PERPUSTAKAAN BERDARAH
Pagi itu matahari semburatkan sinar cerah tak terbendung. Bayang-bayang pepohonan begitu jelas dibuatnya. Basah embun masih belum kering teruapkan panas. Ditambah kicau burung mengalun nyaring membuat suasana seolah ini pedesaan. Ya, ini memang di tengah kota, di pinggir kota metropolitan, Jakarta. di kampus lebih tepatnya. Kampus ini memang memiliki nuansa pedesaan yang asri, pepohonan bebas menjulangkan rantingnya, bahkan suara gemericik air yang terdengar di antara irigasi dekat jalan terasa sungai yang mengalirkan kesegaran air. Pagi itu, kami tidak ada jam kuliah. Karena memang hari itu adalah hari minggu. Kami sengaja berkunjung di kampus, untuk menikmati udara segar yang menyelimuti atmosfernya. Kami berlari pagi.
“Tunggu sebentar, jangan tinggalkan aku… huh… huh… Huh.. huh..” teriakku sedikit tergopoh mengejar Yan juga Anto yang masih bersemangat untuk berlari. “Ayo sini, cepetan. Kamu lama bangetlah, baru juga lima keliling sudah cape gitu,” sahut Yan dengan nada meremehkan. Kesal aku dibuatnya, bukan karena itu saja, sebelum sampai di kampus, Yan sedikit mengerjaiku dengan membiarkan anjing mengejarku. “Ya sudah tinggalin aja, sana. Biar aku duduk di sini,” teriakku dengan napas yang sudah mulai teratur, “Ah, kamu kebiasaan dah, udah tahu Udin orangnya ngambekkan. Ayolah ke sana!” ajak Anto yang kini berbalik arah menuju tempat aku mengistirahatkan diri dari lelah.
Kami bertiga berteman belum terlalu lama, hanya lima bulan kami bersama sejak masa penerimaan mahasiswa baru. Saat itu, kami tidak sengaja mengalami nasib yang sama. Kami terlambat datang pada acara upacara penerimaan mahasiswa baru. Hebatnya, cuma kami bertiga yang terlambat. Alhasil, kami dihukum cukup berat oleh senior kami. Lari keliling kampus sebanyak tujuh kali. Kalau dihitung-hitung, 28 kilo meter jarak yang harus kami tempuh waktu itu. Belum lagi tambahannya, kami diminta untuk membuat video campaign tentang berdisiplin. Bukannya duduk manis mengikuti upacara, kami malah berkeringat bercampur lelah. Sejak itu, kami berteman hingga dekat sampai sekarang.
—
Kampus kami memang sedikit berbeda dengan yang lain. Bukan hanya lingkungannya yang masih teramat hijau tapi juga keunikan perpustakaan yang kampus miliki. Ya, perpustakaan itu melayani mahasiswa 24 jam dalam satu hari, tujuh hari dalam satu minggu dan empat minggu dalam satu bulan. Hanya tidak beroperasi jika libur perayaan hari besar nasional. Ti, tu, tit, tu, tit, tu.. suara ambulans terdengar semakin keras. Ternyata berarah ke perpustakaan dekat tempat aku duduk. Kenapa ada ambulans? Ke perpustakaan lagi? Padahal masih pukul 07.30. gerutu aku penuh tanya.
“Din, itu ambulans ada apa dah? Tadi dia lewat kayak buru-buru gitu,” tanya Yan yang telah berbalik arah.
“Kurang tahu,” jawabku masih kesal dengan sikap Yan hari itu. “Ya, ampun. Masih kesal rupanya?” dengan nada menggoda dia mencoba mencairkan suasana. “Lagian, cuma minta ditungguin jawab gitu, sudah lupa apa sebelum lari aku sudah lari dikejar An..”
“Eh, coba lihat!” Anto memotong. “Ambulans itu ternyata menjemput mayat.”
“Hah! Mayat?” serempak aku dan Yan kaget mendengar Anto, “Ya, mayat. Coba lihat!” Ternyata benar, ambulans itu datang atas permintaan untuk menjemput seorang mahasiswi yang ditemukan tewas di perpustakaan. Tidak jelas apa penyebabnya, yang pasti tubuh mahasiswi itu berlumuran darah akibat goresan benda tajam dibagian perut, dada, juga leher.
—
Kampus kini ramai dengan isu kematian seorang mahasiswi di perpustakaan tempo hari. Perpustakaan pun ditutup sementara untuk penyelidikan. Seminggu setelah kasus itu, akhirnya perpustakaan kembali dibuka bertepatan dengan hasil penyidikan yang sampaikan pada media bahwa kematian itu disebabkan oleh dirinya sendiri. Mahasiswi itu merobek-robek sendiri tubuhnya dengan pisau.
Sejak saat itu, tidak ada perubahan pada pengunjung perpustakaan. Tetap ramai seperti biasanya. Sampai tiba pada suatu hari, saat kami berkunjung untuk mengerjakan tugas pada pukul 22.00. Di situlah kami merasakan keanehan yang mendesir. Tiba-tiba lampu mati di tengah diskusi serius yang pernah kami lakukan. Kami hanya terdiam, berusaha tetap tenang sambil menyalakan senter dari ponsel canggih kami. Kami tetap duduk di tempat, karena operator meminta kami untuk tidak panik. Ya, hanya lampu yang mati, seluruh instalasi listrik tetap masih berfungsi. Sepuluh menit kemudian lampu kembali menyala.
