. Sial, sudah malam aku masih berkutat dengan excel, batinku mengeluh. Lalu aku mendengar sayup-sayup suara ketokan pelan dari arah pintu berkaca yang kebetulan ada di samping kananku. Ruangan tersebut sudah gelap karena jam bekerja selesai pukul 3.30 sore. Temanku yang menempati ruangan gelap itu pun sudah pulang sedari tadi.

“Ge.. Gea..”, panggilku.

Gea menoleh ke arahku.

“Kenapa?” tanyanya.

“Kau dengar tidak?” tanyaku.

“Dengar apa?” Gea mengangkat alisnya.

Aku menggeleng, lalu kami kembali bekerja. Ah, mungkin cuma cicak atau mungkin tikus yang menghuni ruangan ini. Dan aku pun kembali meneruskan mengutak-atik excel di komputerku.

Tidak sampai lima menit, kembali terdengar bunyi itu. ‘tuk tuk tuk’

Hii.. aku merasa ngeri untuk menoleh ke arah pintu berkaca yang berada di samping kananku. Suara itu seperti ketukan kuku panjang ke kaca. Baiklah, aku mulai ngeri. Tapi untuk apa aku ketakutan, toh yah Gea masih ada di dekatku.

Dan begitulah sampai dengan suara ketiga aku memanggil Gea.

“Ge, dengar gak?”

Gea menoleh ke arahku dan gantian memandang pintu kaca itu.

“Na, kok pintunya gerak?”

“Ah serius Ge”, aku masih tidak berani menoleh.

“Bener Na”, kali ini wajah Gea terlihat serius.

“Kita sepertinya sudah diusir sama penghuni sini Ge”, kataku.

Gea nyengir kuda.

“Serius Ge, kamu mah bercanda terus”

“Tapi Na, kuncinya goyang-goyang.”

Aku menelan ludah, perasaanku tidak enak.

“Kita pulang aja yuk Na”, ajak Gea.

“Tapi Ge, aku belum selesai.”

Gea melengos dan lagi-lagi kembali ke komputernya. Kali ini aku bertekad akan menambah kecepatan dalam mengerjakan draft rapor. Namun, baru aku kembali ke konsentrasiku, lampu di ruangan padam. Serentak kami berempat teriak dan saling bertabrakan ke luar ruangan. Bodohnya aku tidak kepikiran untuk menyalakan handphone yang sebelumnya tepat berada di depan batang hidung.

“Ge! Gea!”, aku panik.

Tanganku mencari-cari pegangan entah itu dinding, meja, ataupun Gea. Aku tidak menyangka ternyata ruangan kami bisa sangat-sangat gelap. Dari sudut mataku, aku dapat melihat sesuatu yang putih sedang berdiri di depan jendela yang mengarah ke luar. Jendelanya cukup besar. Hingga aku dapat melihat keseluruhan mahluk itu. Aku berteriak sekencang-kencangnya, hingga kakiku akhirnya menyentuh pintu keluar ruangan.

“Mona! Kamu kenapa?” tanya Gea.

Napasku masih saja naik turun.

“It.. Itu.. ada putih-putih di jendela”, jawabku terputus-putus.

“Ah.. serius na”

“Iya! Ampun Ge, aku mau pulang saja”, suaraku bergetar. Rasanya ingin cepat-cepat pergi dari tempat itu.

“Kamu lihat apa sih Na?” kini Moren yang bertanya.

“Udah pokoknya besok saja aku ceritakan”

Yap, entah apa itu yang aku lihat. Yang jelas kalau Gea sampai tahu, dia mungkin akan mengubah posisi duduknya. Karena makhluk itu tepat berada di depan jendela kerja Gea.

Kejadian itu adalan pengalaman pertamaku di sekolah ini. Iseng-iseng aku menyempatkan waktu berbincang-bincang dengan petugas kebersihan yang kebetulan sudah bekerja puluhan tahun di sekolah ini. Saat itu menjelang sore, teman-temanku sudah pulang, aku dan Pak Suroto berbincang santai sambil menemani dia bekerja membersihkan ruangan.

“Pak, sudah puluhan tahun bekerja di sekolahan ini, apakah Bapak tahu mengenai sejarah sekolah kita? Yah paling tidak dulu ruangan saya itu bekas apa ya pak?” selidikku.

“Dulu sekolah kita ini sebenarnya terbagi dua non, yang gedung di belakang itu adalah gedung baru, tapi gedung yang sekarang kita injak ini gedung lama, lebih tepatnya dulu adalah sebuah rumah.”

Pak Suroto masih asyik menyapu, sesekali diseka keringatnya.

“Rumah apa ya Pak?” tanyaku lagi.

“Rumah dokter non.”

“Lalu Pak?”

“Iya, Bapak sih gak terlalu tahu mengenai dokter tersebut, yang jelas begitu bapak pertama kali kerja disini, disuruh membersihkan halaman rumah dokter itu dulu. Baru setelah bersih bangunannya dibongkar dan dibangun karena mau dibuka sekolah SMP.”

“Oh, jadi Bapak dulu kerja di sekolah gedung seberang dulu ya, baru pindah ke gedung baru ini?”

“Iya," jawab Pak Suroto.

“Rumahnya serem pak?”

“Serem sih gak, tapi gelap. Bapak ngintip ke dalam aja sudah kosong, tidak ada penerangan.”

“Oh gitu Pak”, aku mengangguk-angguk.

“Tapi non, dulu pernah teman Bapak yang sama-sama membersihkan halaman itu tiba-tiba lari tunggang langgang, saya tanya kenapa dia cuma bilang: ada hantu mang”.

Deg!

“HANTU?” pekikku.

“Sttttt… jangan kencang-kencang”, ujar Pak Suroto.

“Ahhh yang benar Pak?”

“Iya non, dia bilang ada hantu, terus dia langsung pulang dan tidak balik-balik lagi bekerja”.

Jreng-jreng, seperti ada suara gitar di kepalaku yang menyatakan: BETUL KAAANNN. Ok, calm down, tenang Mona, tenang.

“Tapi non jangan takut ya, sebenarnya dulu juga ada satpam sekolah pas malam dia betul-betul ngantuk lalu ketiduran dibangku ruangan ini, terus…”

Pak Suroto terhenti karena tangannya sibuk memasukkan sampah ke plastik.

“Terus pak?” tanyaku tidak sabaran.

“Iya pas dia tidur kakinya digelitikkin! Begitu dia terbangun, dia melihat makhluk tinggi gede!!!”

Hayah, ingin pingsan rasanya dengar cerita dari Pak Suroto.

“Katanya sih non, jalur tangga di luar ruangan non sampai ke dalam ruangan ini, adalah ‘jalurnya’.”

“Jalur?” tanyaku lagi.

“Iya dia senang mondar-mandir sekitaran itu saja”.

Glek! Hatiku mencelos. Berarti benar akan keberadaan mahluk tersebut.

Akhirnya aku pulang begitu mendengar cerita dari Pak Suroto, dan berpikir dua kali untuk meneruskan kontrakku untuk bekerja di sekolah ini. Karena aku tidak bisa melupakan bagaimana wajah dari mahluk tersebut? Wajahnya tidak bisa kudeskripsikan, karena bagiku wajah itu akan terus membayangi setiap mimpi-mimpiku. Maafkan aku ya Gea, aku meninggalkan kamu bekerja di ruangan kita, beserta mahluk itu di depan jendelamu hehehehe.
Blog, Updated at: October 17, 2020

0 komentar:

Post a Comment