TERSESAT DI KEHIDUPAN LAIN
“Meskipun kau tidak bisa melihatnya, tapi bukan berarti mereka tidak bisa melihatmu, mungkin setiap saat mereka mengawasimu.”
Masalah, hidup memang tak pernah lepas dari yang namanya masalah. Mencoba terlepas dari semua itu, liburan semester kali ini aku memutuskan untuk berlibur ke villa Ayahku di salah satu kota yang memang cukup terpencil. Tapi, justru tempat seperti itulah yang aku inginkan, alam, udara segar, kedamaian pasti akan ku dapatkan di sana. Pergi sendirian ke sana tentu bukanlah salah satu keputusan yang baik meski aku memang ingin menyendiri. Akhirnya ku ajak kedua temanku berlibur ke sana. Hana dan Ratih pun tentu tak punya alasan untuk menolak kesempatan liburan itu.
Sore itu, kami segera berangkat ke sana, aku sendiri yang menyetir mobil karena tak sabar ingin segera tiba di sana. Sepanjang jalan, ku perhatikan Hana dan Ratih asyik bercanda tawa, sambil ngemil makanan bawaan mereka. Sementara aku, terkadang hanya tersungging kecil mendengar ocehan-ocehan mereka. Setelah kurang lebih 4 jam perjalanan, akhirnya kami tiba di villa itu. “Wah udah sampai ya Ra?” tanya Hana langsung loncat dari kursi mobil belakang. Aku hanya mengangguk-angguk mengiyakannya.
“Kereeennn.” Timpal Ratih kemudian, sambil berjalan mendekati villa Ayahku itu.
“Neng? Kenapa tidak bilang dulu mau ke sini?” Suara seorang lelaki setengah baya terdengar sudah tidak asing di telingaku. “Gak apa-apa Pak Basri, lagian ini emang dadakan kok.” jawabku sekenanya.
“Baik-baik kalau begitu, ayo silahkan masuk Neng.” katanya sambil berjalan cepat di depan kami.
“Pak, kami mau tinggal agak lama di sini.” kataku menambahkan.
“Oh iya-iya neng, nanti setiap hari Bapak ke sini, takut-takutnya Neng ada perlu.” ia tersenyum, sehingga tampak gigi depannya yang sudah ompong itu.
Aku menempati kamar yang biasa ku tempati saat berlibur ke sini. Sementara Ratih dan Hana memilih kamar tamu, tepat di sebelah kamarku. Terakhir kali aku datang ke sini, adalah sekitar lima tahun yang lalu, sebelum Ayah dan Ibuku memilih untuk berpisah, dan hidupku jadi berantakan. Ku rasa villa ini sudah banyak berubah, tapi mungkin itu hanya perasaanku saja karena sudah lama tak berkunjung ke sini. Malam itu, Hana dan Ratih ku dengar masih asyik di kamar mereka, sementara aku memilih duduk di ruang tengah untuk menonton televisi. Gambar-gambar itu mulai terlihat jelas di kotak persegi panjang itu, sebenarnya aku tidak terlalu memperhatikannya, tetapi aku mampu menangkap dengan jelas percakapan-percakapan yang mereka ucapkan di sana.
“Kreeeettt.” Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Awalnya aku tak mempedulikannya, ku kira itu Hana atau Ratih, tapi… “Kreeetttt.” kembali ku dengar suara itu.
“Ratih? Hana?” suaraku memanggil. Tapi tak ada respon sama sekali. Aku beranikan diri untuk melihatnya. Aku berjalan perlahan menuju arah dapur, tiba-tiba…
“Aaahhhh… sial cuma kucing.” gerutuku kesal.
“Aaaaahhh…” terdengar suara teriakan dari kamar Hana dan Ratih. Aku langsung berlari menghampirinya. “Ada apa?” ku lihat Ratih benar-benar ketakutan, wajahnya putih pucat, bibirnya terlihat gemetaran. Sementara itu, tak ku temukan Hana di sana.
“Hei Ratih, ada apa? Di mana Hana?” Ucapku mengguncang tubuhnya yang seolah tak sadarkan diri.
Ia masih menatap ke arah cermin besar yang ada di sana, tanpa sepatah kata pun yang ia ucapkan padaku. Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari mencari Hana ke seluruh ruangan. Tapi nihil, tak ku temukan Hana di mana pun. Kembali aku berlari menuju kamar Ratih, sesosok wanita berbaju putih panjang dengan rambut tak beraturan, terlihat berdiri di hadapan Ratih, sementara Ratih ku lihat semakin memucat dengan tatapan melotot.
