BISAKAH AKU KEMBALI

Posted By Cerpen universal on Thursday, June 25, 2020 | June 25, 2020

BISAKAH AKU KEMBALI

Minggu pagi itu aku berbaring di atas kasur yang seperti magnet, melekat dan sulit untuk terlepas dari punggungku. Ditambah lagi dengan penyesalanku yang masih terus berputar di dalam kepala membuatku semakin malas untuk beranjak dari kasur ini. Untung saja ini hari Minggu, jadi tidak ada jadwal kelas di kampus.

Dulu aku dekat sekali dengan seorang wanita. Meskipun kami tidak berpacaran, tapi kami memilliki rasa yang seperti itu. Masa itu adalah masa-masa yang sangat menyenangkan, bagiku khususnya. Namun beberapa minggu yang lalu kami memiliki masalah, dan aku memutuskan untuk menjauh. Dan sekarang aku malah menyesali keputusan itu.

“Ah sialan” gumamku. Aku pun berguling-guling mencari HP-ku. Sulit sekali menemukan barang kecil di kamar yang tidak karuan seperti kapal pecah ini. Aku pun merangkak ke arah laptopku untuk mencarinya. Untung saja aku menemukannya di sana, kalau tidak aku harus berdiri untuk mencarinya.

Aku pun membuka aplikasi pemutar lagu dan memutar lagu Passenger yang berjudul Let Her Go. Lagu ini cocok dengan perasaanku sekarang. Mungkin sudut pandang orang-orang berbeda mengenai lagu ini, tapi menurutku lagu ini adalah sebuah lagu penyesalan seorang laki-laki yang telah melepaskan kekasihnya.

Aku memejamkan mataku dan masuk ke dalam musik itu. Kuhayati setiap lirik dalam lagu itu, dan aku pun mulai ikut bernyanyi. “Only know you love her when you let her go!” aku meneriakan reff dari lagu tersebut. Sangat melegakan sekali bisa berteriak seperti itu. Untung saja teman-teman di kost-anku sedang pulang kampung, jadi tidak akan ada yang terganggu dengan teriakanku ini.

Lagu pun tiba-tiba berhenti berputar karena lineku berbunyi, sontak aku pun kesal karenanya, “Aduh siapa sih yang nge line, ganggu banget”. Ternyata itu notifikasi grup kelas SMA-ku, hanya candaan seperti biasanya. Aku pun memutuskan untuk menonaktifkan notifikasi lineku karena menganggu lagu yang sedang diputar.

Namun niatan itu aku urungkan, karena ada kulihat ada seseorang yang ikut melakukan chatting di grup itu. Dan tentu saja seseorang itu adalah Hika. Hika adalah wanita yang dulu dekat denganku dan aku tinggalkan. Melihat Hika di grup, aku pun ikut melakukan chatting di situ.

Walaupun sebatas chatting-an saja, akan tetapi senang sekali rasanya bisa berkomunikasi dengan teman-teman SMA-ku. Apalagi melihat Hika ikut aktif di sana membuat kesenanganku menjadi berlipat ganda. Lalu tanpa berpikir panjang, aku pun mulai mengirim pesan ke linenya.

“Hey Hika” sapaku sambil mengirim emot senyum. Dan tak selang lama dia pun langsung membalasnya, “Hey juga Vin”. Aku pun langung tersenyum-senyum, aku tak menyangka respon darinya baik dan juga cepat sekali. Karena aku kira dia masih marah dan teringat dengan kejadian waktu itu. Akan tetapi dia tidak membahasnya dan chat pun terus berlanjut. Aku terkadang menjadi sedikit gombal dan mengirim stiker-stiker kepadanya. Aku sebisa mungkin membuat chat menjadi seru agar dia tidak bosan.

Sudah berbulan-bulan, dan aku masih sering melakukan chatting dengannya. Walaupun terkadang respon darinya agak mengendur, tapi kami masih tetap melakukan chatting. Aku juga sempat bertemu langsung dengannya, kami jalan-jalan di mall, makan, mengantarnya ke terminal dan memberikan hadiah kepadanya. Walaupun dalam beberapa pertemuan itu ada kejadian yang tidak mengenakan baginya.

