PERBURUAN DI TENGAH MALAM
Namaku Ferry Aprilianto biasa orang orang memanggilku Ferry. Pada suatu hari aku, Yanto, Susi, Yanti, dan teman-temanku yang berjumlah 12 orang melakukan adu nyali saat tengah malam yaitu, “Perburuan Di Tengah Malam” kami memulai kegiatan ini baru pertama kalinya kami berencana akan berburu sambil mengganggu setan di markasnya yaitu sebuah rumah di tengah hutan, kami pun menyiapkan senapan kami masing-masing.
“oke kita bagi kelompok menjadi enam, masing-masing kelompok beranggotakan dua orang dan membawa satu Ht.” kata Yanto sang ketua kelompok. (*ht: alat komunikasi yang biasa dipakai oleh satpam dan polisi.) Kemudian kami pun mengadakan undian, (Emang jajanan pake undian) akhirnya aku satu tim bersama Yanto. Oke pertama kami menuju tempat yang dituju Yanto memberi aba-aba untuk menembak rumah tersebut supaya hantunya ke luar, “semuanya bersedia, bidik, tembak!” kemudian suara tembakan muncul tak lama kemudian hantu pun muncul kami sesegera mungkin lari.
“Ferr, cepat lari sini Ferr!” ucap Yanto sambil menunjuk sebuah sumur kami pun masuk ke sumur itu Yanto masuk duluan, saat Yanto sampai di bawah, aku masih setengah pejalanan tiba-tiba di dasar sumur muncul anak kecil tanpa kepala yang membuat kami takut setengah mati. “Ferr, cepat naik hantunya di bawah cepat-cepat naik!” katanya sambil nyogok pantatku pake bambu runcing.
Setelah sampai di atas kami pun lari ke sebuah kuburan cina aku pun sembunyi di belakang batu nisan dan tiba-tiba muncul sebuah muka mengenaskan dari balik nisan tersebut dan tepat di depan wajahku dan aku pingsan seketika setelah sadar aku telah ada di sebuah lapangan bola.
“Yan, kok aku ada di sini?” tanyaku sambil ngucek mata.
“Kita aman di sini oya coba hubungi yang lain pake ht kamu.”
“Oke,” kemudian aku mencoba menghubungi teman teman yang lain.
“Satu memanggil dua satu memanggil dua kalau dengar jawab ganti.” namun tidak ada jawaban sama sekali.
“Gak ada jawaban Yan.”
“Coba yang lain.”
“Satu memanggil lima satu memanggil lima kalau dengar jawab ganti,” lagi-lagi tidak ada jawaban sama sekali.
Kami pun memutuskan membunyikan kembang api ke udara tanda misi selesai namun di luar dugaan korek kami pun mati.
“Duh gimana ni yan?”
“Mmm… kalau nggak gini gimana kalau kita berdoa dan hidupin kembang apinya lagi.”
“Iya,” kami pun berdoa dan menghidupkan kembang apinya lagi.
Kami semua pun pergi ke luar hutan setelah semua berkumpul dan sudah lengkap kami pun pulang ke rumah masing-masing tapi pemilik rumah tua itu masih menjadi misteri.

0 komentar:
Post a Comment