“Hei, siapa kamu?” ucapku membentak.
Perlahan ia berbalik ke arahku, lalu, “Aaaaaaaaahh…” Semuanya berubah menjadi hitam dan gelap, aku berada di sebuah tempat yang sama sekali tak ku kenal. “Hutan?” Pikirku mencoba melihat dengan jelas daerah sekelilingku. Aku terus berjalan, tanpa harus tahu ke mana sebenarnya langkahku. Tiba-tiba, ku dengar suara seseorang, aku berlari-lari mencari arah suara itu. Ku lihat sebuah rumah kayu, di sela-sela bilik itu, aku melihat beberapa orang wanita, yang salah satunya adalah Hana, perempuan berambut panjang itu tampak ada di sana.
“Aaaaaahhh..” teriak seorang wanita, dengan berlumuran darah, wanita itu tergeletak di tanah, ku lihat lehernya hampir putus, sementara wanita lain terus menjerit ketakutan. Aku tak percaya dengan apa yang sebenarnya ku lihat, berusaha menahan suaraku agar tidak berteriak. “Hana? Tak boleh, aku harus menyelamatkannya.” pikirku. Tak ku pungkiri aku ketakutan, seluruh tubuhku gemetaran, bahkan kakiku hampir tak mampu menopang tubuhku. Aku terasa dibuat gila dengan kejadian yang sama sekali tak bisa ku pahami.
“Pergi kamu, pergi!” Suara Ratih seakan membuyarkan lamunanku, ku lihat wanita itu mulai mendekati Hana dan membawa golok panjang berlumuran darah yang ia gunakan untuk memenggal kepala wanita sebelumnya.
“Jangaaannn!!!” aku refleks berteriak melihat ia hampir saja menebas leher Hana. Seketika ia menoleh ke arahku. Aku berusaha lari darinya, dengan napas tak karuan aku berlari ke mana pun kakiku melangkah. “Aaaahhh.” ia sudah berdiri tepat di hadapanku. “Kamu harus mati!” Ucapnya, matanya melotot menatapku seperti hampir ke luar.
“Si… siapa kamu?” Aku berusaha menjauh.
“Kamu harus mati!” ucapnya kembali. “Apa salahku, kenapa kau menyakiti semua wanita itu, dan ingin membunuhku?” Suaraku membentak meski terdengar begitu gemetaran.
Lalu, aku seperti dibawa menjelajah waktu, di sana ku lihat beberapa orang pria, dan seorang wanita. “Wanita ini akan berbahaya, kalau sampai dia buka mulut, kita semua bisa masuk penjara.” kata salah seorang pria di sana. Salah satu di antara pria itu adalah Ayahnya Hana. Di balik semak-semak ku lihat salah seorang pria.
“Itu Ayah.” ucapku. “Kita bunuh saja dia.” ucap pria yang lain.
“Tolong jangan, saya janji tidak akan memberitahu siapa pun!” wanita itu menangis.
Lalu salah seorang pria mengambil golok panjang dan menebas lehernya hingga hampir putus, mereka lalu meninggalkan wanita itu di dekat pohon besar, dan aahhh aku segera sadar dari apa yang ku alami barusan. “Hutan ini? Tempat ini?” Aku memperhatikan sekelilingku. Aku langsung berlari mencari pohon besar itu, wanita itu terus mengikuti langkahku. “Aaaahhhh.” aku terjatuh dan ku lihat ia sudah di depanku siap menebas leherku dengan golok itu.
Rasa perih menjalar di sekujur tubuhku, kaki dan tanganku terluka karena terkena ranting, aku berusaha bangkit dan ku temukan pohon itu. Terlihat beberapa tulang, berserakan di sana, aku berusaha menggali tanah. “Berhenti! Akan ku kuburkan kau dengan layak! Aku mohon hentikan semua ini!” ucapku. Tapi, dia terus berjalan mendekatiku.
“Aaaaahhh…” Entah apa yang terjadi aku terbangun di gubuk tua itu. Ku cium bau amis di sekelilingnya.
“Hana?” ucapku melihat dia tergeletak berlumuran darah dengan kepala yang terpisah dari tubuhnya. Begitu pun dengan wanita lainnya yang kemarin ku lihat.
Tubuhku terikat oleh ranting kayu. “Aku juga akan mati?” pikirku. perlahan ku lihat pintu itu terbuka, dan sosok wanita itu muncul mendekatiku.


0 komentar:
Post a Comment