POHON BESAR

Posted By Cerpen universal on Friday, May 8, 2020 | May 08, 2020

POHON BESAR

Cahaya fajar datang menyinari ruang kamarku, aku terbangun dan segera mandi. Hari ini liburan pertamaku. Aku akan menghabiskan liburan bersama sahabatku Afil dan Utamy. Kita akan pergi ke desa Bandulan tempat tinggal Nenek Afil. Perjalanan dari kota Surabaya membutuhkan waktu sekitar 4 jam untuk menuju desa itu. Saat sampai di sana Afil langsung memeluk neneknya. Siang ini kita tidak jalan-jalan karena letih setelah 4 jam perjalanan.

Saat sore hari aku dan dua sahabatku ingin jalan-jalan melihat desa ini. Dan sebelum kami berangkat, Nenek Afil berkata, “kalian harus pulang sebelum maghrib, karena di desa ini kita tidak boleh ke luar saat malam hari.” Kami bertiga serempak menjawab, “Baik Nek.”

Saat di tengah perjalanan Utamy melihat sebuah pohon besar dan di sekitar pohon itu banyak sekali sesajen. Dan tanpa sadar sekarang sudah pukul 17.15. “Hey, teman-teman ayo cepat pulang ini udah hampir maghrib.” kataku sambil melihat jam tanganku. “Helo, emangnya kamu takut? Sekarang itu udah zaman modern mana ada hantu. Hahaha.” sahut Utamy sambil meledekku. Untung saja ada Afil yang menjadi penengah di antara kami dan memutuskan untuk pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah kami langsung masuk ke kamar untuk berganti pakaian. Saat kami ke luar dari kamar Nenek Afil bertanya, “Mengapa kalian pulang jam segini?”

“Ma..maaf Nek tadi kami berjalan-jalan sampai lupa waktu.” jawab Afil dengan gemetar.

“Baiklah, tapi jangan diulangi lagi. Kalian tadi pergi ke mana?”

“Tadi kami pergi ke pohon besar yang banyak sesajennya.” jawabku kepada nenek.

“Kenapa kalian datang ke sana? Apa kalian tahu bahwa kita tidak boleh ke sana tanpa membawa sesajen?” tanya nenek dengan marah. “Memangnya di sana ada apa Nek?” Tanya Utamy yang merasa heran.

“Sebenarnya di pohon itu ada satu keluarga bunuh diri. Dan sampai sekarang arwahnya bergentayangan jadi kita harus membawa sesajen ke pohon itu dan jika kita tidak membawa sesajen maka arwah mereka akan mengganggu orang itu.” nenek bercerita dengan sangat serius. Tiba-tiba saja suhu di rumah ini mulai berubah dan bulu kudukku berdiri, tapi anehnya hanya aku yang merasakan ini mungkin saja karena di antara mereka aku yang paling penakut.

Setelah itu nenek langsung menyuruh kami bertiga tidur dan nenek menaruh bacaan ayat kursi di depan pintu kamar kami selain itu nenek juga berpesan, “Kalian jangan ke luar dari kamar sebelum Nenek datang karena nenek akan pergi ke rumah Pak Tarijo.” Kami bertiga menganggukkan kepala. Aku merasa sangat ketakutan tapi kedua temanku malah asyik bermain game dan mendengarkan musik lalu aku bertanya.

“Eh.. emangnya kalian gak takut yah sama yang diomongin Nenek?” Mereka berdua malah menertawakan aku yang sedang panik. Tiba-tiba ada suara orang mengetuk pintu kamar kami, Utamy ingin membukanya tapi aku melarangnya karena nenek tidak memperbolehkan kita ke luar dari kamar dan selain itu kita tidak tahu siapa yang mengetuk pintu. Akhirnya Afil melihat di lubang pintu dan ternyata tidak ada orang.

Untuk memastikan aku memberanikan diri melihat ke lubang pintu dan aku juga tidak melihat apa pun jadi kami menghiraukannya. Tapi setelah itu terdengar suara ketukan pintu yang sangat keras dan Utamy yang memeriksa di lubang pintu dan Utamy melihat ada seorang anak kecil menatapnya dan mata anak itu berwarna merah. Dan seketika kami langsung bersembunyi di dalam selimut kami hanya saling tatap, suasana sangat hening hingga aku dan Afil tertidur.

Dan saat aku terbangun jam menunjukkan pukul 00.01 dan anehnya aku tidak melihat Utamy lalu aku membangunkan Afil yang sedang tertidur pulas. Afil bangun dan dia kaget karena tidak ada Utamy tapi kita mencoba berpikir positif mungkin Utamy sedang ke kamar mandi. Setengah jam berlalu karena kami penasaran akhirnya kami ke luar kamar dan mencari Utamy di kamar mandi. Tapi ternyata Utamy tidak ada di kamar mandi. Dengan memberanikan diri kami pun pergi ke dapur ternyata dia juga tidak ada. Lalu di mana Utamy?

Dan akhirnya kami pun kembali ke kamar tapi saat kami mau masuk kamar aku dan Afil melihat Utamy ada di halaman depan rumah neneknya Afil dan tanpa berpikir panjang kami pun langsung menghampiri Utamy. Saat aku memanggilnya dia malah berlari dan kami pun bergegas mengejarnya sampai Utamy berhenti di pohon besar yang tadi sore aku kunjungi. Jantungku bardebar sangat kencang seperti orang yang jatuh cinta, kami berpegangan tangan dan seketika Utamy berubah menjadi wanita yang sangat menyeramkan. Setelah itu semua terlihat gelap.

Saat aku bangun aku sudah ada di rumah Nenek Afil, kepalaku terasa pusing banyak warga yang mengelilingi aku dan Afil. Lalu nenek mengatakan, “kenapa kalian ke luar dari kamar? Bukankah Nenek sudah memberitahu dan kenapa kalian ada di bawah pohon itu?” Nenek menghujani kita dengan banyak pertanyaan dan aku menceritakan dengan perlahan hal yang aku alami tadi malam.

“Tapi tadi malam aku tidak ke mana-mana aku hanya tidur sendirian di sini.” Aku dan Afil saling bertatapan.

“Lalu siapa yang kami kejar?” tanya Afil. Lalu nenek mengatakan bahwa arwah itu telah mengelabui kami.

“Oh, iya aku ingat kami pingsan karena melihat Utamy berubah menjadi sosok yang menyeramkan,” sahutku. Dan nenek langsung menyuruhku, Utamy, dan Afil untuk kembali ke Surabaya.

Setelah sampai di Surabaya Afil dan Utamy memutuskan untuk menginap di rumahku. Aku dan kedua temanku masih takut atas kejadian yang kami alami. Dan tiba-tiba hp-ku berbunyi dan orang itu berkata. “Aku pasti akan datang!!”
Blog, Updated at: May 08, 2020

0 komentar:

Post a Comment