Saat itu, di lantai empat, hanya ada kami bertiga dan satu perempuan di sudut ruangan. Kami perhatikan betul perempuan itu. Hanya menunduk, tak mengalihkan pandangan dari buku yang dibacanya. Kami pun kembali berdiskusi tentang tugas paper yang harsu diselesaikan malam itu juga. Malam semakin larut, perpustakaan semakin sepi, meski di lantai empat memang hanya ada kami bertiga dan perempuan itu yang ternyata telah pergi. Suara angin malam semakin jelas terdengar, menggoyangkan setiap lembaran daun yang menggantung di pepohonan. Lalu, terdengar suara yang memecah bisingan angin diluar perpus, “Mas,” ah ternyata perempuan yang di sudut ruangan itu. “kenapa, Mbak?” jawab Yan dengan gaya sok akrabnya.
“Boleh aku duduk di sini? aku takut sendirian.” Pintanya dengan nada dingin dengan wajah yang sedikit pucat. Kami kemudian mempersilahkan perempuan itu untuk duduk dekat kami. Ia duduk tepat di samping Anto yang berhadapan langsung denganku. Sekilas, wajahnya sulit teramati karena terutupi rambut yang dibiarkannya terurai. Tidak sedikit pun perempuan itu bersuara. Diam di sepanjang obrolan penting kami. Lalu, di tengah pekerjaannya menulis, pulpennya terjatuh dan mengarah ke aku. Tepat di bawahku. Tanpa ia minta, aku langsung mengambilnya.
Saat itu, saat aku menundukkan kepala di bawah meja terdapat keanehan yang mengganjal. Aku diam, tak bersuara. Hanya memberi kode pada Yan dan Anto untuk segera pulang. Rupanya, mereka mengerti maksudku. Kami lekas berbenah, pamit untuk pulang pada perempuan yang satu meja itu. “eu.. Mbak, kami pulang dulu, ya,” kata Anto pada perempuan itu. Perempuan itu mengangguk pelan tanpa melihat ke arah kami. Sesaat kami akan melangkahkan kaki untuk pergi, Yan berbalik arah untuk mengambil charger handphone-nya yang masih terpasang pada terminal dekat tempat aku duduk.
“Lah!” teriak Yan kaget, “itu perempuan ke mana dah?”
“Tuh, kan,” tukasku menanggapi Yan, “Emang ada yang aneh dengan perempuan itu. Sewaktu aku ambil pulpen miliknya, aku melihat darah berlumuran pada tubuhnya. Aku kaget sampai tak bisa berucap. Makanya aku ajak kalian untuk pulang. Aku khawatir, jangan-jangan dia..”
“Husshh.. jangan bicara yang nggak-nggak. Bisa saja, perempuan itu juga turun. Cuma mbaknya lewat pintu satunya, karena bisa jadi malu sama kita. Kan dari tadi dia diam saja,” sela Anto mencoba menenangkan.
“Tapi, soal darah itu?”
“Sudahlah, kita segera balik saja,” sambung Anto yang seolah tidak mau membahas perihal ini.
Kami hendak turun menggunakan lift. Yan menekan tombol turun di dekat pintu lift. Segera, lift itu bergegas menuju ke lantai empat. Terlihat bahwa lift itu sempat terdiam di lantai satu. Setibanya di lantai empat. Pintu lift terbuka. Seketika Yan yang melihat ke arah lift terkejut. Yan melihat perempuan itu di dalam lift. Dalam hatinya, Yan bertanya-tanya, bagaimana bisa dia naik lift dari lantai satu sedangkan dia tadi ada di sini. Kalaulah turun, kapan dia naik lift itu? Karena pintu satunya hanya ada anak tangga yang bertumpuk-tumpuk rapi. Perlu waktu yang lama bila turun dari arah pintu itu. Yan pernah melewatinya. Kami bertiga melangkah memasuki pintu lift. Perempuan itu perlahan menampakkan wajahnya yang menunduk sedari tadi. Dan ternyata, benar, perempuan itu adalah pelayan bakso tahu yang hendak mengantarkan pesanan kami yang dinanti cukup lama.
“Dek, Yan?” tanya pelayan itu yang berpenampilan mirip perempuan tadi.
“Ini baksonya. Ada tiga bungkus sesuai pesanan.”
“Ah, Ibu. aku pikir siapa tadi,” jawab Yan.
“Kenapa, Dek? Ade semua lihat perempuan yang duduk di sudut ruangan itu, ya?” tunjuk Bu Parni, pelayan bakso itu.
“Lho, kok Ibu tahu?” tanya Anto penasaran.