Sering kali timbul sebuah pertanyaan dari hatiku, namun aku selalu tidak bisa menyampaikannya. Karena aku jarang bertemu dengannya, dan juga saat aku bertemu dengannya aku tidak memiliki keberanian yang cukup untuk mengatakannya. Aku pun meminta saran kepada temanku tentang apa dan bagaimana yang harus aku lakukan. Dan temanku berkata bahwa aku harus berani untuk menanyakannya.

Lalu aku pun memutuskan untuk menanyakannya. Aku mencari sebuah hari dimana aku dan Hika punya waktu luang untuk bertemu. Kami sepakat untuk bertemu pada hari Senin depan karena memiliki tanggal merah.

Hari Senin yang kutunggu-tunggu pun tiba. Aku merapikan diriku serapi mungkin, memakai celana dan sweater hitam kesukaanku. Aku pun memakai parfum agar dia nyaman dengan harumnya. Aku berkendara santai bersama motorku yang sudah kubersihkan, karena aku takut terjadi apa-apa padaku di jalan.

Aku pun sampai di tempat tujuan. Seperti biasa aku menunggu di depan kampusnya, karena kebetulan kost-an nya tidak jauh dari situ. Setelah menunggu beberapa menit Hika pun datang. Sungguh cantik sekali, dia mengenakan kerudung hitam, sweater biru dan celana jeans hitamnya. Dia juga mengenakan parfum yang wanginya memikat hatiku. Aku pun terdiam sejenak untuk memandang dirinya yang sangat cantik itu.

“Ayo Vin” dia memecah lamunanku. “Oh, oke. Mau jalan apa naik motor?” Tanyaku. Lalu dia pun menjawab singkat “Jalan aja”. Kami pun berangkat menuju warung ramen, perjalanan ke sana pun menjadi tidak terasa jika bersamanya.

Sesampainya di sana, kami pun memesan makanan dan minuman. Kami mengobrol dengan santai. Entah kenapa sungguh hangat sekali perasaan ini ketika aku mengobrol santai dengannya. Kami terus mengobrol dan memakan ramen yang sudah dipesan.

Lalu setelah ramen kami habis, aku memutuskan untuk bertanya kepadanya. Akan tetapi Hika tiba-tiba berkata sesuatu. Dengan nada yang agak ditahan dia berkata “Kayanya kita gak bisa kaya gini terus Vin”. “Emangnya kenapa Ka?” aku bertanya dengan heran. Hika semakin menahan suaranya, terlihat dari wajahnya ia agak ragu untuk mengucapkannya “Aku lagi deket sama cowok Vin”.

Sontak itu membuatku menjadi terdiam sejenak. Hatiku menangis di dalam, tapi aku tersenyum kepadanya dan berkata “Iya gapapa Ka, aku ngerti ko kalau emang gitu”. “Tapi aku tetep pengen kita sahabatan Vin” jelas Hika. Dengan senyum kembali aku menjelaskan “Ya iyalah, masa sih harus jadi musuhan”. Hika pun kembali tersenyum, dan dari kesedihan yang aku rasakan, terselip kebahagiaan karena bisa melihat Hika tersenyum seperti itu. Kami pun kembali mengobrol sejenak dengan santai.

Setelah mengobrol sejenak, aku pun memutuskan untuk pulang. Aku pun mengantarkannya sampai ke depan kosan. Lalu aku berpamitan kepadanya sambil berkata “Yang langgeng ya Ka”. Dia tersenyum kepadaku. Aku juga langsung membalas senyumannya dan kembali pulang.

Memang perasaanku sedih, namun dalam satu sisi aku senang mendapatkan jawaban dari pertanyaanku. Pertanyaan yang tak sempat aku sampaikan tapi sudah terjawab. Perasaan ini terus bercampur aduk. Aku tidak bisa memutuskan apakah aku harus sedih atau senang, karena keduanya ada di dalam hatiku.

Tapi yang pasti, memang sudah begini takdirnya. Kita dipertemukan bukan untuk disatukan, tapi kita dipertemukan untuk sama-sama belajar dan berproses. Karena di dalam perjalanku dengan Hika selalu terdapat hambatan, yang tidak kita sadari bahwa hambatan dan rintangan inilah yang membuat kita menjadi lebih kuat.

Aku belum bisa memutuskan apa yang akan aku lakukan kedepannya. Yang bisa aku lakukan adalah berharap. Berharap dia akan selalu bahagia bersama siapapun. Karena jawabannya sudah jelas, bahwa aku tidak bisa kembali.
Blog, Updated at: June 25, 2020

0 komentar:

Post a Comment