IS IT THE GHOST CLASS

Posted By Cerpen universal on Friday, May 8, 2020 | May 08, 2020

IS IT THE GHOST CLASS

A True Story…

Aku nyaris terjengkang dari tempat dudukku kala mendengar suara yang awalnya hanya samar-samar itu lagi. Iya lagi. Lagi dan Lagi. Suara yang tak asing lagi, namun masih begitu menakutkan bagiku. Spontan mataku yang tadinya menyipit karena mengantuk jadi melotot. Kepala yang sejak tadi bersandar pada sebuah meja berbantal lengan kiri akibat rasa jenuh kini terangkat, aku mulai duduk menegang.

Ku hentikan aktivitasku mengerjakan soal Bahasa Inggris yang diberikan Mrs. Novi, otakku seolah ikut beku bersama tangan yang juga kaku. Aku menutup telinga rapat-rapat dengan kedua tanganku, meskipun aku tahu itu hanya usaha sia-sia. Suara hujan di luar kelas pun tak banyak membantu, malahan membuat suasana di kelas XII Administrasi Perkantoran ini semakin mencekam akibat arogansi gemuruh dan kilatan petir.

Sekarang, bulu kudukku mulai berdiri dengan tegaknya. Yang bisa ku lakukan hanyalah beringsut sendirian di bangku tanpa kawan, aku berusaha keras menahan rasa takutku. Mataku mulai menyelidik ke setiap sudut di kelas ini. Tidak ada yang menangis. Aku mencoba mengamati sekali lagi. Kali ini lebih teliti, terutama yang siswi. Sama. Tidak ada yang menangis. Lagi pula kami kan sudah kelas 3 SMK, menangis hanya akan membuat kami diledek anak SD satu yayasan yang gedung sekolahnya saling berhadapan, mereka sering berlarian kemari dan mengganggu kami.

Sepertinya sumber suara tangisan lirih ‘seorang wanita’ yang tak ku ketahui pemiliknya itu berasal dari pojok kanan belakang kelas, aku yang duduk di bangku paling belakang tengah, sendirian lagi karena teman sebangkuku hari ini tidak masuk tambah takut dibuatnya. Di kelas ini, aku merasa Lenka -penyanyi favoritku- sedang menyanyikan salah satu lagunya berjudul ‘Like A Song’, lagu terseram yang pernah ku dengar.

9 siswa dan 25 siswi dan seorang Guru alias semua orang yang ada di kelas ini harusnya bisa mendengar. Tapi dugaanku salah besar, terbukti dari mayoritas mereka yang tetap menjalankan kesibukannya tanpa merasa ada keanehan. Ya, entah mengapa tidak semua orang di kelas ini bisa mendengar suara yang lama-kelamaan terdengar sangat keras. Entah ‘dia’ yang semakin mengeraskan tangisannya atau ‘dia’ yang semakin mendekat ke arahku. Atau malahan ‘dia’ sedang menangis di bangku kosong sebelahku?

Aku bergidik ngeri mengira-ngira kemungkinan yang ada di pikiranku itu. Tuhan… aku takut sekali, aku ingin pergi saja dari tempat mengerikan ini. Tapi aku tidak bisa melakukannya mengingat UN sudah dekat. Selain itu kaki juga terasa lemas, tak tahu kenapa. Kenapa aku harus bisa mendengarnya? Kenapa dia hanya menunjukkan suara tangisannya saja? Pastilah penakut sepertiku tidak mau melihat sosok aslinya. ‘Wanita’ itu tak bisa membendung tangisnya lagi, selain mengiringi hujan di luar sana, air matanya juga mengalir bersamaan dengan gugurnya tetesan air dari atap kelas yang bocor. Menambah kesan misteri di kelas ini bukan?

Semoga ‘dia’ cepat pergi. Doaku dalam hati mengingat suaraku yang tercekat. Aku saling bergandengan tangan dengan Wiwik yang duduk di sebelah kananku di meja yang lain sambil terus membaca ayat kursi. Sorot mata dan mimik mukanya juga tak kalah takutnya dibanding aku. Teman-teman lain yang melihat kami komat-kamit pun heran dengan apa yang kami lakukan seakan-akan menurut mereka itu berlebihan, tapi tidak untuk kami.