Suasana sempat hening. Kami menunggu Bu Parni menjawab. Namun, lagi-lagi lampu mati. Tapi, kali ini hanya sebentar. Saat lampu kembali menyala, Bu Parni tidak ada. Bu Parni ke mana? Kami heran dengan menghilangnya Bu Parni dalam waktu singkat itu. Tapi, kami merasa tak perlu ambil pusing. Kami semakin yakin untuk segera turun dan kembali ke tempat kami. Lagi-lagi, ada yang menghalangi kami untuk memasuki pintu lift itu. Kali ini bukan siapa, tapi apa. Suara buku jatuh dari rak dekat lift terdengar. Spontan aku mencoba untuk mengambil dan meletakkannya kembali di tempatnya, meski detak jantung semakin berdebar melihat segala keanehan yang ada. Apalagi hanya aku yang melihat darah berlumuran di tubuh perempuan itu.
Aku ambil dan letakkan buku itu. Namun, “Din.. tanganmu kenapa? Kok berlumuran darah?” tanya Anto heran, “Ya, Din.. tangan kamu berlumuran darah,” sahut Yan ikut heran. Aku lihat tangan aku dan benar, tangan aku penuh darah. Aku gemetar, detak jantung semakin kencang. Sekujur tubuh terasa mati. Kepanikan ini diperparah dengan pintu lift tiba-tiba tidak bisa dibuka. Lampu perpustakaan mati nyala mati nyala dengan cukup cepatnya. Kami bertiga panik dan bersiap lari ke arah tangga darurat. “kenapa, Yan? Ayo kita turun. Kenapa berhenti?” desak Anto panik. “lihat, To.. anak tangga itu tiba-tiba berdarah. Anak tangga itu mengeluarkan darah!” jawab Yan yang membuat suasana semakin menggila. Aku paling panik di antara mereka.
“Ayo kita lewat pintu satunya!” ajak Anto. Kami berbalik arah dan lantai perpustakaan itu menjadi merah karena darah. Kami diam terpaku.
“To.. rambutku basah,” ucap Yan pelan, “To, darah, to.. ini darah,” kata Yan yang setengah berteriak, “langit-langitnya berdarah.” Kami sampai hilang akal. Darah itu mengahalangi langkah kami. Darah itu mengalir menuju kami. Seakan ingin tenggelamkan kami dengan darah. Anto mencoba menenangkan kami. Menenangkan pikiran kami yang kurang jernih bagai darah. Tapi, tak, tik, tuk, tak, tik, tuk.. suara sepatu terdengar. Ada yang mendekat ke arah kami. Tidak jelas, karena lampu masih nyala redup nyala redup tak karuan.
“Siapa itu?” tanya Anto memberanikan diri. Tak, tak, tak, tak, tak, suaranya semakin keras, ia semakin dekat. Anto mulai menerka-nerka rupa orang itu, dan ‘ppssssttt’ suara tebasan pisau terdengar dari tubuh Anto. “Anto..!!” teriakku juga Yan. “ppsssssttt,” tebasan itu dilayangkan untuk kedua kali, ketiga kali, keempat kali sampai Anto tak bernapas karena banyak kehilangan darah. Orang itu hilang, Yan mendekat namun aku tak mampu melangkah karena mati rasa. Belum sempat Yan mendekat ke Anto, Yan tertusuk pisau yang melayang dari arah depan Yan. Mungkin orang tadi masih di sana.
“Yaaann!!!” jeritku lepas melihat dua orang kawanku terbunuh. Aku ingin mendekat ke mereka, namun mati rasa ini belum juga hilang. Hanya jerit tolong, juga tangis yang ku lakukan. Tak ada respon, tak yang datang. Perpustakaan benar-benar sepi. Penjaga pun mungkin tak dengar jeritanku. “Mas,” perempuan itu tiba-tiba muncul di belakangku, “aku juga dibunuh. Di sini, di lantai ini. Aku dibunuh bukan mengakhiri hidup sendiri.” jelasnya merangsang bulu kuduk merinding. “kamu siapa? Apa maksud kamu?” tanyaku gemetar. “cari pelakunya, Mas. Atau akan ada korban berikutnya.”
“Din.. Din.. woy, kamu kenapa dah?” tanya Yan sambil mengoyangkan pundakku.
“Aahh!!!”
Aku terbangun, ternyata semua itu lamunan semata, “Yan, ambulans, mahasiswi, meninggal, perpus, darah.”
“Kamu ngomong apa dah? Ya, itu ada ambulans yang ternyata jemput mayat yang ditemukan di perpustakaan lantai empat. Tadi Anto tanya langsung ke pihak yang bertugas,” terang Yan. “meninggal karena bunuh diri?” tanyaku, “ya, menurut info yang ada begitu, tapi itu masih dugaan,” jawab Yan.
“Yan, bukan, Yan. Dia dibunuh, dia dibunuh. Dia dibunuh. Dia bukan bunuh diri. Kita harus cari tahu siapa yang membunuhnya. Itu pesan dia.”
“Hah?” Ekspresi bingung itu muncul pada raut wajah Yan juga Anto. Namun mereka percaya setelah mendengar segala penjelasan yang ku sampaikan. Sejak itu, kami lakukan penyidikan untuk mengungkap pelaku pembunuhan di perpustakaan itu. Perpustakaan berdarah.


0 komentar:
Post a Comment