LUPAKAN
Tanpa sadar aku menulis kata itu dalam buku catatanku. Ah .. mungkin aku terlalu memikirkannya. Oh bukan, mungkinkanh aku juga merindukannya? Entahlah .. rasanya hati ini terasa sakit jika harus mengingatnya. Rasa kesal, kecewa dan sedih itu pasti ada saat mengingatnya. Mungkin karena ia yang paling dalam menancapkan luka dalam hati ini. Yang pasti, sebisa mungkin aku harus bisa belajar melupakannya. Belajar melupakannya ya? Hah .. Sudah berapa kali aku mencoba? Tapi nyatanya selalu gagal karena dia selalu balik saat hati perlahan mulai sembuh. Datang lalu meninggalkan bekas luka itu udah biasa ia lakukan padaku.
Hah .. akankan aku seperti ini? Bertahan dengan hati yang tak pernah pasti, hanya mampu menanmpung rasa sakit tapi tak kunjung dapat mengobatinya.
“Eh Yos, ngelamun aja lo?” sapa Putra menyadarkanku dengan kasar nya.
“Ih, apaan sih lo? Sakit tau?” iya kasar. menyenggol tanganku yang sedang menyangga daguku.
“Makanya jangan nglamun! Kenapa si lo? Inget dia lagi?” tanyanya menyambar Es jusku.
“Kagak. Ngapain nginget-nginget” Elakku dengan sebal.
“Gua jamin. Lu lagi inget sama dia. karena belakangan ini nggak ada yang bikin lo ngelamun sampe ngiler kalo nggak lagi mikirin dia. Hahaha” ejeknya.
“Apa an sih, Put. Gua nggak sejorok itu kali. Udah ah, gua balik ke kelas.” Ujarku seraya meninggalkanya.
Putra Arsya Hermawan, aku mengenalnya sejak masuk SMP dan sekarang adalah sudah 4 aku dan dia berteman. Dia adalah seorang teman yang selalu menghiburku. Dibalik sikapnya yang amat rese’ kaya tadi, dia adalah seorang yang paling perhatian padaku, dan yang amat aku sukai darinya adalah muka yang cool dan berkulit putih itu berubah menggambarkan sikap paniknya saat melihatku menangis.
Kini aku merebahkan tubuhku ke tempat tidurku. Aku sangat lelah hari ini. Aku mencoba memejamkan mataku. Tapi kumelihat bayanganganya. Ayolahh .. aku tak menginginkannya. Kenapa dengan hari ini, pikiranku tak bisa lepas darinya. Aku mencoba membuka chat lamaku dengannya. Kurasa aku semakin salah. Bego. Hatimu semakin sakit kan? Itu dulu, Yos! Itu Cuma kenangan. Lupakan!. Aku beralih membuka akun sosmednya. Kurasa ini bukanlah tindakan yang tepat, karena membuat hatiku semakin teriris. Sudahlah, aku benci semua ini.
“Malam ini keluar yok?” sebuah sms dari Putra.
“Ogah. Ini malam minggu pasti rame.” Balasku.
“Ya jelaslah. Namanya juga hari buat pacaran. Udah ah, ntar gua jemput. Bye” aku hanya mendengus mendapat jawabannya.
“Gua udah izin sama bokap lo, bapak Fauzi terhormat.” Balasan susulan dari Putra, basi. Aku juga tau, selama keluarnya ada Putra, pasti ayah bakal selalu ngizinin. Bahkan beliau gak segan-segan buat nyuru-nyuruh Putra menemaniku saat aku akan pergi sendirian.
Aku serasa malas beranjak dari kasur, tapi sekarang sudah menunjukan pukul setengah 7, 30 menit lagi, Putra pasti sudah sampai rumahku. Dan dia pasti bakal marah kalau sampai aku belum siap-siap saat dia datang. Jadi dengan malas aku berganti pakaian. Berhubung aku lagi malas, aku hanya memakai kaos putih kubalut sweeter berwarna abu-abu kesayanganku dan celana jeans selutut, rambut seperti biasa kukuncir kuda di atas. Tak terlihat feminimkah? Ah biarlah.
“Yos, Putra udah datang. Cepet keluar.” Teriak ayahku dari bawah.
“Iya, ayah” jawabku seraya menali sepatu ku.
“Lama banget turunnya. Eh .. kalian janjian couplelan ya?” tanya ayahku saat ia menyadari warna bajuku dan bajunya putra sama. Putra memakai kaos putih dan mengenakan jaket abu-abu sarta bawahan jeans panjang.