Memang, itu karena mereka tidak mendengar suara tangisan ganjil yang sudah 5 kali ini ku dengar. Tapi kali ini perbedaan yang membuat rasa takutku double adalah: Untuk pertama kali suara tangis-‘nya’ diiringi cuilan tisu kecil-kecil yang berjatuhan tepat di atas mejaku. Aku mendongakkan kepala, yang ku temukan hanyalah atap yang menggantungkan kipas angin kecil yang tengah berputar pelan.

Apakah benar ‘dia’ sedang menangis di sampingku? Apakah ‘dia’ sedang mengusap air matanya dengan tisu ini lalu membuangnya ke arahku? Kenapa harus ke arahku? Memangnya aku tempat sampah? Harusnya buanglah sampah pada tempatnya. Loh, kok malah nyeramahin hantunya sih! Selain itu, ini adalah rekor tangisan terlama yang pernah ku dengar, mungkin lebih dari 5 menit. Suasana kelas saat itu, ya sekitar jam 12 siang jadi terasa gerah walau di luar hujan angin.

Sekolah berbentuk L ini termasuk baru, jadi lampu yang berperan sebagai penerang pun belum terpasang sepenuhnya. Ruang kelasku ini terletak di pojok sekolah lantai 2 yang diapit kelas lain di samping kiri dan di depannya, jadi terlihat gelap walau pagi hari. Ditambah lagi awan hitam yang muncul.

Besoknya pas istirahat pertama di Cafeteria.

“Balik ke kelas yuk!” Ajak Izza, teman sebangku Wiwik setelah kami semua selesai makan.

“Ehh… entar dulu!” Aku menarik lengan Wiwik dan Izza masing-masing dengan satu tangan, memaksa mereka duduk kembali.

“Ada apa lagi sih La? Mau pesen makan lagi?” Gerutu Izza kesal.

“Bukan. Ke kelas nanti aja kalau udah bel.”

“Kenapa? Suara tangisan itu lagi?!” Izza mencibir. Dia yang mengaku tidak pernah mendengar suara tanpa pemilik itu memang tidak terlalu percaya dengan hal-hal mistis yang jadi trending topik di sekolah minggu ini.

“Mala, aku kasih tahu ya. Kemarin ada tisu jatuh itu bukan dari hantu!”

“Terus?” tanyaku cepat setengah menjerit bersamaan dengan Wiwik yang sejak tadi hanya diam. Aku dan Wiwik melotot ke arah Izza meminta jawaban yang menggantung pada kalimatnya.

“Adi.”

Aku langsung melangkahkan kakiku lebar-lebar menuju kelas begitu Izza memberikan sebuah jawaban yang membuatku kesal sekaligus merasa konyol. Berani-beraninya dia mengerjaiku! Semalaman Aku tidak bisa tidur, hari ini bahkan aku dihukum karena terlambat ke sekolah. Belum lagi karena omelan Ibuku karena mengqodho’ salat subuh. Dan itu semua gara-gara dia! ADI! Lihat saja nanti. Aku akan melabrakmu!

Tapi di sisi lain, aku juga sedang menertawakan diriku sendiri, menyadari betapa bodohnya aku. Kenapa aku tidak menyadari kalau ini hanya lelucon yang dibuat oleh teman-temanku yang jahil? Benar kata Izza, mana mungkin ada hantu yang mengusap air matanya dengan tisu. Benar-benar tak make sense. Begitu sampai di kelas aku mencari-cari pria bertubuh jangkung itu. Bagus. Dia ada di sana. Langsung ku hampiri bangkunya di pojok belakang sebelah kiri.

“Adi! Kemarin itu kamu-kan yang melempar tisu ke arahku?!” Tanyaku menuduh. Aku tidak bisa lagi menyembunyikan kekesalanku padanya. Marah tapi sambil tertawa.

“Iya.” Dengan santainya dia menjawab sambil tersenyum evil. Dia sepertinya sangat puas telah mengerjaiku. Kurang ajar. Dan sekarang Siswa bad boy itu masih saja tertawa-tawa saat aku mengumpat-umpat padanya.


Jadi gitu pengalaman pribadiku. Sebenarnya entah ‘Kelas’ itu ‘Berhantu’ atau tidak, aku sendiri juga tidak tahu. Yang pasti, suara tangisan itu aku bener-bener denger sendiri.
Blog, Updated at: May 08, 2020

0 komentar:

Post a Comment