BUKAN HOME ALONE
Rasa takut masih terbayang-bayang di pikiran Hista, sebab tadi sore setelah pulang kuliah ia dan beberapa temannya pergi ke bioskop untuk menonton film horor yang sangat populer. Kemana pun melangkah ia seperti merasa ada yang mengikuti dari sudut manapun.
“Hista… Ayah dan ibu pergi dulu,” teriak Ayah dari bawah rumah.
“Ayah… Tunggu, Hista Mau ikut,” Hista pun berlari menuju ke bawah tetapi Ayah dan Ibunya telah pergi meninggalkan rumah. Yang tertinggal di rumah hanyalah Bi Yuli, pembantu rumah tangga mereka.
Hista pun pergi menuju kamar dekat dapur. Kamar tempat Bi Yuli. Sesampainya di depan kamar Bi Yuli Hista mengetuk pintu, tetapi tidak ada suara ataupun jawaban dari Bi Yuli. Akhirnya Hista lebih memilih untuk menunggu di pos satpam komplek perumahan sambil menunggu Ayah dan Ibunya kembali pulang ke rumah. Baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba pintu kamar bi Yuli terbuka. “Itu pasti Bibi Yuli, mungkin dia tertidur tadi,” ucap Hista dalam hati.
Ternyata semua diluar dugaan Hista, tidak ada siapapun di kamar. Lantas siapa yang membukakan pintu, padahal pintu sama sekali terkunci. Hista pun segera berlari ke luar rumah, tetapi pintu rumah juga terkunci. Dan tiba-tiba saja lampu listrik di seluruh komplek padam yang membuat rasa takut Hista semakin menjadi-jadi. Ia berteriak minta tolong sambil mengetuk-ngetuk pintu rumah, tetapi tidak ada satupun yang merespon.
Hista teringat bahwa ayahnya sering meletakan mancis di meja ruang tamu, dengan berjalan pelan-pelan ia menuju ruang tamu dan menyalakan mancis itu agar memberikan sedikit cahaya. Api dari mancis itu seperti mau redup, seolah-olah ada yang meniup agar api itu padam. Tetapi Hista merasa itu hanyalah tiupan angin biasa.
Terdengar ada suara seseorang yang sedang mengetuk jendela rumah dekat pintu masuk. Tetapi setelah dilihat lebih dekat tidak ada siapapun diluar. Kembali lagi terdengar suara, tetapi itu bukan suara ketukan melainkan suara ponsel Hista yang berbunyi dari atas tepatnya di kamar tidur Hista. Karena merasa takut ia pun memilih untuk tidak menuju ke kamar. Kembali terdengar suara. Suara hentakan kaki yang tidak jauh dari tempat hista berdiri, apakah ini ulah bi Yuli? tetapi bi Yuli tidak pernah sekalipun berbuat jail kepada Hista maupun keluarganya sejak bi Yuli pertama kali bekerja bersama mereka.
Tiba-tiba lampu menyala kedap-kedip. Hista pun melihat ada sosok makhluk aneh berdiri di dekat tangga dengan posisi membelakanginya. Mahluk itu berjubah putih, dari model rambut tampak seperti lelaki dan dari bentuk tubuh condong seperti wanita. Hista ingin berteriak tetapi ia menahannya, karena jika ia berteriak makhluk itu pasti mendatanginya. Lampu yang kedap-kedip itupun kembali padam, mancis yang di tangan Hista tidak dapat menyala.
Dari samping ia merasa seperti ada sebuah tiupan, tiupan yang keluar dari hembusan seseorang. Hista pun menangis. Karena ia pasti tau kalau makhluk itu sudah mendekatinya. Plaakk… Ada yang memukul bahunya sebanyak dua kali hingga ia terjatuh, Hista mencoba untuk bangkit tetapi rasanya tubuhnya ada yang menekan sehingga susah untuk berdiri. Akhirnya ia memilih untuk berjalan merangkak, tetapi baru beberapa meter merangkak ada yang menarik kakinya secara perlahan-lahan. Hista hanya memilih diam dan pasrah.
Kembali terdengar suara kecil yang memanggil namanya. “Hista… Hista…” suara itu terdengar seperti suara wanita, ia mencoba untuk cuek dan tidak merespon. Tetapi suara itu semakin terdengar keras dan sangat keras.
“Ahhh…. Ahhhhh…. Ahhhhh” teriak Hista, Ibu Hista pun yang sedang berada di sampingnya merasa kaget dengan suara teriakan Hista. “Kamu ini kenapa? Ibu bangunkan kok malah teriak-teriak?”
“Aku mimpi buruk Bu,” jawab Hista sambil memeluk Ibunya.
“Pasti karena nonton film horor yang lagi ngetrend itu kan? lagian kamu ini tidurnya pas sore menjelang malam begini. Lebih baik kamu sekarang mandi dan langsung ke bawah, Ayah sudah menunggu untuk makan malam bersama,” Ibu keluar kamar meninggalkan Hista. Ternyata yang dialami Hista hanyalah sebuah mimpi buruk.
Tiba-Tiba lampu di kamar Hista padam “Loh kok lampunya padam? Ibu… Aku takut,” Teriak Hista.

0 komentar:
Post a Comment