“Nggak ayah. Ini Cuma kebetulan. Itu aja.” Dan ayahku masih senyum-senyum menggoda
“Udah ah, Yah. Yosie berangkat dulu” pamitku bersalaman dengan ayah, yang disusul oleh Putra.
“Ya udah, Om. Saya berangkat dulu.”
“Ya udah, ati-ati. Jangan ngebut dan jangan malam-malam” ujar ayahku yang hanya mendapat acungan jempol dari Putra.
Dalam mobil aku hanya dia memainkan ponselku. Dan tanpa kusadar, ternyata Putra membawaku ke alun-alun. Dan di sinilah sekarang, aku memilih bermain ayunan. Tak berapa lama Putra yang pamit membeli sesuatu akhirnya memghampiriku dengan sebungkus kembang gula jumbo dan sekantung plastik berisi 2 buah es cream. Dan di situlah, kita mulai berbagi cerita, bercanda dan saling menjelek-jelekakan. Melupakan sebentar tentang dia. Dia yang pernah membuatku merasa amat bahagia dan juga kecewa. Sampai pada akhirnya, Putra yang tadinya duduk di sebelah ayunanku, kini berdiri di depan ayunanku, seperti sedang menghalangi penglihatanku.
“Ada apa, Put?” tanyaku dengan kerutan didahi.
“Nggak ada apa-apa? Cuma capek aja, duduk terus.” Jawabnya.
“Ya udah, jalan ke sana yuk?” ajakku berdiri berusaha melihat ke belakang nya.
“Gak usah, disini aja. Ntar lo capek kalo jalan” balasnya mendudukan aku lagi.
“Apa an sih, Put? Ada apa sih? Lo kayak nutupin git …” ucapanku terhenti saat kudorong Putra kebelakang dan mataku langsung melihat sosok lelaki dengan seorang perempuan sedang berjalan di seberang. Aku melihat dia, sesosok lelaki yang amat menyiksa pikiran dan hati ini. Dia adalah Yudis. Yang kini kudapati telah menggandeng sesosok perempuan yang juga amat kukenal, Lisa. Teman waktu SMP ku. Tak lama aku mengamati, kutundukan kepalaku.
“Kenapa? Nangis kan?” tanya Putra dengen nada yang tinggi tak seperti biasanya.
“Jangan suka bikin aku panik. Kali ini aku nggak akan panik.” Lanjutnya.
“Gua. Andai aja gua bisa milih. Gua nggak bakal mau kayak gini, Put” Air mataku mulai menetes.
“Rasanya amat sakit, bertahan pada hati yang menyakiti. Dan bodohnya kenapa aku tidak bisa melupakan” ucapku terisak.
“Maafin gua, seharusnya gua nggak ngajak keluar ke sini. Udah diem, jangan nangis” ujar Putra seraya mendekap dalam peluknya dan mengelus kepalaku menenangkan.
“Gu .. gue nggak bisa, Put. Gue nggak bisa ngelupain dia. Padahal ini sakit dan amat menyiksa.”
“Denger ya, Yos. Di dunia ini cowok bukan Cuma dia. Masih banyak yang bisa bikin kamu bahagia, yang bakal menghapus sakitmu, yang bakal selalu menyanyangi kamu, dan yang pasti lebih baik dari dia. Apa aku nggak cukup buat itu semua?” aku melepas dekapan dari putra, dan beralih mentapnya.
“Kenapa? Aku belum cukup buat gantiin dia di hati kamu?” tanyanya lirih, aku menggeleng.
“Kamu emang baik sama aku, Put. Tapi aku akan amat jahat jika mengiyakanmu sekarang. Aku nggak mau menyakitimu dengan masih menyimpan hati lain”
“Biarkan aku membantu untuk menggantikan rasa itu.”
“Aku. Aku belum bisa, Put. Maafkan aku, aku tahu ini juga menyakitimu. Jangan membuatku semakin jahat” isakku dengan mengoyak jaket Putra.
“Aku akan menunggu untuk semua itu, sampai kapanpun” ujarnya menarikku dalam dekapannya lagi.
Maafkan aku. Yang belum bisa membuka hatimu untukku. Setahun bersamanya membutuhkan waktu yang amat panjang juga untuk melupakannya. Namun, aku bersyukur dengan adanya malam ini, aku tahu perasaanmu padaku, meskipun itu membuatku merasa jahat padamu. Tapi dengan adanya malam ini juga aku akan belajar untuk mengikhlaskannya. Lagi.
Mengikhlaskan masa yang indah dan manis, menghempaskan bayangannya agar mulai hilang. Aku harus rela akan hilangnya bayangan kenangan itu, sama dengan irimu yang hanya sekejap dapat menghapusnya.
Yosie


0 komentar:
Post a Comment